
Ini kali kedua Shasyania berkunjung ke kediaman keluarga Zail, dan terlihat gadis itu tengah serius membuatkan modul pembelajaran untuk laki-laki yang sedari tadi sibuk memperhatikannya.
"Bulu mata lo lentik banget! itu pakek minyak kemiri ya?" tanyanya usil.
"Enggak."
"Lo haus gak?"
"Gemmi! bisa diem gak? dan jangan terus mengajakku bicara!"
"Lo Guru tersensitif yang pernah gue temui!"
"Dan kamu murid tercerewet yang pernah aku ajari!"
Gemmi melengos malas, ia sudah sangat gerah bertahan disituasi yang selalu membuatnya ingin beranjak pergi melarikan diri.
"Selesai! dan sekarang pelajaran pertama kita adalah Matematika, agar besok kamu bisa menerapkannya di jam pertama!"
"Matematika? ayolah Shasya..., harusnya yaaaa..., pembelajaran pertama itu yang menyenangkan! Ini belum apa-apa udah bikin pala gue puyeng!"
"Aku dibayar Oma untuk bikin kamu pinter, bukan seneng!"
"Budi pekerti! yaa pelajaran Budi pekerti, seharusnya itu yang lo ajarin ke gue! Lo tahukan perilaku gue agak minus," selorohnya memberi saran.
"Perilakuku juga kurang bagus, jadi aku tidak bisa mengajari itu!"
Ia tersenyum masam, lalu sedetik kemudiaan, "Gimana kalau gue buat ini jadi semakin mudah, lo mau gak?"
Shasyania melirik, mendapati gerak-gerik mencurigakan hingga ia menggeleng cepat.
"Jangan main gak setuju aja, dengerin dulu napa!" rayunya, "jadi gini, gimana kalau lo kasih gue contekan setiap ulangan. Kita akan sama-sama diuntungkan, lo dapet duit tanpa susah-susah ngajarin gue, dan gue juga gak perlu susah-susah ngapalin tuh rumus biar dapet nilai bagus! Simbiosis mutualisme Shasya," jelasnya, sembari menaik turunkan alisnya yang tebal.
"Enggak! karena sewaktu-waktu bisa saja Oma akan mengetes kemampuanmu, dan jika itu terjadi maka sama saja seperti aku sudah merusak kepercayaannya."
"Yaelah! otak gue ini sama halnya kek batu, susah buat dicairkan Shasya! meskipun lo pinter tapi percayalah, itu hanya akan sia-sia!"
"Kita lihat saja nanti," tegasnya yang tak kalah menantang, "aku tanya, di pelajaran Matematika cara penyelesaian mana yang masih buat kamu bingung?"
"Semua! dan bukan hanya bingung tapi gue bener-bener gak ngerti!"
"Tapi kamu tahu angka kan?"
"Kayaknya."
"Gemmi aku serius!"
"Gue ngantuk!" ucapnya seraya menguap lebar, "Yaya, sini!" tangan laki-laki itu memanggil seorang gadis yang baru saja keluar dari arah dapur.
"Iyaa Tuan?"
"Lo duduk sini!"
"Ta...tapi__,"
"Udah gak usah nolak! temenin gue belajar, kali aja gue butuh jari-jemari lo buat ngitung!"
Matanya memperlihatkan keraguan, terlebih lagi saat ia menyadari kehadiran wanita cantik yang sempat ia temui di rumah sakit.
"Maaf Non," lirihnya.
"Panggil aja Shasya, oh ya kamu kelas berapa?"
"Maaf Non, itu kurang sopan untuk saya, dan saya sudah berhenti sekolah Non," jelasnya sembari menautkan jari.
Gadis itu terus menunduk tanpa berani menatap lawan bicaranya, dan Shasyania sadar akan kegetiran di setiap pengakuan gadis yang bernama Yaya tersebut, hingga ia memiliki untuk mengalihkan pertanyaannya, "Kamu mau belajar bersama?"
