Mine ?

Mine ?
97 : Siapa?



"Geonevan mana?"


Orang yang berada di luar ruangan maupun yang berada di dalam ruangan langsung menatap heran, ketika pertanyaan tak terduga itu berhasil lolos dari dalam mulut Nita.


Menyadari dirinya yang tengah menjadi pusat perhatian membuat gadis itu langsung menghela nafas berat seraya tersenyum kaku, "I...itu... loh maksud gue, yaa gitu... biasanya kan di mana ada Dariel sama Yeron, maka di sana juga ada Geonevan... sekarang cuma liat mereka berdua aja jadi aneh aja gitu... kayak sayur tanpa garam... ahahaha makanya gue nanya...."


"Iyaa... iya! gue juga bertanya-tanya di mana Geonevan? di mana? di mana?" ucap Ririn, yang berusaha membantu sahabatnya dari situasi canggung tersebut.


"Dia masih di bawah, tadi gak sengaja ketemu temen lamanya," sahut Dariel, seraya melenggangkan kakinya masuk ke dalam ruangan.


"Cewek apa cowok?"


Tak mendapat jawaban atas pertanyaannya hingga membuat Nita beralih menyentuh lengan Shasyania, "Shaa... lo jemput Geonevan gihh! takutnya dia salah masuk ruangan, kan kasian!" titahnya, lalu ia kembali mendekatkan diri, "Sha lo mau deket sama Geonevan kan? sekaranglah waktu yang tepat, semangat!" imbuhnya berbisik.


.


.


.


Sesuai keinginan Nita, kini Shasyania menyusuri tangga hingga ia sampai di lantai satu bangunan tersebut barulah gadis itu melihat keberadaan laki-laki yang tengah ia cari, walaupun membelakanginya namun dari postur dan penampilan jelas Shasyania yakin jika itu Geonevan.


Tiga orang yang awalnya menatap Nevan kini serempak melirik Shasyania, hingga Nevan juga mengikuti arah pandang mereka.


Tubuh itupun berbalik, lalu sudut bibirnya terangkat keatas memperlihatkan lengkungan indah, "Kenapa keluar? perlu sesuatu?"


"Ummhh itu... mau beli minuman!" elak Shasyania.


"Baiklah, aku antar!"


"Siapa Van?"


Tampaknya Nevan telah melupakan keberadaan orang-orang dihadapannya tersebut hingga tanpa kata ia berniat melangkah begitu saja, "Owh... dia Shasyania, tunangan gue!"


Ekspresi keterkejutan jelas tergambar dari tiga orang itu, namun Nevan seakan acuh tak acuh, dan langsung berpamitan pergi.


"Mereka itu siapa?"


"Mhh... sebenarnya aku lupa sih, cuma tadi mereka bilang katanya dulu pernah satu perguruan pas kelas beladiri...."


"Owwh...."


.


.


.


.


.


"Mulai dong!"


"Tunggu bentar, gue mau ke WC dulu!"


"Dari tadi bolak-balik kamar mandi mulu! diare lo yaaa?"


Belum sempat Nita melangkahkan kakinya menjauh, kini dari arah pintu masuk terlihat dua orang yang sudah ia tunggu-tunggu kehadirannya, "Wahhh, kebetulan sekali nih kalian sampai tepat pada waktunya! kalau gitu ayo..ayo gabung sini... kita baru aja mau mulai game seru!" ajak Nita, yang sedari awal memang sengaja mengulur-ulur waktu.


"Kebetulan pala lo?"


"Iyaaa... ini juga mau mulai! gak sabaran benget sih!"


Kini di dalam ruangan tersebut terdapat sebelas orang remaja yang siap dengan permainan hit dikalangan mereka, yakni 'Truth or Dare' yang berarti jujur atau tantangan.


Dan sebagai pertanda dimulainya permainan maka botol yang berada di tengah-tengah mereka langsung diputar hingga ujungnya mengarah tepat pada sang target, yakni Ririn.


"Woooww sekretaris kelas kita menjadi pembuka nih!"


"Ambil undian kertasnya!"


"Gue harap dia dapet tantangan!"


Ririn pun mengambil robekan kertas di dalam mangkok, yang berisi bermacam-macam tulisan yang sudah mereka siapkan sebelumnya.


Namun terlebih dahulu Ririn membacanya dalam hati, sebelum disuarakan hingga senyum kikuk Ririn perlihatkan, "Tantangan : minum segelas air mineral tanpa sisa!" ucapnya.


"Lahh kok tantangannya mudah gitu? siapa yang buat tuh?"


"Gak... gak gue gak!"


"Gue juga enggak!"


"Itu bukan gue!"


