
Tak hanya Nanda, bahkan semua mata langsung tertuju pada kehadiran Shasyania, ketika gadis itu mulai melangkah mendekat dengan seorang laki-laki yang masih menempel layaknya perangko.
"Shasya..., aku harap kamu bisa ikut, dan untuk yang tadi, aku benar-benar minta maaf Sha," lirih Nanda, ia menghampiri Shasyania dengan kepala tertunduk.
Seakan tak mau kalah, Wiwin pun menyerobot haluan untuk memangkas jaraknya dengan Shasyania, "Iyaa Shaa..., ikut yaaaa. Nanda udah berusaha banget loh biar kita dapat potongan harga di tempat Papanya kerja, kamu ikut yaaa...yaaa?"
"Emmm..., gimana yaa?" gurau Shasyania.
Anggi mendengus sebal, "Ihhh Shasya gak usah banyak mikir gitu deh! di dalam sini cacing ku udah pada meronta-ronta nih!" keluhnya seraya menepuk-nepuk bagian perut.
"Iyaa...yaa aku ikut kok, tapi mau ganti baju dulu."
"Pasti kami tunggu, asal kamu ikut kita gapapa kok nunggu lebih lama lagi, bahkan nambah tiga puluh menit lagi juga gapapa!" terang Yoga, yang juga terdengar menyindir saat Shasyania melewatinya untuk masuk ke dalam rumah.
Dan ya, seperti kesepakatan yang sudah dibuat antara Nevan dan Shasyania, laki-laki itu mengizinkan Shasyania untuk menghabiskan waktu bersama sahabatnya, ia juga tak mau mengekang dengan alasan tidak suka. Persahabatan mereka sudah terjalin sebelum Nevan mengenal Shasyania, jadi selama itu tidak membuatnya curiga maka semua aman-aman saja, namun mengetahui jika salah satu laki-laki di sana juga menyukai Shasyania, maka Nevan juga tak ingin lengah, ia dengan segala kerendahan hati mulai mengutarakan apa yang ia inginkan.
"Gue juga mau ikut!" kata-kata yang seharusnya ia rangkai dengan manis ternyata tidak bisa ia lontarkan, hingga berakhirlah seperti sekarang, bukannya meminta dengan baik-baik, ini justru terdengar memaksa dan tidak ingin di tolak.
"Iyaaa boleh! kenapa tidak! Kamu ikut saja biar tambah rame!" seru Wiwin, ia begitu bersemangat sampai lupa jika saat ini Nanda lah motor penggerak dalam urusan bendahara. Wewenang penuh mutlak di tangannya.
"Ehh Wiwin kamu pikir Restoran itu milik keluarga Nanda? Bisa bawa kita berempat aja udah syukur, ini malah ditambah satu lagi! mau bayar pakek apa ahh? Patungan? Ogaaaah! mending uangnya tak pakek bayar SPP aja!" tukas Yoga sembari bertolak pinggang.
"Wuuuuussssstt! Gak boleh gitu!" bentak Anggi, ia mengisyaratkan agar Yoga diam, lalu kembali beralih menatap Nevan, "kamu ikut aja yaa? nanti makannya bisa kita bagi-bagi kok. Kamu tau gak?" pancing gadis itu, namun Nevan tak memakan umpan yang ia tabur, "Isssssst malah diem-diem baeee! Tapi...tapi gimana nihh...aku malah tambah meleleh tuh sama sikap dingin kamuhhhh!" ucapnya yang sengaja ia dilebih-lebihkan.
"Asliii jijik!" hardik Nevan yang seketika membuat wajah Anggi menatap heran dengan ekspresi yang sulit untuk di jelaskan. Ia tak pernah merasa serendah ini ketika di cela oleh seorang laki-laki yang baru ia kenal.
Wiwin bergerak layaknya the flash salah satu tokoh di serial Marvel. Gerakannya pun cepat gesit dan lincah saat menarik lengan Anggi.
Gadis itu menunduk lesu, "Sumpah Win, aku seperti seonggok daging yang tak berguna, tak diinginkan, apalagi di lirik! Sungguh nestapa sengsara dunia akhirat," sendunya dengan tatapan menerawang.
"Ck, Ehhh Anggigi Raharjo! wajarlah dia bersikap kayak gitu! Kamu terlalu frontal sih!" terang Wiwin, "Deketin sendok emas kek dia perlu cara lemah lembu tahu! Gak grasak-grusuk kayak tadi!" nasehatnya, "mending apa mukak kamu sebelas duabelas sama Lisa blackwhite, yaa gak masalah, ini udah pas-pasan mau sok-sokan seksi..., ya mana cocok! bukannya nafsu malah enek tahu!"
"Kamu lagi menyemangati aku apa lagi merendahkan ya?" selidik Anggi.
Seketika nada sindiran Anggi membuat Wiwin cengengesan, ia langsung bergerak untuk mengelus pundak sahabatnya, "Kita berjuang sama-sama yaa Ngi, siapa tahu lagi hoki!"
"Yuk jalan!" ajak Shasyania, namun ia mengernyit heran, ketika di depan sana yang terlihat justru orang-orang itu tampak berjarak seperti berbeda spesies.
