Love Me Please

Love Me Please
Part 125



"Adam!"Panggil kakek Vander saat anak muda itu melewatinya di ruang tengah begitu saja.


"Dimana kuncinya? Berikan padaku!"Ucap Adam memerintahkan pelayan tersebut dengan raut wajah yang terlihat sedang tidak baik-baik saja.


"Tapi tuan-"


"Apa kau tidak dengar!"Bentak Adam dengan suara menggelegar yang membuat para pelayan di sana menjadi ketakutan karena baru kali ini melihat kemarahan seorang Adam Vander.


"Apa yang kau lakukan!"Ucap kakek Vander yang baru saja datang, dia merasa ada yang aneh dengan Adam makanya memilih mengikuti pria itu dan ternyata tebakannya benar saat melihat kekacauan seperti ini.


"Apa yang dia minta sampai ribut seperti ini?"Tanya kakek Vander pada salah seorang pelayan karena tidak mendapatkan jawaban dari Adam.


"Tu-tuan muda Adam meminta kunci kamar tuan Kaisar tuan besar."Jawab pelayan tersebut terbata-bata dengan kepala yang tertunduk.


Kakek Vander menghelah nafasnya mendengar alasan kenapa Adam membuat keributan."Adam-"


"Kakek!"Potong Adam dengan beraninya menatap orang berkuasa di mansion ini."Aku mohon kali ini jangan menghalangi ku, nanti aku akan memberitahu yang sebenarnya terjadi."Jelas Adam dengan begitu serius, dia memang belum memberitahu kepada kakek Vander tentang apa yang terjadi karena dia ingin menemukan sesuatu yang di carinya dulu.


"Aku akan kembali dan saat aku sampai disini lagi kuncinya harus sudah ada."Ucap Adam pada pelayan tersebut dan segera berlalu.


Adam masuk ke dalam kamar papa nya dan mengacak semuanya isi lemari meja rias dan laci-laci di kamar itu hingga semuanya berserakan.


Kakek Vander hanya diam melihat itu semua, dia membiarkan Adam melakukan semuanya sesuka hati karena dia tahu Adam mempunyai alasan untuk itu, meskipun merasa sedikit heran melihat sikap Adam yang seperti ini.


Ketika sudah memeriksa semuanya Adam menemukan sebuah kotak kaca di dalam laci nakas tempat tidur. Perlahan dia mengeluarkan kotak tersebut dan mencoba membukakan tapi sepertinya kotak tersebut di kunci dengan perekat.


Kakek Vander yang melihat itu mulai mendekat ke arah Adam karena dia juga penasaran dengan isi kotak tua tersebut.


"Kakek mundurlah aku akan mencoba membuka kotak ini."Ucap Adam yang di turuti oleh kakek Vander.


Dengan sekuat tenaga Adam melemparkan kotak kaca buram dengan ketebalan dua belas milimeter tersebut sekuat tenaga hingga berpecahan di lantai.


Adam memungut isi kotak tersebut di dalamnya dia menemukan bukti transfer uang pada rekening pria yang di yakini Adam adalah pria yang dia tangkap tadi, dia juga menemukan foto kaisar dan mobilnya dan yang terakhir dia menemukan surat perjanjian Antara ayahnya bersama pria yang bernama Aron Chandler.


Kakek Vander mengambil ahli surat yang ada di tangan Adam."Apa ini?"Tanya kakek Vander yang tidak mengerti saat melihat isi surat tersebut.


Adam tidak menjawab dia memungut semua yang di dapatkannya dan memasukkannya ke dalam sebuah tas.


"Adam!"Ucap Kakek Vander dengan penuh kekesalan karena bukannya menjawab pertanyaannya anak tengil itu malah pergi.


"Dimana kuncinya?"


"Ini tuan."Ucap pelayan tersebut dengan memberikan kunci kamar kaisar pada Adam tanpa berani menatap tuan nya itu.


