
Shoftbox dan umbrella light terpasang di sebuah ruangan. Kilatan cahaya buatan itu menerangi suatu objek yang tengah berdiri, bergaya sesuai arahan sang fotografer handal.
Hasil tangkapan gambar darinya membuat orang-orang di dalam sana tersenyum puas, apalagi semua jenis rancangan masa kini tersebut melekat indah di tubuh Shasyania. Lekukan tubuhnya yang teramat menawan mampu menambah kesan sempurna pada produk yang akan segera diliris tersebut.
"Kita break sebentar!" perintah dari suara bariton yang di miliki Dofa Milles itu langsung di setujui oleh seluruh staf. Semuanya keluar mencari angin segar atau sekedar mengopi menenangkan pikiran.
"Shai...., lu tahu gak, si Dofa curcol ke gue tahu! katanya sayang banget lu gak mau di foto sampai wajah!" suara nyaring tersebut berasal dari Marline, ia selalu mengompori dan terus berusaha untuk membujuk Shasyania di setiap kesempatan, "dari awal sampai sekarang yaa! gue masih yakin banget lu bisa jadi model utama produk ini! tapi lu nya aja yang gak mau!"
"Segini aja cukup Kak."
"Yaelah pikiran bocah! Hidup gak akan berkembang selama lu merasa cukup!" terang Marline, matanya lalu melirik kearah rambut Shasyania yang sedikit berantakan, dan dengan gerakan refleks ia langsung merapikannya, "gue masih heran, kenapa lu gak mau! kalau di bilang lu kurang percaya diri tapi yaa..., hasil foto lu malah yang terbaik! Gini aja deh, gimana kalau lu cerita aja ke gue nanti biar gue yang cariin solusi!" begitu kekeh nya pria itu berusaha menembus pertahan Shasyania.
"Alasannya karena gak mau Kak."
"AAAAIIIIIIISSSSS!!!" Marline sedikit frustasi hingga mengacak-acak rambutnya. Namun penolakan demi penolakan Shasyania tidak akan membuatnya menyerah begitu saja.
"ADA YANG LIAT MARLINE GAK?" dari arah luar terdengar seseorang wanita tengah mencari keberadaan pria itu, hingga dia yang bersangkutan langsung bersuara, "GUE DI RUANG GANTI MIR! KENAPA?" teriakan tersebut mengundang sosok Mirna muncul dari balik pintu.
"Lu di cari Mrs Zivana tuh! dan dia lagi nunggu di bawah!"
"Waduh kenapa dia nyari gue?"
"Mana gue tahu! Makanya buruan temui sebelum si Nyonya ngamuk!"
"Perasaan gue gak enak nih!"
"Si BE.CONG bukannya langsung turun malah sibuk grusa-grusu gak jelas! mau gue sembelih tuh terong!" ancam Mirna. Ia nampak kesal karena Marline tidak langsung merespon ucapannya, karena seluruh staf sudah sangat hafal jika Zivana sampai marah maka semuanya akan kena imbas.
"Sabar napa! gue lagi nyari tisu nih!"
"Inii kak...," Shasyania menyodorkan kotak tisu yang sebenarnya sedari tadi sudah berada di hadapan Marline, namun karena kepanikan terlebih dahulu melandanya hingga ia tidak menyadarinya hal tersebut.
"Mir lu yang urus pemotretan selanjutnya!"
"Siap!"
Saat Marline menghilang dari ruangan dan saat itu juga Mirna menarik sebuah kursi untuk lebih mendekat kearah Shasyania. Sebelum ia memulai pembicaraan terlebih dahulu Mirna memperbaiki riasan wajahnya yang terpantul dari cermin di depan sana.
"Nama lu Shasya kan?" tanyanya yang terkesan berbasa-basi.
"Iya Kak."
"Sebelumnya lu udah pernah pemotretan?"
"Udah Kak pas kegiatan sekolah."
