
(masih mode flashback)
"BAGAIMANA BISA BOCAH INI MASUK? KALIAN SUNGGUH TAK BERGUNA!" ku lihat seseorang bertato naga mulai berseru, ia tampak murka mendapati anak buahnya yang lalai, atau ia telah marah karena aku berhasil membobol markas mereka.
"Dia pasti masuk melalui celah itu! iyakan bocah?"
"Ikat dia sekarang! jangan biarkan dia kabur! bocah ini berbahaya jika dia sampai mengadu!"
Tidak! Aku tidak boleh berakhir menjadi tawanan, niatku membantu Zia, "Tunggu dulu, tunggu dulu Paman..., aku hanyalah anak kecil yang tinggal dipinggir lembah, aku berada di sini untuk mencari makanan. Itu kebiasaanku! Aku bertahan hidup bergantung dengan hutan ini, mengambil persediaan makanan dari para pengunjung adalah rutinitas ku, apabila beruntung aku juga mencuri pakaian mereka, seperti yang aku pakai sekarang, ini curian, baru saja ku dapatkan dari ujung sana," aku berusaha mengelabui mereka, berharap para penjahat itu percaya.
"Ohhh..., rupanya kau pencuri kecil yaa?"
"Mmmhh...iya Paman!"
Perasaan lega mulai menjalar, namun pria bertato naga itu tetap saja memandangku curiga.
"Benarkah? tapi bukannya untuk anak seusiamu, berjalan sejauh ini merupakan tindakan yang kurang masuk akal? Di malam hari pula! Kau mau membodoh-bodohi ku bocah tengil?"
"Tidak, tentu saja tidak Paman! berbohong untuk apa? lagian keluargaku tidak menginginkan aku hidup, aku kabur Paman! aku ingin menjalani hidupku sendiri tanpa paksaan untuk mencari kayu bakar! dan saat melihat Paman-paman ini membawa sekarung makanan aku berinisiatif untuk mengikuti, dan bermaksud mencuri makanan kalian!"
Plok!
.
.
Plok!
.
.
Plok!
Suara tepuk tangan mulai menggema.
"Aku suka bocah pemberani seperti ini! tapi heeei! apa kau tak takut jika kami membunuhmu?"
Aku berusaha memasang wajah datar, lalu kemudian tersenyum tipis, "Jika aku mati sekarang, maka aku akan lebih bahagia. Hidup membuatku pusing Paman, karena aku tak tahu, besok aku harus bertahan hidup seperti apa lagi!"
Sreeekk!
"Ini..., ambil pisau ini, lalu potong urat nadimu! bukannya kau ingin mati?" wajah pria itu seperti menantang, mencari ekspresi takut dari mimik wajahku.
"Cih! bunuh diri bukanlah pilihanku Paman, aku tidak ingin tersiksa di dunia lalu melanjutkannya di neraka! Tapi lain hal jika aku dibunuh, maka aku akan langsung terbang ke surga dan menyisakan dosa untuk kalian semua!"
"Wah, dasar bocah edan!" sungut yang lainnya.
"Berikan aku makanan Paman, dan setelah itu aku akan pergi!" ucapku lantang, namun hatiku terus berharap mereka tetap menahan ku, agar aku bisa menyelamatkan Zia.
"Tidak! tentu tidak, kau pikir kami akan mengizinkanmu pergi, setelah melihat kejahatan kami? Cuihh..., mimpi!"
"Tentu saja kalian tidak akan membiarkan aku pergi! Karena kalian hanyalah kumpulan tempurung kosong!"
"Ikat bocah ini sekarang!"
"Loh kenapa diikat? jika itu terjadi bagaimana aku menolong Zia?" batinku meradang.
Lalu dua orang langsung bergegas mengunci pergerakanku, dan memaksaku duduk dengan keadaan terikat.
Dan seperti inilah sekarang, aku berakhir seperti Zia, tidak berdaya dan misiku gagal.
Aku tak bisa melakukan apapun selain mengarahkan pandanganku pada gadis di sampingku ini. Ku lihat ia masih menangis, jika saja matanya tak tertutup poni, maka aku yakin keadaanya sudah sembah seperti tersengat tawon.
Sampai berpuluh-puluh menit berlalu, pintu pun akhirnya kembali terbuka, lalu memperlihatkan dua orang penjahat dengan tangan membawa makanan.
