
"Sha gue gak nyangka loh," ucap Nita, seraya memberi boneka panda untuk Shasyania, "kenapa gak bilang sih kalau lo itu si__,"
"Bener, kenapa lo gak bilang sih? gue yakin, pasti waktu itu lo ketawa kan, liat kita yang saking sibuknya ngajarin lo teknik-teknik dasar, padahal semua udah di luar kepala lo!" Ririn bersuara, di sela-sela perkataan Nita.
"Aku menikmati kekhawatiran kalian, Seru! neh, jadi ketawa lagi kan."
"Tuh kan bener! jahat lo Sha, cobak lo kasih tahu lebih awal, jadinya kita bisa sombong duluan ke tim lawan!"
"Maaf-maaf, sebenarnya aku pengen ngasih tahu, tapi Buk Dayu menyarankan agar ini dirahasiakan..."
"Shasya, selamat ya, dan ini buat lo, maaf hanya barang sederhana," kali ini Baru beraksi, sambil menyerahkan sebuah paper bag berukuran sedang.
"Ihh! bisa gak sih liat sikon dulu, Shasya lagi cerita tuh, lo main nyerobot haluan aja!" protes Nita.
"Makasi ya Bar, ini lebih dari cukup."
"Iya sama-sama Sha," sahut Baru, tanpa memperdulikan ocehan Nita.
"ASTAGAAA GUE MALU BANGET!" jerit Dino, ia berhasil menjadi objek kekesalan, dari tatapan orang-orang yang merasa kupingnya berdengung.
PLAK!
Satu pukulan mendarat tepat di kepala Dino, hingga laki-laki itu meringis kesakitan.
"Sakit an.jir!"
"Sama! kuping gue juga sakit kampret!" pungkas Baru.
Setelah rasa sakit di kepalanya mereda, pandangan Dino kembali terarah pada Shasyania, "Sha, lebih dari siapapun lo pasti mikir gue ini lucu kan?"
(backsound suara angin berembus)
Tidak hanya Shasyania, bahkan semua orang di sana langsung menatapnya heran.
Hingga Dino kembali melanjutkan ucapannya, "Gue bukan pelawak Sha! dan gue yakin lo tahu itu, tapi gue mohon, stop menertawakan tingkah laku gue yang dengan bodohnya mencari seseorang yang jelas-jelas sudah berada di hadapan gue! Bahkan sempat membandingkan lo sama dia, dan parahnya lagi gue meragukan kemampuan lo!" laki-laki itu berucap dengan mimik wajah sendu, "dodolnya gue membandingkan lo sama diri lo sendiri! Tapi Sha, gue gak sepenuhnya salah! gue cuma keliru, karena gue gak tahu dia itu lo, seandainya gue tahu gue pasti akan lebih bangga!" intonasinya meninggi, seperti seseorang yang tengah membacakan tek Proklamasi.
"Iyaa, aku tahu Din, dan makasi untuk ini," sahut Shasyania, sambil menunjuk barang yang Dino beri.
"Boleh foto berdua gak Sha?"
"Tentu Din!"
"Minggir lo Bar, kasih gue ruang buat jalan!" sombongnya, seraya membusungkan dada.
Hari ini Shasyania terlihat sibuk melayani orang-orang yang ingin mengabadikan momen lewat jepretan foto, setelah bersama teman-temannya di SMA MERPATI, kini ia juga memiliki tanggung jawab untuk menyenangi para pengagum barunya di SMA GUARDIANS.
"Kenapa Shasyania gak jadi artis atau selebgram aja ya? padahal peluang dia terbuka lebar untuk ke sana. Dia juara kontes kecantikan, pintar, percaya diri, pasti banyak orang yang menginginkan jasanya!" kata Dino, saat pandangannya masih menatap lekat gadis yang tengah sibuk dengan aktivitasnya.
"Pasti ada alasan kuat!" ucap Ririn, menduga-duga.
"Alasan semacam apa?" tanya Nita, ia begitu serius mendengar ucapan Ririn.
"Alasan karena gak mau lah! gimana sih!" kelakar Wilkan, yang tiba-tiba sudah berada di antara mereka berempat.
"Udah kek jelangkung aja lo!"
"Emang kalian lagi ngadain acara, sampek gue mesti dapet undangan dulu buat berdiri di sini!"
Nita hendak melayangkan pukulannya ke Wilkan, namun kaki kiri gadis itu menginjak sebuah batu, hingga badannya terhuyung ke samping membentur seseorang.
"So...sorry, gak sengaja," saat matanya menatap korban, seketika rasa malu menyeruak ke dalam tubuhnya.
"Kak Septi."
"Tulang lo lagi lunak ya? tadi pagi tubruk orang sekarang juga makan korban!" sergah Dino.
"Iya gak apa-apa," jelas Septi, menenangkan Nita, "Oh ya, Shasyania mana ya?" sambungnya bertanya.
"Barusan di sana Kak, tapi sekarang kok gak ada ya," sahut Ririn, seraya menggaruk tekuk lehernya karena merasa canggung.