Jawaban itu membuat Mirna tersenyum dan mengangguk cepat, "Ohh pantas! gue liat juga lu gak pernah kaku saat berhadapan dengan kamera. Pokoknya gak kayak pemula pada umumnya lah!" ujarnya memuji, "mmmh lu mau gak bantuin gue?" Akhirnya alasan di balik ia mengakrabkan diri terbongkar.
Shasyania yang masih bingung atas pertanyaan itu langsung membalikan badan, menghadap ke lawan bicaranya, "Bantuin gimana Kak?" tanyanya yang bahkan tidak berkedip sedikitpun hingga membuat Mirna menelan ludah.
"Asliiii! lu cantik banget! Bahkan lu Sebelas Duabelas sama Little angel nya Negeri ini!"
Ungkapan jujur itu justru membuat Shasyania seketika memalingkan wajah. Tampaknya ia merasa tidak nyaman jika seseorang terus menyamakannya dengan sosok tersebut.
Diamnya Shasyania membuat Mirna kembali berbicara, "Gini-gini, hari inikan ponakan gue lagi ulang tahun dan dia ngefans banget sama si Zia. Sebetulnya ini juga gara-gara gue sih karena dari kecil udah gue cekokin dengan apapun yang berbau Zia! Dan masalahnya sekarang dia taunya gue tuh kerja bareng artis, di pikir gue kenal sama tuh artis! terus dia minta ucapan selamat ulang tahun dari tuh artis! tapi tahu sendiri kan mana mungkin gue bisa hadiahin hal kayak gitu apalagi artisnya sekelas Zia! Pokoknya gue bingung dan sekarang harapan gue cuma lu..., gue harap lu bisa bantu..., lu mau yaa Sha..., bantuin? buatin satu vidio aja buat ponakan gue setelah pemotretan ini selesai..., mau ya? please...," ucapnya memelas.
"Tapi ponakan Kakak juga bakal ngeh kalau aku bukan Zia!"
"Enggak! nanti lu pakek kostum yang itu terus nanti gue tambahin sedikit make up! Pokoknya asal lu mau yang lain biar gue yang atur!"
"Ponakan Kakak bisa kecewa loh karena Kakak ngasihnya yang tiruan bukan yang asli!" resah Shasyania yang terdengar begitu menggelitik di perut Mirna.
"Aku serius Kak!"
Tiga kata yang keluar dari mulut Shasyania mampu membuat Mirna seketika terdiam, "Maaf-maaf humor gue receh! dan soal tiruan atau asli lu gak perlu mikirin itu! yang jelas lu mau bantuin gue kan?" Shasyania tak bergeming hingga Mirna kembali membujuknya, "sebagai rasa terimakasih nanti gue traktir deh!"
"Oke Kak!"
"Wah ternyata lu doyan makan juga ya?"
"Manusia perlu makan Kak, dan kebetulan juga aku lagi pengen nyobak makanan di seberang sana."
"Okee gampang! yasudah sekarang lu siap-siap dulu gih! bentar lagi Dofa dateng."
.
.
.
.
.
"Shasya kamu punya ig kan?"
"Iya Kak punya."
"Nanti kamu posting semua foto yang udah Kak Dof kirim di group ya!"
"Tapi Kak...."
"Kenapa ada masalah?" tanya Dofa yang semakin memangkas jarak di antara mereka, "kamu tahu? konsumen harus tahu siapa model dari pakaian yang akan mereka beli, bisa tanya-tanya langsung secara personal itu penting, karena menjadi dekat membuat mereka semakin yakin, dan teknik digital market juga harus kamu lakukan! apalagi ini bukan produk utamanya NJL jadi pemasarannya harus lebih kita gencarkan! dan besok juga produk ini akan liris bersamaan dengan produk utama NJL yang minggu lalu sempat jadi foto sesi kita. Meskipun produk ini tidak setara tapi setidaknya kita harus tetap bisa bersaing!"
"Apa aku boleh membuat ig baru Kak, yang di khususkan untuk promosi saja?" tanyanya seraya memundurkan langkah.