Wilkan merasa janggal, lalu tangannya menyambar robekan kertas tersebut dari Ririn, "Wah mau curang lo ya? ck! ternyata jadi perangkat kelas bukan berarti lo bisa bersikap jujur yaaa!" cela nya, lalu mata itu melirik kembali kertas tersebut dan membacanya, "Tantangan : tunjuk satu orang buat lo ajak duet lagu dangdut, harus lawan jenis!" ucapnya, yang langsung mendapat sorakan gembira dari para penghuni ruangan.


"Ini baru tantangan!"


"Ayooo tunjuk Rin! ahahaha asik nih denger suara dia yang kayak simpanse itu lagi ahahaha!!!


"Buruan Rin! lo ingat film yang tadi kan? nah sekarang lah giliran lo buat jadi peran utama! YANG HOT YAAA RINRIN!"


"Ririn bukan Rinrin!"


"Eleh sama ajaaa!"


Berdasarkan kesepakatan yang sudah dibuat, maka peserta tidak boleh menolak, kecuali orang yang ia ajak tidak menerima ajakan, seperti halnya sekarang saat Ririn mengajak Eron, namun laki-laki itu malah menolak karena masih ingin menjaga image kerennya.


"Yaahh seharusnya peraturannya gak boleh nolak dong! kan gak seru jadinya!"


"Berarti Ririn gak jadi nyanyi dong!" sesal Miko.


Dan akibat penolakan dari Eron maka secara otomatis ia langsung menjadi target kedua, yang artinya harus mengambil kertas di dalam mangkok, lalu mulai membaca isinya, "Tantangan : peserta lain bebas memilih satu kontak cewek yang harus ditelpon, kata kunci harus bilang gue kangen lo! tidak termasuk orang yang berada di ruangan ini!"


"Seruu tuh!"


"Awas Ron, nanti lo kayak Dariel tuh! di tampar karena ngephp'in anak orang ahahaa," ejek Nita.


"Sini-sini biar gue aja yang pilihin!" sergah Dariel.


Panggilan pun terhubung, dan Dariel seakan sengaja mencari kontak Freya, karena ia tahu sahabatnya itu memendam rasa untuk perempuan yang hatinya justru terpatri untuk seorang Geonevan.


Panggilan terhubung, dan tanpa ucapan pembuka Eron yang sudah sangat salah tingkah langsung dengan tegas mengatakan inti dari tantangannya.


"Gue kangen lo!"


Semerah kepiting rebus, wajah Eron menyemburkan rasa malu yang luar biasa, hingga gelak tawa menertawakan tingkahnya tersebut.


.


.


.


Permainan kembali berlanjut dan sekarang ujung botol itu mengarah pada Rissa, "Kejujuran : pernah benci sahabat? sebutkan nama dan alasannya!"


Dengan senyum mengembang Rissa membaca tulisan tersebut, lalu dengan akal bulusnya ia mulai menarik simpati Shasyania, "Pernah, dia adalah Jiana, gue kesel karena dia hampir aja buat gue jadi orang jahat! Gue bener-bener nyesel pernah menyakiti seseorang yang baik!" ucapnya lugas, sehingga beberapa orang di ruangan tersebut mulai mengira-ngira, namun lain halnya dengan Jiana, ia merasa dikhianati.


Hingga situasi dicairkan oleh Dariel ia menyarankan agar semua kembali ke permainan mereka, dan sekarang perputaran ujung botol itupun menunjuk kearah Jiana, "Tantangan : peluk satu orang di ruangan ini! harus lawan jenis!" Gadis itu tersenyum girang, dan seakan menghilangkan rasa kecewanya terhadap ungkapan Rissa, kini ia menunjuk laki-laki yang sangat ia kagumi, berharap dengan ini maka ia diberi kesempatan untuk lebih mendekat.


"Geonevan!"


Orang yang di tunjuk langsung menjulurkan tangannya mengambil kertas di dalam mangkok, itu menandakan jika ia menolak permintaan Jiana.


"Langsung di tolak tuh!"


"Maluuuu maluuuu...."


Sekarang semua mata tertuju pada Nevan, mereka menantikan apa yang tertulis dari balik kertas yang di pegang Nevan, sampai mulut itu mulai membacanya, "Kejujuran : kapan terakhir lo berciuman sama seseorang! tidak termasuk keluarga!" ucapnya, dan sekarang Nevan tengah bersiap untuk menjawab, "kemarin malam di rumahnya!"


Kejujuran Nevan membuat Nita dan Ririn tersedak dengan ludah mereka sendiri, tidak bisa mereka bayangkan bagaimana perasaan Shasyania sekarang setelah mendengar hal yang pasti menyakiti hatinya, bahkan kedua gadis itu sampai menyesal ketika awalnya mereka mengira jika seorang Geonevan masihlah suci dan belum terjamah siapapun.


