
"Gimana hari pertama di sekolah barumu Sha?" tanya Liliana, seraya membawakan segelas air dingin untuk putrinya.
"Semua berjalan lancar Buk," sahut Shasyania dengan seutas senyum, "umhh... Ibuk gak perlu loh melayani Shasya kayak gini, Shasya bisa kok ngambil sendiri... tapi terimakasih ya Buk," lanjutnya, sembari menerima sodoran gelas dari tangan Liliana.
"Husstt... kamu kayak sama siapa aja Sha..., lagian Ibu suka melakukannya, jadi kamu gak perlu merasa enggak enakan! orang sama Ibu sendiri juga!" tegur Liliana, "oh ya..., teman baru kamu di sana... baik-baik kan Sha? Mereka menerima kamu kan nak?"
Sejenak Shasyania meneguk setengah air dalam gelas tersebut, sebelum ia menjawab pertanyaan ibunya, "Iya Buk, mereka semua baik dan ramah."
"Terus gimana sama nak Nevan? dia juga udah gak marah lagi kan sama kamu Sha?"
Pertanyaan itu membuat Shasyania seketika terdiam, jika mengingat apa yang telah Nevan lakukan padanya, maka tidak ada sedikitpun kebaikan di sana. Hanya ada cacian makian dan tuduhan-tuduhan tidak mendasar, bahkan laki-laki itu hampir membuatnya mendapat masalah di hari pertamanya bersekolah.
"Dia jahat Buk, dia kasar!" batinnya, "Dia baik Buk," dan ini adalah kata yang terucap dalam mulutnya hingga mampu di dengar oleh sang Ibu.
Bahkan ia sampai menundukkan kepala seakan mengindari tatapan Liliana ketika mengucapkan hal tersebut.
Meskipun demikian Liliana sadar akan nada kebohongan dari mulut putrinya, namun ia juga tidak mau memaksakan kehendak agar Shasyania mau bercerita. Karena ia tahu semuanya perlu waktu, "Yasudah, kalau begitu Shasya mandi dulu gih..., habis itu langsung istirahat!"
"Enggak Buk, Shasya langsung bantu Ibu aja buat kuenya, lagian Shasya gak capek kok! Orang di sekolah cuma duduk aja, hehe," ucapnya, seraya tersenyum memperlihatkan deretan giginya.
"Baiklah, Ibu tidak akan melarang jika putri Ibu mau jadi anak yang berbakti. Tapi sebelum itu ganti baju dulu sana... biar besok gak bau keringat haha!" gurau Liliana, "ohh iya Sha!!! hampir aja Ibu lupa! tadi Anggi nelpon nanyain kamu."
Shasyania membalikkan badan, saat raganya hampir mencapai batas pintu kamar mandi, "Nanyain apa Buk?" ujarnya penasaran.
"Soal kepindahan kamu Sha..., dan katanya setelah pulang sekolah dia bakalan ke sini tuh, Ibu jawab yaa boleh aja! toh juga Anggi sering main ke sini," ucap Liliana, "sebaiknya kamu jelasin semuanya Sha, biar dia gak khawatir lagi," imbuhnya.
"Mhhh baik Buk.... Oh ya Buk?"
"Iyaa kenapa nak?"
"Ibu udah nyiapin racun kan?"
"Aaahh!!! untuk apa Shasya!" sentak Liliana.
"Hahaha... itu Buk, racun buat serangga..., kemarin sama tadi pagi Shasya liat kecoak lagi...."
"Ck! kamu ini, bikin Ibu kaget saja!"
"Lagian wajah Ibuk tegang banget sih! Ahahaha...."
Shasyania berusaha mencarikan suasana, karena ia tahu Ibunya tengah khawatir. Kepindahannya membuat perasaan sang Ibu was-was, apalagi jika mengingat bagaimana wajah Nevan yang terlihat ingin mengerjai Shasyania, dan gadis itu juga terlihat menghela nafas. Ia tahu setelah ini akan ada banyak pertanyaan yang mesti ia jawab, apalagi kepindahannya memang benar-benar mendadak.
...----------------...
"Shaa! kamu beneran pindah sekolah? ini kamu lagi ngeprank kita kan? gak lucu sumpah!" resah seorang gadis bernama Anggi, dan dia merupakan salah satu sahabat Shasyania.
Belum sempat Shasyania menjawab, kini dari arah lain seseorang juga mulai mengutarakan keresahannya, "Kamu tahu kan Sha, tugas kita itu banyak yang belum kelar, dan kehadiran kamu sangat di perlukan dalam team! kenapa bisa nadak gini sih Shaa? gimana cobak... cara kita mengatasinya?" Wiwin mencecar Shasyania dengan berbagai macam pertanyaan.
Yoga yang melihat itu langsung berdiri, dan mendekati suara-suara cempreng tersebut, "Kalian bisa gak sih nanyanya biasa aja! gak usah menyerbu gitu! Kasih Shasya ruang buat jelasin satu-persatu!"
