
Di puncak bangunan yang memang dikhususkan untuk pengguna VVIP, tampak sebuah taman minimalis dengan berbagai macam tanaman yang selalu tertata rapi, yang tentunya akan menciptakan kesan tenang, apalagi untuk sekedar menikmati udara segar yang ditimbulkan oleh semilir angin yang bertiup sedang, di atas ketinggian beratus-ratus meter dari permukaan tanah.
Dan di tempat itu pula, seorang Geonevan terlihat menggenggam tangan Shasyania, untuk ia tuntun lalu diajaknya duduk di sebuah sofa.
Ssrrrrt!
Duduk berhadapan tanpa sepatah kata, ketika suasana sunyi berhasil merangsek dan menyita setiap detik waktu mereka. Hingga di dentingan berikutnya Shasyania merasa tak ingin lagi membuang-buang waktu percuma, dan kini gadis itu mulai berinisiatif untuk menoleh kesamping, memandang lekat wajah sang kekasih hati.
"Sayang... kenapa?"
Nevan tak langsung menjawab dan terkesan semakin menunduk kepala, gestur tubuhnya begitu ketara ketika dirinya tengah berusaha untuk menghindari kontak mata, hingga sejurus kemudian barulah ia membuka suara, sembari menggenggam erat jemari Shasyania, "Kamu baik-baik saja, kan?"
"Eh?"
Shasyania mengernyit heran bukan tanpa alasan, hanya saja karena ia merasa, jika pertanyaan tersebut seharusnya ia yang tanyakan, akan tetapi sekarang uraian kata itu justru dilontarkan untuknya.
"Emm, tentu... aku baik-baik saja. Dan kamu?" tanyanya balik, dengan sedikit rasa kikuk.
Nevan mengecup punggung tangan Shasyania sebagai jawaban, dan kini ia mulai menyuarakan sesuatu yang tengah mengganjal di benaknya, "Jika kamu membutuhkan sandaran, maka aku akan selalu ada untukmu, sayang!" ucapnya, penuh ketegasan, "dan dengarkan ini.... Tidak baik-baik saja dalam situasi tertentu itu tidak masalah, sayang, dan juga bukanlah suatu kelemahan! Kita perlu pemicu untuk berkembang! Dan besar harapanku agar kamu mau berbagi apapun itu denganku.... Termasuk keluh kesah, kesedihan, sekaligus kebahagiaan!! Bahkan aku juga bisa menjadi pendengar yang baik! Jika kamu ingin, apapun bisa aku lakukan untukmu, sayang! Kita lewati bersama. Selamanya aku mau menjadi orang yang berguna yang bisa kamu andalkan...."
Kini Shasyania paham tentang sesuatu yang tengah mengusik pikiran Nevan. Ia pun tahu persis, jika kekasihnya itu begitu menyukai ungkapan kasih sayang yang terselip sebuah kontak fisik, maka dari itu Shasyania langsung sigap merangkul tubuh Nevan, bersama usapan ringan, untuk sekedar menyalurkan perasaan nyaman.
"Tentu saja sayang... aku akan selalu membutuhkanmu di segala kondisiku! Dan soal yang tadi.. aku cuma terkejut ketika melihat kehadiran orang tua Ziaa. Sudah lama sekali, semenjak terakhir kali kami bertatap muka, itu saja...."
"Mhh.. baiklah, tapi jawab ini dengan jujur! apa waktu kecil dulu, kamu sering menangis? Maksudku... apa lebih sering menangis dibandingkan tertawa?"
"Ummm, tidak juga...."
"Benarkan?"
"Iyaaa sayaang...."
"Lalu katakan.. seberapa buruk keluarga itu memperlakukanmu?" pertanyaan ini dilontarkan oleh Nevan, sembari menutup mata, bahkan hanya sekedar bertanya sudah menghasilkan rasa nyeri yang kini merengkuh dadanya.
"Heii... hei, tidak seperti itu sayang, percayalah! Bahkan Zia, dia sangat baik padaku! Dia memperlakukan ku seperti saudaranya sendiri, dia juga selalu membagi apapun yang dia punya bersamaku!"
"Oke, kita kesampingkan Zia, tapi bagaimana dengan kedua orang tuanya? atau keluarganya yang lain? apa mereka juga memperlakukan mu sebaik dia? katakan, apa mereka juga berlaku seperti itu padamu? tidak bukan? tebakanku benarkan, yank?"
