Mine ?

Mine ?
46 : Setengah Hak Milik



Suara rumput terinjak terdengar dari arah belakang, lalu di susul dengan sapaan yang begitu lembut di pendengaran Toreno.


"Selamat malam Kakek, maaf Shasya tadi ada urusan," ungkap Shasyania sedikit menunduk.


Toreno tersenyum hangat, "Tidak apa-apa," ujarnya sembari mengelus pucuk kepala Shasyania, "kamu bantuin Nevan gih, dia sendirian di sana," imbuhnya, seraya menuntun pandangan Shasyania agar mengikuti arah yang ia tunjuk.


"Baik Kek, dan ya, ini Shasya bawakan beberapa cemilan siapa tahu Kakek suka," tangannya menjulur ke depan, menyerahkan tas kresek berwarna putih yang sedari tadi ia tenteng.


"Wah jelas Kakek pasti suka," seru Toreno, mengambil satu cemilan dan minuman, lalu setelah itu ia kembali menatap Shasyania, "Kakek minta yang ini ya, selebihnya kamu bisa bawa ke sana, makanlah bersama Nevan."


Mengikuti apa yang telah di perintahkan, Shasyania berjalan mendekati laki-laki yang tampak sibuk membolak-balikkan irisan daging. Dan dari jarak satu meter, bau masakan khas di panggang begitu menusuk di indra penciuman Shasyania.


"Ada yang bisa aku bantu?"


Nevan tahu betul suara itu milik siapa, hingga ia menoleh mencari wujud dari sosok tersebut.


Pandangannya terkunci, saat melihat Shasyania tersenyum simpul. Celana kulot, atasan cardigan, penampilan simpel, namun mampu membuat Nevan menatap kagum.


"Geonevan," ucapnya kembali, sembari melambai-lambai kan tangan.


"Ohh... iya it...itu goreng."


"Goreng?"


"Ahh..., maksudnya olesi, ya olesi daging itu dengan bumbu di sana."


Shasyania mengangguk paham, tangannya pun bergerak ke kanan dan ke kiri, melumuri irisan daging berwarna merah kehitaman, yang pastinya merupakan daging dengan kwalitas terbaik.


"Shasya, gue boleh minta sesuatu gak?"


Shasyania tampak berpikir, ia merasa aneh, karena kali ini tatapan Geonevan seperti seseorang yang tengah memelas menginginkan sesuatu.


"Apa?"


"Boleh minta peluk?"


Perkataan itu sontak membuat Shasyania tertegun dengan alis bertautan. Belum sempat ia menjawab Nevan terlebih dahulu berucap.


"Lupakan Sha," jelasnya, dengan nada kecewa.


Berdua bersama Nevan memang menjadi momen paling canggung untuk Shasyania, apalagi perubahan sikapnya sekarang. Andaikan saja Shasyania bisa menghilang, maka pilihlah itulah yang akan ia gunakan saat ini.


Suasana hening, hingga gerak-gerik menjadi semakin gelisah. Setelah pernyataan tadi, tak ada lagi obrolan di antara mereka.


Dekat namun terasa jauh, terlihat namun tak saling menyapa. Itulah kita.


"Lo suka pedes?" Lelehan dinding beku akhirnya mencair, Nevan berusaha menghangatkan suasana.


"Suka! apalagi mie," jawab Shasyania terus terang, senyum juga terukir di sudut bibirnya, sepertinya mie merupakan makanan favorit gadis itu.


"Mie instan?"


"Iyaa."


"Jangan sering makan-makanan instan, gak baik!" perkataan lembut namun begitu tegas, "nanti gue buatin mei. Mie yang berkualitas, bergizi dan tentunya menyehatkan!" tegasnya kembali.


"Tapi biasanya sesuatu yang menyehatkan itu tidak enak," selorohnya.


"Apa?" tanyanya tidak terima, lalu beralih menatap Shasyania.


Gadis itu ia terdiam kaku, ia merasa telah menyulut amarah laki-laki yang berada di sampingnya.


Nevan menarik bahu Shasyania, lalu memutar tubuh itu untuk menghadap ke arahnya.


Mata Shasyania melotot kaget, ketika Nevan satu langkah lebih mendekat.


"Boleh peluk ya?" tanyanya kembali, mengulang keinginan yang sempat tertunda.


Lama menunggu persetujuan, membuat Nevan nekat menarik tubuh Shasyania, dan ketika tumbuh mereka menempel, Nevan lebih mengeratkan pelukan tersebut.


"Meskipun makanan seperti itu terasa lebih nikmat tapi lo juga harus mikirin kesehatan. Dan mulai hari ini kalau lo mau makan mie maka akan gue buatin, gue jamin lo bakalan suka," ujarnya, yang langsung terdengar jelas di telinga Shasyania, karena mulut Nevan begitu dekat di sana, bahkan hembusan nafas dari laki-laki itu menerpa halus kulit leher Shasyania.


"Ge...onevan," lirih Shasyania, seraya menekan dada itu untuk menjauh.


