Mine ?

Mine ?
111 : Dia ada diantara kita



Gelap semakin pekat, meskipun rasa takut kian lama kian menyergap, namun memilih berhenti untuk menangisi keadaan juga bukanlah pilihan yang tepat. Kini gadis itu seakan tidak perduli tentang seberapa jauh lagi ia akan melangkahkan kaki memangkas rimbunnya semak belukar, dalam hatinya hanya berharap agar dirinya segera menemukan jalan keluar, maka dari itu Shasyania terus memacu batas kecepatannya, hingga berusaha untuk acuh tak acuh ketika bisingnya mahkluk hidup di dalam hutan belantara tersebut terdengar mengalun-alun menyambut kedatangannya.



"Haah!"


"Haah!"


"Haahh!"


Nafasnya terengah-engah, sembari memegangi dada, bahkan untuk menelan air liurnya sendiri Shasyania terlihat kesusahan.


Pasokan udara pun seolah-olah menipis, hingga kencangnya angin yang berhembus disekitarnya seperti tak bermakna, untuk tubuhnya yang semakin gerah akibat adrenalin ketakutan.


Shasyania nyaris terlalu lelah untuk mengatakan kata menyerah, sampai sejurus kemudian sepasang mata itu menatap sebuah bangunan usang, yang menghasilkan desiran tak asing pada lubuk hatinya yang terdalam.



"Iii...ini?"


Detik itu juga kepingan-kepingan memori mulai tersusun rapi, ingatannya seperti dipukul mundur terseret lingkaran waktu, yang mengajaknya untuk kembali membayangkan peristiwa kelam, yang sempat singgah dalam hidupnya beberapa tahun yang lalu.


Tap!


Krrrt!


.


Tap!


Krrrt


.


.


Tap!


Namun bukannya kabur, Shasyania justru semakin mendekat, lalu secara bergantian menginjak lantai kayu yang menjadi alas dari bangunan tersebut, hingga menimbulkan suara decitan di setiap kali kaki jenjangnya terhentak, sampai sejurus kemudian ia mulai mengintip lewat celah-celah tembok lembab yang sudah termakan waktu, untuk menggenang rentetan cerita di masa kecilnya itu.


"Hei kamu! hei! husssst...huuuussst! lagi main petak umpat yaa? ikut satu dong! Jangan takut...aku anak baik kok!"


"Berhenti nangis ya, kamu gak sendiri, aku akan menyelamatkanmu!"


"Ayoo lari!"


Tubuh Shasyania nyaris terhuyung, jika saja ia tak sesegera mungkin memegang salah satu penyangga. Fakta memperlihatkan, jika peristiwa itu masih menoreh luka untuknya, "Aa...ku, aku benar-benar di sini? di tempat ini. Vanvan?"


Zrrrrrt!


Saat dirinya masih asik berkutat dengan isi pikiran, tiba-tiba saja dari arah samping terdengar suara dedaunan terinjak, hal tersebut membuat Shasyania menoleh, hingga netra matanya menemukan satu sosok familiar, yang sukses memecah tangisannya di kegelapan malam.


.


.


.


.


.


"SHASYAAAAA! SHASYANIA! KAMU DI MANA? KAMU MENDENGAR KU KAN? AKU NEVAN! SHASYANIAAAAAAA!!! "


Teriakan itu bersaut-sautan dengan suara jangkrik ataupun bintang kecil lainnya, entah itu merupakan reaksi terganggu atau justru terhibur tidak ada yang tahu, tapi yang jelas Nevan masih terus berjalan menyusuri kedalaman hutan. Bersama satu tujuan, yakni menemukan keberadaan sang pujaan hati. Dan jika ditanya apa dia lelah? maka tentu jawabannya adalah iya.


"SHASYANIAAAAAAA!"


Jet lag penerbangan masih terasa, hingga keseimbangan Nevan sesekali melemah ketika kakinya menyentuh tanah, bahkan beberapakali ia juga tersandung bebatuan alam ataupun akar pohon di sepanjang jalan, namun seakan pantang menyerah, Nevan terus bangkit, lalu berteriak-teriak memanggil nama Shasyania.


