Mine ?

Mine ?
14 : Praduga



(Flashback on)


"Rin, pelajaran Fisika kali ini ada PR gak ya?" Tanya Nita.


"Enggak! kan pas terakhir dapat pelajaran Fisika kita pulang awal Nit, gara-gara Guru rapat!"


"Terus, gimana kalau hari ini Rin? apa kita pulang awal lagi?" ucap Dino.


Ririn memutar bola matanya malas, pertanyaan-pertanyaan seperti itu sering kali ia jumpai setiap jam pelajaran akan berlangsung, hingga ia merasa jengah, "Gak ada lagi!" jawabnya ketus.


"Kalau gitu jangan cari Gurunya dong!!  biarin dia gak ngajar!" pinta Dariel.


"Gue mah oke oke aja sih, asal si Andri juga setuju," sahutnya, seraya menunjuk orang yang ia maksud menggunakan ujung mata.


"Woi... Andri udah denger lo? JANGAN CARI GURUNYA! Kita semua lagi males belajar nih!!!"


"Ck..., dicari atau gak juga gak ada bedanya, Bapaknya bakal tetep kesini!" seloroh Andri, "Rin, kalau lo masih ingat akan tugas lo sebagai perangkat kelas, maka ikuti gue sekarang!" ucapnya tegas.


"Bocah itu ya... emang dari dulu gak bisa di ajak seneng! kaku banget kayak kanebo kering! Geonevan yang pinter aja gak pernah ngeluh tuh kalau gak belajar!! Ehh ini si Andri, sok-sokan pakek rajin! Kayak besok bakal gantiin menteri aja!!!" sindir Dino, ia sampai berpikir jika ketua kelasnya itu pindah ruangan, maka kesejahteraan kelas XI IPA 1 akan lebih meningkat.


.


.


.


Dan berselang beberapa menit, kini terlihat seorang Guru bertubuh gempal tengah berdiri di depan kelas, dengan tangan kanan sibuk menulis di papan putih.


Pak Rivat, nama salah satu guru yang termasuk dalam jajaran penuh wibawa, suaranya yang terdengar berat mendominasi ruangan, hingga beberapa murid akan langsung menatapnya segan.


Santai dan tegas, itulah cara dia menjelaskan materi, lalu di pertengahan jam pelajaran maka ia akan memberi beberapa soal untuk langsung di kerjakan.


"Ehh, si Shasya kok belum masuk kelas juga ya?"


"Oh iya... di toilet mungkin!"


"Ah, masak di toilet lama banget!"


"Mana gue tau! mmh... keras kali!" ucap Dino.


"Apa dia di UKS ya?"


"KALIAN YANG BERISIK DI SANA! SINI MAJU! KERJAKAN SOAL NOMOR TIGA!" pungkas Pak Rivat, saat mendapati anak didiknya tengah asik berbincang-bincang mengabaikan penjelasannya.


"Sial! ini semua gara-gara lo!" umpat Dino, sepenuhnya ia menyalahkan Baru.


"CEPETAN KALIAN MAJU! APA MAU BAPAK PANGGIL GURU BK?"


Dengan sangat terpaksa kini Baru dan Dino mengayunkan kedua kakinya ke depan, hingga mereka berdiri di hadapan puluhan murid yang mulai menatap kedua orang itu dengan raut mengejek.


"Rasain tuh! lemes sih kayak cewek!" sindir Rissa.


"Mampus kalian!!! itu adalah balasan karena udah berani ngetawain kita pas roll back roll!"


"Jangan diungkit-ungkit lagi! males banget gue!" sergah Rissa.


"Apa yang kalian bicarakan di sana hah? sampai tidak memperhatikan Bapak yang sedang menjelaskan materi! Ohh, apa karena kalian sudah mengerti? sampai tidak perlu dijelaskan lagi? Atau suara Bapak kurang jelas? jika iya, maka setiap pelajaran Bapak kalian harus duduk di depan! mengerti?" selidik Pak Rivat, "loh, kok gak ada yang jawab? tadi di sana asik betul kalian bicaranya, sekarang udah di kasih kesempatan buat ngomong malah diem aja kalian!" imbuhnya, dengan nada menyindir.


Masih tak ada jawaban dari kedua siswa itu, hingga Pak Rivat bertambah geram, "Kamu!" tunjuk Pak Rivat pada Dino, "kerjakan soal nomor tiga! dan kamu, kerjakan soal nomor empat!"