Dari suara dan garis rahang yang mengeras, bisa terlihat jelas jika Nevan sudah tersulut amarahnya, ada percikan emosi di setiap cecaran pertanyaan yang ia layangkan pada Shasyania.
Namun di sisi lainnya, Shasyania masih mencoba untuk menenangkan lonjakan amarah tersebut, dengan usapan lembut di pipi Nevan, "Sayang, jika bisa di minta, setiap orang juga akan berharap untuk mendapatkan perlakukan yang baik, namun kenyataannya, bukankah hidup tidak akan selalu sejalan dengan hal-hal yang kita inginkan, hmm? Dan satu hal lagi... kita juga tidak bisa menyalahkan seseorang hanya karena dia tidak menyukai kita. Itu hak mereka, dan begitupun untuk keluarganya Zia, apalagi statusku di sana.. hanya seorang anak pekerja Geonevan."
Penjelasan Shasyania sejenak membuat Nevan terdiam, namun bukan berarti laki-laki itu tidak akan kembali bertanya, "Baiklah, tapi apa kamu pernah sedih, karena Zia selalu memiliki apapun tanpa perlu ia minta, sedangkan kamu tidak mendapatkan hal yang serupa?"
"Emmm iyaa, pernah, bahkan dulu aku selalu bertanya kenapa Zia mendapatkan bermacam-macam hal dari orang-orang disekitar kami sedangkan aku tidak? Terlebih lagi di situasi itu aku belum paham mengenai batasan diantara kami.. hingga kadangkala membuatku menangis tidak terima, dan mempertanyakan segala hal yang aku pikir tidak adil! Rasanya memang sangat menyakitkan, ketika orang di sampingmu memilikinya.. sedangkan kamu tidak. Namun, dari sana juga aku jadinya belajar mengenai pentingnya menahan diri, dan menjadi tahu diri! lalu memahami hal-hal seperti.... Tidak boleh mengambil sesuatu yang bukan menjadi hak kita... apalagi dengan cara paksa.. yaitu merebut tanpa diberi, karena itu hanya akan membuat kita lebih tersakiti," jelasnya, dengan intonasi stabil.
Tanpa beban, Shasyania menceritakan sepenggal kisah masa kecilnya dengan raut ketenangan, namun berbeda dengan Nevan, ia yang malah terlihat menahan sesuatu dalam dirinya hingga bergegas membuang muka, untuk sekedar menghela nafas yang dirasanya semakin memberat.
"Sayang, kamu baik-baik saja?" tanya Shasyania, ketika melihat Nevan sedikit gusar.
"Mhh, karena ada kamu di sampingku! dan apa kamu tahu yank, hal pertama apa yang membuatku tertarik padamu? apa kamu bisa menebaknya?"
"Ummm.. mungkin karena Ziaa...."
Nevan bergerak mensejajarkan kepala mereka, lalu menyentil pelan dahi Shasyania sembari mengeluarkan sorot mata tajam, namun hanya sesaat, karena setelah itu ia sudah mendaratkan sebuah ciuman di area yang ia sentil.
"Ck! bukan!!!"
"Lalu?"
"Karena ini," jelasnya, dengan menggenggam jemari Shasyania, yang kemudian ia gerakkan untuk saling bertautan, hingga berakhir saling membentur antara telunjuk kiri dan telunjuk kanan.
"Hari itu.. saat aku berusia sebelas tahun, aku duduk di depan Tv untuk bersiap menonton serial hari liburku, namun bukannya senang aku malah menjadi kesal, karena serial superhero ku itu di gantikan oleh acara musik, yang di mana memperlihatkan seorang gadis seusiaku yang tengah berdiri menjadi sang idola. Aku kesal? tentu! akan tetapi ketika aku melihat gerakan ini, rasanya aku ingin sekali menarik gadis itu untuk turun dan membawanya pergi! aku mau melindunginya dan memberinya rasa aman! Dan itulah saat pertamakali aku tertarik padamu, yank! Karena setelah mengetahui kebenarannya, aku yakin sekali gadis itu adalah kamu, dan bukanlah Zia!" tegas Nevan, sembari mengangkat tangan Shasyania sebatas bibir, yang kemudian ia kecup satu-persatu jemari tangan tersebut.
Dan mendapati perlakuan yang begitu memujanya, hingga tak pelak memicu senyum manis di ujung bibir Shasyania, rasa cintanya kini semakin tumbuh dan akan terus tumbuh untuk seorang Geonevan.
Cup!
