Mine ?

Mine ?
84 : (POV NEVAN) Daneshav



(Mode flashback)


"OPER....!!!"


Haaps!


Tanganku menangkap bola berwarna merah dengan garis hitam itu, dan kakiku berayun bergantian berawal dari kanan lalu kiri dan melompat tinggi dengan jari-jari mencengkram bola yang langsung ku angkat menuju ring basket.


Sssrrrrtttthh!


Prrrrrrrrrrrriiiiiiitttttt!


"YEEEEEEEEEEEYY!!!"


Sorakan-sorai penonton mulai membengkakkan telinga, tidak hanya mulut bahkan mereka juga menggunakan tangan hingga hentakan kaki untuk menyambut kemenangan dari Bakteri klub.


"AYOOO RAYAKAN INI DENGAN MAKAN-MAKAN!"


"Gue gak ikut!"


"Loh, kenapa Van? lo kan kaptennya di sini."


"Gue ada acara, cabut dulu!"


Aku bergegas menuju mobil, dan menyalakan mesin hingga berlalu di jalanan yang masih lenggang akan kendaraan itu.


Hingga di persimpangan jalan aku memilih untuk berbelok ke kiri dan berhenti tepat di pinggir alun-alun Kota, "Mmhhh, kira-kira dia masih di sini gak ya?" gumam ku, seraya mengedarkan pandangan dari dalam mobil.


Cukup lama aku menunggu sampai kembali tersadar dengan aksiku ini.


"Sial! ngapain juga gue di sini! Gak---gak hal kayak gini gak boleh terulang lagi! Lo konyol Nevan!"


Menggerutu sembari mencengkram stir kemudi, itulah yang aku lakukan sampai tiba di kediaman Eldione.


Crrrrrrrrrrrrrssss!


Ku guyur tubuh di bawah derasnya air shower, merasakan kesegaran yang perlahan menghilangkan rasa penat dan gerah dalam tubuhku.


Tok!


.


.


Tok!


"Masuk!"


"Selamat siang Tuan Muda, saya diperintahkan untuk mengantarkan ini, dan Nyonya juga berpesan agar Tuan Muda segera menelepon."


"Baiklah."


.


.


.


Tuuuuttt...tuuttt!


"Hallo sayang..., bagaimana-bagaimana, apa kamu suka dengan rancangan Mommy?"


"Tentu Mommy, tapi ini untuk apa?"


"Yaa untuk nanti malam sayang..., ohh Nevan, jangan bilang kamu lupa dengan acara makan malam kita bersama keluarganya Zia."


"Owwhh...."


"Owwhh? hanya itu sayang? kenapa? ada apa? kamu baik-baik saja kan?"


"Aku rasa aku tidak akan datang Mommy!"


"No...no...Nevan, jangan seperti ini! Kamu masih kesal dengan Zia mmm?"


"Mommy tahu aku tidak suka membahasnya."


"Tapi kamu merindukannya sayang...."


"Iya Mommy benar, tapi Zia yang ku rindukan bukanlah Zia yang sekarang!"


"Sampai kapan kamu terus tenggelam dalam bayangan masa lalu Nevan? terimalah dia sekarang, dan jangan menyiksa diri__,"


"Tidak Mommy, aku tidak bisa! dan jika Mommy masih membahas ini... maka maaf, aku akan mematikan telponnya!"


"Iya...iya sayang, tapi Mommy harap kamu datang, hargai ini sebagai pertemuan bisnis Nevan."


"Akan aku pikirkan."


Setelah panggilan terputus, aku mulai merebahkan diri, dan tertidur dengan keadaan lapar.


...----------------...


Krrriiiiiiiingg!


Suara alarm membangunkan ku, dan bersamaan dengan itu cacing di perutku juga mulai bergemuruh menginginkan asupan gizi.


"Selamat sore Tuan Muda."


"Siapkan aku makanan!"


"Baik Tuan Muda."


Menyantap penuh nikmat hingga di suap terakhir sekelebat ingatan membuatku terhenti.