Dan aku? Ya jelas, masih setia untuk melanjutkan dramaku yang sempat bersambung tadi, "Nah gitu dong Paman! aku ini sudah sangat lapar tahu! Aku tidak masalah jika kalian mengikatku seperti ini, asal rutin diberi makanan maka aku akan patuh!" dengan semangat berapi-api aku mulai membuka mulut, namun penjahat dihadapan ku malah terkesan enggan untuk menyuapiku. Dan sialnya lagi, ia justru bergerak untuk menyentuh topeng yang sedang kupakai.
"Jangan dibuka Paman! mataku terlihat jelek jika di pandang! lagian topeng ini tidak menghalangi Paman untuk memasukan makanan ke dalam mulutku, jadi ayo suapi aku!"
Penjahat itu menuruti keinginanku, dan aku harus terus berakting menjadi sosok kelaparan yang begitu menyedihkan.
Namun berbeda denganku, Zia justru mengatupkan mulutnya, hingga penjahat di hadapannya mulai tersulut emosi, dan kembali melancarkan aksi kekerasan.
Plak!
"Gadis sialan! mau mati kau hah? MAKAN INI! jika tidak, maka jangan harap aku masih bersikap baik!"
"Sial! sial! sial! aku tidak bisa membiarkannya terus disakiti!" batinku cemas, "Paman-paman jangan marah dong! biar aku saja! Dia itu hanya takut tahu, karena Paman terus saja membentaknya. Dan lihatlah sekarang, air matanya terus mengalir, sedangkan minum pun dia tidak! Bisa-bisa gadis ini dehidrasi, dan itu sangat fatal Paman, karena dapat menyebabkan kematian!"
"Benarkah? jangan mengada-ada kau!"
"Serius Paman serius..., meskipun aku tidak sekolah, tapi aku sering mendengar berita itu dari para pengunjung, dan ada yang sampai mati lalu mayatnya akan menyebarkan virus!"
"Wah gawat! gadis ini tidak boleh mati! bisa kacau jika itu terjadi! Baiklah kalau begitu kau saja yang menyuapinya, mungkin dengan sesama bocah dia akan menurutimu! tapi ingat jangan kabur!" ancamnya, sembari melepas ikatan yang sempat membelengguku.
"Kalau tidak percaya, yasudah..., aku tidak jadi membantu Paman!"
"Heii...heii! biarkan saja dia membantu kita. Jangan buat Bos marah karena gadis ini terlihat lesu!"
"Bantu aku bocah! tapi sekali lagi ku peringatkan, jangan kabur kau!"
"Tentu saja Paman, ngapain aku kabur jika berada di sini aku terus diberikan makanan!" elak ku yang terus membuat mereka percaya.
BRAK!
.
.
BRAK!
.
.
BRUAAAAKS!!!
"BA.GSAT!!! APA MEREKA PIKIR AKU MAIN-MAIN!" suara amarah terdengar dari arah luar, dan hal itu membuat dua orang penjahat di hadapanku seketika berdiri lalu beranjak pergi.
Dan tak ingin menyia-nyiakan kesempatan aku langsung mendekati Zia, lalu membisikkannya sesuatu, "Berhenti nangis ya, kamu gak sendiri! aku akan menyelamatkanmu!" lirihku, yang terus berusaha melepaskan ikatan talinya, dan ternyata tak semudah yang kukira, hingga aku cukup kesulitan dibuatnya.
"KALIAN TIDAK SALAH MENCULIK ORANG KAN? MENGAPA TADI AKU MENDAPAT KABAR JIKA KELUARGANYA MALAH SANTAI-SANTAI SAJA? SEAKAN TIDAK PERDULI JIKA CUCU EMASNYA KITA CULIK? DAN BERULANGKALI AKU MEMINTA TEBUSAN TAPI TELPON KU SELALU DI ABAIKAN, BAHKAN PESANKU JUGA TIDAK DI RESPON!"
"Kami tidak mungkin keliru Bos! Bukannya sudah beberapa hari ini kita selalu mengintainya, dan saat penjagaannya lengah, bahkan gadis itu kita culik di depan rumahnya! jadi kita tidak mungkin salah!"
"Ta..tapi..., me...memang ada yang a...aneh...."
"BICARA YANG JELAS BA.GSAT!"
"Zia, gadis idola itu terkenal dengan matanya yang berwarna biru keabu-abuan, tapi mata gadis yang kita culik sekarang berbeda, beberapa kali saat aku menamparnya aku sempat menatap matanya dan warna___,"
"BEDEBAH! APA YANG SEDANG KAU BICARAKAN HAH! BUKANNYA WARNA MATA BISA BERUBAH KARENA SOFTLENS, JADI BISA SAJA IA MENGGUNAKAN ITU! DAN LAGIAN BUKANNYA DIA SANGAT MIRIP!"
