
Pertemuan kedua belah keluarga itu berlangsung di sebuah Hotel bintang lima, yang juga merupakan salah satu properti komersial yang dimiliki keluarga Zeiqueen, di kawasan strategis Kota J.
Dan Meiriam, yang tidak lain adalah Maminya Zia memang sengaja untuk melakukan jamuan di meja bundar, ia ingin menciptakan kesan akrab antara keluarganya dan keluarga Eldione, terkhusus lagi bersama Nevan, remaja tampan yang sudah memikat hatinya sejak pertamakali bertemu, beberapa tahun yang lalu.
"Aura Nevan kian bersinar, dia memang pantas bersama Zia!"
"Akhirnya kita bertemu juga Nevan, aunty sudah menanti-nantikan pertemuan ini sejak lama! Dan sama seperti dulu, kamu selalu terlihat mengagumkan...."
Sekilas Nevan menatap ramah orang yang tengah memujinya tersebut, dan ia memperlihatkan senyumnya yang tipis, sangat tipis, bahkan setipis kulit ari.
Dan di sisi lain, Jazlan yang menyadari betapa menggebunya perasaan sang istri mulai ikut angkat bicara, "Iyaa!! dan apa kalian tahu? dari pertama istriku melihat putra kalian ini, dia selalu membicarakannya... Nevan seperti ini, Nevan seperti itu, dan apapun yang berhubungan dengan Nevan, maka dia akan tahu, entah itu dari surat kabar, berita, majalah, yaaa pokoknya semua tidak akan pernah luput darinya, dan setelah itu maka seharian penuh dia akan membicarakan tentang Nevan! Istriku begitu mengagumi anak kalian!"
"Waooo, kami bahkan sampai bingung harus merangkai kata seperti apa lagi, tapi yang jelas kami sangat tersanjung mendengarnya, dan yaaa... puteri kalian juga sangat mengagumkan! Kami tahu Bralinzhea, dan kami juga tahu perstasinya... dia selalu berhasil mencuri perhatian setiap orang dengan karyanya yang luar biasa!" sahut Deron.
"Zia selalu berhasil dengan citranya yang memukau, apalagi saya dengar dia akan kembali ke dunia entertainment. Dia pasti akan langsung menyita perhatian dan menjadi buah bibir!" timpal Zivana.
Kini mereka saling berbalas pujian, dan hal itu membuat Nevan semakin gerah untuk berada ditengah-tengah obrolan yang ia anggap sangat membosankan tersebut.
"Apa kalian juga berpikiran yang sama? tentang Nevan dan Zia yang memiliki banyak kesamaan? salah satunya adalah mereka berdua sama-sama berprestasi! dan mudah di sukai! Saya yakin jika mereka mengobrol, mereka akan langsung saling memahami, sangat cocok!" tegas Meiriam, sembari melirik kearah Nevan.
"Tentu! karena kesetaraan menjadi patokannya! mereka tumbuh dan berpikir sesuai dengan lingkungan mereka! jadi sudah pasti sangat cocok! tidak diragukan lagi!" tekan Jazlan, "dan putriku tidak akan mengecewakan keluarga Eldione, apalagi dulu, mereka juga sempat saling mengenal kan? ahaha Maafkan uncle Nevan, tapi tangisanmu saat Zia melupakanmu dulu masih terngiang-ngiang di pikiran uncle! waktu itu kalian masih kecil, sekarang situasi sudah berbeda, Zia tidak akan mengecewakan mu!" imbuhnya, seraya mengangkat satu alis dengan senyum kebanggaan.
"Menangis? sayang... apa kamu menangis juga di rumahnya Zia? Woooww Nevan wowww kamu sangat cengeng waktu kecil yaa!" goda Zivana.
"Ahaha, tapi dia menggemaskan, Nevan kecil akan membawa banyak hal untuk Zia dan selalu mencari-cari Zia, 'Aku ini sahabatnya Zia aunty! kami bersahabat!' seperti itulah perkataanya dulu ahaha, dia lucu sekali! dan sekarang tenang saja Nevan, kini Zia sendiri yang akan datang, dan kalian akan memiliki banyak waktu untuk bersama! bicaralah sepuasnya, hingga kalian lupa waktu," ucap Meiriam, dengan tatapan yang kembali terarah pada Nevan.
Namun laki-laki yang tengah disinggung itu bukannya menjawab malah asik memperhatikan gelas minuman yang berada di genggaman tangannya, sekali-kali ia putar lalu meneguk isinya perlahan.
Karena jelas, jika itu dulu maka bisa dipastikan Nevan akan bersorak gembira, tapi kenyataannya masa-masa itu telah usai, hingga kini ia malah menanggapinya biasa.
