Mine ?

Mine ?
106 :Terbalaskan



Sambil menunggu kedatangan suami dan anaknya, Zivana telah memesan dua cangkir minuman hangat, sembari mengajak Shasyania berbincang santai mengenai dunia fashion, hingga lambat-laun Shasyania mulai leluasa untuk mengobrol dengannya, tak lagi berjarak akibat status atasan dan karyawan yang tersemat diantara mereka.


"Kamu gadis yang menyenangkan Shasyania, saya suka berbicara denganmu, dan saya yakin, jika orang mengenalmu hanya sebatas melihat, mereka pasti berpikir jika kamu itu adalah gadis yang angkuh, dan pemilih.. tapi ketika mereka sudah mengenalmu lewat obrolan yang terjalin diantara kalian, maka sudah dipastikan kamu akan mencuri perhatiannya. Terlepas dari penampilan yang kamu miliki!" pujinya, "and as you know.. kebanyakan orang menilai hanya dari luar. Laki-laki mungkin saja langsung suka, tapi perempuan? belum tentukan? dan pastinya itu membuatmu kesulitan untuk mendapat seorang teman, bukan?"


"Iyaa Mrs Zivana, betul.. cukup sulit, karena seringkali kesan pertama yang mereka beri, mereka selalu menganggap saya sebagai ancaman, dan ketika sebagian lainnya memulai obrolan, mereka selalu membahas topik yang serius, dan itu membuat saya cepat bosan, padahal humor dan pembicaraan ringan, justru itu yang diperlukan saat ingin mengakrabkan diri...."


"Ahaha sudah saya duga!! Tapi jangan salahkan mereka Shasyania, karena semua itu didukung wajah dan penampilan mu! siapapun akan beranggapan begitu ahahaa! sama halnya seperti yang saya bilang tadi, jika mereka tidak langsung mengobrol denganmu.. dan membuatmu banyak bicara, maka mereka tidak akan pernah mengenal dirimu sesungguhnya!"


"Iyaa, benar sekali hehe...."


Zivana senang karena ia bisa menimbulkan senyum di wajah gadis itu, setidaknya ia mampu membuat Shasyania sejenak melupakan masalah yang tengah membelenggu pikiran dan hatinya.


Hingga keakraban diantara mereka semakin terjalin erat, sampai-sampai tak ada yang menyadari, jika sesosok pria sudah berada diantara mereka berdua.


"Hay... apa aku ini hantu? sampai tidak ada yang menyadari keberadaan ku, mhh?" guraunya.


Mengenali suara tersebut, membuat Zivana langsung menyambut kedatangan sang pujaan hati, "Honey...," sapanya lembut, sembari menciumi Deron, "putra tampanku mana? Dia ikutkan?" sambungnya, dengan pandangan mengedar.


Seketika Deron teringat akan putra semata wayangnya Nevan, hingga refleks ia membenturkan tangannya ringan ke area dahi, "Honey, sepertinya... di sini akan ada sedikit ledakan emosi!"


"Hah... maksudmu apa honey?"


"Mmhh.. itu, maksudku ummm, putra tampanmu... dia memang ikut, tapi dia tidak sendiri... dia juga membawa ledakan amarahnya, jadi persiapkan diri secepatnya," jelas Deron tersendat-sendat, seraya mengusap tengkuknya.


"Whaaattttt? apa yang telah kamu bicarakan hingga membuatnya seperti itu?"


Secepat kilat Deron menangkup tangan Zivana dan menciumnya, "Aku salah honey... tapi aku tidak sengaja, seriuuuss!! tadi.. mhh saat kami menuju ke sini, putra kita menanyakan tentang rekan bisnis yang akan kita temui hari ini... dan aku... aku mengatakan jika orang tersebut merupakan seorang gadis cantik, yang ingin kau kenalkan padannya. Aku hanya bergurau, tapi putramu itu menanggapinya serius, sangat-sangat serius!! Dan sekarang kamu bisa menebak sendirikan, bagaimana reaksi putra kita selanjutnya."