Keresahan di depan sana juga mulai tersalurkan, hingga membuat seorang siswi ikut panik, dengan tangan bergerak-gerak memegangi bolpoin, "Waduh-waduh.. gawat! Gue mohon waktu cepatlah berlalu... jantung gue rasanya mo copot!!!" cicit Nita, penuh pengharapan.


Ririn yang menyaksikan sahabatnya dirundung kegelisahan mulai melirik dan berbisik, "Lap tuh keringet! bercucuran mulu.... Heran gue!"


Dan kembali ke depan, Pak Rivat terlihat berdecak pinggang, ketika menyaksikan hasil karya kedua muridnya, "Apa-apaan ini! bahkan kalian tidak tahu soalnya menanyakan apa!!! Aduh-aduh..., kadang Bapak heran, kenapa anak kelas IPA 1 gak bisa menjawab soal seperti ini sih!" sindirnya halus, "baiklah, sebagai hukumannya kalian berdua keliling lapangan sebanyak lima kali! setelah itu kembali ke kelas!"


"Yaelah, jangan heran gitu napa Pak, orang kita juga gak tau bakalan di masukin kesini! Tahu-tahu aja, nama kita tertempel di kelas IPA 1, jadi yang salah itu, yaaa gurunya!" lirih Megan.


Pak Rivat masih menggeleng-gelengkan kepala, saat ia menghapus jawaban muridnya, "Dengar, untuk murid yang lainnya jika kalian belum mengerti, maka tanyakan! jangan berdiam diri kayak patung! Bapak ini mengajar manusia bukan benda mati! Kalianlah yang akan rugi jika melewatkan materi yang nantinya akan sangat berguna dalam hidup kalian! Berubah lah untuk masa depan! Jangan manggut-manggut, ngikut-ngikut!!! Terus pas salah malah mencari kambing hitam! gak baik kayak gitu! Ubah mindset kalian!!!"


"Ya...ya bagus Pak, ayo... lanjutin lagi ceramahnya Pak! biar waktu cepat berlalu!" Itu adalah harapan dari seorang Nita.


"Sudahlah! kalau ini di terusin lagi, maka hanya akan menyita waktu Bapak. Nah sekarang gini aja, angkat tangan bagi kalian yang bisa mengerjakan soal di depan ini, jika betul, maka Bapak akan bebaskan kalian dari ulangan minggu depan!"


Tawaran yang menarik, namun itu hanya bisa dinikmati oleh kaum otak encer.


"Gue mohon jangan angkat tangan Ron!" pinta Dariel memelas, "jika lo sampai maju, minggu depan hasil ulangan gue bakal hancur. Kita gak bisa have fun lagi Ron! Nyokap, Bokap, gue pasti mengurung gue!" imbuhnya, sambil memegangi telapak tangan Eron.


"Jirr! lepasin geli gue!"


"Iya... tapi jangan maju kampret! biarin si Nevan aja!"


"Sialan! Ini lo yang bodoh tapi kenapa gue yang ribet!" cetus Eron.


Dan seperti biasa, Geonevan selalu angkat tangan dan menjadi penyelamat bagi kelasnya, ia selalu menyelesaikan soal hingga murid lainnya bernafas lega.


"Ya... silahkan maju Geonevan!" ucap Pak Rivat.


Dengan sangat mudah Nevan mampu mengerjakan soal tersebut, tangannya bergerak lincah menulis setiap angka, ia tidak memerlukan catatan atau bahkan alat bantu menghitung, semua ia lakukan secara manual menggunakan otaknya.


"Sudah-sudah, satu soal saja! sisanya Bapak minta perwakilan para siswi yang maju. Masak kalian kalah sama siswanya, ayo angkat tangan kalian... sebelum Bapak tunjuk!" Ucapan itu seperti petir di siang bolong, sampai beberapa siswi dibuat ketar ketir dengan kepala yang tiba-tiba bergerak elastis.  


"Mati! mati! mana ketek gue udah basah lagi!" keluh Nita.


Serangan panik mulai terjadi, Ririn tak lagi menanggapi sahabatnya yang sudah bermandikan keringan, ia justru bergerak lincah mencari bala bantuan, "Woi Dri! Andri... kasih gue jawaban nomer empat dong! please... lagian lo gak ada kesempatan buat nyari nilai lagi, jadi kasih ke gue aja! Please...." Gadis itu berharap bisa mengetuk hati nurani Andri, hingga bersedia menolongnya sepenuh hati.