Ketika akan membuka pintu kamar kaisar ponsel Adam berbunyi."Bagaimana?"Tanya Adam setelah mengangkat panggilan tersebut.


"Baguslah bawa mereka berdua ke kantor polisi! Sebentar lagi aku akan kesana."Adam kembali memasukkan ponsel ke dalam saku celananya dan mulai mengeledah isi kamar Kaisar.


Di sana dia menemukan buku diary kaisar, foto-foto seorang wanita yang sepertinya di ambil secara diam-diam, sebuah ponsel yang berisi rekaman suara kaisar dan yang terakhir dia menemukan sebuah flashdisk.


"Kakek!"Panggil Adam saat keluar dari kamar kini dia sudah menemukan semua buktinya.


"Ayo kita ke kantor polisi!"Ajak Adam membantu kakek Vander dengan mendorong kursi roda nya.


"Untuk apa?"Tanya kakek Vander yang benar-benar di buat bingung oleh Adam sedari tadi.


"Nanti setelah sampai di sana kakek akan tahu."


***


"Kinan!"Panggil Lia sambil terus memperhatikan berita yang keluar di tv.


"Ada apa mah?"Tanya Kinan yang baru saja keluar dari kamar dia berjalan menghampiri mama nya.


"Itu kau lihat!"Ucap Lia yang membuat Kinan mengikuti arah pandangnya."Bukankah itu nama perusahaan tempat kau bekerja?"Lanjut Lia dengan menatap putrinya.


Kinan membulatkan matanya dan mendengarkan berita tersebut dengan seksama."Itu mobil Tuan Aron Chandler CEO w'djaya group."Ucap Kinan dengan menutup mulutnya saat mendengar kalau penumpang mobil di nyatakan meninggal dunia bersama seorang wanita yang tidak lain sekretarisnya.


Ketika mendengar kata sekretaris pikiran Kinan langsung tertuju pada satu nama, dengan cepat dia berlari ke kamarnya mengambil ponsel hendak menekan nomor seseorang tapi panggilan lain lebih dulu masuk.


"Halo Adam kau-"


"Keluarlah aku sudah menunggu di depan!"Potong Adam yang membuat Kinan langsung mengintip lewat jendela yang ternyata memang sudah ada sebuah mobil yang berhenti di depan.


"Sayang kau mau kemana?"Tanya Lia dengan menghampiri Kinan yang keluar dari kamar dengan membawa tas.


"Kinan ingin keluar sebentar mah!"


"Tapi ini sudah malam dan di luar juga hujan sayang!"Ucap Lia dengan cemas dia tidak ingin terjadi sesuatu pada putri satu-satunya.


"Kinan tidak sendiri mah! Di luar sudah ada teman yang menunggu."Sahut Kinan yang paham dengan kecemasan mama nya.


"Baiklah kau harus hati-hati, sayang hanya kau satu-satunya yang mama punya di dunia ini."


Kinan tersenyum dan memeluk ibunya."Sekarang apa sudah boleh pergi?"Tanya Kinan dengan menaikkan alisnya.


"Terimakasih mama."Ucap Kinan saat Lia menggangukan kepalya, Kinan mencium pipi mama nya sebelum pergi.


"Adam sykurlah kau-" Ucap Kinan yang baru saja masuk ke dalam mobil,"Kakek?"Kinan kaget saat menyadari kalau di mobil tidak hanya Adam seorang tapi juga kakek Vander yang duduk di kursi belakang.


"Nanti aku akan menjelaskannya." Ujar Adam saat Kinan menatapnya seolah meminta penjelasan kenapa ada kakek Vander juga.


Adam kembali melajukan mobilnya sedangkan Kinan tidak lagi membuka suara dia duduk di samping Adam dengan tenang hingga hanya ada keheningan di dalam mobil tersebut sampai mereka tiba di kantor polisi.


Bersambung.