
"Zoe!"Pekik Leo saat melihat Zoe terjatuh, dia awalnya berniat menghampiri Zoe untuk mengajak gadis itu makan malah di kejutkan dengan mendapati Zoe yang terjatuh.
"Papa."Ringis Zoe dengan menahan rasa perih di lututnya saat melihat Leo berlari ke arahnya.
Leo membantu Zoe dan memeriksa lutut kaki gadis itu yang terlihat memar."Sayang apa yang terjadi!" Tanya shaki sembari meluruskan kaki Zoe yang tertekuk dengan nada suara yang terdengar begitu khawatir.
"Zoe tidak apa-apa! Hanya sedikit memar."Jawab Zoe dengan memaksakan senyum agar Leo dan Shaki tidak khawatir." Tadi Zoe terlalu bersemangat bermain dengan teman baru Zoe sampai tidak memperhatikan jalan hingga terpeleset begini."Bohong Zoe yang membuat anak laki-laki itu menatapnya dengan tatapan tak terbaca.
Leo yang mendengar penjelasan Zoe melirik ke arah anak laki-laki yang di maksud Zoe yang berada di sampingnya, bahkan tadi dia sampai tidak menyadari kehadiran bocah itu karena begitu fokus pada Zoe.
Leo terdiam saat melihat anak laki-laki tersebut, dia merasa ada sesuatu yang aneh dalam dirinya saat matanya bertemu dengan mata anak laki-laki itu. Dia menatap dalam-dalam mata yang terlihat tidak asing itu, begitupun sebaliknya hingga seseorang datang membuat tatapan mereka terputus.
"Akhirnya saya menemukan anda tuan muda! Ayo tuan kau harus kembali Nyonya besar sudah menunggu."Pria yang baru saja datang dengan pakaian serba hitam layaknya seorang pengawal itu membawa bocah laki-laki tersebut pergi.
Leo terus memperhatikan anak laki-laki yang semakin menjauh darinya, bahkan anak laki-laki itu terus menatap ke arahnya dengan mata sayup seolah menyiratkan sesuatu yang tidak bisa Leo artikan.
"Papa?"Zoe memanggil Leo untuk kedua kalinya dengan menyentuh lengannya.
"Ah iya sayang!" Leo yang tersadar dari lamunannya segera mengendong Zoe sembari menatap ke belakang dimana bocah laki-laki tadi sudah menghilang.
***
Leo merebahkan dirinya di atas tempat tidur dengan memejamkan matanya, tapi tiba-tiba saja bayangan wajah bocah laki-laki tadi kembali terlintas di ingatannya yang membuat matanya kembali terbuka.
Leo menggelengkan kepalanya, kenapa dia jadi teringat dengan bocah itu. Dengan segera Leo berjalan menuju bathroom untuk membersihkan tubuhnya yang terasa begitu lengket karena seharian ini dirinya dan Shaki menemani Zoe bermain dan jalan-jalan melihat-lihat kota London.
Lalu dimana Zoe sekarang? Gadis kecil itu saat ini sedang berada di kamarnya Shaki, karna ternyata Shaki juga menginap di hotel dan lantai yang sama dengannya.
"Apa kau senang hari ini?"Tanya Shaki yang sedang mengeringkan rambut Zoe dengan handuk kecil.
"Sangat senang! Bagaimana dengan Mama?"Tanya Zoe dengan berbalik menatap Shaki.
"Sama seperti kau, Mama sangat sangat senang!"Jawab Shaki dengan senyuman manis yang terus terukir di wajah cantiknya.
Hari ini dia merasa sangat bahagia sekali berjalan-jalan bersama Leo dan Zoe mengelilingi kota London. Shaki merasa seperti mempunyai keluarga kecil yang penuh kasih dan cinta sebagaimana impiannya bersama Leo dulu meskipun keadaannya sekarang berkata lain tapi setidaknya dia dapat merasakan hal tersebut.
"Zoe!"Ucap Shaki saat tiba-tiba saja Zoe memeluknya dengan erat.
"Baru kali ini Zoe melihat Mama sebahagia ini." Jujur Zoe yang berada di dalam pelukannya.