Dan tanpa di duga Andri menyerahkan buku catatannya. Ririn yang merasa terberkati langsung mengeluarkan senyum termanis, sembari menggerakkan bibirnya mengucap kalimat, "I love you..."


"Enteng banget tuh mulut kalau ada maunya!" sindir Andri.


Ketika akan mengangkat tangan, niatan Ririn tiba-tiba di cegah oleh rekan sebangkunya, "Jangan maju Rin! biar minggu depan gue ada temennya! masak lo tega ninggalin gue...." Nita sampai merengek membujuk Ririn yang kini tengah berada di atas angin.


"Kalau susah, jangan ngajak-ngajak dong!" cetusnya, seraya menepis tangan Nita.


"Ck! heh gue rasa jawaban yang di kasih Andri itu salah deh," kompornya, dengan berbagai macam alasan.


"Jangan sok tahu lo Nita!"


"Beneran..., perasaan gue gak enak nih!"


Ririn mengabaikan Nita yang masih terpaku di bangkunya, dan gadis itu penuh percaya diri mengacungkan tangannya keatas.


Sebelum melangkah ke depan, ia menyempatkan diri untuk melirik ke bangku Nevan, sembari membatin penuh keyakinan, "Geonevan, tunggu gue ya! kita akan sama-sama melihat kaum ketar ketir mengerjakan ulangan minggu depan!"


Namun khayalan gadis itu seketika sirna, tatkala mendengar ucapan Guru dihadapannya, "Loh!!! ini kenapa tulisannya cuma diketahui sama ditanya saja? jawabannya mana ini?" sentak Pak Rivat, seraya menunjuk-nunjuk papan.


Nita yang menyaksikan suguhan drama dipenuhi rasa malu itu langsung menatap cemooh, "Rasain lo! kalau bego ya bego aja! gak usah sok pintar!" cibirnya tanpa suara, namun pergerakan bibirnya mampu di tangkap oleh Ririn.


"Sialan lo Andri!" batin Ririn mejadikan Andri sebagai kambing hitam, sambil meremas buku catatan tersebut.


"Duduk kamu duduk!"


"Pak, saya mau maju Pak!" pinta seorang siswi bernama Santi. Pak Rivat yang melihat itu langsung mempersilahkannya untuk maju ke depan.


Sama seperti Ririn, Santi pun ikut salah, hingga Pak Rivat kembali memanggil Geonevan untuk menyelesaikan soal.


Dan seperti biasa dua jam pelajaran Fisika mampu membuat beberapa murid di dalam sana berasa berada di Gurun Zahara, begitu panas hingga bermandikan keringat. Sampai akhirnya momen yang di tunggu-tunggu pun tiba, yakni jam istirahat.


.


.


.


"Ehh Andri!!! apa-apaan lo tadi? kalau gak niat ngasih jawaban... Ya gak usah ngerjain gue juga dong! Lo itu ya! sekalinya bercanda tapi gak lucu tahu, nyebelin banget sih!!!" protes Ririn, ia masih tidak terima, hingga berucap sembari menunjuk-nunjuk laki-laki itu.


Andri yang dicecar menatap bingung, karena ia merasa tidak ada yang salah dengan isi catatan yang ia berikan, "Apaan sih? gue udah ngasih lo jawaban lengkap ya! lo nya aja yang gak tau cara kerjanya gimana!" ketus Andri.


"Wah... bener kata si Andri, lo itu udah di kasih jawaban lengkap dodol!!! Harusnya setelah ini lo kesini! bukannya malah stop!" ucap Eron, sambil menunjuk-nunjuk rentetan alur jawaban yang seharusnya Ririn buat.


"Bodoh banget sih! nyontek aja remedial!" ledek Dariel.


"Ehh---eh, ngomong-ngomong murid baru itu kok belum masuk kelas juga ya?" seru Nita, mengalihkan pembicaraan.


"Iya bener-bener! si Baru juga ngomongin itu tuh, makanya kita sampai di hukum!"


"Biasalah orang kaya! masuk gak masuk, gak bakalan ada masalah! Guru juga gak berani protes!" tiba-tiba Rissa ikut menimpali.


"Kalian tahu? tuh orang gak masuk kelas, karena lagi PDKT sama kakak kelas!" tuduh Jiana memperkeruh suasana.


"Seriusan lo?" tanya Ririn, yang masih terlihat ragu.


