Mine ?

Mine ?
98 : Mencintaimu



"Uwaaah mereka pacaran ya?" tanya Megan, ketika keheningan mulai menjalar dalam ruangan tersebut.


"Gak mungkinlah! gak usah pakek nebak-nebak segala!" Jiana berseru kesal, hingga sebisa mungkin ia selalu menampik sesuatu yang kini membuat kepalanya semakin berdenyut sakit.


"Jian, lo gak denger tadi Shasya bilang apa? panggilan sayang udah cukup jelas untuk menjelaskan hubungan diantara mereka!"


"Yaelaaah... bisa aja kan itu cuma panggilan sepihak! Satu sekolah juga tahu tuh cewek ngejar-ngejar Geonevan!" Jiana kembali berdalih, ia berusaha mengurangi kegelisahannya.


"Jian, bukannya lo udah tahu? atau perlu gue jelasin lagi? Geonevan itu bukan tipe orang yang mau di pegang-pegang sembarang orang! dan tadi, pas dia ditarik sama Shasyania, dia diem aja tuh, nurut! jadi semua udah jelas!" tandas Rissa, yang sekarang tengah membuat benteng antara dirinya dan Jiana, ia seperti menciptakan kubu baru yang dirasa lebih menguntungkan daripada terus berseberangan dengan Shasyania.


Lalu sama halnya dengan yang lain, Dariel juga tampak penasaran, dan kini ujung matanya melirik kearah Eron, "Ron, Nevan cerita ke lo?"


"Enggak, tapi gue udah tahu sih... kalau si Nevan lagi deketin Shasyania, tapi gue gak nyangka aja hubungan mereka udah sampai tahap jadian! Seenggaknya itu kabar baik, kita dapat PJ (pajak jadian) mereka Riel!" kelakar Eron.


Dan di pojok ruangan, dua orang gadis malah terlihat saling menyender punggung, mereka terus tertawa lalu berceloteh membayangkan kekonyolan yang selalu mereka lakukan akhir-akhir ini, "Rin, sekarang gue sadar... ternyata kita bodoh dalam segala aspek yaaa! pakek sok-sokan jadi biro jodoh lagi ahahaa...."


"Iyaaa... bisa-bisanya kita mengkhawatirkan seseorang seperti Shasyania, yang udah gak kehitung lagi kelebihannya kek gimana! malahan yaaa... yang patut dikasihani itu, modelan manusia kayak kita! Ahahaha perlu beli kaca gede nih biar sadar riri ahaha!"


"Diri Rin! bukan riri...."


"Iya, yang penting lo ngerti maksud gue ahahaa!"


"Iyaaa...iya juga yaa ahahaa!! ehhh... berasa dejavu gak sih? dulu kita juga sempat kayak gini, khawatir gak jelas pas Shasyania ikut lomba, dan hasilnya sungguh mencengangkan, dan sekarang kembali lagi kita sok bantu dia, tapi kenyataannya malah kita yang dibuat terkejut... ahaha, bangga gue punya sahabat kayak dia ahahaa...."


"Iyaaa ahaha.... Dia mandiri tanpa perlu di bantu!"


"Heh!! lo berdua udah gila yaa? ketawa-tawa gak jelas bikin merinding tahu gak!" tuduh Wilkan.


"Jangan di tegur! mereka lagi sakit hati karena orang yang mereka puja ternyata udah gak single lagi!" sindir Dariel.


"Sembarangan lo! orang kita bahagia kok, malahan bangga!!! karena ternyata yang menjadi kekasih hati Geonevan adalah Shasyania! iyaa gak Rin?"


"Seratus persen iyaaa!"


Memecah kebisingan akhirnya dua orang yang menjadi buah bibir mulai menampakkan diri, berjalan bersisian memasuki ruangan, hingga jarak duduk mereka berdua pun tidak lebih dari sejengkal jari. Menempel layaknya dua kutub magnet yang saling bersinggungan.


"Bro! sorry soal omongan gue tadi... gue gak tahu kalau Shasyania itu milik lo," ucap Miko, ia cukup berani untuk mengakui kesalahannya.