"Mmmmhh...besok dia ada di sana gak ya? Ohh yaaaa brosurnya!!!"


Aku membuka pintu mobil dan mulai bergerak-gerak mencari kertas dari gadis itu.


"Permisi..., Tuan Muda sedang mencari apa? biar saya saja yang carikan Tuan!"


"Brosur, mana brosurku?"


"Sebelumnya maaf Tuan, sepertinya kertas yang Tuan maksud sudah saya buang...."


"Apaaa?"


"Saya kira itu sampah Tuan, saya menemukannya di bawah, maafkan saya Tuan Muda...."


Kesal, jelas aku kesal tapi mau apa lagi, mencarinya di tumpukan sampah juga tidak mungkin.


"Akan saya carikan Tuan Muda...."


"Sudah tidak usah!"


Aku meninggalkan supir itu begitu saja, ku liat ia menunduk dengan raut wajah ketakutan.


.


.


.


"Sayang...."


"Mommy!!!"


"Kenapa ekspresi mu seperti itu sayang? kamu kira Mommy ini hantu? dan ya, kenapa kamu belum bersiap-siap juga Nevan?"


"Mom, aku tidak ikut."


"Lohhhh!"


"Lagian Kakek bilang pertemuan itu tidak terlalu penting, jadi aku rasa aku tidak perlu ikut."


"Tidak bisa begitu Nevan, ini penting! lebih akrab dengan calon besa__,"


"Sudahlah honey..., biarkan Nevan di rumah...."


"Thanks Dad!"


Dari balkon ku lihat mobil Daddy kian menjauh, dan ketika aku berniat membalikkan badan sebuah pergerakan di bawah membuatku melirik kembali.


Alisku berkerut melihat si sopir yang sempat membuatku kesal tengah mengorek-ngorek isi sampah, "Ohh tidak!" nurani ku bergetar, hingga ku putuskan untuk segera melenggang menghampirinya.


"Hem!"


"Eehh Tuan Muda...."


"Ngapain?"


"Maaf Tuan, saya berusaha mencari brosur anda."


"Sudah ku bilang tidak usah kan? kenapa kau keras kepala sekali!"


"Maaf Tuan Muda...."


"Aku lupa namamu!"


"Daneshav Tuan Muda."


"Ohhh... dilihat-lihat kau seperti seumuran dengan Daddy ku, dan aku rasa aku tidak pantas jika menyebut namamu! jadi aku panggil kau apa?"


"Apa saja yang membuat Tuan Muda nyaman...."


"Ck! itu bukan jawaban yang aku inginkan! tapi lupakan! dan sekarang antar aku keluar!"


"Baik Tuan Muda."


...----------------...


"Kita kemana Tuan?"


"Mmhhh..., kau punya rekomendasi makanan yang bisa aku makan sekarang?"


"Tuan sukanya apa?"


"Jangan balik bertanya, aku mau kau langsung menjawab!"


"Bakso, Tuan Muda."


"Bakso?"


"Iyaa..., boleh saya sedikit bercerita Tuan Muda?"


"Silahkan!"


"Kala perut saya terisi, tapi saya masih ingin memakan sesuatu, maka bakso lah yang akan saya pilih Tuan, karena berkuah dan nikmat...."


"Antar aku ke sana!"


"Siap Tuan Muda, pokoknya di jamin enak!"


"Kalau tidak?"


"Maka saya akan mentraktir Tuan Muda selama satu mingg----ohh maaf Tuan, bukan maksud saya untu___,"


"Aku suka tantangan! jadi mari kita lakukan!"


...----------------...


Hanya lima belas menit dari rumah, dan kami sudah tiba di warung makan yang sebenarnya tidak terlalu luas, namun padat akan pengunjung. Lalu hal menarik lainnya adalah kami mendapat perlakuan istimewa, supir baru ini langsung diberi tempat hingga di sambut ramah, oleh seseorang yang aku yakini pemilik warung bakso dengan sebutan Mang Yudo.


