Mine ?

Mine ?
40 : Tunangan



"Kenapa dia di sini? bukan...bukan lebih tepatnya siapa yang tengah ia ajak ke sini!" batin Nevan yang masih terlihat memicingkan matanya kearah gadis yang memaki dress berwarna hitam tersebut. Nevan yakin sekali jika orang itu memang benar Shasyania.


"Nevan! lo liat apa sih?" tandas Freya, ia merasa tidak dihiraukan ketika berbicara di tambah lagi sorot mata Nevan memancarkan keterkejutan pada suatu objek.


Nevan yang masih sibuk dengan isi kepalanya benar-benar tidak mendengar apapun. Pandangannya masih menatap lurus ke depan, kaki itu perlahan berayun meninggalkan Freya.


"Etttsss mau kemana lo?" seseorang menahan bahu Nevan hingga ia membalikkan badan menatap sang pelaku.


"Dari tadi di panggil malah diem aja! Budek lo sekarang?" sindirnya keras, "Tunggu...tunggu kenapa sama Freya nih? Pujaan hati lo mana? gue jauh-jauh datang kemari buat liat sejauh mana progres lo! tapi apa ini! hasilnya sungguh sangat mengecewakan!" imbuhnya sembari menggelengkan kepala.


Nevan berdecak bibir, perasaan jengkel jelas terasa saat ia mengetahui kehadiran seseorang di hadapannya ini, namun ia juga belum sepenuhnya lepas dari rasa keterkejutan saat melihat Shasyania, hingga ia kembali mengedarkan padangan kearah di mana ia menangkap sosok itu, namun hasilnya tidak ada lagi Shasyania di sana.


"Sial apa tadi gue hanya menghayal!" batin Nevan.


"Woi selain budek lo juga mulai gagu ya? atau jangan-jangan lo tuli juga?" Sedikit drama laki-laki itu menutup mulut.


"BERISIK!"


"Weh calm down bro! calm down!" ucapnya sambil menjulurkan kepalan tangan dan bermaksud agar di sambut Nevan.


"Nah gitu dong! gue cuma bertanya lagian yang gue tanya juga fakta kan? Masih ingat lo beberapa bulan lalu? dengan bangganya lo menyatakan jika gadis itu bakalan jadi milik lo! dan gue juga tahu tujuan utama lo ke Paris bukan untuk nonton konser tapi melainkan untuk meluluhkan hatinya kan!" tebakan Guilio membuat Freya melotot tidak percaya, bibir bawahnya bahkan sampai bergerak tidak karuan.


"Jadi gimana lo dapetin dia apa enggak?" tanyanya dengan ekspresi mengejek, "mmhhh sikap diam lo menjawab semuanya! dan seorang Geonevan kembali ke rancangan semula! Tidak banyak bicara dan selalu menggunakan matanya untuk menakuti orang!"


"Bisa diem gak? mulut kayak perempuan aja bangga!" cela Nevan.


"Cihh! gue akan diam saat lo mengakui jika analisa gue yang benar! semua omongan gue waktu itu benar! dan lo yang keliru!" pungkas Guilio, "tapi gue masih penasaran kenapa lo ditolak! Bukannya seorang Geonevan adalah orang yang memiliki segalanya dan lo selalu membanggakan itu... bahkan lo mengatakan apapun yang berasal dari pikiran lo maka itu merupakan kebenaran hakiki! Tapi sekarang apa? Lo salah!" cibirnya penuh semangat karena ini kali pertama ia mendapatkan kesempatan untuk meremehkan pemikiran seorang Geonevan.


"Wah siapa nih yang di sukai Nevan?" tanya Freya yang berusaha bersikap biasa saja namun sebenarnya merana.


"Lo tahu Frey! ni orang beberapa bulan lalu jatuh cinta dan dia tiba-tiba berubah menjadi cerewet! Telinga gue sampek panas dengerin kesombongan dia! Tapi sekarang apa? ZERO!" kelakar Guilio menertawakan Nevan yang notabenenya masih menjadi sepupunya.


"Bener Van? Bahkan lo ke Paris hanya untuk dia? terus kelanjutannya gimana? Jangan malu Van! karena penolakan dalam cinta adalah hal biasa!" tutur Freya yang masih berusaha mengulik informasi. Ia begitu penasaran dengan sosok yang berhasil membombardir hati seorang Geonevan yang terkenal sepanas matahari, sekeras batu dan sedingin es di kutub utara.


