
"Sekarang kamu mengakui kan jika pilihan Kakek tidak salah? sedari awal saat Kakek melihatnya Kakek sudah yakin jika dialah yang paling pas untukmu! kalian sangat serasi Nevan!" seru Toreno dari seberang sana, "dan mengenai nilai yang kalian dapatkan jangan sampai itu membuat kamu marah Nevan, malah Kakek harap kalian bisa belajar bersama! Kalian harus saling mendukung!"
"Apa Kakek masih serius dengan perjodohan itu?"
"Tentu saja! Bahkan Kakek sudah berencana melangsungkan pertunangan kalian tepat saat kalian berusia Tujuh Belas Tahun!"
"Tapi Kek..., bagaimana jika dia sudah memiliki pilihan sendiri?"
Terdengar Toreno sedang mengetuk-ngetuk mejanya, "Apa dia pernah mengatakannya padamu? atau mungkin kamu pernah melihatnya bersama seseorang?"
Nevan tidak langsung menjawab, ia malah terlihat bingung dengan tangannya yang aktif meremas sebuah kertas.
"Apa kamu sedang membuat alasan baru lagi?"
"Tidak Kek..., hanya saja Nevan pikir itu merupakan salah satu hal yang penting yang harus kita ketahui, mungkin saja dia tidak memiliki cukup keberanian untuk berkata jujur."
"Baiklah kalau begitu sekarang juga kamu kerumahnya! Atom akan mengirim alamat Shasyania dan ingat! saat kamu sudah sampai sana hubungi Kakek!"
Panggilan tersebut langsung terputus sebelum Nevan mangajukan protes hingga mengakibatkan sebuah tong sampah yang tidak memiliki kesalahan menjadi objek kemarahannya.
...****************...
"Siaallll! rumahnya di gang sempit seperti ini? Apa aku harus berjalan kaki? MENYEBALKAN!" keluhnya kesal hingga membanting keras pintu mobil.
Sepanjang perjalan Nevan terus menggerutu sebal. Penampilannya seperti seorang pencuri dengan pakaian serba hitam bahkan ia juga sampai memakai masker dan topi.
...----------------...
"Kamu tahu gak Shaa..., tadi si Wiwin sama si Anggi hampir masuk ruang BK!" seru Yoga memberi informasi.
"Ini tugasnya sampai halaman berapa aja sih?" sela Nanda.
"Ini loh Nan!! makanya kalau nugas jangan emosi mulu!"
"Kenapa bisa kayak gitu Win?" Shasyania kembali bertanya.
"Nih gara-gara si Anggi dia ngajak bolos cuma karena mau liat Kak Verel tanding basket!" ketus Wiwin.
"Nonton gak jadi malah duluan ketangkep Pak Satpam!" sahut Nanda, "untung kalian cukup berprestasi di sekolah kalau enggak udah jelas kena sangsi tuh!" imbuhnya.
"Udahlah Nan gak usah ngomporin lagi napa! udah lewat juga," rengek Anggi sambil memutar bola matanya malas.
Wiwin tiba-tiba menyentil kepala Anggi, "Sebel banget sama nih orang!"
"Sudahlah Win, aku kan udah minta maaf, besok tak traktir soto Bik Uni lagi deh," sesal Anggi dengan nada memelas.
"Sudah-sudah jangan bahas lagi mending kita lanjut nugas!" ajak Yoga.
"Ehh yang duluan bahas ini kan kamu YOGA! sekarang main sudah-sudah aja, kebiasaan lelaki!" pungkas Wiwin.
"Jangan curhat!"
"Siapa juga yang curhat!"
"Yasudah lanjut!"
"Lanjut apa nih?" tanya Wiwin penasaran.
"Lanjut nugas lah! masak lanjut dengerin curhatan receh!" sentak Nanda.
"Plakkk" satu kepalan tangan mendarat mulus di bahu Nanda.
"LAKI YA? sakit banget nih!" Nanda meringis kesakitan.
"PEREMPUAN YA? cengeng banget!"
"Dasar wanita berotot!"
"Dasar lelaki tulang lunak!"
"WOII DIEM! jangan ribut di rumah orang!" bentak Yoga.
"Rumah Shasya!" jawab Wiwin dan Nanda bersamaan.
"Wahhh kalian rajin sekali belajarnya...," ujar Liliana saat ia sampai rumah.
"Ehhh Buk...," Melihat kedatangan Liliana membuat mereka yang tengah asik lesehan di bawah sana langsung berdiri dan bergantian mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.
"Es jeruk nipis buatan Buk Lili memang terbaik," puji Nanda seraya memperlihatkan kedua jempol tangannya.
"Yasudah Shaa..., sana beliin Ibu buah jeruk nipis," pinta Liliana.
Shasyania menganggukkan kepala, ia mulai melangkahkan kakinya menuju warung buah yang terletak tidak terlalu jauh dari rumahnya, ia hanya perlu berjalan sampai keluar dari gang tersebut.
"SHAAA TUNGGUUU...," derap langkah semakin terdengar dari arah belakang hingga Shasyania membalikan bandan.