Zivana menaikkan alisnya, seraya memijat pangkal hidung yang ia rasa berdenyut, "Terus sekarang dia ada di mana? kenapa belum sampai juga?"


"Putramu masih di kamar mandi, tadi seseorang tak sengaja menabraknya, hingga tumpahan kopi sedikit mengotori bajunya."


Zivana beralih menatap Shasyania dengan tatapan sendu, tak bisa ia bayangkan jika gadis yang tak bersalah itu harus menerima amukan putranya, "Shasya... maaf, tapi ini benar-benar kesalahan yang tak disengaja...."


Shasyania belum sepenuhnya paham akan situasi ini, hingga kerutan di kedua alisnya seperti meminta penjelasan lebih dari Zivana.


"Jadi begini Shasyania.. saya memiliki seorang putra dengan tingkat emosi menyamai gunung merapi, meledak-ledak tiada henti, dan hal buruknya sekarang adalah.. ia salah paham mengenai pertemuan kita ini," jelas Zivana, sembari memperlihatkan tatapan mendelik kearah Deron, mengisyaratkan agar suaminya itu ikut andil untuk menjelaskan.


Namun, pria yang tengah ia ajak bermain telepati bukannya mengerti tapi malah terperangah menatap Shasyania, sekitar lima detik Deron masih terdiam dengan isi pikiran menerka-nerka, hingga Zivana menyiku lengannya, "Aku tahu honey.. wajahnya tidak asing bukan? tetapi kita tidak memiliki waktu untuk membahasnya sekarang! Karena tugasmu saat ini adalah menjelaskan tentang ketidaksengajaan yang sudah kamu timbulkan.. sebelum putra kita sampai ke ruangan ini!" titahnya.


Zivana mengerti kenapa Deron sampai tertegun melihat wajah Shasyania, karena memang tidak dapat dipungkiri lagi, jika suaminya pasti sama seperti dirinya, yang merasa jika gadis itu lumayan mirip dengan mendiang Medea, sosok ibu tercinta yang sudah terlebih dahulu berpulang meninggalkan mereka.


"Ohhhh maaf, saya sedikit terbawa suasana. Dan yaaa, kenalkan.. nama saya Deron, senang bertemu denganmu em'm ....." Deron melirik Zivana untuk mendapat jawaban, karena ia tidak tahu nama gadis remaja itu.


"Namanya Shasyania."


"Yaa, senang bertemu denganmu Shasyania, dan sebelumnya saya juga ingin meminta maaf atas kesalahpahaman yang telah saya ciptakan! Sama seperti yang dijelaskan istri saya tadi, putra kami akan datang! Dan inti dari perkataan yang ingin saya sampaikan sekarang adalah.. apapun yang dikatakan oleh putra kami, jangan di masukkan ke hati yaa... meskipun ucapannya sangat pedas, menusuk, dan meletup-letup layaknya minyak goreng terkena ikan asin! tapi semua itu ada alasannya Shasyania, karena putra kami begitu mencintai tunangannya, dan sekarang dia mengira jika kami berdua ingin mengenalkannya pada.. gadis lain," jelas Deron, sembari menunjuk Shasyania menggunakan dagu, ingin menyampaikan bahwa gadis lain yang ia maksud adalah dirinya.


"Saya?" tanya Shasyania, memperjelas pembicaraan diantara mereka.


"Iyaa... kamu! Pokoknya nanti anggap saja omongan putra kami seperti angin lalu, berhembus tapi tak berujud! kamu tidak perlu memperdulikannya. Bila perlu jangan tanggapi dia! Lagian itu cuma salah paham bukan? selebihnya biar kami yang urus! Tidak akan terjadi apapun padamu, dan setelah emosinya mereda, kami pasti akan menjelaskan kesalahpahaman itu padanya, tapi sekarang.. siapkan dulu mentalmu yaaa! Dan silahkan duduk kembali Shasyania, kita harus bersikap tenang.. oke?" pinta Deron, sambil mengulas senyum kearah Shasyania dan juga Zivana.