Namun alih-alih menemui titik terang, Nevan justru terperosok akibat licinnya jalanan di sekitaran sana. Di keadaan seperti itu ia harus bertindak sigap, untuk melindungi bagian kepalanya.


Brug!


.


Bruuug!


.


Bruaaak!


Berkali-kali tubuh itu membentur sesuatu yang keras, hingga luka sobek di bagian perutnya tak bisa terelakkan.


"Shhhhhttt!"


Selain sudah kalah fisik, batinnya juga mulai terguncang, rasa takut membuatnya tak bisa mengontrol emosi. Medan yang seharusnya mudah untuk ia kuasai tapi sekarang justru terkesan sulit dan penuh rintangan.


Berpikir jernih dilandasi kesabaran adalah kunci, namun Nevan masih jauh dari kriteria untuk bisa menguasai diri, emosinya sangat mudah dipancing terlepas dari rasa trauma yang pernah ia miliki.


"AAAAAAAARRRRRRGGG!!!"


Teriakan Nevan menggema, bahkan penghuni hutan terlihat berlarian saat mendengar kebisingan tersebut, sampai beberapa menit kemudian semesta seakan berpihak padanya, ratusan kunang-kunang berhamburan datang memperlihatkan kelap-kelip cahaya ditengah kegelapan malam, layaknya sebuah isyarat untuk menuntun Nevan mengikuti arah terbang mereka.



Tak ada pilihan lain lagi selain mempercayai petunjuk yang sedang disuguhkan oleh alam, hingga Nevan kembali bangkit, dan menyibak dedaunan berserta ranting yang sekiranya menghalangi jarak pandang, sembari meraih sebatang kayu untuk penunjang bobot tubuhnya ketika berjalan.


Sampai beberapa meter dari tempatnya berdiri sayup-sayup terdengar suara yang ia kenal, hingga menimbulkan harapan besar untuknya kembali menyusuri jalanan dihadapannya.


"Shasyania!"


Begitu ucapan itu keluar dari mulut Nevan, hembusan nafas lega juga terdengar setelahnya, ia benar-benar bersyukur melihat keadaan kekasihnya yang tampak baik-baik saja, "Haaahhh... aku begitu takut saat mendengar kabar jika kamu menghilang, hingga rasanya detak jantungku bisa berhenti kapan saja! Aku mencintaimu lebih dari apapun bahkan melebihi hidupku sendiri..."


Shasyania tertegun bercampur haru, ia bahagia laki-laki itu bisa menemukannya, namun ketika menyadari tatapan Nevan perlahan beralih ke sosok di sampingnya. Saat itu pula perasaan resah mulai melanda. Kini tatapan Nevan sulit untuk dibaca, ditambah lagi sebelah tangannya tengah menggenggam sebuah potongan kayu yang berukuran cukup besar.


Dengan sigap Shasyania mengangkat tangannya sebatas dada, "Dia tidak berbahaya... percayalah! bahkan dia juga yang telah menemaniku untuk mencari jalan setapak ini. Terlebih lagi aku mengenalnya, aku tidak berbohong Geonevan, aku sungguh-sungguh mengenalnya!"


Pandangan Nevan kembali teralih pada Shasyania, ada raut yang menginginkan penjelasan lebih dari ungkapan yang baru saja ia dengar.


Deg!


Nevan tersentak dengan pupil mata membesar, cengkraman di tangan kanannya pun semakin erat, saat kakinya sudah terasa lemas namun masih ia paksakan untuk berdiri, lalu melangkah mendekat hingga jarak diantara mereka tidak lebih dari sejengkal jari.


"Kamu menemukanku Geonevan... kamu menemukanku, terimakasih," ucap Shasyania, sembari mengelus pipi Nevan.


Sekilas Nevan mencium telapak tangan Shasyania, sebelum pandangannya menelisik sosok berbulu hitam yang kini ikut mendekat menyambut kehadirannya, bahkan memanjat tubuh Nevan layaknya sebuah pohon.


"Siapa namanya?"


"Nyitnyit!"


"Nyitnyit?" ulangnya, dengan suara yang nyaris menghilang.


"E'emm... Nyitnyit! lucu bukan? aku rasa dia juga menyukai mu!"


Deg!


Jantung Nevan seperti diremas-remas, dan bersamaan dengan itu potongan pembicaraan di masa lalu juga mulai berdengung di telinganya.