Nevan mendongak seraya mendekatkan diri, dan meraih bibir Shasyania untuk ia nikmati.
"Ini selalu menggodaku, yank!"
"Kamu yang selalu menggodaku, Geonevan...."
"Hahaha... benarkah?" guraunya, "oh iya, jika kamu menginginkan sesuatu.. maka katakan, sebisanya akan aku berikan!"
"Gak bohong?"
"Tentu!"
"Baik aku pegang itu, dan kamu gak boleh ingkar janji yaa...."
"Iyaa sayang iyaaa.. memangnya kamu mau apa?"
Shasyania tersenyum penuh arti dan mulai mengutarakan keinginannya, namun belum sempat gadis itu berbicara Nevan sudah menyelanya terlebih dahulu.
"Tuh kan! belum juga aku ngomong kamu udah ingkar janji!"
"Mintanya yang lain dong.. sayaaang! jangan itu itu mulu!"
"Memangnya kamu tahu, aku mau minta apa?" sungutnya, seraya berekspresi kesal.
"Mie kan?"
Awalnya Shasyania ingin menampik, namun apa daya kepalanya justru terlebih dahulu mengangguk, dan mengiyakan tebakan Nevan.
"Pokoknya ganti!"
"Enggak! kamu udah janji loh tadi! aku mau makan mie! udah lama gak makan mie akuu! Minta yang lainnya nanti saja, setelah aku makan.. biar bisa mikir sayang...."
"Haah!"
Nevan kembali kalah, dan mulai menyetujui keinginan sang kekasih dengan ekspresi pasrah.
"Oke berarti udah deal kan? jadi aku bisa pesan sekarang, mmhh? Dan kebetulan banget, ada rekomendasi mie yang enak di daerah sini!"
"Iyaa, tapi jangan pedes-pedes, sayaang! cukup level satu!" ucapnya memperingati, seraya membenarkan posisi tiang infus agar dirinya lebih leluasa untuk memeluk Shasyania.
.
.
.
.
"Gimana, enak?"
"Iyaaa...."
"Pedes gak?"
"Enggak, kan level satu."
"Masak? cobak!"
"Enggak boleh! kamu kan lagi sakit, sayang!"
"Aku mau nyicip dikit," Nevan terpukau melihat Shasyania melotot, lalu berniat menggodanya, "cicip di sini sayang...," jelasnya, dengan arah mata menunjuk benda kenyal milik Shasyania.
"Ihhhhh... kamu itu yaaaa! Kamu liat ini, bibir aku rasanya sampai kebas tahu! Dan semua itu karena ulah kamu! bilangnya nyicip, sebentar, tapi pasti kelamaan!"
"Tapi kamu suka, kan?"
"Ihhhh Geonevan!!!"
Nevan terkekeh, menikmati perdebatan mereka, hingga melirik sebuah paper bag di samping Shasyania, "Yank, ini telur burung puyuh, kan?"
"Eemm, iyaa. Kamu suka?"
"Lumayan!"
"Yasudah sini.. biar aku kupasin," tawarnya, yang langsung memisahkan cangkang dari isinya.
"Aaaaaaa...."
Hap!
"Kalau bicara tentang telur, kamu ingat sesuatu gak?" pancing Shasyania, yang ingin segera mendengar respon Nevan.
"Mmm, apa yaa?"
"Bukannya dulu kita juga pernah makan telur bersama, tapi ukurannya... mungkin lebih kecil dari ini, iyakan? kira-kira itu telur burung apa ya?"
Pertanyaan tersebut sontak membuat Nevan tersentak, hingga tersedak, "Pffftt! uhuk...uhuk!!!"
"Ini... ini minum dulu! Hati-hati makannya sayang!"
Saat kondisi Nevan membaik, laki-laki itu kembali berulah, dengan ide jahil yang telah bergerilya di dalam pikirannya, "Yank, kamu yakin, telur yang aku kasih dulu itu... telur burung?"
"Iyaa, memangnya telur apa lagi?"
"Mmm... sebenernya itu, bukan telur burung...."
Pandangan Shasyania tak lagi terfokus pada apa yang tengah ia genggam, karena kini kedua bola matanya telah menghunus menatap Nevan, "Terus... itu telur apa cobak?"
"Teluuuur... cicak!"
"Aaaaaaaakkkhhhhh!"
"Hahahahaha...hahahaha!" Nevan tertawa terpingkal-pingkal seraya menepuk paha, hingga perutnya pun terasa keram.