Dan kini ada sebuah firasat yang menyusup ke relung hati Zivana, hingga ia berkata, "Honey... bersiaplah, karena dalam hitungan kelima.. dia akan datang!" tebak Zivana.


Namun Deron menyanggah tebakan istrinya, karena sekarang ia lebih yakin dengan intuisinya sendiri, "Kali ini kamu keliru honey, karena dia akan datang sekarang jug__,"


Belum sempat Deron menyelesaikan perkataannya, karena Nevan sudah menampakkan diri, ia berdiri tegap dengan arah mata menatap kedua orang tuanya, lalu beralih menatap punggung gadis yang masih duduk membelakanginya.


"Apa-apaan ini Mommy?"


"Heiii...hei, tenang dulu Nevan!"


Suasana berubah panas, saat Nevan terus saja mengeluarkan tatapan tidak terima.


Laki-laki remaja itu menggeleng tidak percaya, dengan posisi yang masih berdiri, "Tenang? tidak! harus beberapakali lagi aku menjelaskannya Mommy? Sampai kapanpun aku tidak akan menerima siapapun!!! Aku ini sudah memiliki tunangan! Aku mencintainya!! aku tidak ingin mengecewakan dia! meskipun hanya sekedar bertemu atau bertegur sapa dengan gadis-gadis yang ingin Mommy dekatkan padaku!!! Aku tidak sudi!" tegas Nevan dengan suaranya yang lantang, "aku harap tidak ada lagi perkenalkan-perkenalan semacam ini. Jadi stop!!! Hal seperti ini hanya membuatku merasa bersalah, bahkan berada di sini membuatku sesak, memikirkan bagaimana kalau tunanganku sampai mengetahui jika orang tuaku sendiri berniat mendekatkan ku dengan gadis lain. Tidak bisa aku bayangkan Mom!"


"Nevan, tenangkan dirimu dulu.. kamu salah paham sayang, Mommy tidak bermaksud seperti itu, seriuuuusss! dan mengenai gadis ini, dia itu karyawan Mommy. Jadi jangan membuatnya semakin takut Nevan!" bujuk Zivana, apalagi ketika ia melihat Shasyania hanya diam dengan mata memerah, Zivana merasa sangat bersalah, bukanya memperbaiki suasana hati Shasyania, ia malah memperburuknya dengan tuduhan yang dilayangkan putranya.


Nevan mendesis pelan, "Mommy kira aku percaya? Tidak Mom!"


"Nevan duduk! kita bicarakan ini baik-baik!" titah Deron.


"Tidak! sebelum dia pergi!" tunjuk Nevan pada gadis yang masih membelakanginya.


"Jaga sikapmu Nevan!" bentak Deron.


"Jika aku salah, aku pasti akan meminta maaf, tapi di sini aku hanya bersikap selayaknya laki-laki yang harus menjaga perasaan pasangannya! dimanapun dan kapanpun!! Dan seharusnya Daddy dan Mommy sudah tahu.. bagaimana reaksiku akibat tindakan kalian ini!! Maka jangan salahkan sikapku. Sekarang pilih saja, Mommy dan Daddy yang membawanya keluar.. atau aku panggilkan satpam untuk mengusirnya dari sini!"


"Jangan bersikap seperti itu Nevan...."


"Tidak! karena justru sikapku memang harusnya seperti ini.. agar Mommy dan Daddy tidak mengulanginya lagi!" tegasnya, yang tak bisa diganggu gugat.


Akhirnya Zivana menyerah untuk membuat Nevan luluh, hingga dengan sangat berat hati ia harus mengatakan ini, "Maaf atas kejadian yang kurang mengenakkan ini Shasyania, kami tidak bermaksud untuk menyudutkan mu. Sekali lagi maafkan kami Shasyania...," sendunya.


