Mine ?

Mine ?
96 : Rencana



Di sebuah lapangan yang begitu luas terlihat sejumlah murid dan jajaran para Guru tengah berbaris rapi, mereka begitu disiplin mengikuti apel pagi yang di pimpin langsung oleh Kepala sekolah yang begitu terkenal akan prestasinya, dalam mengembangkan segala potensi yang di miliki anak didik di SMA GUARDIANS.


Cukup menyita waktu, hingga tak terasa tiga puluh menit mereka habiskan berdiri dengan pendengar aktif mendengarkan setiap petuah yang diberikan Pak Baron.


Dan setelah dibubarkan, sepanjang koridor sekolah mulai dipenuhi lalu lalang para siswa yang beradu cepat menuju kelas mereka.


"Shaa... seperti pembahasan di group chat semalem, pulang sekolah jadikan langsung nonton?"


"Iyaaa Nit, biar tugas kita cepat kelar!"


"Harus!! lagian nih ya, tiket juga udah gue booking, biar sampai sana kita langsung nonton... gak perlu tuh nunggu kayak kemarin!" sungut Ririn, dengan nada sedikit menyindir.


"Yaaaa..yaa makasih yaaa... atas kerja kerasnya wahai sekertaris kelaaass yang budiman penuh cinta kasih.... Dan sekalian aja yaa, gak usah di ganti uangnya, itung-itung bayarin temen! Nambah pahala!"


Ririn beralih ke sebelah Nita, seraya menarik ujung rambut gadis yang kini menatapnya sebal, "Enggak bisa gitu dong! kan waktu itu lo yang niatan buat traktir gue!! ohh.... dan bukan hanya gue, bahkan Shasya juga!!! iyaa gak Sha?" ucapnya mencari rekan.


"Betulll!"


"Iyaaa.. yaaa! masih ingat aja sih!"


"Tentuuu...," sahut kedua gadis itu secara bersamaan.


Dan saat beberapa meter lagi ketika mereka akan sampai pintu kelas, tiba-tiba saja langkah ketiga orang itu secara serempak melambat dengan pandangan menatap lurus.


Plak!


Adegan kekerasan tengah berlangsung di depan sana, dan sang korban yang merasa tak terima langsung mendesis sembari mengucap kata kasar.


"Sialan... maksud lo apaan nih!!!"


"Harusnya gue yang nanya! maksud lo apaan! Lo mainin perasaan gue tahu gak!! Bre.gseeek lo Rieeel!!!" sungut seorang gadis dengan tangannya yang sudah bersiap menampar Dariel, namun gerakannya tersebut sudah terbaca hingga mampu ditahan begitu saja.


Nita mendesis mengejek lalu beralih menatap kedua sahabatnya, "Udah jangan diliatin mulu, lewatin aja, gak penting jugaan... emang paling bener tuh si Geonevan, tampan tapi gak mainin perasaan cewek!" pujinya, sembari menyenggol bahu Shasyania, lalu dengan jahil alisnya ia gerakkan naik turun.


"Dan selama gue perhatiin nih yaaaa, kayaknya orang-orang yang deket sama dia manggilnya bukan Geonevan deh, tapi cukup Nevan aja! jadi, mulai sekarang cobak lo manggil dia Nevan aja Shaaaa, jangan isi embel-embel Geo nya segala, bisa gak?"


"Bisaaa dong! masak gitu aja gak bisaaaa, iyaa kan Sha?" sambar Nita, seraya mengangguk-anggukan kepala.


...****************...


Mall XXX....


"Tuh kan gue bilang juga apa!!! film yang gue pilih emang the best lah, ceritanya keren banget... sampai sekarang pun gue masih baper nih... udah gitu pemainnya juga good looking semua lagi... aahhh meleleh gueee," seru Ririn, yang sedari tadi sibuk memuji setiap scene film yang baru saja mereka tonton.


