Mine ?

Mine ?
55 : Pecel ayam



"Kenapa Geonevan bisa berada di sini?" Shasyania masih menerka-nerka dalam hati, tentang laki-laki yang masih terlelap nyenyak dalam tidurnya, "hmmm..., apa aku bangunkan saja? Oh tidak-tidak! tempramen Nevan seperti gunung merapi, daripada aku kena sembur sebaiknya aku cari aman saja!" gumamnya, seraya meninggalkan kamar tersebut untuk bergegas membersihkan diri.


Rasa lengket di sekujur badan akhirnya tergantikan dengan aroma semerbak bunga yang tercium dari tubuh Shasyania, ia begitu menikmati waktu mandinya, hingga mood dalam dirinya seketika meningkat. Butuh waktu setengah jam untuk ia menyelesaikan ritual penyegaran, dan saat tangan itu menarik kenop pintu sebuah insiden kecil terjadi.


Ceklek!


"ASTAGAAAA!!!"


Tubuhnya terhuyung ke belakang dan hampir saja ia membentur ubin dingin di bawah sana, untungnya Nevan memiliki refleks di atas rata-rata, hingga laki-laki itu langsung sigap meraih tubuh Shasyania.


Wajahnya khas bangun tidur seketika sirna, tergantikan dengan tatapan mengunci penuh tanda tanya, "Kenapa lo berteriak? Gue bukan hantu!" protes Nevan, sembari membantu Shasyania agar kembali berdiri tegak.


"Aku tau kamu bukan hantu tapi kamu mengejutkanku!"


Tiba-tiba rasa menusuk kembali hadir, "Bisa pinjem kamar mandinya sebentar gak? udah gak tahan nih!"


Shasyania bergerak menjauh dari sisi pintu, dan memberi akses laki-laki yang terlihat akan menuntaskan kode alam dari sistem pencernaannya.


Tok!


Tok!


Tok!


"Tunggu sebentar!" ucap Shasyania, "aku mohon jangan lagi ada kejutan, tubuhku sudah sangat lelah," lirihnya.


"Selamat sore Nona, kedatangan saya ke sini untuk membawa apa yang Tuan Muda perintahkan," jelas seorang pria dengan setelan jas berwarna hitam, dan terlihat juga sebelah tangannya tengah menenteng sebuah paper bag berukuran sedang.


Mata Shasyania masih menatap lekat, ada sebuah pertanyaan yang terlintas di pikirannya tentang isi dari paper bag tersebut.


"Nona?"


"Ohh...iya iya?"


"Apa saya boleh masuk untuk memberikan ini pada Tuan Muda?"


"Tentu, silahkan masuk."


"Terimakasih Nona," sahutnya, seraya menunduk hormat.


Mengedarkan pandangan ke seluruh area, sampai akhirnya ia kembali bertanya, "Maaf Nona, Tuan Muda di mana ya?"


"Geonevan lagi di kamar mandi," jawabnya sembari menggerakkan jari telunjuknya untuk menunjukkan tempat tersebut.


"Kamar mandi? oh tidak!" Pria itu membatin, nampaknya ia sudah sangat takut jika Tuan Muda nya sampai menunggu lama.


Dengan jakut naik turun ia berusaha mengontrol diri, sebelum tangannya mengetuk pintu kamar mandi, "Tuan Muda ini saya," ucapnya pelan.


"Taruh dan pulanglah!"


"Baik Tuan Muda."


Nevan kembali melanjutkan aktivitasnya yaitu keramas, ia yang baru selesai buang air besar memilih untuk sekalian membersihkan diri, namun saat dua tangan itu menggosok-gosok rambut, ingatannya tentang ruangan ini tidak berada dalam kamar membuatnya meneriaki sebuah nama.


"BION!"


Untungnya sang pemilik nama tidak terlalu jauh melangkahkan kaki, hingga pria itu langsung sigap berbalik badan dan berlari mendekat, "Iya Tuan Muda?"


"Bawa masuk apa yang aku suruh tadi!"


"Baik Tuan Muda."


Dan saat Nevan belum siap menggeser tubuhnya untuk menyamping, Bion yang tanpa menunggu aba-aba lagi sudah mendorong pintu tersebut hingga terbuka lebar, dan hal itu sukses menampakkan sosok Nevan yang tengah berdiri dengan wajah terkejut, bahkan eskpresi keterkejutannya juga tersalur ke wajah gadis yang masih menatapnya dengan tubuh terdiam kaku. Shasyania yang awalnya hendak menuju dapur secara tidak sengaja melirik ke arah kamar mandi dan menyaksikan hal yang seharusnya tidak ia lihat.


Hanya mengunakan kolor berwarna hitam, Nevan berusaha tetap tenang seakan tidak terjadi apa-apa.


"Mana?"


"Ini Tuan Muda, dan ma__,"


"Minta maaf? buat apa, keluarlah!" titahnya, sembari menutup pintu.