"Wow...wow Nes..., keluarga mu ini memang bibit unggul semua ya? selain anak perempuanmu yang begitu cantik jelita, nahhh sekarang yang satu ini juga sangat tampan luar biasa! Dengar Nes..., tanganku memang terkenal dengan racikan bumbu! tapi aku kalah denganmu dalam urusan meracik keturunan. Kau hebat Danes!"


"Husstttt...jaga ucapanmu, dia ini majikan ku!"


Bisa ku lihat orang dengan ikat kepala berwarna putih itu langsung melebarkan pandangannya, sembari membuka mulut membentuk huruf O.


"Ohhh maaf...maaf Tuan, saya tidak tahu...."


"Lupakan!" selorohku.


"Yud, tolong siapkan satu porsi untuk majikan ku."


"Kau juga pesan, temani aku makan!"


"Baik Tuan."


.


.


.


Satu porsi bakso sudah ku lahap habis, bahkan sampai membungkus, siapa tahu setelah di rumah aku mau mencobanya lagi.


"Uwaahh kau benar sekali, bakso yang tadi begitu nikmat! Aku suka rasanya! mmmhh...menarik untuk di coba!"


"Tuan Muda suka memasak?"


"Iyaa! nanti kau orang pertama yang akan aku suruh untuk mencicipi, dan bandingkan rasanya!"


"Siap Tuan Muda, jadi tidak sabar untuk itu...."


"Iyaa Tuan Muda..., dia teman baik saya di kota ini."


"Ohh..., terus yang seumuran denganku itu anaknya kan? orang yang menghampirimu dan membisikkan sesuatu..., sepertinya serius...."


"Iyaa Tuan, itu anaknya. Tuan Muda pintar sekali dalam menganalisa...."


"Ck! siapapun bakal tahu jika itu anaknya! mereka kan mirip."


"Ohh iya...ya Tuan Muda."


"Dia membicarakan apa? bukan maksudku kepo ya, jujur saja...dari caranya berbicara membuatku sedikit penasaran, mmhh tidak mungkinkan dia suka padamu hingga tersipu malu begitu, tapi...jika kau tidak ingin bercerita juga tidak apa-apa."


Dia tersenyum sebelum menjawab pertanyaan ku, "Jadi begini Tuan Muda..., saya ini kan memiliki anak perempuan, dan kebetulan anak teman saya itu tertarik sama puteri saya Tuan, terus tadi dia nanya kabar, sambil nitip salam."


"Uwahh..., remaja itu langsung mendekatimu untuk mendapat restu? Menarik! tapi kenapa tidak langsung ke puteri mu saja?"


"Dia malu Tuan Muda."


"Lemaaaahh!"


"Kau suka remaja itu?"


"Maksudnya Tuan Muda?"


"Maksudku, apa kau suka atau setuju bila puteri mu bersamanya?"


"Saya hanya berharap suatu hari nanti puteri saya mendapat seseorang yang benar-benar menyayanginya...."


"Hahaha...ambigu sekali jawabanmu...hahaha! yaa...tapi aku doakan semoga terkabul!"


"Terimakasih Tuan Muda, ohh ya, apa kita langsung pulang Tuan?"


"Tidak! antar aku ke alun-alun kota!"


"Baik Tuan."


...----------------...


"Tuan..., apa Tuan Muda berniat membeli sesuatu?"


"Tidak-tidak, perutku sudah sangat penuh. Dan ya, apa kau tahu kegiatan yang sering dilakukan di sini?"


"Seperti car free day Tuan Muda?"


"Yaa semacam itu, pokoknya yang sering di lakukan oleh kelompok remaja...." ujar ku, sembari memandangi area luar dari balik kaca mobil.


"Iyaa Tuan, setau saya di sini juga sering diadakan acara pementasan karya seni, dan biasanya itu dilakukan di akhir pekan...."


"Owhhh..., kau pernah menontonnya?"


"Jarang Tuan, tapi anak saya sering."


"Yah, baru juga aku mau menanyakan seseorang padamu...."


