
"VAN! NEVAAAAAAN!!!"
Haps!
"Wah ternyata beneran lo ya? Si Eron sampai bilang gue salah orang tadi!! tapi... mana mungkin gue salah! kan gue hapal betul sama style lo, yaaakan!" seru Dariel, saat ia tak sengaja bertemu Nevan di area parkir.
"Tunggu-tunggu, bukannya lo bilang lagi sibuk! terus kenapa jam segini udah sampai sini? Daaaaaaan... ini lo lagi sama siapa nih? Shasyania bukan?" selidik Eron, sembari mengarahkan pandangannya pada gadis yang berada di hadapan Nevan.
"Gue cabut duluan!"
Menyadari Nevan akan beranjak pergi, maka seketika itu sebuah tangan langsung menahan lajunya.
"Eeettsss! gak bisa gitu dong! lo udah sampai sini kenapa main cabut-cabut aja?" goda Dariel, dibarengi pukulan ringan di bagian bagu Nevan, "udaaaah.... gak usah malu gitu napaaaa! lagian niat lo ke sini mau have fun kan? jadi lanjutin aja Van!! Atau gini aja deh, kalian berdua ikut sama kita aja? sambil buang waktu, toh film yang mau kita tonton masih beberapa jam lagi...."
"Yaps betuh! pleaseeee Shaa! please ikut kita ya? sekalian tuh ajakin si Nevan biar mau dia!" timpal Eron.
"Dia lagi radang! jadi jangan di ajak ngomong!!!"
Mendengar ungkapan Nevan, membuat senyum jahil terukir di sudut bibir kedua sahabatnya, "Wooww... babang Nevan perhatian sekali nih!" seru Dariel, seraya mengernyitkan alisnya dan dibalas anggukan kepala oleh Eron.
"Iyaaaa nih! udah tahu doi-nya lagi sakit... tapi masih aja di ajak keluar! Mhhh... rindu banget ya Van?"
"Diem kalian!"
"Diyim kiyiyin!" ucap Eron, memparodikan kata-kata Nevan.
"Bacot!"
Bentakan dari Nevan seketika membuat kedua orang itu kompak mengatupkan kedua bibirnya, namun masih dengan ekspresi mengejek.
"Mhhhh... maaf sebelumnya, tapi kali ini gue serius nih! please kalian ikut kita ya? Ck! males banget gue sendirian nemenin nih fanboy garis keras! Tahu gak, tadi di rumah, pas dia dapet notifikasi kalau idolanya lagi di sini!! buihhhh... gue langsung di paksa buat kesini, padahal lagi asik-asiknya ngeluarin emas!"
"Oh yaaa!!!" Dariel menepuk jidatnya, lalu menggerutui dirinya sendiri, "kenapa gue bisa lupa sama tujuan awal gue!! Udah buruan ke dalam! gue mau ketemu sama my angel and my queen gue!"
.
.
.
.
.
"Tuh kan! gue gagal lagi ketemu Zia! ini semua gara-gara lo Ron! seandainya lo gak di kamar mandi, semua gak akan kayak gini! ****.* lo selalu bermasalah njirrrrr!"
"Kok lo malah nyalahin gue terus? udah bagus gue temenin lo ke sini!"
"Percuma kampret! gagal nih.... Gak ada yang bisa gue banggain!!!"
"Yaelah.... emang gak ada yang bisa lo banggakan juga!"
"Sialan lo!"
Eron berdecak pinggang melihat reaksi berlebihan dari Dariel, "Nih orang emang gak tahu terimakasih! Pikir ya... kita bertiga sekarang rela buat ngantri di barisan kayak gini demi lo! Gak penting! Gak guna! hanya untuk dapat stiker gak ada faedahnya sama sekali!!!" suara Eron cukup keras, hingga mematik tatapan amarah dari orang-orang yang berada di ruangan tersebut.
"Kalian bisa diem gak sih? dan lo Riel! sana maju, ambil stikernya lalu pergi dari sini!"
"Kalian bertiga ikut ambil yaa... nanti kasih ke gue!"
.
.
.
Sruuup!