"Tidak Vanvan, aku hanya takut ditinggalkan."


"Tenanglah, aku tidak akan meninggalkanmu, itu janjiku!"


"Jika aku tidak memakai pakaian mewah, dan tidak di jaga pengawal, apa kamu masih bisa mengenali siapa gadis yang kamu ajak menghabiskan malam di hutan, Vanvan? Dan jika saja aku bukan Zia, dan kita bertemu dengan keadaanku yang sebenarnya, apa kamu masih mengingatku Vanvan?"


Kilas balik ingatannya juga bercampur dengan obrolannya bersama Ciro, mengenai sosok Shasyania.


"Saya merasa Nona Shasyania ada kaitannya dengan keluarga Zeiqueen."


"Nona Shasyania merupakan pendatang, sebelumnya mereka tinggal di Kota B."


"Saya juga mempunyai informasi tentang nama Nona Shasyania yang sempat diubah."


Nevan menunduk, hantaman demi hantaman terasa menyerang, rasa sakit itu kembali muncul, seperti ribuan belati yang menusuk lalu mengoyak ulu hatinya.


"Sayang kamu kenapa? kamu baik-baik saja kan?"


Nevan melepas kayu yang ia pegang, dan meraih tangan Shasyania, lalu menuntun gadis itu untuk duduk disebelahnya.


"Sayang?" kembali Shasyania bertanya, karena ia belum paham mengenai apa yang tengah Nevan lakukan, sampai.


Drug!


Sebuah batu hitam sebesar kepalan tangan ia taruh tepat di depannya, lalu Nevan mengambil rating kayu yang kemudian ia bentuk menjadi seukuran jari.


"Dulu... puluhan kali aku mencobanya sendiri, aku selalu kembali ke tempat yang sama, mengulang kenangan itu dengan harapan keajaiban akan datang menghampiri, namun kenyataan selalu saja membuatku terjatuh. Tapi kini... apa itu mungkin?" ucapnya lirih.


Sejenak Nevan mengatur deru nafas sambil menelan ludah, sampai sejurus kemudian tangan kirinya ia gunakan untuk menutup mata, lalu tangan kanan ia gunakan untuk menggerakkan sebatang ranting yang seolah-olah berjalan menuju Shasyania.


"Tok...tok..tok! apa kamu di rumah? Aku berkunjung lagi, aku rindu masakan mu. Liat, bahkan aku tidak lagi melompat-lompat seperti yang kamu katakan, karena sekarang.. ketika aku berkunjung maka aku akan mengetuk pintu. Sudah sangat lama... kamu tidak melupakanku kan? aku sangat merindukanmu, tolong jangan lupakan aku! Dan jangan.... jangan menghilang," seperti ada yang mengganjal di tenggorokannya, hingga di kata-kata terakhir suara Nevan tak terdengar lagi.


"Vanvan?"


Nevan melepas tangan kiri yang sedari tadi menutup matanya, dan kini ia melirik ke samping, bahkan bibirnya mulai bergetar, "Ka...kamu di rumah? ka...kamu di sini? hu...hu... kamu ada di sini... bersamaku. Katakan... katakan lagi siapa namaku...."


"Vanvan..."


Satu nama yang diucapkan Shasyania langsung membuat Nevan menekuk kedua kakinya, ia bahagia dan juga sedih hingga memilih untuk menelungkup kan wajah, saat bahunya bergetar akibat tangisannya yang mulai pecah.


"Vanvan? kamu Vanvan?"


"Dia hampir saja diperkosa, lalu saat kami ingin mengamankannya, dia terlebih dulu berlari hingga tergelincir ke bawah jurang, air begitu deras dan dia terbawa arus."