Layaknya sebuah tanaman yang disiram ketika kering, begitulah perasaan Yaya sekarang, begitu senang namun tidak bisa ia tunjukkan.
"Udah lo bareng aja sini, nanti gue yang bilang sama Oma kalau lo juga perlu belajar!"
"Ta__,"
"Gak usah banyak tapi tapi Yaya!"
"Baik Tuan."
"Kamu kerjakan ini Gemmi! dan untuk Yaya, tunggu sebentar ya," Shasyania mempersiapkan modul baru, yang ia khususkan untuk seorang Yaya, dan setelah itu ia juga mempersiapkan beberapa pertanyaan.
"Ngitung susun gini bisa kan?"
"Saya cobak Non."
"Lah kenapa dia mudah banget sedangkan gue kek gini?"
"Kerjakan saja Gemmi, gak usah banyak protes, lagian kan udah aku contohin cara jawabnya!"
Bukannya menurut, ia malah kembali membuka suara, "Sha, dari Sepuluh sampai Seratus, muka gue lo kasih angka berapa? jawab yang jujur!"
"85."
"Apa-apaan itu!" sungutnya, "Yaya, lo kasih angka berapa?"
"100 Tuan."
"Nah itu baru jawaban jujur!" pungkasnya, "oh ya Sha, sebelumnya lo pernah kenal sama gue enggak?"
"Enggak."
"Bisa gak lo perhatiin muka gue dulu baru setelah itu lo jawab!"
Sesuai yang diinginkan, saat ini Shasyania menatapnya tajam, "Pertama kali kita bertemu adalah saat kamu berpura-pura menjadi korban! dan saat itu kamu benar-benar manusia teraneh yang pernah aku temui."
Gemmi terkekeh mendengar jawaban tersebut, "Tapi gue rasa dulu kita pernah bertemu, mungkin juga saling kenal, tapi sialnya kita sama-sama lupa, Ingatan gue buruk," ucapnya sembari mengusap-usap dagu, "Gue nanya ke lo karena lo pintar Sha, siapa tahu memori ingatan lo bagus. Dan ya..., gue punya sesuatu untuk ditunjukin, kali aja membantu!" sambungnya, sembari beranjak menjauh.
"Jangan kabur Gemmi!"
"Enggak bakal, tunggu bentaran aja!"
Kaki panjangnya melangkah menaiki anak tangga, lalu bergegas menuju sebuah pintu dan menggesernya.
Alunan musik tentram berkumandang dengan dua orang wanita berumur bersila di atas matras, namun konsentrasi mereka seketika sirna, saat sebuah panggilan meneriaki salah satu diantara mereka.
"OMAAA...."
Matanya terbuka mencari keberadaan sang cucu nakal, "Kamu mengganggu kegiatan yoga Oma, Geime!"
"Gemmi sudah berusaha Oma, tapi kelembutan suaraku tidak membuat Oma menyahut, jadi terpaksa yang terakhir Gemmi sedikit berteriak."
"Bukannya kamu belajar bersama gadis kecilku? Ohh..., jangan bilang kamu mengusirnya Geime?"
"Tentu saja tidak Oma, dia masih di bawah, tapi kali ini aku ingin menanyakan sesuatu. Gemmi tidak mengingatkannya, tapi mungkin Oma masih menyimpan gambar yang pernah membuatku menang saat aku masih kecil dulu?"
"Gambar? masih kecil? Oh iyaa..., ada! itu tersimpan diruang kerja Oma, kamu cari saja di lemari paling ujung, di sana semua kenangan masa kecilmu tersimpan."
"Baiklah..., Oma manjahhkuhhh!" pamitnya menjauh.
"Ingat! jangan sekali-kali kamu berniat mengerjai Shasyania!"
"Iyaa Oma, santai...santai! tarik nafas, lalu hembuskan! atau aku akan sangat bersedih!" penuh jenaka Gemmi berucap pada Raimar.
"Non, ini...," ucap Yaya, sembari menyerahkan selembar kertas.
"Iyaa, ini benar Yaya! hmmm sepertinya aku harus memberi pertanyaan yang lebih sulit lagi," gurau Shasyania.