Sebelum menjawab terlebih dahulu Nevan merengkuh pinggang Shasyania, menariknya lebih mendekat dan secara bangga ia memperlihatkan bukti kepemilikannya dengan mencium pelipis gadis itu, lalu kembali menatap Miko, "Bagus kalau lo udah tahu!" tekannya.


Dariel yang melihat tingkah Nevan menyunggingkan senyuman, lalu ia mendekat untuk menepuk bahu Nevan.


Haaps!


"Wahh... selamat Geonevan, sahabat tertampan gue akhirnya melepas masa singlenya setelah bertahun-tahun mengelana... tapi eeetttss, lo curang! Lo berhutang cerita ke gue dan juga Eron! Dan yaaa... ini karena nasehat gue waktu itu kan? makanya lo gerak cepat! ahaha meskipun lo minim pengalaman tapi sekali gerak, lo udah langsung dapet ajaaa yaaa, apalagi sekelas Shasyania, Hebat-hebat!!!" goda Dariel, "dan untuk lo Shaaa, jagain sahabat gue yaa, jangan sampai Nevan lepas dan berakhir melirik orang lain! banyak yang ngincar nih! Sekali dia membuka hati udah pasti jadi playboy sejati wahahaha!!!"


"Sok tahu lo! hubungan gue gak kayak hubungan lo! obral sana sini gak jelas! Gue serius dengan apapun yang gue lakuin, terutama Shasyania! dan lo mesti tahu status gue sama Shasya bukan sekedar pacaran, kita lebih dari itu!!! dia tunangan gue! Calon istri gue! Dan lo mesti ingat! jangan lagi gunain ini sebagai bahan bercandaan lo, karena gue... gak akan segan-segan buat siapapun menyesal!!!" tegas Nevan, ucapnya tadi memancing tatapan terkejut dari para penghuni ruangan.


"Van... jangan gitu dong! Shasyaaaaa...," lirih Dariel, ia mencari pertolongan dengan menatap Shasyania penuh pengharapan.


"Ngapain lo merengek ke Shasyania?"


"Jelas Van! karena amarah lo itu kayak amukan petir!"


"Ck! tadi itu peringatan kampret! lain halnya jika lo ulangi lagi!"


"Wah, saya teramat tersanjung dengan kemurahan hati pewaris tahta keluarga Eldione, " ucap Dariel yang kembali berulah.


Eron yang merasa suasana kembali mencair mulai berani bertanya, "Secepat itu Van? Pesta pertunangan kalian? dan undangan lo juga gak sampai ke gue!"


"Pestanya nyusul! Baru resmi diantara keluarga aja!"


"Bener Shaa?" tanya Nita, bibirnya bahkan bergerak terbuka lalu tertutup, menyiratkan betapa kagetnya ia sekarang.


"Iyaaa Nit...."


"Tunggu...tunggu, itu kejadiannya kapan Van? rasanya baru kemarin gue liat lo marah-marah sama Shasyania! dan gue yakin sebagian orang di ruangan ini juga masih ingat kejadian itu," pancing Dariel, meskipun terselip nada kecemasan dalam ucapannya, takut bila Nevan tersinggung, namun tidak bisa dipungkiri juga jika rasa ingin tahunya pun sama menggebu-gebunya.


Nevan melirik Shasyania, "Gue yang salah waktu itu!" ungkap Nevan sembari terus menatap mata Shasyania, "aku benar-benar menyesal yank, maaf...."


Shasyania tersenyum, dengan tangan mengelus wajah Nevan. Ia bisa membaca raut penyesalan tergambar jelas di wajah kekasihnya, "Ini udah kesekian kalinya loh kamu minta maaf ke aku! Rasa marah, sedih dan juga kecewa... aku rasa dalam hubungan hal-hal seperti itu bisa terjadi! Yang terpenting sekarang, jangan sampai kita mengulangi kesalahan yang sama mhhh...."


