Mine ?

Mine ?
67 : Berbagi



..."Maju tak gentar"...


..."Membela yang benar"...


..."Maju tak gentar"...


..."Hak kita diserang"...


.......


.......


.......


Bunyi bel istirahat terdengar dari sebuah speaker yang terpasang di sudut kelas, dan hal itu menyebabkan semua murid mulai berhamburan memadati koridor dengan langkah mereka yang tergesa-gesa, lalu berlari kencang menuju kantin.


"WOII JANGAN NYALIP DONG!"


"SUKA-SUKA GUE LAH ORANG INI KAKI-KAKI GUE!"


"************ LO SAKIT GAK TUH?"


"JANGAN SALAHKAN KAKI GUE YANG JENJANG KARENA LANGKAH LO YANG PENDEK!"


"LELET!"


"PESENIN DULU YAA!"


"OGAAAAHHHH!!!"


Meskipun sudah disediakan beraneka jenis makanan, namun tetap saja makanan lokal buatan salah satu pedagang kantin akan selalu menjadi pilihan utama. Bakso legendaris SMA GUARDIANS, yang sudah terkenal dari masa ke masa, jadi wajar saja jika mereka berlomba-lomba untuk mendapatkannya.


Uwa Puri, sapaan hangat untuk wanita setengah abad yang selalu menjadi favorit untuk para murid menghabiskan uangnya hanya untuk mencicipi racikannya yang sarat akan rempah-rempah, karena dari jaman pertama SMA GUARDIANS berdiri dia sudah menjadi penghuni kantin, dan sepak terjangnya di dunia kuliner dengan seasoning micin tak dapat diragukan lagi.


"Uwa Pur pesan dua mangkok!"


"Bakso rujak satu!"


Membawa perut lapar, mereka berdesak-desakan menyerobot antrian, dan ketika tidak mendapat makanan yang menjadi tujuan utama mereka memanjakan perut, maka itu jelas menimbulkan perasaan kesal, apalagi jika makanan itu sudah mereka bayangkan-bayangkan saat jam pelajaran berlangsung.


"Sudah habis ya, ini tiga mangkok udah ada yang punya."


"Uwa! kenapa tidak buatnya yang banyak aja sih! Nita sering gak kebagian nih!"


"Iyaa padahal lari udah kayak kancil tapi selalu aja kalah sama kelas liliput!" Julukan untuk kelas XII Bahasa, yang selalu lamban dalam kegiatan sekolah, namun entah kenapa mereka selalu terdepan dalam urusan menyerbu kantin.


"Udah banyak kok buatnya, itu...," jelasnya dengan nada lemah lembut, sembari melirik benda yang sudah terlihat kosong tersebut.


"Iyaa tahu Uwa Pur, tapi besok-besok bisa kali buatnya pakek dua panci!"


"Gak bisa..., kalau buatnya banyak rasanya bisa berbeda."


Para murid terus melayangkan protes, namun wanita paruh baya itu tetap kekeh dengan apa yang sering ia ucapkan dari tahun ke tahun.


Brak!


"Mood gue selalu hancur kalau gak dapet makanan Uwa Puri! padahal udah dari kemarin gue bayangin makan bakso legendarisnya!" cetus Nita.


"Udahlah Nit, lagian gimanapun cara lo buat maksa si Uwa, dia gak bakal kerayu, meskipun lo bayar dua kali lipat juga dia gak akan tergiur!"


"Pakek jimat kali ya, dan kesepakatannya cuma masak sepanci itu aja!" tuduh Nita.


"Jaman sekarang masiiiiih aja percaya takhayul! Kurang jauh main lo Nit!" tukas Ririn.


Asik mengobrol, sampai mereka tidak menyadari kedatangan Shasyania di hadapannya.


"Ehh...ehh....ehh! i...itu ke...kenapa lo bisa dapet?"


"Karena belilah."


"Itu bakso dari pedagang yang itukan?" tunjuk Nita pada warung Uwa Puri.


"Iyaaa di sana."


"Nah kenapa bisa? gue habis dari sana tapi katanya udah habis, dan gimana caranya lo bisa dapat?"


"Tadi pas aku ngantri, anak-anak lain malah pada menepi, jadi ya dapet."


Nita menggeleng-geleng tidak percaya, "Uwaahh benar-benar gak adil! Asal good looking semua pada sok baik!" sinis nya, sembari menatap kumpulan murid-murid tidak berdosa tersebut.


"Kamu mau Nit? yasudah kita bagi aja," ajak Shasyania.


"Beneran? ini enak banget loh, jangan nyesel yaaa! Karena gue bisa kalap kalau udah makan ini!" terang Nita, dengan tangan yang sudah siap untuk mengambil satu pentol bakso.


"Iya tapi makanan kamu dibagi juga, karena aku gak bakal cukup hanya makan ini aja," jelas Shasyania.


Sembari mengunyah, "Gampang!"


Ketiganya serempak menoleh, ketika Dariel dan Eron kompak menginginkan hal yang sama.


