Mine ?

Mine ?
90 : Pemicu



"Janjiannya jam berapa?"


"Jam lima, di Mall XX," sahut Shasyania, sembari memasang sabuk pengaman.


Nevan langsung melirik arloji yang menempel di pergelangan tangan kirinya, lalu menyarankan sesuatu, "Mmhh, masih banyak waktu... kamu istirahat di rumah aku aja gimana? biar nanti sekalian aku antar yank."


"Tapi, aku gak bawa baju ganti...."


"Tenang, nih...," Nevan menyodorkan smartphone miliknya, "kamu pesan yang kamu suka.... Setuju?"


"Mmhh, Baiklah!" Shasyania memesan satu pakaian, dan setelah proses transaksi selesai, ia menaruh benda pipih itu di dashboard mobil.


"Mau makan dulu?"


"Enggak, perut aku masih penuh hehe!"


"Penuh isi apa?"


"Isi makanan lah Geonevan...."


"Kirain ahahaha!"


...----------------...


Gerbang dari kuningan itu terbuka lebar, lalu mobil sport yang dikendarai Nevan meluncur menuju bangunan utama.


Para pelayan yang berpapasan dengan mereka langsung menunduk hormat, sambil menyapa hangat.


"Kita mau kemana Geonevan?"


"Ke kamar akulah yank, kan mau istirahat!"


"Ahh?" Shasyania melebarkan pandangannya, bahkan ia sempat ingin melepas genggaman tangan Nevan yang kini menuntunnya untuk memasuki pintu lift.


"Kenapa yank?"


"Enggak Geonevan!"


"Kenapa enggak? katanya mau istirahat!"


"Iya... tapi gak di sana juga!"


"Terus, maunya di mana?"


"Di ruang tamu aja!"


Nevan dibuat terkekeh dengan tingkah laku gadisnya itu, ia mulai mengerti kemana arah Shasyania berpikir, "Tapi aku maunya di kamar sayang!! kalau di sini... nanti di liat pelayan kan kasian mereka!" Nevan menikmati kegelisahan yang tengah melanda Shasyania, ia kelewatan jahil hingga terus-menerus menggoda tunangannya itu.


"Eng___,"


Ucapan Shasyania terpotong ketika Nevan menarik lalu memeluknya erat, "Sayaaaang, aku cuma mau tidur sambil meluk kamu kayak gini...."


"Beneran?"


"Iyaa... kalaupun lebih, aku juga bakal tanggung jawab!"


"Iiihhhhh!!!"


"Awwww... ampun---ampun, iyaa cuma itu aja gak lebih ahaaha...."


Merekapun menuju lantai paling atas, dan ketika Shasyania melihat kamar Nevan ia langsung dibuat kagum dengan interior mengagumkan yang menyejukkan mata.


"Kamu suka alam ya?"


"Iyaa.... Nyaman kan?"


"Iyaa, bagus...."


"Baguslah kalau kamu suka yank, karena ini juga bakal jadi kamar kamu... bahkan kalau kamu mau ubah konsepnya juga gak apa-apa, asal jangan diganti warna pink aja!"


Shasyania tersenyum mendengar penuturan Nevan, dengan pandangan mata yang masih asik mengedar ke setiap sudut ruangan.


"Sayang, ini pakek dulu! gak mungkin kan, mau tidur pakai seragam. Nah, itu kamar mandinya di sana."


.


.


.


Kini Shasyania telah memakai baju yang diberi Nevan, dan saat ia melirik kearah tempat tidur laki-laki itu sudah menyibakkan selimut, lalu mengisyaratkan agar Shasyania berbaring di sebelahnya.


Greb!


Tangan Nevan langsung mendekap tubuh Shasyania, lalu perlahan ia bergerak turun, dan menyandarkan kepalanya begitu nyaman di ceruk leher Shasyania.


"Rasanya seperti aku menemukan sesuatu yang telah lama aku cari, rasa yang sulit aku jelaskan, tapi yang jelas membuatku nyaman...."


Menyadari orang yang ia anggap pacar itu sedang manja, maka Shasyania dengan lembut mengusap-usap kepala Nevan, lalu mencium keningnya cukup lama.


"Sayang...."


"Hmm?"


"Makasi ya!"


"Untuk?"


"Untuk hari-hari bermakna yang kamu beri dalam hidupku...."


Deg!


Shasyania dibuat merinding, tampaknya ia harus membiasakan diri dengan sikap Nevan yang selalu saja berhasil menguji detak jantungnya.


"Kamu belajar dari mana kata-kata seperti itu, Geonevan?"


"Itu alami sayang, karena aku merasakannya! Bahkan nanti... foto kamu juga bakal aku pasang di sana, biar kesannya kamu selalu ada di kamar ini!"


Senyum terus menghiasi wajah Shasyania, Nevan selalu bisa membuatnya tertawa, "Pasangnya yang besar ya!" godanya.


"Tentu! bila perlu setiap sudut! Di kamar mandi pun akan aku pasang!"


"Kamu ini ada-ada saja sih...."