"Dalam hubungan? OMG berarti... waktu itu kalian udah jadian dong? ehh maksudnya tunangan?"


"Iyaa Rin, Geonevan udah jadi milik aku, bahkan sebelum aku pindah ke SMA GUARDIANS!"


"Apaaaa?"


"Whaaaaat?"


"Wahhhhh!"


Tak terkira rasanya saat Shasyania mengucap kalimat jika ia adalah miliknya, Nevan senang bukan kepalang, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Rasa diinginkan membuatnya tak berhenti untuk menatap Shasyania, hingga kata-kata yang seharusnya ia simpan tidak lagi bisa ia tahan.


"Sayang kamu tahu? aku ingin terlihat hebat sama seperti kamu yang selalu mengagumkan di mataku! Aku ingin seperti itu!" Nevan berucap dengan lawan bicara yang masih menatapnya penuh tanda tanya, "aku mencintaimu Shasyania..., aku teramat sangat mencintaimu...," Nevan memeluk Shasyania begitu erat, seakan ia takut kehilangan, bahkan si sela-sela pelukannya ia terus mengatakan kalimat yang sama dan kini tepat di telinga Shasyania, "aku mencintaimu, aku mencintaimu Dinesclara Shasyania...."


Semua orang tertegun melihat kejadian tersebut, begitu juga Shasyania, lidahnya terasa kelu, sendi ototnya berasa kaku bahkan hanya untuk membalas pelukan Nevan ia masih terpaku diam.


"Ciumannya nyusul yaa!" bisik Nevan.


"Geonevan bisa seromantis ini? wahhhh!"


"Nit! ini bahkan lebih romantis dari film yang gue tonton tadi!!!"


"Satu kata HEBAT!"


"Waaaaooo... masih gak nyangka gue! tapi sekali lagi selamat, sekarang lo udah punya pawang Van! siap-siap aja kebebasan lo bakal sedikit terkekang ahahaa," gurau Miko, namun dalam benaknya ia memikirkan perasaan ketuanya, bagaimana jika kebenaran ini sampai diketahui Gemmi, apalagi Omanya, yang terlihat begitu menginginkan Shasyania menjadi pendamping cucunya.


"Selamat yaa, kalian berdua memang serasi!" seru Megan. Ia merasa lega setidaknya dengan dipublish nya hubungan itu membuat Shasyania tak lagi menjadi sasaran bully-an kedua sahabatnya.


Karena sedari awal Megan memang merasa berat hati, bahkan saat Shasyania dikunci di kamar mandi ia terus diliputi rasa bersalah, hingga harus berbohong mengatakan ada urusan keluarga padahal sebenarnya ia kembali ke sekolah untuk membuka pintu dan memastikan keadaan Shasyania baik-baik saja.


"Nanti kalau mereka punya anak, rupanya kayak siapa ya?" celetuk Nita, "pasti gak akan jadi masalah sih, misal tetangga pada nyinyir bilang lebih mirip bapaknya atau ibuknya, toh mirip siapapun bakal tetap good looking, ahahaaa!"


Setelah pengakuan Nevan yang mengejutkan, membuat salah satu laki-laki di ruangan tersebut menjadi pucat pasi, ia masih ingat betul bagaimana ia ketika menebak jika Nevan pasti memiliki hubungan dengan Zia, ia bahkan mengatakan garis keturunan dan sialnya lagi Shasyania juga mendengarnya, "Sial, kenapa waktu itu gue sok tahu banget sih? gue harap Shasyania gak sampai ngadu sama Geonevan, kalau enggak! bisa-bisa kita gencatan senjata sekarang!" batin Wilkan.


.


.


.


.


.


"Ini akan jadi potongan pizza terakhir yang gue makan, besok dan seterusnya gue harus olahraga!"


"Contoh kalimat kiasan yaa itu...."


"Eleeeeh makan yaa makan aja kali! gak usah drama pakek embel-embel tekanan batin segala!" sungut Ririn, kepada sahabatnya yang sedari tadi sibuk mengatakan ini yang terakhir tapi justru terlihat tidak sinkron ketika mulut dan tangannya terus bergerak aktif mengunyah dan mengambil makanan lain.