Meskipun Nevan belum menyadari jika teman kecilnya itu bukanlah Zia, tapi ekspresinya saat ini sudah memperlihatkan jika enggan untuk membahasnya kembali, dan terkesan tak tertarik.
Namun berbeda dengan reaksi yang ditunjukkan oleh Zivana, ia yang menyadari pikiran puteranya telah jauh melanglang buana langsung bergerak menepuk paha Nevan, mengisyaratkan agar anaknya itu segera menanggapi ungkapan Meiriam.
Nevan memang tidak berkonsentrasi penuh untuk memahami seluruh topik, hingga tatapan menekan dari Zivana langsung membuat Nevan berseru, "Ohh iyaa, tentu!"
"Membosankan!" cibir Nevan dalam hati, dan laki-laki itu kembali asik dengan pikirannya sendiri, "Ohh sial! aku harus fokus! jika aku terus diam dan memasang wajah seperti ini maka mereka akan menyadari jika aku terpaksa berada di sini, dan itu akan membuatku semakin sulit untuk mengorek informasi! ayoo kuasai dirimu Nevan!"
"Ohh iya, apa di keluarga Zeiqueen pernah ada pelayan yang sampai mengundurkan diri? mhh... mungkin karena tidak cocok, atau semacamnya? apakah ada?"
Pertanyaan dari Nevan membuat orang-orang di dalam sana terdiam, dan mulai mencerna kembali setiap kata di kalimat tersebut.
"Apa yang kamu tanyakan Nevan?" sentak Deron.
"Bukan apa-apa Dad! itu hanya..., iyaa aku hanya ingin tahu saja, karena aku berencana mensejahterakan pelayan di rumah kita, agar tidak ada yang mengundurkan diri, dan jika hal tersebut pernah terjadi di keluarga Zeiqueen, maka aku bisa mempelajari hal-hal yang harus kita minimalisir agar kejadian seperti itu tidak sampai terjadi!"
Jazlan menggeleng-gelengkan kepalanya, ia masih tak percaya dengan apa yang ia dengar, "Wahh Nevan, uncle harap kamu tidak lagi mencemari otak pintar mu itu dengan memikirkan hal-hal tidak penting! apalagi seorang pelayan! Ck, jangan! Mereka bekerja dan kita gaji! jika mereka memilih pergi padahal sudah diberi segala kemudahan, maka itu namanya tidak tahu diri!"
Pandangan Nevan langsung menghunus menatap Jazlan, rahangnya bahkan sampai mengeras, dan saat Nevan akan berdiri, buru-buru Zivana menarik lengan puteranya.
"Ohh sayang, apa kamu sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Zia mmmhh? duduklah Nevan!! sebentar lagi Zia pasti akan datang!" elak Zivana, ia menekan cengkeramannya agar Nevan mau berdiam diri.
Bahkan Zivana dibuat heran dengan mimik wajah Nevan yang seakan ingin mengajak perang, padahal topik pembahasan mereka dirasanya tidak ada yang menyinggung.
"Nevan, bersabarlah sebentar lagi ya sayang, dan seperti yang kamu tahu Nevan, Zia harus mengurus kepindahannya dari luar Negeri, jadi... ada banyak hal yang harus ia selesaikan, makanya tadi kami tidak berangkat bersama," sesal Meiriam, yang merasa tidak enak prihal keterlambatan putrinya.
"Tentu aunty!" sahut Nevan, namun masih tersirat amarah dalam setiap katanya.
Dan berselang beberapa menit dari obrolan itu, terdengar ketukan langkah kaki yang di susul dengan suara halus dari gadis nan cantik berbalut dress hitam, sepersekian detik kepalanya terlihat menunduk dan berkata, "Selamat malam, maaf atas keterlambatan Zia...."
Semua mata tertuju padanya, tak terkecuali Nevan, ia menatap Zia lekat, dan untuk pertama kali ia melihat dengan jelas gadis yang sudah beranjak remaja itu. Yaa, karena pertemuan mereka sebelumnya di Mall, Zia masih menutupi sebagian wajahnya.
"Ziaa?"
"Duduklah di sebelah Nevan, Zia!" ucap Jazlan, yang langsung dituruti putrinya, "lihat, lihatlah mereka berdua, terlihat sangat cocok bukan? putriku memang pantas dengan putra kalian mmhh?" pancingnya, sembari mengangkat gelas wine kearah Deron dan juga Zivana.
Ting!
Gelas itu beradu menghasilkan suara nyaring, dan Meiriam semakin dibuat senang ketika menyadari pandangan Nevan tetap mengunci menatap Zia, hatinya bersorak riang, memikirkan hubungan kedua remaja itu nantinya.
"Baiklah mari kita mulai jamuan makan malamnya!" seru Jazlan.
Tak!
Tak!