Dofa tersenyum, "Tentu saja! nanti biar Kak Dof yang bantu cari followernya! Intinya kita harus bisa menggaet pembeli dan bersikap ramah oke?"
"Oke Kak!"
...----------------...
Seperti biasa Ningrum selalu datang tepat waktu, ia tidak pernah membuat Shasyania menunggu.
"Kak sebelum pulang antar dulu ke TPU xxx ya?"
"SIAP!" meskipun Ningrum penasaran namun ia merasa tidak pantas untuk bertanya lebih dalam, hingga kendaraan itu melaju tanpa adanya pembicaraan di antara mereka berdua.
Ketika Shasyania hendak turun dari mobil pandangan matanya menangkap sosok Ibunya yang terlihat baru saja keluar dari tempat itu. Dan Shasyania yakin Ibunya juga memiliki tujuan yang sama sepertinya.
Saat langkah Ibunya semakin menjauh barulah Shasyania kembali ke niat awalnya, yaitu bertamu ke makam sang Ayah.
Berjalan mendekat hingga tanpa terasa tetesan demi tetesan air mata mulai jatuh di gundukan tanah tersebut, "Ayah bagaimana kabar Ayah? Shasya yakin jawabannya pasti baik kan? dan jika Ayah bertanya bagaimana kabar Shasya maka jelas, jawabannya sangat luar biasa!"
Shasyania mengatur deru nafasnya, sebelum kembali bersuara, "Shasya tahu Ayah selalu menginginkan jawaban seperti itu! Dan ini Ayah..., ini adalah foto anak kesayangan Ayah! masih cantik kan Yah? Ayah selalu mengatakan jika Shasya lah anak tercantik yang pernah Ayah lihat, dan Ayah juga mengatakan jika Shasya ini adalah kebanggan keluarga..., tapi kenapa Ayah? kenapa Ayah pergi sebelum Shasya sempat mewujudkannya? apa karena keyakinan Ayah sudah memudar ke Shasya? Dan apakah Ayah tahu, Shasya selalu bermimpi ketika sukses nanti maka Ayah dan Ibu lah yang akan berada di samping Shasya, dan dengan lantangnya akan Shasya katakan bahwa inilah Dua sosok yang membuat Shasya sampai berada di tahap ini! Bayangan itu selalu memacu semangat Shasya Yah! tapi kenyataan justru berkata lain! Dan jujur saja, sampai saat ini masih sangat sulit untuk Shasya mengikhlaskan kepergian Ayah!"
Nafasnya tercekat, ada himpitan keras yang terasa di dalam dadanya, "Shasya merindukan sosok yang selalu menyambut kedatangan Shasya, Shasya merindukan kue gosong Ayah! Shasya juga merindukan saat kita berebutan telur gulung buatan Ibu, dan yang paling Shasya rindukan adalah senyum kebanggan Ayah saat melihat Shasya berhasil dalam suatu hal. Ayah bisakah Shasya melihat Ayah lagi? Andaikan saja malam itu Shasya tahu jika itu akan menjadi malam terakhir bersama Ayah, maka Shasya tidak akan berpamitan untuk tidur. Shasya akan memilih menemani Ayah, andaikan saja...," tangisan gadis itu pecah, bahkan ia sampai tersendat-sendat untuk mengatakan hal lainnya.
"Dulu kita saling menguatkan, namun sekarang tanpa adanya sosok Ayah rasanya begitu menyesakkan! Jika ini mimpi maka Shasya akan sangat bersyukur! Apa sekarang Ayah mulai membandingkan Shasya dengan Ibu? Yaa Ibu lebih kuat dari Shasya..., Ibu tidak pernah menangis ataupun mengeluh tentang kepergian Ayah, tap...tapi tetap saja Ayah..., saat ini Shasya sangat takut, benar-benar takut! karena kepergian begitu nyata adanya dan tak pernah terduga datangnya."
Hembusan angin seperti mewakilkan kehadiran sang Ayah, yang terasa seperti mengusap-usap halus kedua pipi Shasyania yang basah.