Mine ?

Mine ?
23 : Rival or Partner?



Suara deruman motor membuat beberapa remaja yang sedang duduk santai di warung belakang tiba-tiba berdiri. Dari suara motor itu mereka sudah tahu siapa yang akan datang.


Sebuah Motor Ninja Fi Black Metallic terparkir menyamping. Sang pengemudi itu turun penuh wibawa sambil melepas kaca mata hitam yang sedari tadi bertengger manis di depan matanya.


Goodboy tulisan cetak tebal yang tertempel di punggung jaket yang tengah ia kenakan.


Kehadirannya mempu membuat orang-orang tertunduk segan hingga satu persatu di antara mereka menyapa ramah dengan adu kepalan tangan.


"Kalian semua bolos?"


"Enggak Gem, ini kan masih jam istirahat."


Tampaknya Satu bulan tidak masuk sekolah mampu mempengaruhi ingatannya akan jam pelajaran.


"Ehhh nak Gemmi kelihatan lagi! udah selesai pelatihannya ya?" tanya wanita paruh baya yang bernama Runni, ia merupakan pemilik warung belakang.


"Wah...pasti dapet mendali lagi kan nak Gem?" kali ini pria bernama Slowan yang bertanya. Runni dan Slowan sepasang suami-istri yang sudah lama menikah namun belum juga dikaruniai keturunan.


"So pasti Pak Slow!" pungkas Gemmi penuh kebanggaan, ""Bik Run pesan mie kayak biasa!" lanjutnya.


"Cabainya di kurangin dikit ya nak Gem soalnya stoknya sedikit."


"Cabe sekarang mahal ya Bik Run?"


Sembari membuka sebungkus mie instan Runni bersuara, "Ia nih, lagi melonjak tinggi," keluhnya.


"Kalau mau cabe murah cari aja ke kelas saya Bik!"


"Kelas nak Gem bercocok tanam?"


"Kadang-kadang!" serunya sambil tertawa, perhatian Gemmi kembali teralih pada anggotanya, "oh yaa kalian tahu informasi tentang siswi baru?"


"Siswi baru?" ulang Jeki sambil mengingat-ingat, "ohh ya memang ada beberapa murid baru di sekolah kita tapi ada satu yang mencuri perhatian di__,"


"Cantik?" potong Gemmi.


"Memang cantik banget sih tapi bukan karena itu dia terkenal melainkan karena sempat di bully."


"Di bully sama siapa?"


"Sama Geng Barbar! dan lo tahu siswi baru itu langsung melapor ke ruang guru terus si Aleta sama antek-anteknya kena skorsing!"


"Wah menarik juga tuh anak baru!" sentak Gemmi sambil tersenyum.


"Gue sebut dia cantik dan pemberani!" pungkas Jeki.


"Woi anak berprestasi berani banget lo ijin tapi main di area sekolah!" seru Wilkan yang baru terlihat bergabung.


"Siapa yang berani negur seorang Gemdominic? apalagi dia ketua Geng PS!" seru Miko. Mereka bertiga saling adu kepalan tangan untuk menyambut keakraban.


"Kapan nih lo mulai masuk kelas lagi?" tanya Wilkan.


Gemmi terlebih dahulu menerima semangkuk mie rebus dari Bik Run, sebelum ia menjawab pertanyaan sahabatnya, "Mungkin besok!" sahutnya seraya menyendok mie yang terlihat begitu panas dengan kepulan asap tersebut.


...****************...


Ruangan kelas XI IPA 1


"Serius lo daftar Putri sekolah?"


"Serius lah Riss! lagian di sekolah gua yang lama gue itu runner up tahu!" sahut Jiana, ia kembali bercermin merapikan make up di wajahnya.


"Demi apa lo runner up?" ulang Megan.


Jiana tersenyum tipis, "Sebenarnya gue bisa aja sih jadi juara pertama tapi sayang waktu kompetisi sekolah kondisi gue kurang fit, jadinya pas kompetisi antar sekolah bukan gue yang mewakili!"