"Seseorang?"


"Iyaa...."


"Jika itu penting, lebih baik Tuan Muda menyuruh asisten Atom untuk mencarinya, saya ini kurang paham Tuan, takut salah. Saya juga baru beberapa tahun tinggal di kota ini. Maaf ya Tuan Muda."


"Tidak usah minta maaf! dan untuk menanyakan pada Atom, mhhh...aku rasa tidak perlu...."


"Atau begini saja Tuan Muda, bagaimana kalau saya tanyakan itu pada anak saya, Tuan Muda bisa kasih fot__,"


"Tidak...tidak, lupakan saja!"


"Baik Tuan Muda."


.


.


.


"Jam berapa sekarang?"


"Jam sebelas Tuan Muda...."


"Selama itu aku di sini? Wow...bahkan aku sampai tidak mengingat waktu, baiklah-baiklah kita pulang sekarang!"


Saat mobil akan melaju, tiba-tiba telpon di saku bajunya berbunyi.


"Angkat dulu!"


"Baik Tuan Muda."


"Halo shaa?"


"......"


"Sebentar lagi kok, jangan khawatir...."


Ku lihat supir itu asik berbicara, dan entah kenapa aku semakin penasaran dibuatnya.


Tuk!


.


.


Tuk!


Aku mengetuk-ngetuk bahunya dari belakang, hingga ia refleks menjauhkan smartphone di telinganya lalu menengok padaku.


"Maaf Tuan Muda, terlalu lama ya? baik, kita akan jalan sekarang!"


"Tidak...tidak, jangan! apa itu istri mu?" ia menjawab dengan gelengan kepala, lalu kembali membuatku bertanya, "apa itu puteri mu?" sambung ku, yang di jawab anggukan kepala.


"Sini-sini biar aku saja yang jelaskan, mereka pasti khawatir, apalagi sudah lewat jam. Ini salah ku, dan biarkan aku yang bertanggungjawab!"


Ku raih smartphonenya, lalu bersuara, "Halloo...."


"Iyaa hallo...."


"Mhhh...mmmhhh.... i...i...itu," sial kenapa aku jadi terbata-bata, ku hembuskan nafas gusar, berharap semua kembali normal.


"Jadi begini...maaf mengenai Ayahmu..., tidak-tidak maksudku...Ayah mu belum pulang karena dia masih mengantarku jalan-jalan...dan sebentar lagi akan pulang."


"Ohh, iya..ya Tuan."


"Tuan? apa dia kira aku ini Bapak-bapak?" batinku, yang sedikit tidak terima mendengar ucapannya, tapi kembali aku menguasai diri agar tidak kesal lagi.


"Iya begitu...."


"Baik Tuan."


Aku merasa sulit untuk memutuskan panggilan ini, bahkan aku mendiaminya selama beberapa menit, hingga supir di depanku melirik kebelakang.


Ada rasa terpaksa dalam benakku saat menjulurkan tangan ke depan, "Nih!" ujar ku, sembari menyodorkan smartphonenya.


"Ehhh...panggilannya masih tersambung yaaa...," ucap supir itu, dan secepat kilat aku membuang muka berpura-pura tidak tahu.


"Shaa?"


"....."


"Ohh iyaa nak, selamat tidur...."


Setelah panggilan terputus aku buru-buru menegakkan badan, berharap orang di depanku ini tidak menyadari jika sedari tadi aku telah menguping.


"Tuan Muda...."


"Apa? katakan saja!"


"Apa bisa mmhh...saya mampir ke toko baju sebentar? saya berjanji hanya sebenar saja Tuan."


"Oke."


Setelah sampai tujuan, si supir langsung berlari, ia seperti di kejar waktu padahal aku tidak masalah jika harus menunggu.


Cklek!


Blaaag!


"Besok kau ada pertemuan penting yaa?hingga harus membeli baju sekarang."


"Tidak Tuan, ini untuk puteri saya...."


"Wow, apa dia memenangkan sesuatu?"