"Betul kata Yoga! dan aku yakin, Shasyania pasti memiliki alasan kuat di balik ini semua, benarkan Sha?" suara itu terdengar lembut dengan tatapan mendalam, "aku harap kamu bisa jelasin semuanya Shaa...," Pinta Nanda, laki-laki yang sudah lama menaruh hati pada seorang Shasyania.
"Maafin aku....," lirihnya, "aku enggak ada pilihan lain lagi selain pidah sekolah, aku tahu ini sulit bagi team kita, tapi kalian juga pasti tahu. Ayahku sudah gak ada, sedangkan aku masih perlu biaya untuk meneruskan sekolah. Dan keluarga itu berjanji akan membiayai semua pendidikan ku, hanya jika... aku menuruti semua kemauan yang sudah di putuskan, dan pindah sekolah adalah salah satunya," jelas Shasyania.
Mendengar itu, salah satu diantara mereka langsung beraksi keras, sembari menggebrak meja, "Itu namanya keluarga egois!!! Ayah kamu kecelakaan karena mereka juga kan! jadi sudah sepantasnya mereka membiayai semua pendidikan kamu!!! bahkan biaya hidupmu juga harus mereka tanggung! Itu kewajiban dan tanggung jawab yang tidak bisa diganggu gugat!!! dan yaaa..., tugas mereka hanya membiayai tanpa harus menuntut apalagi sampai memberi syarat! Aku memang gak terima jika kamu pindah sekolah Sha, tapi marahku ini bukan sama kamu! aku cuma gak suka dengan cara keluarga itu bersikap!" Murka Anggi, wajahnya bahkan sampai merah padam.
Shasyania begitu mengenal seorang Anggi. Dia adalah sahabat yang begitu perduli dengan keadaan Shasyania, dan terbukti, di saat seperti ini pun Anggi sampai mengutarakan unek-uneknya sambil menangis tersedu-sedu.
Seringkali masalah datang bersamaan dengan himpitan ekonomi, hingga membuat seseorang tidak berdaya dan merasa kalah dengan situasi.
"Maaf...," cicit Shasyania.
"Kamu enggak salah Shaa, gak salah!! yang bersalah itu mereka! Kaum sok berkuasa hanya karena uang!" seru Anggi, "dan selain aku merasa kehilangan, aku juga merasa pusing Shaa... gimana cara aku, Wiwin, Yoga dan juga Nanda buat handle tugas kita yang udah berjibun kayak gunung, belum lagi tugas team kita yang udah di percaya pihak sekolah untuk jadi panitia acara, kita benar-benar butuh kamu Sha!" ungkap Anggi berderai air mata namun juga sambil tertawa.
"Kamu tahu Sha... Buk Gebi juga terkejut saat mendengar kepindahan kamu.... Aahhh!!! di mana lagi kita nyari Dewi nirwana kayak kamu Shaaaa? Kamu yang pindah... tapi satu sekolah yang berkabung," curhat Wiwin.
Suasana melankolis tersebut juga merangsek ke dalam hati laki-laki yang kini terlihat mengusap-usap wajahnya, "Ada banyak hati yang patah, dan juga semangat yang pudar Shaa..., Kamu benar-benar mencabut panah asmara hingga hanya menyisakan luka!" ucap Yoga menimpali.
"Aku bingung mau ngomong apa lagi, tapi yang jelas... aku harap kalian cepat mendapatkan solusi," ujar Shasyania.
"Kamu terlalu indah untuk digantikan Sha. Arrrghhh.... Dada ini kembali sesak ketika mengingat hari di mana udah gak ada kamu lagi yang berjalan di koridor sekolah," tutur Nanda dengan tatapan menerawang.
"Kita masih bisa belajar bersama kok! dan aku usahain, agar aku tetap bisa bantuin tugas kalian, jadi jangan bersedih dong!" bujuk Shasyania.
"Bisa sih... tapi apa kamu enggak puyeng? di sekolah baru kamu, kamu pasti banyak tugas juga kan?" ujar Anggi mengingatkan.
"Itung-itung belajar tambahan Ngi...."
"Yaaaaa mungkin kita dapat menyelesaikan itu, tapi gimana soal lomba-lomba yang udah terdaftar. Apalagi nama kamu yang tertera sebagai peserta? itu gimana Shaa?" keluh Yoga yang ingin mendapatkan jawaban.
"Cari penggantinya lah Ga!" ketus Wiwin, "kamu kan Ketua Osis dan Nanda sebagai wakil kamu, jadi... mulai besok kalian harus bertindak!"
"Tau Win...tahuu! tapi otak ini seakan gak mau berpikir ke situ, karena masih berharap Shasyania bisa balik ke sekolah kita!"
Nanda yang mendengar perkataan itu sedikit kesal, karena ia memang sudah curiga jika Yoga juga menaruh hati pada Shasyania.
"Sha, bisa gak sih kamu pindah sekolah lagi?" pertanyaan ngawur itu berasal dari mulut Yoga.