"Keren juga lo!" puji Megan.


"Putri sekolah kita masih kak Septi kan? anak IPS?" tanya Rissa.


"Masih! tapi pas kompetisi antar sekolah dia cuma jadi juara Tiga!" sahut Megan, "runner up nya kan dari SMA ERLANGGA!" imbuhnya.


"Kalah sama sekolah lain masih ada toleransi tapi kalah sama SMA ERLANGGA kayak berasa harga diri jatuh gak sih?" seru Rissa.


"Jelas karena musuh bebuyutan!"


"Tapi sekarang kalian tenang aja karena udah ada gue di sini! perwakilan sekolah gue yang lama gak pinter-pinter banget kok! cantikan juga gue! dia cuma menang hoki aja waktu itu!" tegas Jiana.


"Itu si Shasya gak niat ikut juga apa ya?" ungkap Megan.


Jiana berdecak, "Ehh Me lo kira jadi Putri sekolah cuma modal cantik doang? INI!" tunjuk nya sambil mengetuk-ngetuk kepala menggunakan telunjuk, "harus ada isinya juga!" tandasnya.


Di sudut lain kelas Nita terlihat asik memotong kuku sambil mulutnya mengunyah makanan.


"Telen dulu tuh makanan! ciprat kemana-mana nih!" protes Ririn, "tapi bener Sha... lo gak niat? kalau iya biar gue antar ke panitia!"


Belum sempat Shasyania menjawab Nita kembali membuka mulut.


"Lo tahu track record sekolah kita? nih ya biar gue kasih tahu! SMA GUARDIANS punya musuh bebuyutan yaitu SMA ERLANGGA, gue sih kurang tahu mulainya dari kapan, yang jelas pas gue masuk sini permasalahan itu udah ada! Meskipun di kompetisi lain kita beberapa kali saling mengalahkan, namun ada Satu kompetisi yang kita gak pernah sekalipun menang dari SMA ERLANGGA yaitu kompetisi Putri sekolah! SMA kita terkenal cakep-cakep di sosmed tapi selalu kalah di real life, itu memalukan apalagi pas di sindir! tapi sekarang gue yakin SMA kita bisa menang dan itu terjadi hanya jika lo ikut berpartisipasi!" tutur Nita.


"Aku gak niat."


Tiga kata yang keluar dari mulut Shasyania seakan menyimpulkan jika penjelasan panjang lebar dari seorang Nita itu sia-sia.


"Wah gak mengembangkan potensi diri namanya!" gerutu Nita, "apa jangan-jangan lo demam panggung? Semua masih bisa di latih Shaa! Lagian lo gak mesti juara pertama kok! intinya yang jelas posisi kita mesti di atas SMA ERLANGGA! gue yakin lo bisa merebut posisi kedua! si Gisel runner up SMA ERLANGGA gak cantik-cantik banget kok! gue tahu karena dia temen dari temennya gue!"


Ririn sedikit terganggu dengan ucapan Nita, "Yang kayak gitu gak bisa di paksa Nit! kalau si Shasya nya gak mau jangan di paksa!"


"Gue cuma menyarankan Rin!"


"Nah sekarang gimana kalau lo aja yang ikut! ini saran dari gue."


"Sialan lo! lo mau gue jadi ondel-ondel di sana!" ketus Nita.


"Gue kan cuma menyarankan Nit jangan sensi gitu napa," goda Ririn, "oh ya Shaa lo jadikan pindah tempat duduk ke belakang bangku kita? lagian si Agus sama Rudi udah setuju pindah kok!"


"Iya mending lo pindah aja sekarang! biar nanti pas pelajaran Pak Gunar kita bisa diskusi!" tawar Nita.


"Baiklah," sahut Shasyania sambil tersenyum.


Pelajaran di mulai...


"Bapak sudah memeriksa hasil ulangan kalian semua dan Bapak juga sudah mengrimkan hasilnya ke wali kalian masing-masing," jelas Pak Gunar di depan sana.