"Namanya juga suka!"


"Ummhh baiklah, ohh ya Geonevan... itu atap kamar kamu bisa dibuka ya?" tanyanya, ketika ia melirik keatas.


"Iyaa bisa, dan lebih bagus lagi kalau dibuka pas malem. Banyak bintang!"


"Wow...."


"Kamu juga suka yank? kalau gitu kapan-kapan nginep sini aja, kita liat bareng, kebetulan teropong aku juga baru dateng, kita bisa belajar bersama mengenai galaksi! Mau gak?"


"Menarik! aku tebak kamu suka alam bebaskan?"


"Iyaaa sangat!!!"


"Hmm mungkin karena itu membuatku nyaman, tenang, dan damai ahahah.... Aku suka alam, sangat suka! dan menjelajahi alam bebas adalah kegemaran ku!"


Shasyania tersenyum dengan sekelebat bayangan masa lalu yang mulai muncul, hingga tarikan diujung bibirnya berubah menjadi guratan kesedihan, namun sebelum suasana itu lebih menguasai dirinya, ia kembali tersadar dan fokus dengan pembahasannya bersama Nevan, "Ohhh... berarti kamu pemberian dong?" ucapnya.


"Tentu!!! oh ya, bagaimana kalau nanti kamu ikut? kita menjelajahi hutan bareng? atau mendaki? gimana?" Nevan begitu bersemangat mengatakan hal tersebut, bahkan ia sampai mengendurkan pelukannya dan mendongak menatap Shasyania. Ia pikir akan sangat menyenangkan bila Shasyania ada bersamanya menikmati keindahan alam.


"BUNUH BOCAH SIALAN ITU!"


Netral mata Shasyania seketika bergetar, sesuatu tengah mengusik pikirannya hingga indera pendengarannya sekilas mendengar jeritan masa lalu, yang selalu membuatnya berdesir takut.


Yang berada dihadapannya Nevan, tapi entah kenapa pandangannya seperti menerawang membayangkan sosok seseorang yang masih lekat dalam ingatannya, "Aku gak bisa! aku gak bisa!!! aku gak suka, aku gak suka!! iya gak suka!!! Aku lebih menikmatinya seperti ini, bukan untuk langsung berada di sana!!!" dengan mata tertutup Shasyania bersuara lirih.


Nevan sedikit terkejut dengan reaksi Shasyania, namun ia juga mengerti jika tidak semua orang suka dengan hal-hal yang berbau alam, apalagi ketika langsung diajak untuk menikmatinya secara langsung. Seperti kedua sahabatnya yang selalu memiliki alasan untuk menolak.


"Aku gak mau Geonevan... gak mau!"


"Iyaa...ya sayang, gak apa-apa, jangan tutup matanya kayak gitu.... Kamu takut aku marah? Gak mungkinlah yank, masak aku marah hanya karena hal seperti ini...."


Perlahan-lahan mata itu kembali terbuka, dan pandangan mereka terkunci cukup lama sampai akhirnya Nevan kembali bertanya, "Kamu baik-baik aja kan yank?"


"Iyaa... aku gak apa-apa."


Drrrrrrtt!


Handphone yang berada di samping tempat tidur bergetar, hingga memperlihatkan nama Dariel yang tengah melakukan panggilan.


"Iya, kenapa?"


"Gimana kalau nanti kita buat tugas Buk Siska? jam tujuh! mumpung ada film bagus nih!"


"Oke!"


"Nah, kebetulan masih sore, gue main ke rum__,"


"Gak! gue lagi sibuk!"


Tut!


Panggilan terputus sepihak, dan pelakunya itu jelaslah seorang Geonevan, yang tak ingin diganggu ketika ia bersama Shasyania.


"Teman-teman kamu yang lain juga sering ke sini ya?"


"Iyaa... Eron dan Dariel, bahkan mereka berdua bisa masuk kamarku sesuka hati, tapi, mulai hari ini aku harus mengganti password-nya! kalau gak ya... bahaya!!"


"Cuma mereka berdua? gak ada yang lain lagi?"


Nevan tersenyum jahil, lalu, "Mmmhh... sebenarnya ada sih lagi satu! bahkan orang itu bebas tidur di sini! Karena bukan hanya sekedar teman, tapi dia spesial!"


"Siapa?"


"Seorang gadis cant__,"


Shasyania langsung mendorong bahu Nevan menggunakan kedua tangannya, ia begitu kesal hingga memotong ucapan Nevan, yang seakan tidak memikirkan perasaannya.


"Lepas! aku mau pulang!!!"


"Heii... say__,"


"Lepas!"


"Sa__,"


"Jangan memanggilku dengan sebutan itu lagi!" tekannya, sembari berusaha lepas dari kaitan tangan Nevan.


"Yank...sayang! aku cuma bercanda.... Serius!! sumpah!!! aku cuma bercanda, gadis itu... ahh maksudnya itu... Ck! yang jelas itu bukan gadis lain, itu kamu.... yaaa hanya kamu!! Aku tadi cuma bercanda sayang! Yank, aku mohon...."