"Kalau Shasya pidah lagi, aku rasa dia bakalan masuk berita dengan judul 'Kelabilan seorang anak remaja yang gonta-ganti sekolah dalam kurun waktu seminggu, Mau tau selengkapnya? mari klik link di bawah ini'" canda Nanda, yang langsung mendapat jitakan di pelipisnya.
Tak!
"Awwww!"
"Kamu senang Sha, di sekolah barumu?" tanya Anggi.
"Biasa aja," jawabnya singkat.
"Kok biasa aja sih? itu kan sekolah elit! pasti banyak cogannya kan?" goda Wiwin.
Nanda dan Yoga serempak menatap Shasyania, mereka begitu penasaran dengan respon gadis itu.
"Belum tau... gak terlalu memperhatikan Win," jawabnya enteng.
"Yahh rugi! gini aja, besok kalau kamu udah ngeh... kenalin satu ya! mmmhh?" bujuk Wiwin dengan tatapan memelas.
"Ehh Wiwin! kamu kira Shasya pindah sekolah buat jadi biro jodohmu apa?" seru Yoga.
"Ya... bisa kali nyambil!" jawab Wiwin sumringah.
Mereka berbincang-bincang penuh tawa, persahabatan itu sudah terjalin dari mereka kelas sepuluh. Saling mengenal sewaktu MOS, lebih dekat dan menjadi sahabat saat mereka sama-sama menjadi panitia kegiatan sekolah, hingga akhirnya semester satu di kelas sebelas mereka di satukan dalam ruangan yang di sebut XI IPA 2.
Ada banyak kegiatan yang sebenarnya harus mereka kerjakan bersama. Dan di sana Shasyania lah yang menjadi unjung tombak yang selalu membuat teamnya merasa aman, namun ketika mendapati Shasyania pindah sekolah, maka itu justru akan menjadi boomerang untuk mereka, dan benar. Kelebihan merupakan kelemahan terbesar, yang bisa saja menyerang dan membuat kita tumbang.
...****************...
Kini, jauh berkilo-kilo meter dari tempat para remaja itu meluapkan keluh kesahnya, dan di sini, di sebuah cafe terlihat seorang Geonevan yang tengah berdiri memesan minuman dengan isian cream melimpah.
Bahkan karyawan di sana sudah hafal betul dengan apa yang manjadi kesukaan laki-laki itu.
"Terimakasih yaa... semoga harinya menyenangkan, lain kali mampir lagi ya?" ucap ramah beberapa karyawan, mereka berharap setidaknya mendapat senyuman hangat dari laki-laki dihadapan mereka.
Namun Geonevan tetaplah Nevan, yang seakan tidak perduli dengan orang sekitar, tanpa sepatah kata maupun senyuman, ia langsung mengambil minumannya dan berlalu begitu saja.
"HAI GEONEVAN!!!" suara teriakan itu membuat Nevan menoleh.
Berlari mendekat, hingga mengaitkan tangan seakan mereka begitu akrab, "Lo suka nongkrong di cafe ini juga? sama dong! lain kali bisa kali barengan!"
"Lepasin! sebelum gue ludahin!" gertak Nevan.
Jiana mendengus kesal, "Bisa gak sih bersikap lembut sama cewek? kita kan sekelas!" rengekannya seraya menghentakkan kaki.
"Jijik!"
"Ihhh... Nevan mau ke ma___,"
"BAN.SAT! MINGGIR!!!"
Teriakan itu membuat Jiana seketika mematung di tempat, dan beberapa pasang mata langsung memperhatikan kejadian tersebut. Sungguh sangat memalukan di maki di depan umum.
Dan Nevan tetap tidak perduli, ia berjalan menjauh sembari mengomel kesal, "Sial! gara-gara cewek freak itu cream gue jadi jatuh setengah!" sentak nya.
.
.
.
Kini Nevan sudah berada di dalam mobil, tangannya memegang setir kemudi hingga mobil sport berwarna Marrone apus itu melaju kencang di jalanan yang tidak terlalu ramai pengendara, hingga lampu merah di depan sana mampu menghentikan kendaraan tersebut.
Pandanga Nevan mengedar kesamping, dan tanpa sengaja ia menangkap sosok familiar yang tengah duduk di jok belakang sebuah mobil sedan.
Manik matanya masih menatap lekat, dengan cibiran yang mulai ia lontarkan, "Ck! dasar sok polos!" gumamnya kesal.
Cengkeramannya pada stir kemudi semakin mengerat, manik matanya terus menelisik gadis yang terlihat begitu bahagia bersenda gurau dengan beberapa temannya.
"Pokoknya nanti kita makan sepuasnya ya gaeeees... Nanda yang traktir!" seru Wiwin, ketika mereka berlima sedang menuju warung makan.
"Apes! apes banget nasibku Yaaa Tuhaaan!!! niat hati cuma mau traktir Shasyania, tapi lupa punya tiga temen yang gak tau diri!" sindir Nanda, ia tak terima jika harus membayar makanan untuk temannya yang lain.
"Kalau punya rezeki gak boleh pilih-pilih tahu Nan!" Nasehat Anggi.
"Bet__,"
"Diam kamu Win! gak usah banyak bacot!" potong Nanda.