"Shaaa...."


"Iyaa Nit?


Nita hanya menganggukkan kepala dengan ekspresi khawatir, sampai botol ditengah-tengah mereka kembali berputar dan berhenti tepat mengarah pada Shasyania.


"Tantangan : cium satu orang yang berada di ruangan ini, harus lawan jenis!"


Lagi-lagi dua orang gadis yang sudah sangat merasa bersalah dengan Shasyania kembali menggerutui kesalahan mereka, seharusnya tadi mereka tidak menulis tantangan seperti itu, apalagi di keadaan seperti ini.


Yaa, awalnya Nita dan juga Ririn memang menginginkan kertas tersebut di dapatkan oleh Shasyania, dan bahkan semesta seakan berpihak pada mereka, namun sekarang kedua orang itu malah menyesali kebodohan tersebut, hingga berharap keajaiban jika Shasyania tidak sampai menunjuk Nevan.


"Geonevan...," ucap Shasyania, seraya melirik kesamping.


Seketika ruangan menjadi sunyi, beberapa orang ada yang terang-terangan menunggu penolakan dari Nevan hingga memberinya waktu seraya tersenyum mengejek.


Tapi Nevan hanya diam sembari mengulum senyum, sampai akhirnya wajah Shasyania kian mendekat lalu saat momentum itu tiba malah dengan jahilnya Nevan menoleh kesamping, hingga hampir kedua bibir itu bertemu andaikan saja Shasyania tidak sigap untuk mengerem gerakannya.


"Sayaaaang!" cicit Shasyania.


Hap!


Kini dua tangan Shasyania langsung menangkup wajah Nevan, lalu mengarahkannya kembali kesamping, agar Shasyania bisa menyelesaikan tantangan tersebut dengan mencium pipi Nevan, namun seperti tidak ingin kalah, Nevan ikut bergerak gesit mencium pipi Shasyania


Cup!


Ciuman dadakan dari Nevan membuat orang-orang di dalam ruangan begitu terkejut, termasuk Nita dan juga Ririn, mereka bahkan sampai berteriak-teriak histeris.


"Aaaaaaaaaaaaaaaa OKSIGEN PLEASEEEE!!!"


"OOOOOMGGGGG OMGGGG! JANTUNG GUEE... JANTUNG GUEEEEEE!!!"


"Lah...lah kenapa lo ikut nyium?" sungut Wilkan.


"Terserah!"


"Wahh... gue gak nyangka orang kayak lo bisa juga memanfaatkan situasi dan tampang yaa! Gimana perasaan cewek yang kemarin lo cium kalau dia tahu kelakuan lo kayak gini! Haaah! sebenarnya gue gak masalah sih, tapi ketika lo melalukan itu ke cewek seperti Shasyania, rasanya gak terima ajaaa, terlebih lagi dia itu incaran ketua gue, dia calon ratu di geng kami!" tandas Miko, dengan tatapan seperti mengajak perang.


Gayung bersambut, ajakan Miko mampu menyulut bara api semakin memanas di dalam diri Nevan, ia yang sudah diselimuti perasaan kesal berniat berdiri menghampiri lawannya.


"Wait...wait! kalem dong kalem! kita kan lagi main nih... jangan emosian! Van.. tolonglah, marah lo gak lucu sumpah! gue gak ada tenaga nih buat melerai amukan lo!" resah Dariel, bahkan Eron sudah memegang bahu Nevan.


"SEKALI LAGI LO MELIBATKAN SHASYANIA DALAM GENG SAMPAH LO ITU! GUE RATAIN KALIAN SEMUA!!!"


"Geonevan stop! seharusnya kamu tidak marah seperti ini!" tegas Shasyania.


"Kamu belain mereka? atau kamu belain Gemmi? jawab!" tekan Nevan, ia merasa tersisihkan dengan ucapan Shasyania yang terkesan marah dengan sikapnya tadi, bahkan Nevan sampai berpikir jika Shasyania kesal karena ia tidak mengizinkan geng tersebut mengeklaim Shasyania sebagai bagian penting dalam perkumpulan tersebut.


Dan Shasyania sadar akan sangat sulit untuk meredam kekesalan Nevan ditambah lagi saat ini laki-laki itu sedang tidak percaya diri hingga membuatnya salah paham, "Sayang kamu tenang dulu... aku gak belain mereka, kamu salah paham! Aku cuma gak suka kamu marah-marah kayak tadi...."


"Sayang?" cicit orang-orang yang semakin dibuat terkejut ketika mereka melihat interaksi Geonevan dan juga Shasyania.


