
Ceklek!
Terdengar suara pintu mobil di buka, dan memperlihatkan sosok Nevan yang sudah mendaratkan tubuhnya di samping gadis yang masih terdiam dengan kepala tertunduk. Sesekali terlihat ia menutup rapat matanya, lalu garis-garis ketakutan mulai tergambar jelas di wajah Shasyania.
"Ikat tangan dan kakinya jangan sampai dia menyusahkan kita!"
Semakin lama bayang-bayangan masa lalu semakin jelas, bahkan suara-suara itu kembali berdengung di telinga Shasyania. Kenangan yang seharusnya sudah terkubur dalam, kali ini justru perlahan mulai muncul lagi ke permukaan. Tangannya mengepal keras, kejadian malam ini benar-benar sukses mendobrak sesuatu yang sudah lama ia kunci rapat dalam ingatannya.
"Shasya? Shasya?" Nevan mulai panik, ia sedikit mengguncang bahu Shasyania agar gadis itu membuka matanya, namun seperti sia-sia karena hanya raga Shasyania yang berada di sana, dengan pikiran melanglang buana entah kemana.
Shasyania terlanjur masuk ke dalam memori ingatan masa lalu, hingga ia tak bisa mengontrol diri untuk tidak merasa takut.
"Lo aman sekarang! gue di sini Shasya. Gue mohon jangan seperti ini!"
Suara-suara Nevan seakan terpental dari Indra pendengaran Shasyania, tidak satupun kata yang mampu ia cerna. Sebesar apapun usaha Nevan akan terasa sia-sia, karena sekarang yang memenuhi telinga Shasyania justru suara yang berbeda.
"Hei kamu! hei! husssst...huuuussst! lagi main petak umpat yaa? ikut satu dong!"
"Ayoo larii!"
"Berhenti nangis ya, kamu gak sendiri!"
"Kita sembunyi di sini, ayo masuk!"
"Jangan bersuara mereka di sana!"
"Tenang-tenang kamu aman!"
Masa-masa mencekam berangsur-angsur menghilang, meskipun kegelapan mendominasi namun ada secercah kenangan lain di masa lalu yang juga mulai membuatnya tenang, hingga raut ketakutan perlahan-lahan memudar, dan gadis itu kembali tersadar dari bayangan hitam.
Matanya terbuka, Nevan yang menyadari itu langsung memeluk tubuh Shasyania, "Lo aman gue di sini Shasya!"
Shasyania membalas pelukan yang memang sangat ia butuhkan, hingga buliran-buliran bening mulai membasahi pipinya.
Tanpa basa-basi Nevan bergerak cepat mengangkat tubuh Shasyania agar duduk di pangkuannya, dan posisi tersebut akan lebih nyaman untuk Shasyania bersandar di dada Nevan.
"Gue di sini," lirihnya.
Sambil terus berbisik, tangan Nevan mengelus lembut kepala Shasyania, ia ingin gadis itu tenang, dan benar saja deru nafas Shasyania mulai teratur dengan kedua mata terpejam lelap.
"Kalian semua bakal hancur!" batin Nevan, ia menyimpulkan jika ketakutan Shasyania ini sepenuhnya hasil dari perbuatan Aleta cs, dan saat seorang Geonevan sudah berucap, maka bisa dipastikan sesuatu yang sangat buruk akan mengintai sasarannya.
"Ningrum!"
Sang pemilik nama langsung menengok ke kursi belakang, dengan kepala sedikit menunduk hormat, "Iya Tuan Muda?"
"Aku mau Shasyania terus berada dalam jarak pandangmu! entah dia membutuhkan jasamu atau tidak kau harus tetap mengawasinya! kecuali saat dia bersamaku, mengerti?"
"Siap Tuan Muda."
Mobil Mercedes Benz berwarna grey membelah kesunyian malam di Kota J. Tiga orang yang masih terjaga di dalam mobil terlihat fokus dengan pandangan mereka masing-masing. Dan Nevan, laki-laki itu begitu menikmati perjalanannya kali ini, karena kedua matanya asik menatap wajah Shasyania.
Beberapa kali rasa penasaran mulai membuncah dalam diri, hingga ia dengan nekatnya mulai menempelkan bibir miliknya di kening gadis yang masih terlelap itu.
Cup!
Cup!
Sekali, dua kali masih terasa kurang puas, dan sekarang Nevan mengincar pipi mulus tersebut. Ciumannya ia tahan lebih lama hingga sang empunya menggeliat dan perlahan membuka mata.