"Sebentar," pintanya sendu.


"Tapi dagingnya gosong."


Seketika itu Nevan mengendurkan pelukannya, lalu ia menatap daging yang mengeluarkan asap mengepul dengan aroma sangit.


Tidak menyianyiakan kesempatan, Shasyania berjalan menjauh seperti orang linglung, yang tak tau arah tujuan. Namun yang jelas, berada di dekat Geonevan membuatnya seperti seseorang yang kekurangan oksigen.


"Kau lihat Atom?"


"Iya Tuan."


"Sudah ku bilang, pilihanku itu tidak pernah salah. Cucuku tidak mungkin terus bisa menolak!"


Perkataan Toreno, membuat Atom mengangguk ragu. dan hal itu di sadari oleh Toreno.


Tanpa bertanya Atom mengerti kenapa tuannya menatapnya dengan manik menyelidik.


"Sebelumnya maafkan saya Tuan, tapi saya merasa ragu, Tuan muda begitu pintar dan juga cerdik, saya takut jika ini hanyalah strategi untuknya mengelabuhi kita," sahutnya jujur.


"Atom, jika kau merasa seperti itu maka sekarang akan aku beri kau wewenang khusus. Nantinya bila sesuatu yang kau ucapkan itu benar, maka di hari itu juga kau berhak mengurung cucuku di paviliun belakang!"


Atom terdiam sebentar, lalu di detik kemudian ia menunduk hormat tanda bahwa ia mengerti akan tugas yang sudah di berikan kepadanya.


...****************...


Sementara itu di tempat lain, seorang wanita tengah duduk di kursi kebesarannya, tangan kanannya aktif memainkan sebuah bolpoin.


Ckling! Ceklik! Cklik!


TOK! TOK!


Aktivitasnya terhenti, ketika ketukan dari arah luar mulai terdengar.


"Masuk!" perintahnya.


"Selamat malam Nyonya," Pria dengan setelan serba hitam itu menunduk hormat. Dan saat ia mendongakkan kepala, bekas luka menyilang terlihat jelas di bagian wajahnya.


Hugo, pria berotot dengan tatto mata di bagian punggung tangannya. Postur tubuh tinggi besar, dan siapapun akan bergidik ngeri melihatnya.


"Ini data-datanya Nyonya, Tuan muda sudah mengetahui jika Nyonya pasti akan bertanya, dan hanya satu permintaan dari Tuan muda, agar Nyonya tidak mengatakan hal ini pada Tuan Deron," jelasnya.


Zivana membolak-balikkan kertas itu, ia menyeringai saat melihat sesuatu yang menarik, "Jadi ini yang dia minta, awalnya aku heran kenapa dia menginginkan jasamu Hugo, tapi setelah melihat ini aku jadi mengerti," ucapnya tenang, namun lambat laun seri di wajahnya berubah, "kau habisi, atau kau seret mereka ke jeruji besi?"


"Tuan muda memberi perintah agar meninggalkan mereka di jalanan, dan itupun setelah mereka hampir kehilangan nyawa."


"Wah anakku kejam juga ya! dan ya Hugo, aku tidak mau jika nantinya ada orang-orang yang akan menuntut balas, jadi sebelum itu terjadi bereskan semua!"


"Baik Nyonya!"


BLACK AS, merupakan pasukan khusus yang di miliki keluarga Eldione dalam sistem pertahanan. Bergerak tanpa suara dan menikam tanpa sisa adalah hal biasa, karena kecakapan pasukan itu dalam menggali informasi dan beroperasi sudah tidak dapat di ragukan lagi, hal itu pula yang membuat para rival akan berpikir seribu kali untuk membuat masalah dengan keluarga Eldione. dan Hugo, ia merupakan ujung tombak dari pasukan tersebut.


"Sekarang kau boleh keluar!"


"Baik Nyonya!"


Kerahasian dalam misi adalah harga mati, namun sekarang tampuk kekuasaan masih belum sepenuhnya milik Geonevan, hingga membuat Hugo terpaksa memberitahu Zivana akan misi yang sudah ia selesaikan, apalagi dari garis kekuasaan Zivana masih berada di atas Nevan.


...****************...


Meninggal Zivana yang masih asik dengan berkas dalam genggamannya, kita beralih kembali ke tempat dimana dua orang anak manusia tengah duduk berdampingan di sebuah rooftop, sambil memandang taburan bintang di atas sana.


"Gue buatin mie ya?"


"Enggak usah Geonevan, aku sudah kenyang."


Shasyania melirik kesamping, saat ia tak mendapat tanggapan dari ucapannya, dan bisa ia lihat Nevan tengah memandang dengan ekspresi menunggu pujian.


Gadis itu berdehem, "Daging yang kamu panggang sangat enak, aku menyukainya," pujinya, namun itu memang benar, dan bukan sekedar basa-basi.


Senyum sumringah terpancar dari wajah Geonevan, dan entah kenapa Shasyania juga ikut tersenyum.


