Mine ?

Mine ?
44 : Miss World



Area sekolah mulai sepi, hanya satu sampai dua orang saja yang terlihat berlalu-lalang di sana, dan di lantai dua Shasyania melajukan langkahnya memasuki ruang kelas. Niatnya untuk mengambil tas lalu pulang tampaknya sedikit terhambat karena di dalam ruangan itu masih terdapat beberapa orang yang sengaja menunggunya.


"Shaa...!" teriak Nita, gadis itu menghampiri Shasyania lalu memberikannya sebotol minuman, "lo duduk dulu, tenangkan diri, tarik nafas, buang lalu refresh!" imbuhnya bahkan sampai memperagakan gerakan layaknya pelatih Yoga.


Dan dari arah lain Ririn juga terlihat menghampiri sembari menyodorkan beberapa lembar kertas, "Nih Shaaa..., ini tadi kita udah nyari materi buat lomba besok, semoga bisa membantu ya. Setidaknya ada kisi-kisi soal di sana."


"Woi!" suara ngebas itu memenuhi ruangan, dan Shasyania tahu betul siapa pemilik suara tersebut, "kalian bisa gak sih, gak langsung nyerbu dia kayak gitu? Gue aja yang denger pening!" gertak Gemmi.


"Kalian kenapa masih di sini? bukannya jam pulang sekolah udah dari sejam yang lalu?" tanya Shasyania.


"Kita nungguin lo Sha, karena kita tahu sekarang adalah hari yang berat untuk lo! Tapi tenang saja, apapun yang terjadi kita akan tetap menjadi garda terdepan untuk lo!" ujar Baru penuh penekanan.


"Nungguin? tapi aku gak kenapa-kenapa kok, lebih baik kita pulang sekarang ini udah sore," ajak Shasyania.


Dino seakan tidak mau kalah, hingga ia ikut bersuara, "Shaa..., mungkin lo masih ingat tentang kata-kata gue yang mengatakan jika gue mendukung perwakilan sekolah lain, tapi untuk hari ini gue tarik semua ucapan itu! Karena sekarang seratus persen dukungan gue hanya buat lo! Dan lo jangan takut, meskipun dia yang di sana yang katanya cantik bagaikan dewi, tapi gue yakin lo gak kalah saing! Dan meskipun dia yang di sana yang katanya sang juara bertahan, tapi percayalah, di dalam diri gue lo tetap sang pemenang!"


Lontaran kalimat Dino membuat seorang laki-laki tertawa mengejek, "Itu lo lagi puisi apa lagi pidato? Sepet banget gue dengernya!" cela Wilkan.


BRAAAK!


Nita menggebrak meja, hingga beberapa orang di sana terperanjat kaget.


"Sialan kaget gue bangs.at!" sentak Baru, dengan telapak tangan memegangi dada.


Seakan tidak terpengaruh dengan protes Baru, Nita justru semakin mengikis jaraknya dengan Shasyania, "Shaa tadi lo di suruh buat ikut lomba besok kan?"


"Iya Nit."


"Terus...terus...ter__,"


"Apaan sih lo Nit! terus terus melulu! Kalau mau nanya yang jelas dong!" kesal Ririn.


"Lo tahu gak? saking banyaknya pertanyaan dalam otak gue, sampek bikin gue bingung mau nanya yang mana!" jelas Nita, "naaahh! sekarang gue tahu mau tanya yang mana dulu, terus tadi lo di briefing apa aja sama Buk Dayu?" pandangan mata Nita beralih menatap Shasyania.


"Tadi sempet latihan, dan sekarang di suruh istirahat, karena besok jam Lima pagi udah harus di sini mempersiapkan segala keperluan termasuk makeup."


Penjelasan Shasyania itu justru semakin memancing rasa terkejut dari Nita dan juga Ririn, hingga pupil mata mereka membesar.


"APAAA! terus sekarang lo gak di ajak untuk latihan lagi gitu?"


"Enggak Nit."


"OMG!" jerit Nita dan Ririn bersamaan.


"Heboh banget ni orang berdua! bukannya kalian udah pada tahu, di panggilnya Shasyania sama Buk Dayu ya berarti dia emang di persiapkan untuk lomba besok!" geram Miko, ketika ia mulai kesal dengan respon berlebihan Nita dan Ririn.


"Iya sih, tapi tetap aja ada rasa terkejut apalagi Shasya gak di ajak latihan lagi mana lombanya besok!"


"Terus kalian maunya dia berlatih sampai besok gitu? bukannya menguasai materi dia malah bonyok duluan sebelum tanding ja.cok!" sergah Gemmi.


"Ya gak gitu juga Gem! Setidaknya di mentorin dulu kek, temani dulu gitu!"


"Yasudah kalau gitu kalian aja yang jadi mentor dadakan, lagian kalian udah mempersiapkannya kan? gue izinin kalian mengajari Shasyania, tapi jangan buat dia kecapean!" tegas Gemmi.


"Kenapa izinnya ada di lo?" tanya Ririn.


"Ya pokoknya gitu!" pungkas Gemmi.


"Apapun yang di katakan ketua gue maka itu mutlak dan gak bisa di bantah!" Miko menimpali, "udah sekarang kalian bantu si Shasya buat persiapin diri!" imbuhnya.


"Sha tadi lo di kasih tahu gak besok dapet sesi yang ke berapa?"


"Aku ke Tiga Bar," sahut Shasyania menjawab pertanyaan Baru.


Laki-laki itu berdecak bibir, "Kenapa Shasya di jadiin senjata akhir sih! bukannya itu malah buat mental dia semakin down!"


"Oh yaa, SMA ERLANGGA siapa aja ya perwakilan nya?" tanya Nita, "ehh kalian ada kenalan gak di sana? Cobak tanya gih! gue udah nanya kenalan gue tapi belum di respon!"