Suara tepukan tersebut membuat beberapa pelayan memasuki ruangan, seraya membawa berbagai macam makanan, menatanya begitu rapi hingga jamuan makan malam itupun berlangsung dengan hikmah.
.
.
.
"Bagaimana Nevan, apa kamu senang?"
"Tentu! makanan di sini sangat lezat, sesuai dengan seleraku!"
Jazlan tertawa menanggapi jawaban Nevan, "Ahahaha... jangan terburu-buru istriku! Beri mereka waktu untuk saling mengobrol, dan baru setelah itu kamu bisa menanyakannya kembali! Aku yakin, jawabannya nanti akan sesuai dengan yang kamu inginkan!" ucapnya penuh keyakinan, "Nevan tidak mungkin menolak putriku!" batinnya
Meiriam mengangguk paham, dengan senyum yang tak pernah pudar menghiasi sudut bibirnya, "Oh iyaa Zia, ajaklah Nevan jalan-jalan di taman, kalian perlu ruang untuk kembali mengakrabkan diri! dan kamu juga bisa menanyakan tentang sekolah Nevan, SMA GUARDIANS sangat pas untukmu!"
"Bralinzheaaaa...."
Kini Zia beralih menatap pria yang tampak kesal akan ungkapannya tadi, "Mengertilah... dan tolong jangan buat Zia berpikir jika Papi dan Mami tidak menginginkan Zia untuk kembali tinggal bersama kalian lagi! karena bagaimanapun juga, Zia akan tetap memutuskan untuk tinggal di Kota B! bersekolah di sana! Bukan di sini!" tegasnya sekali lagi.
"Ternyata beberapa tahun diluar Negeri tidak membuatmu sadar juga Bralinzhea? kamu harus mengerti dengan siapa-siapa saja kamu harus bergaul! Papi setuju kamu kembali ke Negara ini, karena Papi pikir mindset mu sudah berubah! Dan ingat ucapan Papi... tidak ada yang lebih pantas untukmu kecuali Nevan! Karena kau putriku!"
"Maka katakan itu pada hatiku Papi! buat dia mengerti!! tidak bisa kan?" tantang Zia.
Meiriam merasa perselisihan dua orang yang ia sayang akan kembali tersulut setelah bertahun-tahun lamanya, dan untuk menghindari suasana semakin menegang maka ia langsung menyarankan Nevan agar mengajak Zia keluar.
...----------------...
Langkah demi langkah mereka ayun, sampai akhirnya memutuskan untuk duduk di sebuah bangku taman, dan pandangan mata merekapun mengarah kearah yang sama, yakni menatap kolam yang berisikan air terjun buatan.
"Memangnya pergaulan lo seperti apa? sampai keluarga lo sendiri terlihat enggak suka," ucap Nevan, berusaha untuk lebih akrab, "iyaa, seperti ini!" batinnya, bersama susunan kalimat yang sudah ia pikirkan.
Sejenak Zia menatap Nevan dengan pandangan mengganggu, sebelum kembali membuang mukanya kearah depan.
"Cih, sulit sekali mengajaknya bicara! oke gak masalah! gagal sekali masih bisa mencoba lagi!"
"Apa lo kenal mhhh... dengan pelayan yang berkerja di rumah lo? ngggg--mhhh, maksud gue yaaa seperti salah satu keluarganya mungkin! bisa jadi anaknya!"
"Lo pikir gue punya waktu untuk hal semacam itu?" cetusnya.
"Wah sombong sekali, ck! seperti Papinya! tapi apa ini... kenapa aku terlambat menyadari, dia memang mirip Shasyania! Tidak seluruhnya, tapi iyaa mirip!"
"Gue nanya karena... oh iyaa karena gue punya pelayan yang anaknya sebaya sama gue! jadinya kita kenalan, berteman, saling mengenal, dan itu menyenangkan! sangat!!!"
"Stop! gue gak tertarik mendengarnya! dan bisa gak, lo berhenti untuk mengakrabkan diri?"
"Sabar Nevan! sabar!"
"Lo lupa? gue pernah nolongin lo? gue bahkan masih ingat betapa memelas nya lo saat itu! tapi apa ini, tidak ada ungkapan terimakasih cih!"
Nevan sengaja mengingat kejadian di Mall, berharap bisa mengetuk pintu obrolan diantara mereka berdua.
"Dasar perhitungan! baiklah, terimakasih!"
Setelah pembicaraan tersebut justru tidak ada lagi obrolan diantara mereka, Nevan seperti menyerah, ia seakan tidak tahu harus mengatakan apa lagi.
Sampai beberapa meter dari tempat mereka duduk kini mulai terlihat dua orang gadis kecil yang tengah asik bermain petak umpet. Dan saat anak-anak itu tertawa, Zia juga ikut tertawa dibuatnya.