"Awalnya aku berpikir seperti itu, tapi setelah mendengar Bos mengatakan keluarganya tak merespon aku jadi curiga, dan lebih baik kita mengeceknya sekarang!"
.
.
Drrrrrrrraak!
.
.
Drrrrrrrrraaaaak!
"BRE.GSEK KENAPA PINTUNYA DIKUNCI!"
"Jangan-jangan bocah laki-laki itu!"
"KALIAN MELEPAS IKATANNYA? JIKA MEREKA KABUR MAKA KALIAN YANG AKAN AKU BUNUH!"
Aku mendengar semua percakapan di luar, dan sialnya aku masih berada di dalam ruangan bersama Zia, ikatannya masih belum terlepas, hingga aku berinisiatif untuk menganjal pintu dengan balok kayu, kuharap keberuntungan berpihak pada kami.
.
.
.
BRRRRRRUUUUAAAKKK!!!
Pintu didobrak dengan keras hingga penghalang itu mungkin saja sudah hancur, tapi kami lebih beruntung, karena aku dan Zia sudah berada di luar gubuk, dan saat ini tangan Zia sudah berada dalam genggamanku. Aku menuntunnya berlari kearah gelap, berharap dengan cara itu para penjahat tak melihat pergerakan kami berdua.
"Ayoo lari!" seruku, namun semakin lama rasanya aku seperti menariknya, dia pasti kelelahan bisaku tebak dari hembusan nafasnya. Pandanganku mengedar mencari-cari tempat yang sekiranya bisa mengecoh para penjahat tersebut.
"Kita sembunyi di sini..., ayo masuk," ku tuntun ia memasuki semak belukar, tangan kanannya masih ku pegang erat, lalu ia menggerakkan tangan kirinya untuk menyeka keringat.
Kerapuhannya semakin membuatku sedih, ingin rasanya ku peluk tubuh itu, memastikan semua baik-baik saja.
"JAN.OK! KEMANA PERGINYA BOCAH SIALAN ITU! KALIAN JANGAN LENGAH TETAP CARI SAMPAI KETEMU!"
Mereka semakin mendekat, dan dengan gerakan cepat ku tutup mulut Zia agar dia tak bersuara, "Diam ya, jangan bersuara mereka di sana...."
Ku intip dari balik semak mereka semakin menjauh, namun aku tak boleh merasa senang dulu, aku harus memastikan semua benar-benar aman, hingga sejurus kemudian sebuah ide mulai terpikirkan.
Berbekal beberapa batu di tangan aku mulai mengayunkannya kuat-kuat, lalu ku lempar ke arah selatan, agar para penjahat mengira itu kami, dan rencanaku berhasil mereka berbondong-bondong berlari ke sumber suara, hingga jarak kami tak terhingga lagi.
"Tenang-tenang kamu aman...," ujarku sembari mengelus punggungnya, lalu ingatan tentang ucapan penjahat itu mulai terlintas kembali, "aku memang tidak pernah melihat Zia secara jelas, tapi tidak mungkin jugakan jika dia ini bukan Zia, lagian terakhir kali aku melihatnya di tv, gaya rambutnya menang seperti ini! mmhh lalu untuk manik mata, mungkin memang benar karena softlens, yaa itu pasti karena softlens! orang ini pasti Zia!" aku mulai menerka-nerka, hingga tak terasa malam pun semakin larut.
Mata ini masih terbuka, sulit untukku terlelap, apalagi kulihat Zia juga masih terjaga, haruskah aku memulai pembicaraan diantara kami berdua? tapi kenapa rasanya susah sekali? aku takut jika dia masih trauma, dan malah menjerit-jerit ketika ku tanya.
Sampai sebuah suara mencairkan keheningan yang sempat menjadi benteng kokoh diantara kami.
Kruuuuukkks!!!
Perut Zia bergemuruh, dia pasti lapar.
"Heii..., mau ini? mmhh maaf ya, cuma ada ini di kantongku, tapi makanlah! Besok akan ku ganti dengan makanan yang lebih enak. Hari ini cukup ini saja yaa?"
Ku kira dia akan menolak tapi ternyata.
"Terimakasih ya...."
Ucapnya serak, lalu ia mulai meremas biskuit itu menjadi potongan kecil, dan memakannya seperti anak bayi yang belum memiliki gigi.