"Kamu bohong!"


"Serius... sayang serius! Kamu bisa tanya ke pelayan rumah ini! Kalaupun masih ragu, kamu bisa tanya langsung sama Kakek, mana berani aku bawa gadis masuk kamar!! bisa-bisa di gundul aku! Dan aku juga gak ada niatan bawa gadis lain kecuali kamu!!!"


"Baiklah, tapi sekarang katakan alasan kenapa kamu berani bawa aku ke sini?"


"Kamu kan tunangan aku yank, hubungan kita jelas! bahkan sudah direstui keluarga!! cuma belum dipublis aja! tapi secepatnya akan diresmikan, gak boleh ditunda lagi!!!" tekannya, dengan nada yang tak ingin dibantah, "udah gak marah lagi kan?"


"Ummhhh...."


"Liat reaksi kamu kayak tadi, rasanya detak jantung aku mau berhenti yank!"


"Ummh...."


"Uuuhh... manis banget sih kepunyaan aku ini!" pungkas Nevan, seraya menjulurkan tangannya untuk memeluk Shasyania, namun niatannya itu dicegah ketika kedua bahunya kembali ditahan.


Mata Nevan menatap bingung, dengan tautan di bagian alis.


"Tapi... bukannya kamu membenciku, kenapa sekarang bisa berubah seperti ini? Kamu juga tega loh... ninggalin aku di jalanan! terus bentak-bentak aku!!! mmhh, meskipun aku gak suka membahas ini, tapi kadangkala hal-hal seperti itu juga sempat terlintas, apalagi dengan sikap kamu yang seperti sekarang!"


Dan sebelum menjawab, terlebih dahulu Nevan membawa tubuh Shasyania untuk berada tepat di atasnya, "Maaf... sayang maaf!! semua salah aku...."


"Aku tidak sedang menyalahkan mu Geonevan, aku cuma ingin mendengar alasannya...."


"Sama seperti yang aku ceritakan dulu, aku begitu takut orang datang hanya untuk memanfaatkan ku," jelasnya, "tapi satu hal yang harus kamu percaya. Aku sangat... teramat sangat... sangat menyayangimu yank!!! Bahkan saat kamu gak ada dalam jarak pandanganku, aku masih bisa terus memikirkan mu, selalu...."


Sebenarnya Nevan ingin sekali menceritakan semuanya pada Shasyania, tapi ia masih berusaha menahan, dan tekatnya masih kuat untuk memberi kisah cinta sesuai yang Shasyania inginkan, dan ketika waktunya tiba, maka ia akan mengutarakan semuanya, tentang betapa ia sangat mencintai sosok yang kini ia dekap erat.


Kisah yang ia pikir tumbuh ketika pertemuannya bersama Shasyania beberapa bulan lalu, pertemuan di mana ia rela menjadi seorang badut, dan pertemuan itu juga yang membuatnya menjadi sosok yang begitu jatuh hati pada seorang Dinesclara Shasyania, tanpa ia sadari jika pertemuan mereka sudah terjadi bertahun-tahun lamanya.


"Sayang, peluk lagi! usap-usap kepala aku kayak tadi...," ucap Nevan, yang kembali bersandar di dekapan Shasyania.


"Kok, bisa manja gini ya? padahal dulu garangnya minta ampun!"


"Waktu itu khilaf sayaaaang, dan sekarang kan udah sadar!"


"Bisa kayak gitu ya?"


"Bisa dong! asal sama kamu apapun bisa!" ungkapnya, "cium kening aku lagi yank!!" sambung Nevan, sembari mempererat pelukannya.


Tanpa kata, dan hanya dengan rasa Shasyania membalas pelukan Nevan dan kembali mencium kening laki-laki itu. Sama-sama merasa begitu disayangi sampai akhirnya mereka terlelap dengan posisi ternyaman.


...****************...


Dan berpuluh-puluh meter dari kediaman Eldione, tepatnya di salah satu Mall yang terletak di pusat kota J, seseorang dengan Hoodie berwarna hitam tengah menyusuri beberapa toko roti, ia mencari makanan yang sudah beberapa hari ini membuatnya teringat akan masa kecilnya. Rasa dan aroma itu begitu khas, sampai membuatnya nekat untuk berpergian sendiri.


Begitu asik matanya menatap kearah samping, sampai ia tidak menyadari jika di depannya terdapat sebuah pajangan yang menampakkan sosok idola yang begitu di kagumi di Negara tersebut.


Brrrrrrrrkkk!


"Aww...!!!" matanya kini melirik ke depan dan menyadari sesuatu yang tengah rusak akibat ulahnya.


"Duhh, rusak lagi!! dan lagian... siapa yang memberi izin untuk memajang ini? Ck! keterlaluan!" bentaknya kesal, sebelum dari arah belakang seseorang karyawan toko meneriakinya.


"HEIIIIIII...."


"Mampus ketahuan!!!" ia beranjak pergi, seraya memegangi topi yang tengah ia pakai.