"Seriusss! tanya aja Rissa sama Megan, mereka juga lihat, iyakan?" Jiana menatap kedua orang itu bersamaan, sambil menggerakkan matanya seakan memaksa untuk mereka mengiyakan apa yang sudah ia rencanakan.


"Ng.... ii...yaa iya."


"Ck! Good looking dan good brain hanya di miliki seorang Geonevan! yang lainnya mah hanya modal tampang!" puji Rissa.


"Weh, gue juga good brain! asal kalian tahu aja!" ketus Eron yang merasa tidak di anggap.


"Ya..., tapi lo gak sepintar Geonevan!"


Eron melangkahkan kakinya mendekat, "Jangan asal ngomong lo! gue juga pintar... tapi semua terhalang seseorang!" ucapnya ketus, sembari menatap kearah Dariel, seolah-olah ia ingin menunjukkan jika Dariel lah penyebabnya.


"Cantik dan kaya mah bebas! bodoh pun bakal ketutup!" Celetuk Dino menyindir.


Nevan yang tengah asik dengan smartphone miliknya terlihat tersenyum mengejek, ia benar-benar semakin membenci seorang Shasyania. Apalagi ia juga termakan ucapan Jiana, yang mengatakan jika Shasyania sedang berdekatan dengan seorang Kakak kelas.


"Sial! ternyata benar, sekalinya parasit tetaplah parasit! gak nyesel gue!" batinnya.


Suara bel kembali berbunyi, menandakan jam pelajaran baru telah di mulai, dan di ujung sana, seseorang kini tengah diselimuti rasa gelisah.


"Riss... apa tindakan kita tadi.. terlalu berlebihan ya?" celetuk Megan.


"Lo kenapa sih Me? dari tadi nanyain itu mulu!"


"Gue merasa enggak enak aja Ris!"


Dan sepanjang proses pembelajaran Megan terus merasa was-was, ia tidak bisa tenang, bahkan saat jam pulang sekolah pun gadis itu masih terlihat menimang-nimang untuk pulang ke rumah.


(Flashback off)


.


.


.


"Sayang... akhirnya kamu kesini juga," sambut Zivana penuh kegembiraan, ketika melihat putranya yang tampan berkunjung ke rumahnya.


"Iya Mom," ucap Nevan, sembari menyambut pelukan Zivana. 


"Kamu makan dulu sana, kebetulan Mommy lagi masak makanan kesukaan kamu sayang!"


"Nanti saja Mom, Nevan masih kenyang, Ohh yaa... Daddy mana ?"


"Daddy masih di kantor sayang."


"Apa Daddy juga akan berangkat ke Inggris Mom?"


"Tidak sayang, hanya Kakek mu saja, Daddy cuma mengontrol cabang perusahaan di sini."


Nevan mengangguk-angguk paham, dan kembali bertanya, "Apa Mommy tahu.. berapa lama Kakek di sana?"


"Umhh... Mommy rasa tiga bulan, kenapa sayang? kamu ingin liburan ke sana mhh?"


"Tidak Mom, bukan begitu, Nevan cuma merasa... aaahh setidaknya untuk saat ini aku tidak akan mendengar omelan Kakek secara langsung!"


"Omelan?"


"Yaa... mengenai gadis itu!"


Nada bicara Nevan berubah, hingga membuat Zivana lebih mendekat, "Sayang... Mommy harap kamu lebih bersabar lagi yaa, ikuti dulu kemauan Kakek, jangan buat dia marah, nanti biar Mommy dan Daddy yang membujuknya," bujuk Zivana, sembari mengelus kepala putranya.


Nevan menyenderkan punggungnya ke sofa, ada perasaan tidak terima yang bersarang di hatinya, "Mommy tahu? Nevan selalu berpikir.. jika harta ini akan menjadi milik Nevan secara mutlak, tapi semua berubah saat gadis itu datang, ia seketika membuat posisiku terancam. Nevan masih tidak mengerti kenapa Kakek bersikap seperti itu, bahkan tega mencoret Daddy dari ahli warisnya sendiri! Seakan lupa dengan perjuangannya!!! sungguh di luar dugaan! Aku juga tidak ingin Kakek ikut tertipu hanya karena paras gadis itu! Dia pandai bersandiwara Mommy! Tidak akan aku biarkan lagi dia membodohi keluargaku yang lain!" Rahang Nevan mengeras, ketika mengingat kembali kejadian yang telah memicu luapan emosi yang semakin bersemayam di dalam dirinya.