"Ahhh... akhirnya tenggorokan gue adem!" seru Eron saat minuman yang ia pesan sudah di teguk tanpa sisa, "dan gue masih gak habis pikir yaa, bisa-bisanya para fans itu ngantri hanya untuk stiker kayak gini! Mending apa kalau isi tandatangan, ini apaaan... ahaha!!!" ejeknya, dengan tangan asik membolak-balikkan kertas yang ia anggap tidak penting tersebut.
"Kalau aja tadi kita tepat waktu, mungkin gue bisa foto sama Zia! Van... gue mohon... bantu gue ketemu Zia yaa, sekali aja! Gue gagal terus nih!"
"Emang ada pemberitahuan sebelumnya jika Zia ngadain meet and great di Mall ini? gak kan! Gue rasa tadi itu cuma akal-akalan doang! kalian dibohongi!! Liat aja sekarang... kok tiba-tiba bisa ada stand yang jual stiker kayak gini? S3 MARKETING NIH!!!"
Brak!
Bunyi meja di gebrak terdengar, dan sang pelaku adalah satu-satunya wanita di antara tiga pria yang tengah duduk di sekitarnya.
"Bikin kaget aja lo Sha! gue hampir tersedak nih!" sungut Dariel, "dan untuk lo Van, dari tadi lo sibuk main handphone mulu, lo lagi nelpon siapa sih?"
Bukannya menjawab Nevan malah langsung berdiri dan melangkahkan kakinya sedikit menjauh, saat akan menerima panggilan masuk.
"Bagaimana?"
"Nona sedang berada di kediaman keluarga Zail, Tuan Muda."
Seketika itu rahang Nevan terlihat mengeras, rasa kesalnya membumbung tinggi hingga benda pipih dalam genggamannya menjadi objek kemarahan, sampai terbelah menjadi tiga bagian.
Pleeeeetak!
.
Tak!
Tak!
.
.
Prakk!
"Van, ada masalah apa?"
Nevan diam dengan tatapan nyalang, tergambar jelas jika lonjakan amarah tengah menyelimuti dirinya.
Eron, laki-laki itu tahu persis bagaimana kalau Nevan sudah marah, maka dari itu ia langsung merangkul bahu sahabatnya tersebut, dan menariknya untuk keluar mencari udara segar. Ia juga tak mau jika masalah ini semakin besar, apalagi jika sampai orang-orang di dalam sana mulai sadar jika Nevan ini adalah pewaris keluarga Eldione, karena pastinya berita tentang dia akan selalu dilebih-lebihkan.
"Riel, lo temenin Shasyania aja!"
"Gue ikut kalian, lagian Jiana sama yang lainnya juga udah sampai sini kok, mereka pasti sama Shasyania sekarang!"
Dariel ragu jika Nevan bisa di tangani sendiri, hingga ia memaksa untuk ikut menenangkan sahabatnya itu.
.
.
.
"Sha, lo gak gerah apa dengan style kayak gitu? kaca, topi, sama masker bisa kali di lepas!" ujar Megan, "dan setahu gue, lo itu gak sekelompok sama kita kan? terus lo ke sini bareng siapa Sha?" imbuhnya bertanya.
Rissa pun ikut memandang ke arah seseorang yang ia anggap adalah Shasyania, dan matanya lebih tertarik untuk menelisik ke jaket yang melekat di tubuh gadis itu yang ia ketahui adalah milik seorang Geonevan.
"Ohh..., jadi Shasyania deket sama Geonevan nih? sial! harusnya gue bisa sahabatan sama Shasyania! tapi karena kejadian itu... mungkin ini akan menjadi lebih sulit lagi! Gak-gak... gue harus bisa deket sama dia sekarang!" batin Rissa, dengan mimik wajah berubah-rubah.
Tiba-tiba saja Rissa menggeser kursinya untuk lebih mendekat, "Shaaa..., mungkin ini terkesan terlambat, tapi jujur.... gue bener-bener merasa bersalah, gue bahkan selalu dihantui rasa penyesalan, dan lo harus percaya, gue sendiri bingung, kenapa waktu itu bisa sejahat itu sama lo. Sumpah Sha... gue bener-bener menyesal!!!"