"Lebay!!! harusnya kita nonton film horor! cerita romantis kayak tadi mah udah biasaa kali... feel nya yaa gitu-gitu aja. Benci, cinta, ciuman, punya anak, bahagia deh sampai diabetes!" sergah Gemmi, yang membuat para gadis langsung menatapnya kesal.


"Salah lo Gem! mana ada ciuman bisa bikin orang punya anak!" sungut Wilkan.


"Yaa tahu...tahu gue! lo kira gue bocah SD! Gue sengaja gak bilang proses pembuatannya, takut nih tiga perempuan pada panas, apalagi sampai kepikiran gak jelas, dan yaaaa, salah satu diantara mereka kelihatannya masih polos tuhh, ahahaha!" kelakarnya, sembari memperlihatkan tatapan jenaka.


"Kita ini kelas IPA!! dari SD juga udah diajarin sistem reproduksi, kalau gak tahu, itu namanya keterlaluan!" cetus Shasyania, menyangkal ucapan Gemmi.


"Waduuhhhh... lo salah nyari lawan Gem! otak encer lo lawan! Yaaa... emang sih lo berpengalaman, tapi hal kayak gitu juga bisa diketahui lewat ilmu pengetahuan Gem! ahahaha...," ledek Miko.


Gemmi tersenyum tipis, dan tarikan di ujung bibirnya itupun mampu memperlihatkan lesung pipitnya yang menawan, "Oke...oke gue keliru! tapi sekarang udah boleh pulangkan?"


"Enggaklah! lo kira tugas kita udah selesai dengan nonton aja! ini masih banyak tahu, analisanya juga belum!!!" bentak Ririn.


"Yaelah, lanjut besok bisa kali... lagian gue ada urusan nih!" rayu Gemmi, "yasudah gini aja deh... pendapat gue di kelompok ini gak berpengaruh juga kan? lagian jujur... gue gak tahu tuh alur filmnya kayak apa!! tidur gue tadi! dan yang terpenting kan kehadiran gue iyakan? jadi gini, sebagai gantinya semua tiket dan apapun yang kalian makan gue tanggung semua deh! sini kirim no rekening, gue transfer sekarang!" tak ada yang merespon, hingga Gemmi kembali membuka suara, "ck! gue ada urusan keluarga, mau diajak ke pesta penting nih! gak mungkin gue gak dateng, Itu lebih penting untuk masa depan gue!!!"


Akhirnya para gadis sepakat memberi izin Gemmi namun tidak untuk dua rekannya yang lain, "Dan untuk lo berdua! kalian tetap ikut kita, jangan buat alasan hanya karena ketua lo gak ada!!!" tandas Ririn, seraya menunjuk Miko dan juga Wilkan.


"Si kutu kupret tahu aja! baru juga mau akting sakit kepala sebelah!!!" batin Miko.


"Jangan sok migren lo!" cibir Wilkan, dan hal itu kembali membuat Miko mengernyit heran, kenapa kini isi dalam otaknya mudah sekali dibaca oleh orang sekitarnya.


Keempat orang itupun setuju dan kini mereka bergegas menuju tempat yang Nita maksud.


.


.


.


Hari keberuntungan tengah berpihak pada mereka berlima, selain ketiban rezeki mereka juga mendapat ruangan yang paling diminati banyak orang ketika berkunjung ke tempat tersebut.


Tapi bukannya menikmati segala kenyamanan yang tersedia, mereka justru serempak duduk melingkar seraya bergaya menyangga dagu mengunakan telapak tangan, ketika melihat seorang Shasyania begitu konsentrasinya membaca ulang catatan yang ia bawa.


"Catatan kalian mana? sini biar aku baca... siapa tahu ada poin penting yang gak aku catat," pinta Shasyania, "kita tukar-tukar ya bacanya...."


Ririn bergerak cepat untuk memberi catatan yang sempat ia rangkum tentang isi dari film tersebut, "Nih Shaaa...."


"Hmm ini punya gue Sha, tapi maaf yaa... itu cuma lima belas menit diawal aja, karena setelah itu gue malah kebablasan buat nonton...," ucap Nita, sembari terkekeh mengusap-usap tengkuknya.