"Kalian duduk aja! lagian kita gak booking ini meja kok," seloroh Ririn.


"Thankyou Rwiirwiin...," ujar Dariel lebay, seraya mengacak-acak rambut gadis yang mulai menatapnya kesal.


"Gak jadi! sekarang mending kalian pergi!"


"Gak bisa tuh..., kita udah duduk!"


"Geonevan mana?"


Dariel menaikkan satu alisnya, "Kenapa nanya dia? naksir? wajar sih, tapi mending lo buang jauh-jauh tuh perasaan, sebelum lo kena depak!" kelakarnya.


Nita geram mendengar jawaban yang terkesan menghinanya sebagai seorang wanita, hingga dengan sengaja ia mencampur garam di makanan Dariel.


"Wehhh...weh! apa-apaan lo!"


"Rasain! uweeeeek!" ejeknya sembari menjulurkan lidah.


"Hidup lo kan kurang asin jadi nikmatin aja!"


"Iya gue tahu gue manis!"


"Ihhh janissss!!!"


Di tengah kericuhan yang terjadi, ternyata sebuah drama juga mulai disuguhkan di depan sana.


"Riel liat tuh!" pinta Eron dengan gerakan mata.


"Udah tahu Nevan minus sikap, tapi masih aja ada yang deketin dengan cara klasik!"


Pandangan Dariel lekat menatap seseorang yang mulai tersulut emosinya.


"Pergi!"


"Bi...biar guuue bantu bersihin i..itu Geonevan," ujar seorang murid perempuan dengan tangan sedikit bergetar.


Nevan melenggang pergi, tanpa memperdulikan orang yang masih berusaha menahannya.


"I...tu kesalahan guuue, ja...jadi biarin gue bersihin!"


Greb!


Tangannya menarik bagian belakang baju Nevan, hingga ia berbalik dengan tatapan mendelik.


"GUE BILANG PERGI! LO TULI?"


Eron sadar jika sahabatnya kini menjadi tontonan khalayak ramai, maka dari itu ia melangkahkan kaki untuk segera menarik Nevan.


"Udah Van gak usah lo ladenin!" saran Eron, dan sebelum ia mengajak Nevan menjauh, laki-laki itu menyempatkan diri untuk melirik si perempuan yang masih berusaha menahan Nevan, "dan untuk lo! Gak usah caper! Hargai diri lo sebagai wanita! jangan mengemis-ngemis seperti tidak memiliki harga diri!" ketusnya tajam.


Saat dua orang itu semakin dekat, Dariel menggeser pantatnya, ia memberi Nevan ruang untuk duduk di sebelah Shasyania, "Ihhh babang Nevan emosian melulu dehhh!" Gelak tawa Dariel menjadi pusat perhatian, ia sangat puas menggoda Nevan yang masih anteng dengan sikap dinginnya.


"Berisik!"


Nita dan Ririn tertegun mendengar ucapan sarkas Nevan, "Gue emang maunya Shasyania deket sama Geonevan, tapi gak dengan kondisi seperti ini! canggung parah sumpah!" bisik Nita.


"Udah buruan makan! gue juga mati kutu ini!" cicitnya tak kalah menekan.


Namun tiba-tiba Nita yang tanpa sengaja melihat gerakan Shasyania membuatnya terbatuk-batuk, hingga ia menahan rasa sakit yang terasa mencekik di bagian leher.


"Nih minum Nit, minum!" seru Ririn.


"Makan yang santai napa, gak ada yang rebut tuh!" ejek Eron.


Setelah beberapa menit dengan kondisi yang sama, sampai akhirnya Nita kembali biasa, dan saat itu juga ia mencengkram lengan gadis di sebelahnya, "Lo liatkan?"


"Iyaa gue liat, gimana nih?"


"Shaa..., minuman lo rasa apa?" ujarnya yang terdengar sengaja ia keras-keras kan.


"Ini? es teh Nit," sahut Shasyania dengan raut bingung.


"Iya gue tahu, gue tahu! tapi tadi lo nyedot esnya Geonevan! Lo udah tahu minuman lo sebelah kanan tapi kenapa tadi lo minumnya yang sebelah kiri? mana sekarang Geonevan minum juga! ketahuan mampus kita! ini namanya berbagi mengundang petaka Shasyania!" tanpa suara Nita mengomel, karena hanya mimik wajahnya yang ia gunakan untuk menyampaikan keresahannya.


"Ini anak kenapa lagi? kesurupan lo?" sindir Dariel.


"Wahai penguasa alam semesta, jangan biarkan Geonevan menyadari tingkah laku Shasyania, berkati kami dari sumpah serapahnya!" batinnya mengiba.


"Jangan ngurusin dia Riel! entar lo ikut aneh lagi!" gurau Eron, ketika Dariel terus mempertanyakan kewarasan dari seorang Nita.


"Iya juga sih! ketimbang ketularan dia mending gue ketularan kepintaran Shasya!" sahutnya, "Oh ya Sha alasan lo pindah ke SMA GUARDIANS apa?"


"Makan! gak usah banyak omong!" pungkas Nevan.