"Aku gak suka mereka melibatkan namamu diantara perkumpulan mereka!"


Shasyania perlu ruang untuk menetralkan lonjakan amarah dalam diri Nevan, hingga ia menarik tangan itu menuju balkon, dan kini hanya ada mereka berdua.


Tangan Nevan yang tadi ia genggam kini Shasyania rentangkan sedikit, lalu perlahan-lahan badannya ia dekatkan dan memeluk erat tubuh Nevan.


"Sayang jangan marah...."


"Hmm...."


"Aku gak belain mereka serius! dan kamu tahu? seperti halnya yang dibilang Dariel barusan, marah kamu itu menakutkan! buat orang takut! Bahkan dulu yaa... setiap kali aku harus berhadapan dengan kamu, aku pasti selalu gemetaran, yaa karena memang semenakutkan itu! Marah wajar, iyaaa... tapi jangan berlebihan juga apalagi sampai melibatkan kekerasan! itu gak baik sayaangku!!!"


Shasyania melirik kearah pinggangnya, meskipun Nevan masih diliputi rasa kesal, namun laki-laki itu tetap membalas pelukannya dengan melingkarkan kedua tangan di pinggang Shasyania, hingga gadis itu mengurangi dekapan yang ia beri, dan membuat jarak agar ia dapat menatap wajah Nevan, hingga pandangan itu beralih melirik benda kenyal yang masih mengerucut karena sebal.


Shasyania menangkup wajah Nevan agar lebih menunduk, lalu ia memiringkan kepalanya sedikit untuk mengecap lembut bibir Nevan.


"Sayang...," lirih Shasyania, yang kemudian membuat Nevan juga ikut menggerakkan bibirnya tak kalah lembut.


Perlu beberapa menit untuknya meredam kekesalan Nevan, namun Shasyania yakin dengan rasa kasih sayang yang ia beri maka akan mampu untuknya mencair kan kekesalan Nevan, tangannya pun mengelus-elus lembut permukaan wajah laki-laki dihadapannya itu, bahkan sekali-kali ia mengangguk-angguk kepala dengan senyum, hingga Nevan tertawa melihat tingkah laku Shasyania.


"Mata tajam, yang kalau marah selalu melotot, terus bentuk bibir yang manis, tapi kalau udah kesal, mhhh kata-katanya menyayat hati... itulah kamu Geonevan, tapi kenapa sekarang malah jadi menggemaskan gini sih? Jadi pengen nyubit!"


Nevan menyiratkan tatapan teduh, hingga satu tangannya mengelus lembut kepala Shasyania, "Jangan pernah meninggalkan aku yank...."


Shasyania menekuk alis saat mendengar penuturan Nevan, lalu dengan senyuman ia mulai meyakinkan laki-laki dihadapannya, "Hal seperti itu tidak akan terjadi Geonevan, jadi jangan lagi ngomong hal-hal seperti itu...."


"Aku cuma takut...." lirihnya, "mhhh, apa kamu memiliki seseorang yang begitu berarti dalam hidupmu yank? selain keluarga, mungkin kenangan lama?"


Sebenarnya Nevan ingin sekali menanyakan langsung alasan kenapa Shasyania sampai menangis tersedu ketika mereka duduk di pasir pantai, namun sejurus kemudian Nevan juga ingat, jika waktu itu ia masih menyamar menjadi seorang badut, akan aneh rasanya jika Shasyania sampai bertanya kenapa Nevan bisa tahu, dan hal itu jelas akan membuat rencana Nevan berantakan.


Dan sekarang sebelum Shasyania menjawab pertanyaan Nevan, terlebih dahulu terdengar helaan nafas yang lolos dari dalam mulutnya, "Setiap anak pasti memiliki sahabat kecil kan? begitupun juga aku, ta...tapi dia pergi juga karena aku...."


"Pergi? maksudnya pergi itu... pindah rumah? mhh? atau pindah sekolah?"


Shasyania menggelengkan kepala dalam pelukan Nevan, "Maaf... aku belum bisa menceritakannya...."


Nevan tidak ingin memaksa, karena dari gestur jelas jika Shasyania sedang terguncang hanya karena mengingat bagian kecil dari masa lalunya, tapi bukan berarti Nevan akan diam, ia masih penasaran dan tertanya-tanya, "Aku bahkan berpikir mungkin waktu itu seseorang yang Shasyania suka pergi tanpa memberi kabar! Siapa dan kenapa? aku harus mencari tahu! Dan tentu, akan ku buat perhitungan untuk orang-orang yang pernah menyakiti gadisku!" batin Nevan, ketika ia merasa ada sesuatu hal yang perlu ia ketahui tentang masa lalu Shasyania.