Kedua gadis itu saling bertatapan-tatapan, dan kebingungan jelas menyelimuti perasaan Shasyania.
"Maaf Non, saya permisi sebentar," Shasyania tidak tahu apa yang terjadi, namun yang jelas sesuatu yang kurang baik tengah terjadi di sana.
Cukup lama ia menunggu dalam diam, sampai akhirnya Yaya kembali turun dan mengatakan sesuatu, "Maaf Non, sepertinya kegiatan belajarnya ditunda dulu."
"Ohh baiklah."
"Tunggu sebentar Non, saya akan panggilkan supir untuk mengantar Nona."
"Tidak usah, aku bisa pulang sendiri Yaya," jelas Shasyania, seraya mengelus lengan gadis itu.
Shasyania mengayunkan kaki menjauh, dengan pikiran yang masih bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi, namun ia tahu itu bukan haknya untuk mengetahui lebih jauh lagi, hingga getaran telepon membuyarkan lamunannya.
"Hallo Kak?"
"Hello Shai, lu apa kabar? Ahhh..., gue basa-basi banget yaa? hahaha, okedehh kalau gitu gue langsung ke intinya aja! Jadi gini nih, lu bisa gak besok pulang sekolah langsung ke kantor? bisa dong ya kenapa enggak! pokoknya yaa..., lu musti kudu dateng kemari, kita rapat dadakan."
Menolak pun rasanya tidak mungkin, karena Shasyania memang tidak memiliki alasan untuk mengatakan tidak, apalagi ia memang bekerja di sana.
"Baiklah Kak."
"Okee Shai, sampai ketemu nanti cuaaanntikkk!"
Tut!
Panggilan terputus, dan Shasyania melihat jam yang baru saja menunjukan pukul Empat, sedangkan ia memiliki janji dengan Geonevan dua jam setelahnya.
Melirik isi chat, lalu tiba-tiba deringan telepon kembali menggetarkan smartphone yang tengah ia pegang, lalu tangannya bergerak menggeser tombol hijau.
"Iya hallo?"
"Bukannya sedang belajar? tapi kenapa terlihat online?"
"Ohh itu...aku sudah selesai, ini udah jalan mau pulang."
"Ahh? kenapa gak ngabarin yank?Baiklah-baiklah sekarang masih di mana?"
"Di halaman rumah Gemmi."
"Tunggu di sana jangan kemana-mana, aku jemput sekarang juga!"
Menurut patuh, begitulah Shasyania menunggu kehadiran Geonevan, di sebuah bangunan khusus tempat beberapa satpam berjaga.
"Non, beneran ada yang jemputkan? kalau tidak biar sekarang saya panggilkan supir Non."
"Tidak, terimakasih Pak, saya ada yang jemput kok," tolaknya halus, untuk kesekian kalinya.
Berselang beberapa menit kemudian, terlihat dari layar monitor sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan gerbang, kacanya ia turunkan dan memperlihatkan wajahnya yang rupawan.
"Itu Pak yang jemput saya."
"Ohh iya-iya Non," ucap sang satpam, sembari memencet tombol hingga gerbang besi tersebut terbuka.
"Katanya jam Enam, ini baru jam segini udah selesai."
"Kerena hari pertama Geonevan, makanya selesai cepat."
"Dia suka belajar?"
"Siapa Gemmi? aku rasa tidak."
"Tentu! bahkan aku pun tidak!"
"Tidak?"
"Iya, sebenarnya waktuku belajar hanya di sekolah, ataupun menyelesaikan tugas yang di kirim Kakek dan Daddy, sesekali di kantor juga. Itu saja."
Shasyania tidak percaya dengan pengakuan Nevan, karena yang ia tahu Geonevan adalah anak yang pintar. Ia pikir laki-laki itu sama sepertinya yang selalu menyempatkan waktu untuk belajar.
"Sayang, kenapa diam?"
"Tidak, hanya saja aku pikir kamu pintar karena sering belajar."