"Oke kamu boleh ikut!" tanpa menatap Nanda memberi izin dan itu membuat Nevan bereaksi sampai mengepalkan tangannya keras.
Pandangan menghunus tajam dibarengi rahangnya mengeras, "Cihh!" geram Nevan, namun aksinya selanjutnya berhasil dihentikan Shasyania.
"Jangan! pleasee...," pinta Shasyania dengan wajah memohon, dan di detik itu juga Nevan terdengar menghembuskan nafas beratnya.
Sampai akhirnya mereka berjalan beriringan, dan karena Nevan mengendarai sepeda motor, jadi saat ini posisinya sudah duduk di jok depan sembari kedua tangan memegang setang kemudi.
"Aku bareng dia ya, kalian jalan aja dulu nanti kami nyusul," ujar Shasyania. Sebenarnya ada rada tidak terima di hati Nanda, namun ia tak mau lagi memperkeruh suasana.
"Shaa...," cegah Anggi, "itu cowok sebelumnya pernah kita kenal gak sih?" tanyanya penasaran.
"Kayaknya enggak Ngi, aku kenal dia karena kita satu sekolah," sahut Shasyania.
"EEETTTTDAAHHH! masih aja dipikirin. Udah aku bilang itu karena mukanya yang sempurna makanya kek pernah liat!" ujar Wiwin menimpali.
"Sini...," pinta Nevan, saat salah satu tangan memegang sebuah helm yang bertumpu di atas pahanya, "keselamatan itu nomer satu," ucapnya sembari memasang hingga mengaitkan pengait helm di leher Shasyania.
Mesin sudah menyala namun sepeda motor Ninja berwarna dasar abu-abu dengan garis putih belum juga melaju, sampai membuat Shasyania bertanya, "Kenapa diem?"
"Standar keselamatannya kurang," jelas Nevan yang semakin membuat Shasyania bingung.
"Ban motornya lembek atau gimana?"
Masih belum paham, hingga Nevan kembali menyederhanakan penjelasannya, "Naik mobil kita perlu memakai sabuk pengaman, setuju?" Shasyania mengangguk cepat, "jadi naik motor pun kita juga perlu hal semacam itu sayaang!" imbuhnya.
"Tapi ini motor Geonevan..., mana ada sabuk pengaman di sini," sahut Shasyania terus terang, karena sejauh yang ia ketahui memang tidak ada hal semacam itu yang terpasang di sebuah sepeda motor.
"Pakek tangankan bisa yank," sahut Nevan sembari meraih tangan Shasyania untuk di kaitkan di pinggangnya, "peluk yang erat yank biar gak jatuh."
Kikuk, mungkin perasaan itu yang bisa menggambarkan perasaan Shasyania saat ini, apalagi jika di lihat dari pantulan kaca spion. Tampak begitu jelas, dan itu memancing senyum kemenangan dari wajah Geonevan.
Melaju lurus sampai lampu merah di depan sana memaksa laki-laki itu untuk menarik tuas rem, biasanya menunggu akan membuat Nevan kesal, namun kali ini berbeda karena ia justru terlihat menikmatinya.
Sebelah tangannya melepas setang kemudi, lalu beralih mengelus lutut Shasyania, "Tepat di lampu merah di sebelah sana, untuk pertama kali aku liat kamu di bonceng laki-laki, pandangan kita bertemu dan aku rasa kamu juga mengingatnya yank," ujar Nevan. Dan yaa, mulai hari ini Nevan ingin mengubah cara bicaranya dengan Shasyania, entah akan menghasilkan sesuatu atau justru menghilangkan sesuatu yang baru saja ia mulai.
"Iyaaa aku ingat," sahutnya. Jelas Shasyania mengingatnya karena dihari itu juga ia mengenal sosok Gemmi dengan segala keanehannya.
"Di bonceng menggunakan sepeda motor tidak masalah, asal jangan sampai posisinya seperti ini! Tangan kamu bisa di taruh di penyangga belakang atau yaa..., boleh juga pegang jaket si pengendara, asal jangan meluk!" tegas Nevan, tidak kunjung mendapat jawaban hingga membuat Nevan kembali memanggil, "Yank?"
"Ahh iyaa," jawabnya, "ta...tapi Geonevan..., so...soal itu__,"
"Apa?"
"Panggilan kamu..., panggilan kamu ke aku sebaiknya jang__,"
"Aku cuma ingin membuatnya seperti pasangan pada umumnya, lagipula kita sudah sepakat kan? Jika itu terlalu sulit maka ingatlah, itu cuma sebulan!"
"Anak-anak di sekolah pasti ak__,"
Lagi-lagi ucapan Shasyania di potong, seakan-akan Nevan sudah mengerti apa yang akan diucapkan Shasyania, "Ada perasaan yang sedang kamu jaga?"
"Ahh?"
"Baiklah!" sahutnya tak jelas, dan secara bersamaan tuas gas kembali ia tarik lalu mengikuti laju dari mobil di depannya.
.
.
.
.
.
*Bantu semangat yaa dengan cara tetap dukung cerita ini. terimakasih....*