
Gerimis, sekala hujan ringan dengan turunan air dalam jumlah kecil itu tengah merajam dari atas langit, namun benturan-benturan bak lapisan kaca tersebut seakan tak mampu mengalihkan perhatian dari dua pasang anak remaja, yang tengah asik bercengkrama di dalam mobil yang sedang melaju menuruni jalanan lengang di daerah perbukitan tersebut.
"Ayo ceritakan!" pinta Nevan, dengan tangan sesekali menggelitik pinggang Shasyania.
"Tidak ada yang menarik dari kisahku Geonevan, jika aku bercerita kamu pasti akan menguap, lalu meninggalkanku tidur," sahutnya, seraya menahan tangan Nevan yang terus saja membuatnya geli.
"Kamu tidak ingin cerita? mmhhh mungkin karena ada sesuatu yang sedang kamu sembunyikan, atau jangan-jangan kamu...," ucapannya sengaja ia gantung, itu dilakukan untuk memancing respon Shasyania.
"Jangan-jangan apa?"
"Jangan-jangan...."
"Jangan-jangan apa Geonevan? katakan!"
"Jangan-jangan kamu suka memainkan perasaan seseorang yaa...," guraunya, sembari menahan senyum.
"Tidak!"
"Ahh gak mungkin!"
"Aku bukan tipe orang yang seperti itu yaaa!" bantah Shasyania dengan sorot mata serius.
"Tapi muka kamu mendukung tuh!"
Dan sekarang giliran Shasyania yang mencubit pinggang dan lengan Nevan, hingga laki-laki itu meringis dibarengi tawa, dan hal tersebut semakin membuatnya kesal.
"Laahh ini kamu nyerang, pasti bener tuh hahaha!"
Shasyania semakin gencar untuk menekan-nekan perut Nevan, bukan hanya Nevan, bahkan gadis itu juga ikut tertawa karena aksinya.
"Iyaa...iya ampun hahahaha!" serunya dengan kepala menunduk ke bawah, sepertinya leher adalah hal paling sensitif bagi Nevan, hingga ia berinisiatif untuk melindungi area tersebut.
"Maka dari itu cerita sayang..., biar aku gak menduga-duga hahaha!"
"Kamu ini bener-bener yaa!"
"Ihh...ih awas ada cicak!"
"Manaaaaa?" jerit Shasyania, sembari memeluk Nevan, hingga membuat orang yang tengah memangkunya itu kembali terpingkal-pingkal.
Sadar dikerjai membuat Shasyania melayangkan pukulan ke dada Nevan, ia seperti kehabisan akal untuk membuat laki-laki itu terdiam, sampai sebuah kejadian tempo lalu kembali mengingatkannya tentang peristiwa cicak.
"Geonevan..., dan yaa, waktu itu juga sama, kamu sengaja kan naruh mainan cicak di handphone aku!"
"Kapan? aku gak ingat tuh," elaknya, sambil merapikan setiap helai rambut Shasyania.
"Bohong! gak mungkin gak ingat! kamu jahil Geonevan!" sarkasnya.
"Sayang kamu beneran gak pernah pacaran?"
"Iyaa enggak...."
"Alasannya?" tanyanya penasaran, lalu belum sempat Shasyania menjawab, Nevan terlebih dahulu kembali menebak, "karena gak suka? gak tertarik?"
"Bukan, bukan karena itu, lebih tepatnya karena Ayahku."
"Ayah?"
"Iyaa..., mhhh sebenarnya Ayahku tidak pernah melarang, dan kita juga tidak pernah membahas hal seperti itu, tapi entah kenapa aku takut, bahkan saat teman laki-lakiku bermain ke rumah, aku selalu was-was jika Ayah bertemu mereka," jelasnya, dengan senyuman di ujung bibir.
"Kalau Ibu?"