"Ya jelas malu lah apalagi sama gue! Lo gak tahu aja ungkapan dia kayak apa! Jika lo denger dan liat sendiri gue yakin lo gak akan percaya jika itu Nevan! Makanya gue kesini mau liat hasilnya... eeh ternyata dia bisa gagal juga! Cinta pertama yang pupus, berdebu dan menguap WUUSSSSSS!"


Sedikitpun Nevan tidak tersulut emosi ia malah santai meneguk minuman dan tangannya yang lain dimasukkan ke dalam saku celana. Namun ketenangan itu berangsur-angsur menghilang saat kedua bola mata itu kembali menangkap sosok Shasyania. Dan ia yakin ini bukanlah sebuah khayalan belaka.


"Sial!" umpatnya.


"Weh mau ke mana lo?" cegah Guilio.


"Lo masih minat sama mobil tua gue kan?" Mendapat pertanyaan itu membuat Guilio mengangguk cepat.


"Ambil tapi lo harus enyah dari hadapan gue sekarang!"


"Penawaran yang menarik! baiklah gue akan pergi! Dan selamat bersenang-senang bersama gadis baru lo!" goda Guilio dengan tatapan nakal kearah Freya.


Gadis itu tersenyum simpul hingga menundukkan kepala, ia merasa jika Nevan hanya ingin bersamanya tanpa ada gangguan, namun saat ia mendongakkan kepala, Nevan tak lagi di sana. Laki-laki itu berjalan menjauh dengan langkah tergesa-gesa dan bisa Freya liat sendiri jika tangan Nevan berusaha menggapai sebuah tangan lainnya.


"Dia siapa?" lirih Freya tak terima, "tunggu wajahnya seperti tidak asing!" imbuhnya sembari mengingat-ingat kembali.


"Geonevan?" Shasyania begitu terkejut saat Nevan menuntunnya untuk keluar dari ruangan tersebut. Tarikan dari laki-laki itu tidaklah kasar justru terasa sangat lembut. Jari-jarinya memasuki ruas tangan Shasyania, dengan sangat erat ia menautkan kedua tangan tersebut.


Berdiri di lobby Hotel dan memanggil salah satu karyawan.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan Muda?" ucap salah satu karyawan. Sudah menjadi hal tabu untuk orang-orang di sana mengenali siapa itu Geonevan, semua orang tahu dia merupakan calon pewaris dari keluarga Eldione.


"Siapkan mobil!"


"Siap Tuan Muda!"


Sampai mobil datang Nevan masih menggenggam tangan Shasyania, saat Shasyania berusaha melepaskannya justru Nevan malah semakin mengeratkan pegangan itu.


Kaitan tangan tersebut baru terlepas ketika Nevan membukakan pintu mobil untuk Shasyania dan ia terlihat mengitari mobil untuk mengambil alih kemudi.


Tidak ada pembicaraan di antara mereka, bukan karena sengaja namun lebih kearah takut untuk berucap, sampai akhirnya Nevan yang membuka mulut.


"Dapet undangan dari mana?"


Tidak mendapat jawaban dari Shasyania membuat Nevan melirik ke sebelah kiri dan terlihat gadis itu tengah kebingungan.


"Lo lapar kan?" tanya Nevan yang terkesan mengalihkan pertanyaannya yang sebelumnya.


"Iyaa...."


"Kita makan ya?"


"Tapi aku harus balik ke tem...," Shasyania berhenti berbicara ketika Nevan menatapnya serius.


"Tidak...tidak aku tidak bisa mengatakannya! sebaiknya aku chat Kak Marline saja!"


"Kenapa? ada yang perlu di jelaskan?"


"Tidak...tidak."


"Baiklah! gue bosen di sana jadi temani gue makan ya?"


"Iyaa...." Sebenarnya Shasyania sangat bingung dengan tingkah laku Nevan, laki-laki itu menjadi sangat berbeda semenjak kejadian di malam mengerikan beberapa hari yang lalu.


"Shasya kamu tidak boleh berburuk sangka!" gerutu gadis itu dalam hati.


Kendaraan tersebut berhenti di salah satu tempat makan yang terkenal akan seafood nya yang begitu enak.


"Tunggu!" cegah Nevan saat melihat Shasyania berusaha membuka pintu.


Nevan bersikap begitu manis, ia membukakan pintu untuk Shasyania dan dengan sengaja kembali menggenggam tangan gadis itu.


"Jangan seperti ini Geonevan!"


"Saat ini lo tunangan gue Shasya...."