"HEI, KALIAN JANGAN BERMAIN DI SINI!"
Melihat seorang pelayan yang memarahi kedua gadis itu, membuat Zia langsung berdiri, dan berjalan mendekat.
"Jangan tegur mereka! biarkan mereka bermain di sini!"
Pelayan itu seketika mematung, ia tidak menyangka dengan sosok dihadapannya.
"Mengerti?" tekan Zia kembali.
"Ta...tapi i..ini ka...ka...kawasan pri...pri...privat No__,"
"Ini perintah dariku!" tegasnya, lalu Zia melirik kearah dua gadis yang terlihat mendongakkan kepala, dengan mulut terbuka menatap sosok Bralinzhea.
"Kalian mau es krim?"
Dua anak itu mengangguk pelan, dengan bola mata mereka masih setia menatap sang idola.
"Baiklah! oh yaa... kalian juga boleh bermain di sini sepuasnya, mulai dari sekarang, besok, dan kapanpun kalian berkunjung kemari, okey?"
"Terimakasih kak, kami berdua tahu kakak lohhh, lagu-lagu kakak waktu kecil juga selalu kami putar, eeeemmm suka sekali!!! kami minta tandatangan kakak boleh? dan iyaaa... apa boleh minta peluk juga kak?"
Zia mengangguk cepat, lalu ia bertumpu dengan lututnya dan mulai merentangkan tangan, menyabut dua gadis itu penuh suka cita.
.
.
.
"Ahhh menggemaskan sekali mereka!!!" serunya, saat ia kembali duduk di sebelah Nevan.
"Lo suka anak kecil?"
"Iya, karena tingkah mereka mengingatkan gue akan masa kecil! Bermain petak umpet, kejar-kejaran, semuanya...," tutur Zia, dengan pandangan menerawang, "dulu, gue juga sering bermain permainan itu sama saudara gue! sepanjang hari tidak akan berhenti, sampai salah satu diantara kami menangis tersedu! ahaha lucu sekali bukan?"
"Aku tidak tertarik mendengar cerita mu bersama saudara mu itu! aku lebih tertarik dengan cerita Shasyania! Tunggu, apa mungkin karena mereka memang tidak saling mengenal? di tambah lagi Papi nya Zia seperti tidak suka jika Zia bergaul dengan kasta di bawah mereka! Yaa... mereka pasti tidak saling mengenal! buang-buang waktu!"
"Tapi sekarang kami malah terpisah, padahal dulu jika dia marah, marahnya pun enggak sampai selama ini... apa sebenci itu yaa dia sama gue? ahhh... dia juga memilih untuk bersekolah diluar Negeri, tidak mau diganggu dan entah di mana! Ternyata benar memang semarah itu!" Zia terlihat menghapus jejak air mata di sudut matanya, sebelum kembali melanjutkan cerita, "jaman udah maju kan? tapi dia malah tetap memilih untuk berkabar dengan surat, meskipun begitu... gue tetap ladeni, walaupun yaaaa, dia selalu bilang hal yang sama, jika dia baik-baik saja! dan gue gak menyerah, bahkan gue selalu buat surat panjang lebar! berharap dia baca! tapi sampai bertahun-tahun lamanya, balasan suratnya selalu sama, jika dia baik-baik saja!"
Zia terus bercerita dengan kebenaran yang ia ketahui, padahal selama ini ia hanya dibohongi oleh keluarganya sendiri mengenai keberadaan Shasyania, keluarganya berkata jika Shasyania memilih untuk tinggal diluar Negeri, dan tidak ingin di ganggu privasinya, hingga harus dirahasiakan.
Dan mengenai surat itu, bukan Shasyania pengirimannya, melainkan suruhan keluarga Zeiqueen, agar Zia percaya bahwasanya Shasyania marah dengannya.
Keluarga Zeiqueen bermaksud untuk menghentikan aksi Zia yang ingin kembali bertemu dengan Shasyania yang mereka anggap sebagai benalu, tidak hanya itu, keluarga Zeiqueen juga menghapus kebenaran tentang kejadian penculikan tersebut dari Bralinzhea, Zia hanya tahu jika Shasyania sempat di culik dan langsung diselamatkan, tanpa tahu cerita lengkap dari kisah sebenarnya.
Saat Zia asik bercerita, Nevan bukannya mendengarkan malah melamun dengan pikirannya sendiri, sampai ia bangun dari tempat duduknya, "Gue cabut!" ucapnya, yang langsung melenggang pergi.
"Tidak ada yang bisa aku korek dari Zia! Ck! bagaimana ini? tidak-tidak aku tidak boleh menyerah! aku harus berkunjung ke kediaman keluarga Zeiqueen! yaaa aku akan mengorek-ngorek daftar pelayan di keluarga itu!"