Satu detik, dua detik, tiga detik, tak ada suara, hingga akhirnya Nevan memberanikan diri untuk melirik, dan saat pandangannya kembali menatap tiba-tiba.
"Huuuuuhhh!" nafas lega keluar dari dalam mulut Nevan, ia merasa diberkati karena Shasyania kembali memejamkan mata, "jantung gue seperti mau copot!" cicitnya.
Setelah kejadian tersebut Nevan hanya menatap tanpa melakukan tindakan tambahan lagi, sampai akhirnya mobil itu berhenti di depan gang yang sudah sangat sepi, dan ketika beberapa pengawal menawarkan bantuan, Nevan dengan tegas menolak, ia tak ingin di bantu tenaganya masih cukup kuat untuk membawa tubuh Shasyania dengan gaya bridal style.
"Gue harus tambah kuat, karena hal kayak gini akan sering gue lakuin!" Nevan membatin sembari kakinya silih berganti berayun ke depan.
Ningrum yang masih mengekor di belakang mulai mempercepat langkahnya untuk membuka pintu pagar, dan Nevan juga mengetahui jika Liliana saat ini sedang tidak berada di rumah, hingga ia langsung masuk menuju kamar Shasyania, lalu dengan gerakan lembut ia membaringkan tubuh itu di atas kasur.
Begitu telatennya Nevan menjaga Shasyania, sampai sebuah getaran dari smartphone miliknya yang mampu membuatnya beranjak keluar.
"Hallo Kek?"
"Besok temui Kakek di kantor!"
Panggilan terputus sepihak, Nevan tahu Kakeknya sedang marah dan ia akan segera mendapat masalah, karena ia tahu betul, hanya di keadaan tertentu Toreno menelpon cucunya tanpa berbasa-basi terlebih dahulu, dan langsung mematikan panggilan tanpa penjelasan rinci.
"Tuan Muda mau saya buatkan sesuatu?" tanya seorang pengawal yang kebetulan berpapasan dengan Nevan.
"Tidak perlu, aku mau langsung tidur."
Dan seperti waktu itu, Nevan kembali mempersiapkan tempat tidurnya di bawah, namun sebelum menuju ke alam mimpi terlebih dulu ia mengecup tangan Shasyania.
Iya hanya tangan, karena Nevan tidak mau jika gadis itu sampai kembali terjaga.
Beralih ke tempat lain yang jaraknya jauh di persimpangan jalan sana, terlihat kepulan asap rokok yang memadati area, beberapa orang pria tengah duduk santai dengan secangkir minuman hangat di tangan mereka, bersenda gurau diselingi tawa, bahkan sesekali saling berbalas pukulan untuk mempererat rasa persaudaraan antar kawan.
"Jir perut gue lapar lagi nih!" keluh Miko, ia sampai membalik layar handphone miliknya.
Cletak!
Kulit kacang mendarat indah di kepala Miko, "Gimana gak lapar orang kerjaan lo nontonin orang makan mulu!" sentak Wilkan.
Laki-laki yang tengah di sindir itu langsung berdecak pinggang, "Ini semua gara-gara Igeh gue, masak setiap di buka selalu orang makan mulu yang muncul!"
"Iya gak pa pa sih, namanya juga masa pertumbuhan, lumayan buat nyari cuan!"
"Nyari cuan gimana? yang ada duit gue semakin menipis kampret!"
"Manfaatin badan lo yang semakin berkembang lah!" pungkas Wilkan menjelaskan idenya, "gue tugas jaga, nah lo yang berkeliaran di luar sana!" imbuhnya, dan ucapan Wilkan itu memancing anggota lain untuk tertawa.
"A.jing lo pikir gue ba__,"
Belum sempat Miko mengeluarkan sumpah serapan, terlebih dulu Gemmi beranjak berdiri dan mengeluarkan beberapa lembar uang, "Gue cabut dulu! dan ini bayar makanan yang tadi gue makan, selebihnya buat kalian!"
"Baru jam segini lo pulang Gem? ayolah, kita ke club dulu!" ajak Wilkan.
"Lain kali aja, mata gue sepet nih!"
Miko yang tak langsung percaya mulai memasang wajah jahilnya, "Ohh gue tahu, pasti mau nelpon ama ayang kan?" godanya.
"Kangen ayang langsung pulang," timpal Wilkan.
"Iri? makanya kalian jadian aja berdua biar punya ayang sefrekuensi, satu kelas, satu tongkrongan, kurang apalagi cobak? kan enak nempel mulu!" cela Gemmi, dan ejekannya itu membuat Miko dan Wilkan menjadi bulan-bulanan untuk anggota lainnya.