"Dan Gue sama Miko gak nyatet apapun, tapi tenang... gue rekam semua kok!"


"Lahh itukan termasuk pelanggaran! kalau kita ditangkap gimana?" sergah Ririn.


"Yaelah kan gak gue sebar kampret! ini juga buat tugas!" sarkas Wilkan.


"Mhhh... iya juga sih! ohh yaa Wil, kirim dong rekamannya...," ucapnya, dengan memperlihatkan tatapan mengiba.


"Hfffffff! ahahaaha... catatan apaan nih yang lo buat Rin? ASTAGAAAA isinya cuma... mereka saling pandang di ruang tamu lalu berciuman, terus besoknya mereka pegangan tangan di taman tapi sayangnya gagal berciuman karena teriakan seseorang.... Mereka kembali berciuman penuh gelora hingga hampir khilaf tapi sialnya seseorang mengetok kaca mobil!!! uhh...ahh...uuh...ahh mereka selalu gagal karena seseorang. Buaahahaha... Rusaak! rusaak! bener-bener rusak lo Rin!!! isinya gini semua a.jirrrr!!! sebodoh-bodohnya gue, ternyata lo lebih parah inii! Ba.gsaattt perut gue sampai keram... ahahhaa! Gue mau nelpon nyokap lo ahhh! ngasih ta___,"


Greb!


Dengan gerakan cepat Ririn menyambar smartphone milik Nita, "Berani lo laporan! gue cabutin bulu kepala lo sampai botak!" ancamnya serius.


"Ternyata si Ririn ada bakat buat jadi penulis +++, Tenang Rin, gue pasti baca karya pertama lo!" ujar Miko, "bila perlu buat yang lebih fulgar... biar asik nih otak mikirnya!!!"


"Diem lo!"


...----------------...


"Selesaaaai," seru Nita, "gini nih, kalau ada Shasyania pasti lancar tugas kita!"


"Gak gitu juga kali Nit, lagian ini berkat catatan dan rekaman kalian... apalagi punya Rir__,"


"Shasyaaaa... pleaseee jangan ikut-ikutan mereka, sumpah tadi itu gue cuma terbawa suasana...."


"Serem nih kalau si Ririn udah terbawa suasana hahaha...," kelakar Wilkan.


"Setuju! tapi eeh, waktu sewanya masih beberapa jam lagi nih! gak asik kan kalau kita pulang sekarang!"


"Yaps! rugi kalau gak dihabisin! karoke aja gimana? atau pesan makanan dulu, kita mukbang!"


"Ide bagus tuh Mik!" sahut Nita, "yasudah... kalian mau pesan apa nih?" tanyanya, lalu saat mata Nita fokus menatap layar pipih tersebut, pupil nya terlihat kian membesar, "whaaaat demi apa? ini kebetulan atau gimana?"


"Lo kenapa?" tanya Ririn.


Bukannya menjawab Nita malah terlihat menatap Shasyania antusias, "Ehhh...eh, ruangan ini luas banget kan untuk kita berlima? mhhh waktu sewanya juga masih beberapa jam lagi nih! kalau di pikir-pikir akan lebih seru lagi jika orang-orangnya nambah banyak iyaa kan? jadi, gue mau ajak Dariel sama teman-temannya buat gabung ya? mumpung mereka ada di sekitaran sini nih!" dan tanpa menunggu jawaban, Nita ternyata sudah mengirim pesan pada laki-laki itu, hingga tak perlu menunggu lama Dariel sudah menyambut ramah ajakannya.


"Kok lo bisa tahu?"


"Nih! gue gak sengaja liat story nya Dariel!" sahut Nita, dan kini ia semakin mendekat, lalu berbisik pada Ririn, "gue ngajak mereka karena ada Geonevan, kalau dia ikut ke sini kan asik! bisa tuh kita ajak main game bareng! ingat misi Rin?"


"Top! tapi serunya main game apa nih?"