Kini pancaran amarah yang terlukis di wajah Nevan kian berubah menjadi raut keterkejutan, tubuhnya bak kesetrum. Wajahnya pun mendadak menjadi pucat pasi setelah mendengar nama yang disebutkan Mommy nya.


"Sha-sya-nia?" ulangnya terbata-bata, dengan suara parau yang hampir tidak terdengar. Hingga perlahan namun pasti Nevan semakin mendekatkan diri, dan begitu ia melirik ke samping, maka jelaslah kini siapa sosok yang masih duduk tersebut.


Deg!


Mata Nevan membulat sempurna, saking paniknya ia bahkan sampai memundurkan langkahnya, dan tiba-tiba kembali mendekat untuk menarik sebuah kursi, lalu ia duduk manis di samping Shasyania.


Laki-laki itu sibuk menggerutui kesalahannya, ia menyesali tindakan yang ia lakukan tadi, hingga reaksi tersebut memancing rasa curiga di benak Deron dan juga Zivana.


"Kenapa dia duduk? dan kenapa juga ekspresinya seperti anak kecil yang baru saja ketahuan makan coklat di belakang orang tuanya, lalu dia kena marah.. dan orang tuanya mengancam tidak akan menga__,"


"Honey... asumsimu terlalu panjang! dipersingkat saja!" sergah Zivana.


"Kenapa putra kita seperti anak ayam yang baru saja kecebur di selokan?"


"Whaaattttt?" Zivana memperlihatkan tatapan kesal, di sela-sela bisikan mereka.


"Hehe.. bercanda honey, bercanda.. tapi kenapa ekspresinya berubah seperti itu?"


"Aku rasa... Nevan terkesima saat melihat Shasyania!"


Dan ucapan Zivana membuat Deron terkekeh, hingga mulai timbul niatan untuk menggoda putranya, "Kenapa Nevan? kenapa kamu diam? bukannya tadi kamu bersikukuh sekali ingin mengusirnya? kenapa tidak jadi? Apa norma-norma kesetiaanmu mulai memudar Nevan?"


Seperti tidak ingin melewatkan kesempatan yang langkah, maka Zivana ikut bergabung untuk mengaduk-aduk perasaan putranya, "Heii Nevan... mana janji setiamu, yang selalu kamu junjung tinggi itu? Tunanganmu akan sangat kecewa sekali Nevan, seandainya dia tahu jika kamu mudah sekali berpaling darinya! Ini tidak baik Nevan... sangat-sangat tidak baik! karena di keluarga Eldione SE-TI-A itu harga mati loh...."


Dan itu membuat Zivana lebih tertantang, "Ayoo Shasyania... kita keluar dari ruangan ini!" ajaknya.


Nevan langsung bergegas menggenggam tangan Shasyania.


"Tidak Mom! jangan!!"


"Essst...esttt... apa-apaan itu sayang," cibir Zivana, dengan manik mata menunjuk kearah tangan putranya, "itu tidak sopan lohh Nevan! menggenggam tangan seorang gadis yang belum kamu kenal! Tadinya ngusir-ngusir, tapi sekarang kok malah nahan-nahan!"


Nevan semakin mengeratkan tautan di ruas jari Shasyania dan berseru, "Jangan membawanya pergi Mom! Setia juga harga mati untukku!! Aku sangat mencintai tunanganku, jelas!! jadi mana mungkin aku membiarkannya pergi!!! karena Mommy harus tahu, gadis di sampingku ini... dia Dinesclara Shasyania... dia tunanganku Mom!"


Zivana dan Deron kompak membuka mulut membentuk huruf O, mereka masih mencerna kembali ucapan putranya. Bukan tanpa sebab, hanya saja ungkapan tersebut begitu mengejutkan untuk mereka berdua.