Beberapa murid langsung tertunduk lesu mendengar ucapan itu sambil sesekali menggelengkan kepala.


"Dinesclara Shasyania dan juga Geonevan Akhilenzyn Eldione harap maju!" perintah Pak Gunar. Kedua murid itupun melangkah ke depan dan berdiri berdampingan.


Serasi?


"Wah kenapa mereka di suruh maju ya?" bisik Nita.


"Gue harap gak terjadi hal yang memalukan!" lirih Ririn.


"Gue yakin itu pasti nilai terbaik dan juga nilai terburuk!" tebak Rissa.


"Tebakan lo waktu itu juga sama tapi salah!" sahut Megan, "tapi bukannya si Shasya di kasih kemudahan buat gak ikut ulangan, jadi kenapa dia bisa dapet nilai buruk?" imbuhnya penasaran.


"Ya karena dia sok pintar! makanya kalau udah di kasih pengecualian jangan belagu! Gue aja nurut!" pungkas Jiana. Ada rasa benci dalam dirinya untuk Shasyania, mungkin karena ia merasa tersaingi hingga membuat kehadirannya tidak terlalu bersinar.


"Kamu murid baru kan?" tanya Pak Gunar.


"Iya Pak."


"Bukannya Bapak sudah memberikan kemudahan tapi kenapa kamu masih tetap mengikuti ulangan?" selidik Pak Gunar.


"Maaf Pak."


"Kenapa minta maaf? justru Bapak bangga karena kamu tidak menggunakan itu sebagai alasan! apalagi dengan hasil ulangan kamu yang sangat memuaskan. Skor nilai mu tertinggi di kelas ini!" puji Pak Gunar, "dan untuk kamu Geonevan kali ini kamu harus rela jika skor nilai mu sedikit lebih rendah. jangan berkecil hati! Hal ini biasa terjadi! malah seharusnya ini menjadi pemicu untuk kamu lebih terpacu mengasah kemampuan agar posisimu kembali seperti semula, mengerti? Dan Bapak harapkan juga untuk murid yang lain agar kalian bisa mencontoh mereka berdua! setidaknya kehadiran mereka di kelas ini mampu membuat kalian lebih memiliki semangat untuk belajar! KALIAN MENGERTI?"


"Siap mengerti Pak!"


Suara tepuk tangan mengiringi langkah Shasyania dan juga Geonevan untuk kembali ke bangku mereka. Ada dua rasa yang tercampur di dalam ruangan itu. Rasa bangga dan juga rasa tidak percaya bahwa seorang Geonevan kembali menduduki posisi kedua dalam urusan pelajaran.


" Siall... Gue kira dia cuma modal tampang tapi ternyata dia juga spesies otak encer!" puji Dariel.


"Kenapa? makin terasa jauh ya harapan lo untuk dapetin dia?" sindir Eron.


Nita tidak ada hentinya untuk tepuk tangan, ia menatap Shasyania penuh kekaguman, "Shasyaaa... lo pintar ya? dari kapan?"


"Dari saat lo ngeremehin dia sampek nyuruh nyalin jawaban keliru!" gurau Ririn. "Shasya selamat ya!" imbuhnya sambil menjulurkan tangan.


"Makasii... jika kalian mau kita bisa belajar bareng kok," ajak Shasyania.


Tiba-tiba Nita membuang muka ke depan. Ririn yang menyaksikan itu langsung tertawa.


"Perut lo mendadak mules?" tebaknya, "kalau gue sih oke oke aja Shaa... asal belajarnya santai gak tegang," imbuhnya seraya membalikan badan ke depan untuk kembali memperhatikan Pak Gunar yang sedang mengajar.


"Si Geonevan kira-kira marah gak ya karena sekarang punya saingan?" bisik Dino


"Pasti sih! ini kan situasi langka buat dia! apalagi yang ngalahin cewek!" sahut Baru.


"Yang awalnya di gadang-gadang jadi pasangan malah sekarang jadi saingan!" pungkas Dino.


*Bagi kalian yang baca semoga terhibur dengan cerita ini yaa😊*