
📍Jangan lupa tinggalkan Jejak kalian disini, vote dan comment selagi membaca.
***
Dara sudah berada didepan apartemen yang Rio perintahkan, Menghela nafas panjang dan mencoba tersenyum.
Dara memencet Bel dan menunggu Rio yang akan keluar dari dalam apartemen nya.
Dara merasakan seperti ada yang membuka pintu, dilihat nya Rio dengan rambut yang masih basah dengan kaos polos yang menutupi tubuhnya.
"Kau tertidur?" tanya Rio dingin.
"Tidak Tuan, Pekerjaan ku banyak tadi. Jadi aku sedikit terlambat"
"Jangan banyak alasan, dan cepat masuk" ucap Rio.
Dara mengangguk dan mengikuti langkah kaki Rio didepannya, Dara yang tersuguhkan dengan kemewahan apartemen Rio itu hanya bisa berdecak kagum.
"Duduk" Perintah Rio.
Dara duduk di sofa lembut, pantatnya merasakan kenyamanan saat menduduki sofa itu, Yatuhan ini nyaman sekali.
Rio berjalan kearah lemari es dan mengambil dua kaleng bir dan memberikan nya pada Dara.
Dara menerima nya dan menatap kaleng bir itu dengan diam.
"Kita akan melakukannya malam ini" ucap Rio.
Dara seketika menoleh dan sedikit terkejut, Menelan ludahnya dan berusaha bersikap santai.
"Aku tidak suka bayi tabung, atau apapun itu"
"Aku mengerti Tuan"
"Bagus"
Rio berpindah tempat, yang semula berada di bangku single sekarang berada di samping Dara.
Dara diam gugup setengah mati merasakan sensasi aneh yang menjalar ditubuhnya saat sangat dekat dengan Rio.
Rio menegak isi kaleng bir dengan sekali tegakan, dan menatap kaleng itu bentar lalu menatap Dara.
"Apa kau pernah melakukannya?" tanya Rio.
Dara yang bingung hanya tergagap saat hendak menjawab, Jangankan melakukannya mempunyai pacar saja Dara belum merasakannya.
"Aku? B-belum Tuan" jawab Dara.
"Belum? Benarkah?"
Dara mengangguk mengiyakan, Rio menatap Dara dengan intens dan mengangguk yakin.
"Belum ada yang mau melakukannya denganmu atau memang tidak ada?" tanya Rio.
"Apa aku harus menjawab pertanyaan itu?"
Rio menatap Dara "Tentu saja"
"Belum ada Tuan" ucap Dara.
Rio memandang Dara lama dan tatapan Rio beralih ke bibir ranum Dara yang pink, Rasa akan ingin mencium telah Rio dapatkan.
Rio mendekat dan meraih tekuk Dara lalu mempertemukan bibir mereka, Dara membelakan matanya saat merasakan bibir Rio berada diatas bibirnya.
Rio mencoba untuk masuk kedalam mulut Dara, Dara yang belum juga membuka mulutnya itu membuat Rio kesal.
Rio berhenti mencium Dara dan menatap manik Dara dengan jarak dekat.
"Buka mulutmu jika aku sedang menciumu" perintah Rio.
Dara mengangguk dan merasakan lagi bibir Rio yang menyapa bibirnya, Rio yang masih mencoba masuk itu tersenyum saat merasakan mulut Dara yang terbuka.
Dengan bebas Rio memainkan lidahnya didalam mulut Dara, mengabsen mulutnya satu satu dan menjadikan ciuman itu semakin dalam.
Tangan Dara mulai beranjak keleher mulus Rio, meremat rambut lembut rio dengan halus, Rio yang semakin bergairah itu mengangkat Dara keatas pangkuannya dan menempelkan tubuhnya.
Suara decapan demi decapan memenuhi ruangan tengah apartemen Rio.
Setelah mulut, Rio menjalar kearea leher Dara yang putih, mengigit serta menghisap yang membuat dara tak sanggup menahan desahannya membuat Dara meloloskannya.
Tangan Rio tak diam saja, Tangannya pun mulai memainkan kancing baju Dara, Membuka kancing nya sembari memberikan tanda merah di sekitar leher Dara.
Saat sudah lepas kancing kemeja yang dara pakai, Benda milik Dara terpampang dengan jelas sekarang, Rio yang melihat itu hanya menelan ludahnya dan menatap Dara yang terlihat sangat malu.
"Kenapa dengan wajahmu?" tanya Rio dengan suara seraknya.