"Pertambahan umur Tuan Muda."


"Mmhhh begitu, sebaiknya kita pulang sekarang, jangan sampai kau terlambat...."


"Ulang tahunnya besok Tuan, jadi saya tidak akan terlambat."


"Ohh aku tahu..., kau ingin jadi yang pertama kan? Kuenya sudah kau persiapkan?"


"Sudah istri saya Tuan."


"Mhhhh pasangan yang kompak!"


"Terimakasih Tuan Muda...."


"Besok kau libur?"


"Tetap bekerja Tuan."


"Berarti kalian tidak bisa merayakan bersama yaa?"


"Iya Tuan."


"Untuk pekerjaan seperti ini, memang mustahil libur hanya karena ulang tahun...."


"Betul sekali Tuan Muda."


"Tapi tenang karena aku baik, jadi untuk besok libur lah."


"Ahh...."


"Iya libur, kau sudah mendapat izin dariku!"


"Terimakasih banyak Tuan Muda, terimakasih...."


"Kau Ayah yang hebat, dan terlihat sangat menyayangi puteri mu!"


"Setiap orang tua pasti menyayangi anaknya Tuan, terlepas bagaimana pun caranya."


"Benar juga..., dan aku punya pertanyaan untukmu. Kau ingin puteri mu hidup sebagai orang pintar atau baik?"


"Orang baik Tuan."


"Baik? baik sampai di manfaatkan orang lain? harusnya kau pilih yang pintar!"


"Mmm..., bukan seperti itu Tuan Muda, jika kepribadiannya baik, maka akan mudah untuknya memahami sesuatu, memandang segala hal dalam perspektif luas, dan tentunya dia akan menjadi cerdas, tetapi jika dia sudah pintar mungkin saja akan sulit baginya untuk mendengar nasehat, dia anggap semua yang ia pikirkan adalah kebenaran mutlak, tapi bukan berarti saya menilai orang pintar gimana-gimana ya Tuan, ini murni karena Tuan memberi saya pilihan...."


"Iyaa aku mengerti kok...."


Sepanjang perjalanan kami mengobrol banyak hal. Dia orang yang menyenangkan, dan poin pentingnya dia bisa membuatku berbicara bahkan terkesan banyak omong.


...----------------...


"Selamat malam dan selamat beristirahat Tuan Muda...."


"Jangan pulang dulu! tunggu sebentar!" titah ku, lalu aku melangkahkan kaki memasuki rumah dan menuju kamar.


"Ini untuk puteri mu...."


"Taa...ta___,"


"Besok dia ulang tahun kan? jadi berikan ini, katakan selamat ulang tahun padanya!"


"Sekali lagi terimakasih Tuan Muda...."


"Sama-sama."


Dan malamnya sungguh sulit untukku memejamkan mata, mencoba berbagai gaya rasanya juga percuma, ada banyak hal yang aku pikirkan sekarang, entah itu apa aku juga tidak mengerti, yang jelas kepalaku seperti penuh, dan aku mulai pasrah menunggu terlelap begitu saja.


.


.


.


.


.


*Alurnya memang di buat lambat ya, karena menurutku ini penting untuk dimasukkan ke dalam cerita. Skip bila ada yang merasa kurang suka, aku cuma berusaha menyampaikan sebuah cerita yang memiliki alasan. Alasan dimana perubahan mendadak perasaan tokoh pria ke tokoh wanitanya, dari awal karakter nevan memang keras kepala, pembrontak tidak mudah menerima keputusan orang lain, dan jika dia berubah maka harus ada alasan kuat kan, setidaknya alasan yang berasal dari dalam dirinya, tapi mungkin kesan yang aku sampaikan kurang kena, hingga beberapa dari kalian merasa bosan. Yasudah pokoknya gitu, sekarang terserah kalian mau tetap baca atau tidak, aku tetap berterimakasih karena sudah berkunjung. Pro kontra memang biasa, tapi jangan sampai membuat orang patah semangat yaaa🤗*