"Riel! ini lo mesen mie level berapa sih? pedes banget gilaaa! Mulut gue sampai kesemutan nih!!!"


Setelah mendengar ucapan Eron, Nevan langsung melirik kesamping lalu ia menghentikan laju tangan Shasyania yang berniat kembali memasukkan mie kedalam mulutnya, "Jangan makan lagi!"


Gadis itu tertegun, padahal baru juga suapan ketiga, "Sekali lagi...."


"Enggak!"


"Ini yang terakhir..."


"Taruh!"


"Mubasir Geonevan, itu gak baik...."


"Taruh!" dengan suara ditekan Nevan memerintah, tatapannya tajam mengunci pandangan Shasyania.


"Hmmm."


Alhasil gadis itupun menurut meskipun dalam hatinya merasa berat ditambah lagi mie yang ia makan begitu pas dalam indera perasa nya.


"Minum ini!" ucap Nevan, sembari menyodorkan susu murni berlogo naga terbang yang sudah ia buka.


"Aku gak suka, mending berasa... kalau kayak gitu malah bikin enek...."


"Minum dikit aja yank! biar gak panas perutnya!" tahu akan menerima penolakan hingga Nevan sendiri yang mengarahkan langsung kearah bibir Shasyania, dan usahanya berhasil ketika gadis itu mau meminumnya.


"Kemarin mie, sekarang mie! pokoknya minggu depan baru boleh makan mie lagi!" tegasnya, seraya membersihkan sisa-sisa saos yang menempel diarea bibir Shasyania menggunakan jempol tangan.


"Uwuu... uwu annya bisa kali pas berduaan aja, gak usah diumbar di sini jugaa! panas nih liatnya...," goda Dariel.


"Dunia serasa milik berdua, yang lain hanya sekumpulan debu tak ternilai!"


Nevan menggenggam tangan Shasyania berniat mengajaknya keluar sebelum akhirnya dicegah oleh Eron.


"Mau ke mana lo?"


"Pesan ruangan lain!"


"Lah! di sini aja bisa kan!"


"Minggir lo!"


"Enggak-enggak, pikiran lo udah ke mana-mana nih, masak mesen ruangan untuk berdua aja! Kalian masih belum paham soal begituan, jadi jangan macam-macam! Dan lo Sha, jangan karena omongan manis lo sampai kemakan bujuk rayu, nanti di suruh ini itu lo mau-mau aja lagi!!! Ingat, lo mesti jaga sesuatu berharga dalam diri lo! karena nanti kalau gimana-gimana lo nya sendiri yang rugi!!! Dibuahi enggak seindah yang lo kira! Lo paham kan Sha?"


Nevan berdecak bibir, melihat tingkah konyol Eron, "Jika lo lupa maka gue ingetin Ron! kadar kepintaran gue ini di atas rata-rata, dan Shasyania pun sama, jadi kita gak dungu soal begituan! Ohh iyaa... kalaupun kita berakhir gimana-gimana gue juga bakal tanggung jawab! bahkan dengan sangat senang hati!" tekan Nevan di kalimat terakhirnya.


"Geonevaaaaan...."


"Ampun-ampun sayang, jangan nyubit dong yank! Aku cuma meluruskan pikiran kusut Eron! lagian dia mikir kita yang enggak-enggak!"


"Eee...eemhh..., bu...bukan gitu Sha, gue cum__,"


"Sebaiknya kamu keramas Yeron, biar kepala kamu bersih," gurau Shasyania, yang langsung membuat Eron menjadi bahan tertawaan di sana.


Ketika semua asik tertawa smartphone dalam kantong celana Nevan bergetar hingga ia sigap untuk mengambil dan melirik benda pipih tersebut. Sorot matanya berubah serius, ia tidak menyangka dengan isi pesan yang tengah ia terima, bahkan saat Shasyania melirik Nevan, laki-laki itu secara refleks membalikkan smartphone miliknya.