Sembari mengatupkan kedua tangannya Rissa mengiba, dan itu membuat Jiana dan Megan menatap heran.
"Riss... lo kenapa aneh gini? gak jelas banget lo!" sentak Jiana, "ngapain lo minta maaf? pernah salah apa lo sama dia?"
"Jian... lo gak ingat waktu kita membully Shasyania? kita juga ikut ambil bagian mengunci dia di kamar mandi sekolah! Semua orang memojokkan dia! dan berita ke sebar juga ulah kita kan! jadi sekarang gue mau mi__,"
Crrrrrrrrrrrrrssss!
Isi dari satu gelas minuman sampai terkuras habis, saat tangan Zia begitu cepat menggenggam gelas tersebut, lalu menumpahkan cairan itu tepat di muka Rissa.
"SHAAAA... LO APA-APA SI__,"
Crrrrrrrrrrrrrrssss!
Ini yang kedua, tapi sekarang mendarat tepat di muka Jiana. Jus tomat membuat muka gadis itu menjadi merah alami.
Dan kini tangan Zia menunjuk kedua orang itu secara bergantian, lalu mengucap kata, "Sampah!" makinya, penuh penekanan.
Zia meninggalkan tiga orang yang masih terlihat syok karena kejadian yang barusan mereka alami, tapi seakan tidak perduli, ia malah terus berjalan menjauh sembari menggerutu, "Ck! harusnya gue tenggelamin tuh dua kepala di kubangan lumpur! Bisa-bisanya membully seseorang sekejam itu! dan lagian... siapa tadi? Yaa, Shasyania, bodoh! apa dia hanya diam, tidak melawan? waahhh, dan lucunya lagi... gue malah disetarakan sama cewek selemah itu? Benar-benar menyebalkan!"
Ia terus berjalan, dan bermonolog sendiri, "Shasyania... Shasyania... ck! kenapa nama itu mirip dengannya? tapi meskipun begitu... mhh, nama Shasyania lebih mudah di ucapkan daripada namanya. Ahahaha... nama tersulit masih menjadi milik sahabat kecilku Dinesshena Shasyaliona!"
.
.
.
Ketika sampai di lantai paling bawah, tiba-tiba seseorang menyalip di depannya.
"Lo ikut gue!"
Zia tahu itu siapa, hingga membuatnya tersenyum kecut, "Si pemarah datang nih, udah selesai lo sama drama telenovela lo? buang-buang tenaga! niat gue cuma minta tolong, tapi malah di ajak ke sana ke mari bareng teman-teman gak jelas lo itu!"
"Masuk!"
"Sabar!!!"
.
.
.
"Buka kaca mobilnya!" pinta Zia, namun ucapannya tidak digubris, "buka kacanya sebentar... toloooong!!!"
"Hujan! air masuk bikin susah!"
"Ck! jugaan gak akan bikin mobil lo rusak! Buruan buka!" sungutnya, "nah, nurut gini kan bagus!"
Mata Nevan masih menatap lurus, namun terdengar tangannya sekilas memukul setir kemudi.
"Woi, drama marah lo masih berlanjut nih? fokus! gak lucu kalau besok kita sampai masuk koran!"
"Vanvan!"
"Toloooong!"
"Siaal!!!" gumamnya, yang mampu di dengar oleh Zia.
Banyak hal yang berkecamuk dalam pikiran Nevan, ia sampai beberapakali mengusap-usap wajahnya gusar, "Ngapain lo di Mall sendirian? pengawal lo mana?"
"Males!"
"Pikirin keselamatan lo, jangan pernah bertindak seperti ini lagi! karena lo gak tahu rasa bersalah seperti apa yang akan orang-orang sekitar lo rasakan, jika mereka merasa gagal untuk menjaga lo!"
"Jangan ceramah! mending lo fokus nyetir... antar gue selamat sampai tujuan! dan stop bahas hal yang gak penting, oke?"
"Semoga lo dilindungi dari yang namanya trauma!" tegas Nevan.
"Yaa ya terimakasih... si pemarah!"