"Kalau punya juga belum tentu mereka ngasih tahu! Itukan rahasia bego!" cela Wilkan.


"Daripada kita sibuk mikirin kelemahan lawan mending pergunakan waktu untuk berlatih! Jangan buang-buang waktu!" saran Gemmi.


"Sebaiknya kita pulang saja, karena untuk besok aku sudah mempersiapkan semuanya kok," sela Shasyania, ketika semua orang sibuk akan job desk yang sudah di tentukan oleh Nita dan Ririn.


"Kita latihan sebentar saja ya Sha...? kita hanya mempelajari teknik berjalan, duduk sama berdiri ala Miss universe aja kok," bujuk Ririn.


Akhirnya Shasyania mengangguk patuh, ia siap di atur oleh kedua gadis yang tengah berada di hadapannya itu.


"Pokoknya denger ya Sha..., besok lo gak usah mikirin siapa lawan lo! meskipun gue pernah ngomong kalau kita perlu menang dari SMA ERLANGGA, tapi jangan bebankan itu di pundak lo! biarkan itu menjadi beban Jiana dan Kak Septi! Lo cuma perlu mengikuti alur! tapi lo juga harus tahu teknik-teknik dasarnya! Usahakan menjawab dan jangan sampai diem aja ya Sha..., karena di sana gak cuma tentang rumus tapi juga logika dan cara lo merangkai kata!" tutur Nita.


"Tumben lo pintar Nit!" cibir Dino.


"Sialan lo!" umpat Nita, "dan ya Shaa..., bila perlu jika lo sakit bilang aja sakit ya, biar lo di izinin gak ikut serta, agar mental healthy lo gak terguncang, gue bukannya gak yakin tapi untuk hal besok itu perlu pengalaman!" tutur Nita, dan ucapannya itu malah membuat Dino mengernyit heran.


"Kambuh lagi ni bocah! Tadi menyemangati, sekarang malah bikin pasrah!"


Shasyania mengusap bahu Nita, "Nit kamu tenang aja, besok aku akan tetap mengikuti lomba itu, dan apapun yang terjadi di atas panggung, itu tidak akan membuat keadaanku tertekan. Semua akan menjadi pengalaman," tutur Shasyania.


Masih di kelas XI IPA 1, tepatnya di pojok ruangan tersebut, Gemmi terlihat asik bermain game menggunakan satu tangan, sampai akhirnya pandangan laki-laki itu mengarah ke depan, "Wil pesankan fast food!"


"Traktir kita sekalian dong! lapar juga nih!" pinta Nita, yang langsung di setujui oleh semua orang di dalam sana.


"Baiklah!"


"Asiknya kalau ada sultan!" seru Miko.


Setalah Ririn memberitahu apa yang ingin ia pesan, kini gadis itu kembali berjalan kearah Shasyania, "Sha lo pernah nonton acara puteri sekolah pas lagi lomba gak?"


"Nontonin aja gak pernah sih!"


"Nah itu! lo pasti belum tahu atmosfer suporter di sana kayak apa! Tapi lo gak usah takut karena besok dukungan kita selalu ada untuk lo!" seru Ririn.


"Sudah-sudah sekarang kita mulai latihannya!" kata Nita, "Sha cobak lo berdiri dan jalan ke sana, tapi gerakan lo harus kayak gini ya!" ucap Nita, sembari memperlihatkan gerakan profesional dari ajang Miss World di smartphone miliknya.


......................


Waktu pun berjalan semakin cepat hingga tak terasa langit pun semakin meredupkan cahayanya. Shasyania harus mengakhiri kegiatan ini, karena ia masih memiliki acara lain yang sudah di persiapkan oleh Toreno.


"Aku rasa latihannya sudah cukup, kita pulang sekarang ya?"


"Iya gue rasa juga sudah cukup!"


Semua berjalan beriringan di koridor sekolah, beberapa kali suara tawa menggema menyusuri ruangan, sampai akhirnya mereka berpencar mencari kendaraan masing-masing di area parkir, dan seperti biasa Ningrum sudah menunggu Shasyania di depan gerbang.


"Kakak nunggunya lama ya?"


"Enggak kok, tadi pas kamu mengirim pesan baru Kakak berangkat," sahut Ningrum.


Dan di tempat lain Nita, Ririn, Baru dan juga Dino ternyata tidak langsung pulang, karena sekarang mereka berempat tengah mengobrol santai di sebuah Cafe di temani beberapa cemilan lezat dan minuman hangat.


"Nelpon sama siapa lo serius amat?" tanya Ririn.


"Surya anak SMA MERPATI," jawab Dino sekenanya, namun Ririn sudah mengetahui persis apa tujuan laki-laki itu menghubungi Surya.


"Dia ngasih tahu?"


"Enggak!"


"Jelaslah orang itu termasuk strategi mereka!" tandas Baru.


"Tapi bisa kan ngasih tahu, lagian kalau kita tahu juga gak bakalan berpengaruh! Niat gue cuma biar si Shasya gak satu sesi sama juara bertahan mereka!"


"Tapi menurut gue nih ya! tadi pas latihan si Shasya oke banget sih, cara dia jalan sama ekspresinya itu meyakinkan banget!" ucap Nita.


"Betul dan semoga aja besok dia gak demam panggung!" lirih Ririn.


"Terlepas dari itu, gue sih bangga karena Shasya jadi perwakilan sekolah kita! ada rasa gak sabar, karena kecantikan dia itu gue yakin banget gak akan kalah saing apalagi sama si juara bertahan! kita liat aja besok!"


"Shasya yang lomba tapi kenapa gue yang dag dig dug ser ya!"


"SAMA!" seru ketiga orang itu bersamaan.