Nevan merengkuh tubuh Shasyania, mendekap tubuh itu begitu erat, "Aku bodoh! aku yang bodoh! aku sangat-sangat bodoh!!! kenapa aku bisa tidak menyadarinya! bahkan saat pertamakali melihatmu! perasaan tak asing mengenai sosok mu sudah ada. Kesan dan getaran yang sama... tapi kenapa aku begitu bodoh... hingga tak bisa menyimpulkan semuanya! Sedangkan Nyitnyit, bahkan hanya sekali melihat.. dia sudah menyadari siapa dirimu! Tapi aku? hu..hu aku justru sibuk mencari pengakuan atas kenangan kita pada Zia! Aku bodoh!" Nevan meraih wajah Shasyania, lalu mencium kening itu penuh perasaan, sebelum kembali mendekapnya erat, "maafkan atas kebodohan ku ini.... Dan sekarang kamu di sini? kamu mengenalku! tidak melupakanku? Hu...hu..huu ternyata selama ini.. akulah yang tidak menepati janji!"


"Bagaimana mungkin?"


Nevan menenggelamkan wajahnya di pundak Shasyania, sambil berkata, "Namaku Vanvan, si tampan penjelajah hutan rimba, aku hidup bebas... sebebas tiupan angin yang menerpa ranting dan daun. Lampuku bintang, kasurku tanah, dan atap ku iyalah langit. Akulah si penguasa hutan ini!" Nevan mengulang dialog yang pernah ia ucapkan dulu, hingga membuat Shasyania tertegun dengan buliran air mata yang sudah membasahi pipi.


"Vanvan..., kamu selamat? tapi tembakan it___," ucapannya terpotong, saat Shasyania merasa suhu badan Nevan mulai meningkat, ia bermaksud untuk mengendurkan pelukan, hingga tangannya bersentuhan dengan area perut Nevan, yang membuat gadis itu terbelalak kaget.


Terasa lembab dan lengket, lalu Shasyania mencari pencahayaan dari sinar bulan hingga ketakutannya semakin menjadi-jadi.


"Darah? ohh tidak-tidak! Vanvan kamu...."


"Aku baik-baik saja! dan akan selalu baik-baik saja! sekarang aku sudah menjadi laki-laki kuat! maka dari itu jangan tinggalkan aku!"


"Tunggu seben__,"


"Jangan tinggalkan aku! aku mohon!! Jangan tinggalkan aku!!!"



Awan berarak menjauh dari sang rembulan, hingga cahaya itu berhasil menyelip di balik rimbunnya hutan belantara, dan hal tersebut membuat Shasyania lebih jelas untuk melihat wajah Nevan.


Laki-laki itu tampak pucat dengan raut cemas, Shasyania berusaha untuk memberi pertolongan pertama, namun Nevan seakan tidak percaya, bahkan berpikir jika ia sampai melepaskan Shasyania, maka gadis itu akan kembali hilang dari hidupnya.


"Sayang tenanglah, aku tidak akan pergi, jadi tolong biarkan aku melihat lukamu dulu, mmh?"


Nevan bergetar bersamaan dengan gelengan kepala, "Jangan tinggalkan aku... jangan tinggalkan aku lagi! aku minta maaf atas segala kejadian buruk yang sempat kamu alami, tapi tolong... jangan tinggalkan aku, jangan lupakan aku! dan jangan membenci ku!!"


.


.


.


.


.


[Yang berkunjung banyak, tapi yang ninggalin jejak bahkan sekedar like pun... dikit nya minta ampun, kadang bingung kalau liat statistik nih novel. Apa mungkin, mereka berkunjung semenit langsung cabut kali ya? Terus yang dibaca apa cobak? atau mungkin lebih tepatnya lagi... mau nyari adegan apa di sini? wkwkwk. Sekali, dua kali, tiga kali, empat kali, lima kali, oooooke lah, tapi berkali-kali hingga puluhan kali? mhhhh.... Jadi capek menerka-nerka wkwkkw.


Umhhh... tapi apa mungkin hal kayak gini biasa yaak? maklum pengalaman pertama, karena dulu di sekolah biasanya cuma nulis cerita liburan semester ngapain aja, dan itupun gak sampek ribuan kata, paling mentok ceritain bangun tidur, gosok gigi terus makan, pokoknya kebanyakan kata terus dan *setelah itu**🤣*


Ahhhh, lupakan keluh kesah di atas, dan sekarang.. untuk para pembaca yang masih setia memberi dukungan, aku berterimakasih, meskipun tidak komen, like pun sangat berarti, setidaknya aku tahu ceritaku sedikit diterima. Jika ada kesalahan dalam kepenulisan mohon di koreksi... ]