Tenang di luar namun panas di dalam, itulah yang terjadi di balik pintu kamar mandi, serangan panik mulai menjalar di sekujur tubuh Nevan, ia begitu malu akan kejadian tadi. Pikirannya yang mulai tidak terkendali membuatnya bingung harus melakukan apa lagi, sampai-sampai paper bag yang ia bawa hampir saja ia masukan ke dalam bak mandi.


Cukup lama ia merasa salah tingkah, hingga pikirannya mulai sedikit terkendali, "Ngapain gue harus malu, bentuk tubuh gue sangat bagus, harusnya dia bangga bisa melihat ini, pahatan masterpiece yang hanya di miliki orang-orang terpilih!" yakinnya pada diri sendiri, namun detik kemudian, "tidak! tidak! ini sangat memalukan, dasar pengawal gak becus! awas lo Bion gue ceburin lo ke empang!"


Shasyania juga tidak kalah kalang kabut, ia bahkan sampai memutar balik badan dan merubah rencana awal untuk menuju dapur.


"Iya?"


"Saya mohon anda jangan mengungkit kejadian tadi, anggap saja seperti fatamorgana. Tolong bantu saya Nona, Tuan Muda pasti sangat malu," Bion sampai mengatupkan kedua tangannya agar Shasyania mau bermurah hati.


"Jelas aku tidak akan membicarakannya! dan kenapa dia yang malu, yang pantas malu itu harusnya aku, karena dengan lancangnya malah melirik ke arah sana!" Suara hati yang hanya di mengerti si pemilik. Shasyania tidak mungkin segampang itu untuk mengungkapkan sesuatu yang tengah mengusik batinnya.


"Tentu, tentu saja!" sahutnya, dengan senyum yang terkesan di paksa.


"Baiklah Nona, kalau begitu saya permisi dulu," pamit Bion, yang lantas di balas anggukan kepala oleh Shasyania.


......................


Sunyi, hening seakan mereka sibuk dengan pikiran masing-masing, hanya duduk termangu menatap arah berbeda, kedua anak remaja itu duduk di ruang tamu.


Sampai salah satu di antara mereka mulai membuka suara, "Hmm, kamu kok bisa ada di rumahku Geonevan?"


"Ibu Liliana yang memberi izin"


"Ohhh."


"Gue lapar!" jujurnya, yang ternyata disalah artikan oleh Shasyania.


"Ohh iya? kamu bisa pulang kok," ungkapan tersebut membuat alis Nevan berkerut, karena jawaban Shasyania benar-benar melenceng jauh dari harapannya.


"Bukannya kita punya janji buat makan bareng."


"Iya tap__,"


"Lo gak bisa atau lo gak mau?"


Mulut Shasyania seketika tertutup rapat, ia seperti menimang-nimang untuk menjawab pertanyaan Nevan. Dan perasaan jika laki-laki di hadapannya itu tampak menyeramkan kembali timbul, saat Shasyania merasa ada yang berbeda dengan sikap Geonevan, entah itu reaksi malu seperti yang di katakan Bion atau sesuatu memang telah terjadi.


"Kita jalan sekarang?"


"Iyaa," jawabnya singkat.


Menarik tuas gas, hingga spedometer menunjukkan kecepatan rata-rata. Tanpa berbicara dan hanya deruman motor yang mengisi pendengaran mereka.


Sampai di titik satu kilometer dari rumah Shasyania, baru saat itu ia memberanikan diri untuk menarik pelan jaket yang dikenakan Nevan.


"Kenapa?"


"Aku mau makan pecel ayam di sana."


"Apa? pecel ayam?" ulangnya.


"Iya pecel ayam, kamu gak suka?"


"Bukan, gue cuma takut salah denger."


Perlahan motor itu mendekati garis jalan dengan lampu sein berkedip-kedip di sebelah kiri.


"Kamu mau mesen apa?"


"Samain aja, cuma punya gue dua porsi."


Setelah jawaban tersebut tidak ada lagi kata yang keluar dari mulut Nevan, suasana itu berlangsung sampai pesanan mereka datang.


"Uhuk!" baru sekali suapan Nevan sudah tersedak, ia melirik ke kanan ke kiri seolah-olah tengah mencari ruang untuknya menetralkan rasa mencekik yang saat ini sedang menggerogoti tenggorokannya.


"Minum dulu, dan jangan terburu-buru!" ucap Shasyania, seraya menyodorkan minuman ke arah Nevan, "gak suka rasanya? atau makanannya terlalu pedas?"


"Ini enak! aku suka, dan pedas? tidak mungkin!" bantahnya, dan ia mulai beraksi kembali memasukan makanan tersebut ke dalam mulutnya.


"Sial sambal apaan nih!" batinnya, yang terus berusaha menyantap makanan itu penuh nikmat.


Shasyania yang menyadari keterpaksaan Nevan memilih untuk menarik lauk yang bercampur sambal tersebut, "Makan ayamnya aja!"


"Gak ada rasa."


"Kamu suka tahu tempe?"


"Lumayan."


Mendengar jawaban Nevan membuat Shasyania bergegas memanggil si penjual untuk memesan tahu tempe dengan sambal goreng biasa.