"Shasya mungkin ini tidak pantas untuk di tanyakan tapi gue penasaran," ujar Nevan, yang terdengar sengaja memancing reaksi lawan bicaranya.


"Tentang apa?"


"Mmmh soal perjodohan ini, lo menolaknya kan?"


"Iyaaa."


"Kenapa?"


"Karena ini tidak benar, dan setau ku apapun yang di paksakan itu tidak akan berujung baik."


"Apa karena lo memiliki seseorang yang lo suka? atau sekarang lo sedang menjalin hubungan dengan orang lain?"


"Tidak ada."


"Tidak ada?" ulang Nevan memastikan.


"Iya tidak ada."


Beberapa saat Nevan terdiam sambil memperhatikan mimik wajah Shasyania, ia ingin melihat apakah gadis itu merasa risih dengan pembahasan ini atau tidak, dan saat ia merasa Shasyania biasa-biasa saja, Nevan pun kembali bertanya.


"Lalu, mengenai laki-laki yang waktu itu sama lo, dia siapa? apa dia..." Nevan bingung harus bertanya seperti apa, hingga ia menggantung di kata terakhir.


Melihat Nevan menunduk membuat Shasyania balik bertanya, "Siapa?"


"Itu...waktu...waktu gue pertama kali ke rumah lo dan...dan," ada rasa bersalah di sana, hingga membuatnya tak bisa melanjutkan kalimat tersebut.


"Ohhh... dia Nanda, salah satu sahabatku di SMA MERPATI, dia juga wakil Osis, jadi kami sering terlibat dalam acara sekolah."


"Lalu Gemmi?"


"Gemmi? diakan teman sekelas kita."


"Iya, hmm mungkinkah di antara kalian ada sesuatu? karena gue sering liat lo sama dia, dan kelihatannya lo juga dekat dengan keluarganya."


"Dengan Oma?" ulangnya, "Oma adalah orang yang membantuku di hari pertamaku di SMA GUARDIANS."


DEG!


Seperti tertimpa batu, Nevan menyadari betul akan situasi di hari itu, semua mutlak karena kesalahannya.


"Maaf," ujarnya, dan posisi duduk Nevan sudah berubah, ia membalikkan badan menghadap Shasyania.


"Gue tahu itu kesalahan gue, dan maaf karena saat itu perasaan gue benar-benar tidak terkendali. Enggak seharusnya gue menyalahkan lo!"


"Jangan bahas itu lagi, semua sudah lewat."


"Tapi...,"


"Jujur Geonevan, luka itu masih terasa, dan jika kamu membahasnya lagi, itu sama saja seperti membuka rasa perih yang masih tersisa. Dan untuk sekarang, aku sudah mencoba menerima perubahan mu ini," ucap Shasyania sembari tersenyum.


"Shasya, lo pernah mengatakan jika kita masih belum memiliki celah untuk menolak perjodohan inikan? Kenapa kita tidak coba untuk menerima? maksud gue dengan saling mengenal satu sama lain, dan jika setelah itu lo masih ragu, maka gue akan bantu jelasin ke Kakek."


Shasyania masih tertegun dengan ungkapan Nevan, ia perlu sedikit waktu untuk mencerna kembali kata-kata tersebut.


"Bagaimana, lo setuju? atau jika ini masih terasa berat, maka gue minta satu sebulan. Kasih gue waktu satu bulan untuk meyakinkan perasaan kita masing-masing," tatapan itu menatap lurus, mengunci padangan Shasyania.


"Ini hal baru buat gue. Gue gak tau cara yang benar untuk mengungkapkan semua yang ada di dalam otak ini, tapi yang jelas gue bersungguh-sungguh Shasya. Gue ingin mencobanya, gue ingin berusaha, dan itu bisa terjadi jika lo memberi kesempatan. Hubungan ini memang di awali dengan paksaan, dan penolakan-penolakan kita juga tidak akan di terima karena belum adanya alasan yang kuat, maka dari itu, izinkan kita untuk lebih mengenal, dan jikapun nantinya tidak berhasil, setidaknya kita pernah mencoba."


"Sebulan?"


"Iya, kita bisa meyakinkan perasaan masing-masing, nonton, makan, pokoknya berdua, lo mau kan?"


Shasyania tidak langsung menjawab, hingga Geonevan kembali meyakinkan.


"Mungkin lo masih ragu...," ucapannya terhenti sejenak, "tidak-tidak pastinya sangat ragu," imbuhnya yang semakin tidak percaya diri.


"Aku setuju untuk kita saling mengenal," ucap Shasyania, dan kata-kata itu membuat Nevan menatap dengan netra berbinar-binar.


"Tapi, sama seperti perjodohan kita, yang hanya di ketahui keluarga begitupun juga ini, aku mau hanya kita saja yang tahu."


Nevan tersenyum tipis, ia mengerti ketakutan dan keraguan Shasyania, di tambah lagi dengan reaksi orang sekitar mereka.


"Baiklah tidak masalah, yang penting lo memberi kesempatan. Itu sudah cukup." pungkasnya.