"Aaaaaahhh..., itu pasti akibat dari tamparan para penjahat! Dan apa-apaan keluarganya itu! penculikan seperti ini bukanlah hal yang sulit untuk dilacak! Apalagi dengan status keluarganya yang begitu berkuasa! tapi kenapa malah membiarkannya lama tersiksa! Sial! Tapi yaa...! aku tidak bisa lagi berharap pada keluarganya, yang perlu kami lakukan sekarang hanyalah bertahan, karena aku yakin besok setelah keluargaku mendapat kabar aku hilang, mereka pasti akan mengerahkan pasukan untuk menyelamatkanku! dan untukmu Zia, bersabarlah sebentar lagi!" aku terus membatin, dan tampaknya itu menjadi kebiasaan baruku.
"Kamu bisa tidur di sini?" tanyaku, sembari menatapnya.
"Mmhh iyaa...."
"Baguslah...! dan ya, sebaiknya gunakan jaketku ini sebagai alas, dan berbaringlah."
"Tapi kamu?"
"Aku biasa tidur seperti ini, jangan khawatir, alam bebas adalah sahabatku," dustaku padanya, malah ini merupakan pengalaman pertamaku di hutan, tanpa pelayanan selayaknya tuan muda.
"Lalu besok..., mmhh bagaimana cara kita keluar dari hutan ini?"
Seketika aku tersenyum kaku, dengan bibir dan gigi mulai mengering, "Mati! mati! mati! aku tidak tahu caranya harus bagaimana! tenang-tenang Nevan! tenang..., jangan membuatnya takut karena ketidaktahuan mu ini!"
"Itu gampang, kita hanya perlu mengikuti arus air! berjalan ke hilir, lalu kita akan menemukan perkampungan warga, terus kita selamaaaaatttdeeh..., Yeeeeeee!" seruku gembira, dan bisa ku lihat dia juga ikut tersenyum.
"Tapi..., aku tidak mendengar suara air, apa sungai jauh dari sini?"
"Jangankan tahu jaraknya, mengetahui adanya sungai atau tidak saja aku tidak tahu! Ohh no bagaimana ini?"
"I...itu lumayan kok, pokoknya besok kita pasti akan selamat, tenang saja! karena ada aku di sini! Si penjelajah hutan, kamu dipastikan aman!" ucapku meyakinkannya, dan lagi-lagi dia tersenyum, ada rasa bahagia dalam dadaku. Aku ingin ia terus seperti itu.
"Ohh ya..., apa pipimu masih sakit?" entah siapa yang merasuki ku, hingga tanpa permisi aku mulai menyentuh pipinya, dan seketika itu ia membalikkan wajah, dan mulai menutupnya rapat.
"Maaf-maaf, aku gak sengaja, aku hanya ingin memastikan kondisimu. Yaa hanya itu saja...."
"Aku baik-baik saja, terimakasih."
Seperti tak menginginkan hening kembali berada diantara kami, aku pun mulai kembali bertanya.
"Ohh ya namamu siapa?" ku lihat ia masih terdiam, hingga aku mengulang kembali pertanyaan tadi, "namamu siapa? aku ingin menjadi temanmu."
"Sha..., ehh...eeh..., Zi...zia!"
"Sha__,"
"Zia! namaku Zia! ya namaku Bralinzhea!" dengan cepat ia memotong ucapanku, sedikit heran namun tak membuatku kembali mempertanyakan hat tersebut.
"Zia? Bralinzhea? wah...wah...! jangan-jangan kamu artis itu ya?"
"Mhhh...," jawabnya singkat, sesingkat kedipan mataku.
"Benarkah? jadi saat ini aku sedang bersama sang idola? Wah, ini benar-benar suatu kehormatan!" aku mulai berkelakar, berpura-pura tidak tahu siapa dia, dan aku juga berencana untuk menyembunyikan indentitas ku, lalu saat waktunya tiba akan aku buat dia terkejut.
"Namaku Vanvan, si tampan penjelajah hutan rimba, aku hidup bebas, sebebas tiupan angin yang menerpa ranting dan daun. Lampuku bintang, kasurku tanah, dan atapku iyalah langit. Aku penguasa hutan ini!" entah ide dari mana aku mulai berbual, namun itu sukses membuatnya tertawa, bahkan aku pun juga sama.
Malam itu kami lewatkan penuh canda tawa, hingga masing-masing diantara kami mulai terlelap di dinginnya hutan belantara.
.
.
.
.
.
*Haaayy..., untuk para pembaca, aku sangat senang kalian berkunjung dicerita ini, tapi aku juga tidak akan memaksa kalian untuk tetap bertahan, jika memang cerita ini sudah menimbulkan efek pening. Maaf dan juga terimakasih. Moodku juga mulai naik turun nih😐*