Dara yang mendengar suara serak Rio menjadi merinding, Dia menatap Rio yang berada didepannya dan menggeleng.
"Tidak apa apa Tuan"
Rio tersenyum menatap wajah Dara yang menurutnya memang cantik dari bawah sini, hanya saja Rio enggan mengakuinya.
"Bisa buka bra mu?" ujar Rio.
Dara menatap Rio yang juga menatapnya, Dengan cepat Dara mengalihkan tatapannya.
"Bra mu sayang" ucap Rio.
Pipi Dara bersemu merah saat mendengar Rio memanggilnya dengan panggilan sayang, Astaga jantungnya seperti akan melompat keluar.
Dara membuka bra hitam miliknya dengan pelan, Rio memperhatikan gerakan Dara didepannya dengan senyuman, Lalu terkekeh saat melihat Dara yang sudah melepaskan bra nya dan menunjukan payudara putihnya pada Rio.
"Kenapa Tuan tertawa?" tanya Dara.
"Kau lucu, Sangat penurut. Aku suka"
"Ha?"
Tak butuh waktu lama Rio kembali mencium bibir Dara dengan sigap, memasukan lidahnya dan mencoba mengabsennya, dan juga tangannya tak henti hentinya meremas payudara Dara.
Rio memberhentikan kegiatannya dan menatap manik Dara dengan dalam.
***
Suara ketukan pintu terdengar dan pelayan pun membukakan pintu untuk tamunya, Seorang wanita cantik berdiri didepan pintu dan mencoba untuk menyunggingkan senyumannya hingga sang pelayan bertanya.
"Maaf non? Cari siapa?"
"Apa Rio ada?"
"Tuan Rio tidak disini non"
Alis wanita menaik satu, dan ia melihat seorang wanita paruh baya yang terlihat masih segar dan cantik menyapanya.
"Siapa bi?" tanya Sarah
"Hai Tante" ucap wanita itu.
"Kamu? Jane?" terka Sarah
"Iya ini aku Jane, tante" ucap Jane.
Sarah menuntun Jane masuk kedalam, didalam sudah ada Jeje dan Jeni, Sarah menyuruh mereka untuk menyapa Jane dan Jane tersenyum pada kedua gadis cantik itu.
"Bagaimana kabar Ayahmu?"
"Baik Tante"
"Sayang nya Rio tidak ada disini"
"Rio dimana tante?"
"Dia memiliki apartemen sendiri" ucap Sarah.
Jane hanya menganggukan kepalanya dan mengobrol dengan Sarah, Niatnya ingin berjumpa dengan Rio malah jadi berakhir dengan obrolan tua Sarah.
***
"Tuan A-aku" cicit Dara.
Rio menatap Dara yang berada dibawahnya, Lampu redup menambah kecantikan yang Dara miliki, Membuat Rio jadi semakin betah memandangnya.
Rio tersenyum menatap wajah gadis dibawahnya, yang sebentar lagi bukan gadis.
"Kau takut?" tanya Rio.
"Bu-bukan seperti itu, aku hanya"
"Aku akan bermain lembut" ucap Rio menatap manik indah Dara.
Dara mengangguk dan memantapkan keputusannya, Dia harus melakukan ini demi biaya pengobatan ayahnya. Harus.
Dan Dara merasakan penuh dibagian intinya sekarang, Rio menatap Dara dan tersenyum, Memang Dara sangat cantik bahkan sedang berkeringat pun.
"Akhh" desis Dara saat milik Rio mencoba masuk lebih dalam.
"Apa sakit?" tanya Rio yang mencoba untuk menetralkan tempo permainannya.
"Sedikit" cicit Dara.
Tangan Dara mencengkram selimut ranjang dengan kencang, menahan sakit dan kenikmatan disaat yang bersamaan.
Mencoba untuk membuka matanya dan melihat Rio diatasnya yang memang sangat tampan walau sedang berkeringat.
Rasa sakit yang menyapa intinya sekarang berubah menjadi kenikmatan yang baru kali ino Dara rasakan, Rio mengecup bibir Dara sekilas dan menatap Dara.
Dara merasakan sesuatu yang hangat masuk kedalam dirinya, Saat sudah mencapai klimaks nya Rio mengeluarkan cairannya kedalam diri Dara, menatap Dara yang kelelahan dan mengusap kepala gadis itu dan berbaring disebelahnya tanpa melepaskan tautannya.
"Tuan, Lepaskan dulu" ujar Dara.
"Biarkan seperti ini dulu" ucap Rio dan memeluk Dara lalu terlelap bersama.
TBC.