"Sepertinya belum banyak hal yang kamu ketahui tentangku yank! tapi gapapa, pelan-pelan kamu akan tahu," sahutnya, sambil memperlihatkan senyum tipisnya yang begitu mematikan. Nevan benar-benar terlihat menawan, hingga Shasyania tak bisa melepaskan pandangannya dari sosok tersebut.
"Bagaimana potongan rambutku? sesuai yang kamu sukakan?"
Benar! Itu yang membuat penampilannya kian bertambah sempurna, potongan rambut dengan model curtain cut yang sangat pas untuk seorang Geonevan. Tidak-tidak, Nevan memang selalu berkilau hingga ia selalu menjadi pusat perhatian.
"Iyaaa..iya bagus."
"Baiklah, sekarang mau ketempat makan dulu?"
"Iyaa, aku sedikit lapar."
"Baiklah sayang, tapi sebelum itu cium dulu sini!" titahnya, sambil mengetuk-ngetuk pipi, mengisyaratkan agar Shasyania mendaratkan bibir merah ranumnya di sana.
Cup!
Begitu cepat, hingga Nevan nyaris tak beraksi. Ada rasa tak terima, sampai ia membuka seat belt lalu mendekatkan diri, "Itu terlalu cepat sayang, harusnya seperti ini!"
Sebuah ciuman dalam di area pipi Shasyania membuat bulu-bulu halusnya berdiri berdesir, lalu saat bibir hangat Nevan semakin mendekat, hal itu membuat nafasnya tercekat, hingga dengan jahilnya Nevan bertanya.
"Kalau nyium yang ini boleh?"
Shasyania seperti terhipnotis, hingga ia mengangguk pelan.
Dan perlahan-lahan bibir itu mendekat, semakin dekat, dan dengan mata yang sama-sama terpejam, Nevan menempelkan bibirnya di bibir Shasyania. Cukup lama terdiam menempel, menikmati sengatan yang baru pertama kali ia rasakan dalam dirinya, sampai akhirnya ia mulai bergerak lembut.
Terlihat sama kakunya, entah ini yang pertama bagi mereka atau karena rasa menggebu-gebu, hingga mengakibatkan kecanggungan yang luar biasa untuk mereka berdua. Namun Nevan berusaha mengontrol diri, agar dia semakin nyaman, lalu tangannya meraih tangan Shasyania untuk diletakkan di lehernya dan hal itu membuat ciuman mereka semakin dalam.
Cukup lama dalam kondisi tersebut, sampai perlahan-lahan matanya kembali terbuka, "Daya terisi penuh," ucap Nevan, sembari mengatur deru nafasnya agar kembali stabil.
Ia mengusap halus bibir Shasyania, "Sangat manis," bisiknya, lalu sekilas menciumnya kembali.
Sabuk pengaman ia pasangkan, sambil berucap, "Kita jalan sekarang sayang!"
Seperti cangkang kepiting rebus, Shasyania begitu malu, dan dengan gerakan cepat ia menelungkupkan wajahnya di bahu Nevan.
"Aku sangat malu Geonevan!"
"Kenapa harus malu sayang? tidak ada yang melihat," sahutnya, hingga tawa kecil lolos dari bibir yang masih terlihat merah tersebut.
"Iiisssss!"
"Jangan malu-malu sayang, sama tunangan sendiri kok malu," Nevan kembali menggoda, sembari mencium-cium pucuk kepala Shasyania.
Terlepas dari dua remaja yang tengah di mabuk asmara tersebut, seseorang dari balik monitor terdengar bergumam, "Hampir saja aku ingin mengecek keadaan orang di dalam mobil itu. Ta...tapi..., sepuluh menit lebih mereka terdiam, kira-kira ada permasalahan apa ya?" satpam itu menerka-nerka, bahkan beberapakali kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri.
.
.
.
.
.
*Heyy...heeyy, ingat dukungannya yaa, biar semangat buat part selanjutnya, terimakasih, dan jangan bilang kependekan yaa, ini hampir 2000kata low😂*