"Ibuk, dia tidak pernah melarang aku untuk berteman dengan siapa pun, meskipun aku yakin jika Ayah juga sama, tetapi dengan Ibu aku lebih berani untuk bercerita tentang siapa-siapa saja yang tengah mendekatiku, dan dia selalu berkata, jika semua keputusan ada pada diriku sendiri, asal masih dalam tahap wajar, dan tidak menghambat ku dalam dunia pendidikan."
Nevan menggerakkan kepala sebagai tanggapan, "Lalu tipemu seperti apa?"
"Tipe? Mmmh, mungkin tinggi, manis dan pintar."
Nevan seketika berdehem, hingga merapikan rambutnya yang sebenarnya tidak berantakan.
"Kenapa tatapanmu seperti itu Geonevan?"
"Karena aku lebih dari tipemu kan yank?"
"Iyaa benar..., tapi kamu tidak manis."
Ucapan tersebut bagaikan petir, yang mampu memporak-porandakan hati seorang Geonevan.
Shasyania yang menyadari perubahan wajah Nevan, mulai memancingnya balik.
"Kenapa?"
"Tidak!"
"Hei...hei, kenapa?"
Nevan selalu mengelak saat pandangan mereka bertemu, laki-laki itu selalu membuang muka dan terkesan sengaja menghindar.
Shasyania mengulum senyum, ingin sekali ia mencubit wajah yang begitu menggemaskan saat kesal tersebut.
Tidak adanya jawaban dari Shasyania membuat Nevan menatap jengah, lalu mengunci pandangan mereka, "Liat, dan perhatian dengan jelas, setelah itu simpulkan ulang apa aku termasuk manis atau tidak!"
Dengan tatapan tajam Nevan mulai tersenyum, bibirnya yang tipis perlahan-lahan memperlihatkan lengkungan indah, namun belum sempat ia menyelesaikan aksinya, Shasyania sudah menutup mata mengunakan telapak tangan.
"Kenapa..., gak kuat ya?" godanya.
Lalu tanpa basa-basi lagi Nevan memajukan kepala, hingga bibirnya mengenai target yang sudah sedari tadi ia bidik.
"Geonevan...."
"Hhmm...," jawabnya, di sela-sela ciuman mereka.
Shasyania menggunakan tangan untuk menahan Nevan, "Tunggu sebentar, ada yang ingin aku tanyakan."
"Iyaaa...?"
"Waktu itu, malam di mana kamu menyelamatkan aku dan Gemmi, bukannya saat itu kamu masih berada di pesta Dariel, lalu kenapa tiba-tiba pulang dan...dan..., mmh maksudku bukan....bukan. Aku benar-benar bersyukur kamu datang, namun kejadiannya kebetulan sekali..., tetapi jangan marah Geonevan, aku cuma bertanya. Tidak di jawab pun juga tidak apa-apa, lagian pertanyaanku tidak jelas," perasaan ragu-ragu menyelimuti hati Shasyania, ia yang awalnya yakin bertanya entah kenapa begitu susah untuk merangkai kata, hingga terdengar tidak jelas.
"Sayang liat sini..., saat itu aku tahu Gemmi setengah mabuk, apalagi ditambah dengan keinginan Kakek. Dan ketika aku menghubungi Ningrum, dia bilang tidak sedang menjagamu, jadi berbagai hal memenuhi pikiranku, sampai akhirnya aku putuskan untuk mengajak Eron pulang," jelas Nevan, nada bicaranya terdengar menahan sesuatu sebelum melanjutkan kembali ucapannya, "lalu ketika aku melihat gerombolan orang menyerang mobil Gemmi, itu seperti menjadi titik balik untukku."
"Jadi Kak Ningrum bukan mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas akhirnya? dan dia itu sebenarnya suruhanmu Geonevan?"
"Iyaa...."
"Kenapa?"
"Karena aku tidak bisa menjagamu seperti keinginan Kakek, jadi aku perintahkan seseorang untuk itu."