"Ohh gitu, yasudah biar Kakak cek kesana," pamitnya, meninggalkan orang-orang yang terlihat kembali bersenda gurau.
Tok!
Tok!
"Sha..., lo di dalem kan? ini gue Septi."
"Iya Kak, sebentar lagi aku keluar," sahut Shasyania dari dalam kamar mandi.
"Ada apa ya Kak?"
"Jadi gini, tim penyelenggara mau semua peserta foto bareng di Aula, katanya mau di buat poster atau baliho gitu gue lupa, yang jelas kalian berdua harus ke sana!" jelas Yuki.
Mereka bertiga pun berjalan beriringan, dan di sepanjang perjalanan tak luput dari obrolan.
"Lo pasti tahu Sha..., dulu lo itu adalah ancaman bagi SMA GUARDIANS, pokoknya mengantisipasi lo itu hukumnya wajib, tapi sekarang lo berjuang demi SMA kita, Huh seneng banget gue, apalagi liat muka anak-anak SMA ERLANGGA, PUAS BANGET!" curhat Yuki, Shasyania dan Septi hanya sebagai pendengar, karena Yuki terus-menerus berbicara tanpa jeda sedikitpun. Hingga mereka akhirnya sampai pada tempat tujuan.
"Ini perwakilan SMA ERLANGGA lagi satu di mana?" tanya salah satu panitia acara.
Brayen selaku ketos di sana langsung meminta penjelasan dari rekannya yang lain.
"Nyari Freya? dia gak ada di sini!"
"Maksud lo apaan?"
"Hhmmm..., kayak gak tahu sifat Freya aja, mana mau dia di atur-atur begini, apalagi kalau berurusan sama orang yang dia suka! yang lain mah gak ada apa-apanya!"
"Bisa gak langsung ke intinya aja, gak usah belibet ke segala arah!"
"Dia lagi sama Geonevan, katanya mereka mau dinner romantis! Kalau gak percaya nih gue kasih liat fotonya!"
"Ck, kalau bukan karena faktor keluarga males banget gue mentolerir kesalahan dia yang udah bejibun kayak gunung! Belum lagi sifat sombongnya yang udah kayak bos!" sentak Brayen, sampai meremas kertas yang ia pegang.
"Wah...wah, Juara tiga itu pacarnya Geonevan ya? Syok gue!" tutur Yuki.
"Gak usah berlebihan gitu Yuk! Lagian keluarga mereka kan terkenal akrab, jadi wajar aja anak-anak nya pada pacaran!" sahut Septi, ia mengetahui hubungan kedua keluarga itu dari cerita Mama nya, yang juga merupakan karyawan Dione Crop di bidang industri.
"Faktor di jodohin gak tu? dengan niat memperluas jalinan bisnis! Kan lagi jaman tuh," canda Yuki, sesekali tawa nyaring keluar dari mulutnya.
"Mungkin," sahut Septi yang juga ikut tertawa.
Shasyania hanya terdiam, ia tak ikut dalam obrolan tersebut, mungkin karena ia bingung harus menanggapi seperti apa, namun yang jelas sesuatu menyengat telah terjadi di dalam dirinya.
"Oh ya Sha, maaf nih ya, tapi gue kepo nih! Lo ada sesuatu sama Gemmi ya? kelihatannya akrab banget tuh, apalagi pas tadi di panggung," tanya Yuki, gadis itu semakin mendekati Shasyania.
"Kita temen sekelas Kak."
"Nih anak kepo banget sih! gak usah nanya-nanya urusan pribadi orang bisa! Awas lumer tuh bibir!" bentak Septi.
"Iyaa...ya tapi gue kan udah minta maaf ya Sha," ujarnya, "jujur ya, gue sedikit sakit hati sih, karena gue kan barisan wanita pecinta Gemmi, apalagi roti sobeknya, bikin gila!"
"Sudah jangan di dengerin lagi Sha! kita ke sana aja, sesi foto udah mau mulai tuh," ajak Septi, sembari menarik lengan Shasyania.
Kegiatan itu berlangsung beberapa menit, hingga semua rangkaian acara selesai.
Dan ketika Shasyania mengayunkan satu persatu kakinya ke depan, seseorang dari arah belakang menarik paksa tangannya.
"Sha..., lo harus ikut gue!"
"Gemmi?"
"Buruan Sha!"
"Tunggu! kenapa aku harus ikut?" cegahnya, ketika tangan dari laki-laki itu kembali menariknya.
"Oma Sha, terjadi sesuatu sama Oma!"
"Oma?" beberapa detik Shasyania masih terpaku, hingga lamunannya berakhir saat Gemmi mengguncang bahunya.
"Baiklah! tapi tunggu, aku harus menaruh mahkota ini di kantor Guru."
"Oke, gue tunggu di parkiran!"
.
.
.
.
.
Jangan lupa like dan komen ya, biar nambah SEMANGAT, dan juga biar aku tahu seberapa orang yang masih suka dengan cerita ini. Terimakasih 🤗