"Dia tunanganmu?"


"Shasyania?"


"Iyaa, dia!"


Deron melirik istrinya yang masih tertegun, "Honey... berhentilah menganga seperti itu, nanti lalat masuk, dan membuatmu tersedak!" ucapnya, untuk sekedar mengurangi rasa terkejut yang ia rasakan.


Tenggorokan Zivana terasa kering, hingga ia terlebih dahulu meneguk minuman di sampingnya, dan setelah itu barulah ia melayangkan sebuah pertanyaan, "Kenapa kamu tidak pernah mengenalkannya pada kami sayang? dan bukannya dulu kam__," Zivana mengurungkan niatannya untuk bertanya tentang alasan dibalik Nevan yang tiba-tiba menerima Shasyania, karena jika di pikir-pikir, itu tak lagi penting, asal hubungan mereka memang dijalani atas dasar cinta, "maksud Mommy, kenapa kamu baru jujur?"


"Sudahlah honey... intinya kita sudah mengetahuinya sekarang. Dan wowww, kamu sukses membuat Daddy terkejut Nevan...."


Pandangan Zivana kini mengarah pada Shasyania, gadis yang masih terlihat menunduk, menatap haru tangannya yang masih dipegang Nevan, "Shasyania, apa yang dikatakan putraku tadi, apa itu benar?"


"Iyaa Mrs Zivana."


"Berarti... dia orang yang telah membuatmu ...." Zivana menggerakkan telunjuknya naik turun di area mata, dan itu membuat Nevan berpikir isyarat apa yang tengah Mommy nya katakan.


"Iya Mrs Zivana," sahut Shasyania, membenarkan tebakan tersebut.


Zivana tersenyum, dan ia masih ingin mempertanyakan sesuatu yang lebih pribadi lagi, "Shasyania... apa kamu mencintai putraku?"


Ada hal menarik saat pertanyaan tersebut dilontarkan oleh Zivana, Shasyania yang ditanya, tapi justru Nevan yang tampak gugup. Terlihat jelas, dari tangannya yang semakin erat menggenggam jemari Shasyania.


Gadis itu tersenyum menatap Zivana, "Di hari pertama saya melihatnya.. di kediaman Eldione, dia begitu menawan.. saat mengayunkan satu-persatu kakinya menyusuri anak tangga, saya masih ingat betul, satu tangannya ia masukkan ke dalam saku celana, dan satunya lagi bergerak sesuai hentakan kakinya. Dia tidak tersenyum.. bahkan tidak sedikitpun, tapi entah kenapa, saya tidak bisa, untuk tidak menatapnya, sampai akhirnya saya sadar.. jika di detik itu juga, laki-laki itu telah berhasil mencuri perhatian saya. Sampai hari-hari pun berlalu, dia menjelma layaknya pahlawan dalam hidup saya, dia selalu ada disaat saya membutuhkan uluran tangan, dia membuat saya merasa nyaman dan aman, hingga perasaan itu kian hari kian bertambah.. sulit dibendung. Dan iya Mrs Zivana, saya mencintai putra anda.... Geonevan!"


Jantung Nevan berdetak lebih cepat, layaknya seorang atlet yang tengah berlomba. Dan seperti seorang aktor yang sedang memenangi piala Oscar, begitulah perasaannya saat ini, bahagia tiada tara.


"Heii Nevan... kondisikan ekspresimu itu!" sergah Zivana, lalu beralih menatap suaminya, "honey, sebaiknya kita keluar sekarang, biarkan kedua remaja ini menyelesaikan permasalahan mereka...."


"Permasalahan? memangnya apa yang terjadi?"


"Permasalahan yang membuatku ingin menjewer telinganya! Dan putra tampanmu ini harus mempertanggung jawabkan kesalahannya! karena dia telah membuat Shasyania kita menangis!"