Shasyania mengangguk paham, ia ingat betul kemarahan Nevan padanya, apalagi kata-kata dari laki-laki itu masih melekat dalam ingatannya. Awal jumpa mata Shasyania sudah menatap takjub kharisma Nevan ketika menuruni anak tangga, lalu berakhir membuatnya menjadi tak ternilai dengan berbagai macam tuduhan. Dan sekarang, ini seperti sebuah mimpi, karena perubahannya yang begitu drastis.
"Sayang...," lirih Nevan, sembari mengelus pipi Shasyania, karena gadis itu sedikit melamun.
"Terimakasih Geonevan...."
"Tidak perlu berterimakasih, karena sekarang sepenuhnya tanggung jawab itu menjadi milikku! Selama kamu yakin, maka selama itu aku akan menjagamu!"
...****************...
Suasana temaram mengelilingi sebuah kamar, dan dari celah-celah ventilasi udara secercah cahaya bulan menjadi penerang, yang mampu memperlihatkan seorang laki-laki yang tengah bersandar di bawah tempat tidur. Kakinya terlentang, dengan gerakan kepala menggeleng-geleng setiap menitnya.
Tok!
.
.
.
Tok!
"Geime biarkan Oma masuk sayang, sudah sedari siang kamu mengunci diri. Oma mohon...," ucapan sendu yang terdengar dari balik pintu, namun orang yang berada di dalam sana seakan tidak perduli, dan masih larut dalam kekecewaan yang tengah merangsek mendominasi diri.
"Kamu tidak bisa seperti ini terus Geime..., kamu masih memiliki Oma, Oma tidak akan pernah meninggalkanmu! Geime Oma mohon..., bukalah!"
Ceklek!
Pintu terbuka, dan menampakkan sosok yang tengah menunduk, matanya terlihat sembab, sesekali isakan kecil lolos dari mulutnya.
Raimar menyadari kerapuhan cucunya, hingga ia memeluk tubuh itu begitu erat, "Jangan menyalahkan dirimu Geime, semua terjadi karena takdir...," bujuknya, "dan ya..., kamu ingin mencari ini kan?" sambung Raimar, sembari menjulurkan kertas yang ia yakini menjadi tujuan utama Gemmi memasuki ruang kerjanya.
Gemmi bereaksi, hingga membuat Raimar dengan cekatan meraih sesuatu yang dipegang cucunya, lalu menggantikannya dengan gambar yang memperlihatkan sosok gadis kecil yang tengah menautkan jari.
"Omaa...."
"Iyaaa?"
"Apa Oma yakin ini gambarku?"
"Tentu saja! cucu Oma kan pandai melukis, kamu memiliki jiwa seni yang luar biasa Geime, jadi tentu itu merupakan hasil karyamu, dan gambar itu juga yang membuatmu memenangkan perlombaan, Oma masih ingat jelas!"
"Tapi kenapa aku lupa Oma, aku tidak bisa mengingat bagaimana aku melukis ini. Aku ingat perlombaan itu, lalu tentang ini, aku benar-benar melupakannya! siapa dia dan bagaimana aku mulai setiap goresan ini, aku tidak mengingatnya!"
"Dengar Geime..., beberapa kenangan memang mungkin terlupakan, itu sesuatu yang wajar, jangan terlalu memaksakan diri."
"Aku hanya tidak yakin, atau mungkinkah aku melupakan sesuatu yang penting?"
"Jika itu penting dan berarti, lama-kelamaan kamu pasti akan mengingatnya, jangan paksakan diri, kamu mengerti Geime?"
"Iyaa Oma...."
"Nah sekarang makanlah, Oma akan menyuapi mu!" menyadari cucunya akan menolak, maka terlebih dulu Raimar menekankan kembali ucapannya, "jangan membantah, ini keinginan dari seorang wanita tua yang begitu menyayangi cucunya!"
"Sampai kapan kamu bisa mengikhlaskan kejadian itu Geime? semua bukan salahmu..., mereka pergi karena takdir, meskipun terjadi dengan peristiwa yang begitu tragis!" dengan tatapan penuh arti Raimar bersuara dalam hati, ia berharap kedepannya kedua cucunya tak lagi menyalah diri.