"Lohh Nanda kenapa kamu ke sini?"
"Aku mau beli buah mangga Sha," ucapnya sedikit gugup.
"Kamu balik aja Nan biar aku saja yang beliin."
"Enggak usah Shaa, aku mau ikut, malahan aku niat ngajak kamu boncengan motor."
"Gak usah naik motor juga kali Nan, orang warungnya depan sit__,"
Ucapan Shasyania terpotong karena dari arah depan terlihat gerombolan anak kecil tengah mengendarai sepeda hingga hampir menabraknya. Untuk di situ ada Nanda hingga ia langsung menarik lengan Shasyania.
"Kamu enggak apa-apa kan Shaa?" tanyanya panik.
"Enggak apa-apa kok Nan, makasi ya," ucap Shasyania sambil melepas pegangan tangan nanda yang masih memegang lengannya.
Saat pandangan Shasyania kembali mengarah ke depan, begitu kagetnya ia ketika melihat seorang laki-laki tengah berdiri di hadapannya. meskipun wajah itu tertutup masker dan mengenakan topi namun Shasyania tahu betul jika itu adalah Nevan.
"Nevan...." ucapnya.
Nevan mengayunkan kakinya mendekat, "Lo bisa lanjutin pacarannya nanti aja! sekarang ikut sama gue dulu!" tanpa menunggu jawaban, Nevan langsung menarik tangan Shasyania secara paksa.
Nanda yang melihat itu langsung beraksi, "Woii apa-apaan nih? LEPASIN GAK!" bentaknya.
Dengan tatapan mengancam Nevan menatap Nanda, "Gue cuma pinjem PACAR lo sebentar! gue jamin dia gak bakal kenapa-kenapa!" pungkasnya hingga kembali melangkahkan kaki ke depan.
"Masuk!" perintah Nevan agar Shasyania langsung berjalan menuju pintu mobil sebelah kiri. Langkahnya tertatih-tatih mengitari mobil tersebut.
Tanpa bicara lagi Nevan langsung mengeluarkan smartphone dari saku celananya, lalu ia memulai sebuah panggilan video.
"Kenapa masih dalam mobil? kamu belum menemui alamatnya?"
Shasyania tahu betul suara siapa yang tengah berbicara tersebut.
Tanpa di duga Nevan langsung mengarahkan panggilan itu kearah Shasyania.
"Hallo Kakek...." Ia kaget, namun dia juga memiliki respon yang cepat.
"Hallo Shasya..., ohh apa kalian sedang jalan-jalan? Kakek hanya menyuruhnya untuk ke rumahmu tapi dia ternyata memiliki keinginan tersendiri! tapi baguslah kalian memang perlu menghabiskan waktu bersama-sama! Jangan belajar mulu! Otak kalian sudah sangat pintar jadi refreshing sekali-sekali boleh lah!" tutur Toreno, "dan selamat untuk kamu Shasya..., Kakek sudah menerima hasil ulangan mu dan Kakek sangat bangga! akhirnya Nevan memiliki saingan! dan untuk kamu Nevan...Nevan?"
"Iya Kek Nevan mendengar."
"Kamu seharusnya lega karena saingan mu sendiri adalah pasanganmu! jadi kalian tidak perlu saling mengalahkan! paham?"
"Iyaa Kek..," sahut mereka bersamaan.
"Ohh ya Shasya tadi Nevan mengeluh ke Kakek katanya kamu memiliki pacar, apa itu betul?
"Apa-apaan itu mengeluh?" batin Nevan meradang.
Shasyania masih terdiam, ia sedikit kaget dengan pernyataan tersebut.
"Apa itu benar Shasya? Nevan menyuruh Kakek untuk menanyakannya padamu, dia sedang tidak percaya diri!"
"Kakek bukan seperti itu yang Nevan katakan!" bantahnya tidak terima.
"Liat kan Shasya dia malu," goda Toreno, "Shasya kamu belum menjawab pertanyaan Kakek, jangan membuat Geonevan sampai galau hingga mengurung diri!"
"Shasya tidak memiliki pacar Kek," jawabnya.
Nevan yang mendengar itu langsung mengarahkan pandangannya pada Shasyania. kuku-kuku di tangannya sampai memutih karena ia terlalu keras mencengkram stir kemudi.
"Tuh Nevan kamu dengar sendiri dia tidak memiliki pacar! jadi kamu tidak perlu khawa__," Panggilan vidio itu tiba-tiba terputus, mungkin karena koneksi yang buruk.
"Turun!" Suasana kembali terasa mencekam. seakan tak ingin lagi mendengar bentakan hingga Shasyania langsung bergegas keluar dari mobil Nevan.
Dan saat Shasyania sudah berada di luar, tidak perlu menunggu waktu yang lama lagi untuk sosok Nanda kembali terlihat. Bahkan laki-laki itu semakin mendekati Shasyania dengan ekspresinya yang terlihat cemas. Bersamaan dengan itu Nevan langsung mengemudikan mobilnya menjauh.