Zivana berdiri, lalu mendekat kearah Shasyania dan memeluknya, "Panggil aku Mommy! karena sekarang kamu itu putriku!" ucapnya, lalu ia juga mulai membisikkan sesuatu, "Shasyania... lupakan saran Mommy tentang perselingkuhan itu yaa, karena Nevan tidak mungkin selingkuh, Mommy bisa menjamin itu.... sekarang selesaikan masalah kalian okee?"


Shasyania mengangguk setuju, dan membalas pelukan Zivana.


"Dan ingat Shasyania panggil aku Daddy! Waaaah akhirnya aku memiliki seorang putri!" serunya, "mhhh baiklah, sekarang perbaiki masalah kalian, dan selamat menikmati makan siang...," pamitnya, seraya menggandeng tangan sang istri untuk ia ajak melenggang pergi.


.


.


.


Sepeninggal Deron dan juga Zivana, Nevan langsung memangkas jarak diantara mereka, dan beberapakali ia mencium tangan Shasyania yang masih digenggamnya, "Maaf... aku minta maaf atas segala kesalahan yang pernah aku bu__,"


Ucapannya terpotong, ketika Shasyania mendaratkan wajahnya di bahu Nevan, ia memeluk laki-laki itu begitu erat, bahkan tangannya mencengkram kuat bagian belakang baju Nevan.


"Kamu milikku Geonevan! kamu milikku! aku yang salah, aku yang harusnya minta maaf...."


Dua rasa menjadi satu, itulah yang kini dirasakan oleh Nevan, ia bahagia ketika Shasyania mengklaimnya sebagai miliknya, namun ia juga sedih ketika gadis itu mengatakannya dengan isakan tangis.


"Iyaaa, aku milikmu sayang, aku sangat mencintaimu...."


Nevan meraih tangan Shasyania, ia berniat untuk mengendurkan pelukan gadis itu, dan menatap wajahnya dengan tetapan penuh cinta, sembari mengusap-usap jejak air mata yang masih tersisa, lalu Nevan mencium kening Shasyania cukup lama, "Jangan mendiami aku lagi ya? aku gak suka yank! Itu penyiksaan namanya!!"


Shasyania memejamkan mata saat bibir Nevan masih menempel di keningnya, hingga benda itu terlepas, Shasyania tidak langsung menjawab pertanyaan Nevan, karena terlebih dahulu ia kembali memeluk laki-laki dihadapannya itu, "Iyaa, tidak lagi.. aku mencintaimu! Aku mencintaimu Geonevan!"


"Yesssss... ternyata perasaanku terbalas! berarti habis ini... ciumannya harus yang lama yaaa?"


Shasyania terkekeh, dan sekilas mengecup pipi Nevan.


"Sayaaaaaang!" protes Nevan.


Cup!


Sekali lagi ciuman itu mendarat di pipi Nevan.


"Di bibir yank! di bibir!"


"Iyaa sayang iyaaa, tapi jawab dulu pertanyaan aku.. kenapa handphonenya gak bisa dihubungi tadi?"


.


.


.


...****************...


"Honey... ini kita mau bertemu siapa di sini?"


"Bertemu Psikiater, kita perlu mendengar kesaksiannya."


"Maksudmu? tunggu, bukannya Nevan baik-baik saja, kenapa kita harus bertemu dengan Dokter Jenni?"


"Bukan Dokter Jenni, honey... melainkan Dokter Violin, dia pernah merawat putri kita!! Sebagai orang tua yang baik, kita mesti mengetahui kejadian apa yang pernah dialami Shasyania! Sebelumnya aku sudah berniat untuk melindunginya, dan saat aku mengetahui jika dia adalah tunangan putra kita, maka keinginanku menjadi semakin besar. Kita harus melindunginya! Dia putri kita sekarang!"


"Apaaa? Shasyania juga pernah mengalami trauma?"


"Kita akan mengetahuinya sebentar lagi, honey...."