Shaki membalas pelukan Zoe, dia membenarkan ucapan gadis kecil itu. Selama ini bisa di katakan dia hanya berekspresi seadanya, tapi sekarang Shaki merasa dirinya yang lama sudah kembali dengan hanya berada di dekat Leo dia kembali bisa tersenyum dan tertawa lepas seperti sediakala.
"Benarkah?"Tanya Shaki dengan menyipitkan matanya.
Zoe menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Lalu beberapa saat kemudian Zoe tertawa saat Shaki mengelitiknya. "Mama hentikan!"Zoe memohon dengan mata yang sudah berair menahan rasa geli.
***
"Kau menyukainya?"Tanya Leo pada Zoe yang sedang memegang ukiran mainan kunci.
Zoe menggelengkan kepalanya dengan lesuh."Zoe bingung tidak tahu harus membelikan apa untuk Dad dan Mom nya!"Keluh Zoe yang sedari tadi sudah berkeliling tapi tidak mendapatkan apapun.
Leo sendiri juga tidak tahu sama hal nya dengan Zoe. Selama ini dia tidak pernah membawakan hadiah karena tidak ada yang menunggunya pulang, mengingat hal itu membuat Leo tersenyum miris.
"Bagaimana apa sudah mendapatkan hadiahnya?"Tanya Shaki menghampiri mereka dengan troli yang sudah penuh dengan berbagai macam barang.
Zoe dan Leo serentak menggelengkan kepala mereka sebagai jawaban yang membuat Shaki menggelengkan kepalanya melihat dua orang itu dan pada akhirnya Shaki lah yang berinisiatif memilihkan hadiahnya, Leo dan Zoe hanya menganggukkan kepalanya saat Shaki memperlihatkan barang yang di pilihnya.
Dengan perlahan Leo membaringkan tubuh kecil Zoe di atas tempat tidur. Leo menyelimuti tubuh kecil Zoe sembari mendaratkan satu kecupan di pucuk kepalanya karena malam ini Zoe kembali tidur di kamar Shaki.
"Leo! Tidakkah bisa tinggal sebentar?"Tanya Shaki saat Leo hendak pergi dari kamarnya.
"Aku ada urusan setelah ini!"Leo berusaha menghindari Shaki karena tidak ingin berada di suasana canggung seperti ini.
"Tapi ada hal penting yang ingin aku bicarakan!" Shaki memandang Leo dengan tatapan penuh harap yang membuat pria itu memilih duduk di sofa.
"Bicaralah! Apa yang ingin kau katakan?"
Shaki beranjak dari ranjang tempat Zoe tertidur, dia duduk di dekat Leo. Shaki menatap pria itu dengan intens sedangkan yang di tatap memalingkan pandangannya ke arah lain seolah enggan menatap matanya yang membuat Shaki merasa miris.
Dengan memberanikan diri Shaki memegang tangan Leo, tangan yang sudah sangat lama kembali ingin dia genggam. Leo sendiri awalnya terkejut saat Shaki menyentuh tangannya, tapi dia menyembunyikan keterkejutannya dengan cara diam.
"Apa benar-benar sudah tidak ada lagi tempat untukku di hatimu?"Shaki bertanya dengan berusaha menahan diri,rasanya dia sangat ingin meluapkan kerinduan yang di pendamnya selama bertahun-tahun ini dengan memeluk Leo.
"Jawablah! Katakan kalau memang sudah tidak ada lagi tempat untukku di sini dengan menatap mataku!" Lanjut Shaki dengan menahan gemuruh di hatinya.
Leo menghelah nafasnya panjang. Dia sudah menduga hal ini, dengan perlahan Leo melepaskan genggaman Shaki di tangannya, dia membenarkan posisi duduknya dan menatap ke dalam bola mata Shaki."Aku rasa kau sudah tahu jawabannya! Berhentilah berbicara omong kosong seperti ini."
"Ini bukan omong kosong!" Shaki menggelengkan kepalanya"Bukankah sekarang kau sendiri? Tidak ada penghalang lagi untuk kita bisa hidup bersama."
"Kau benar, tapi aku tetap tidak bisa.Aku tidak ingin menyakitimu Killa jadi mengertilah! Sudah saatnya kau bahagia, mulailah kehidupan baru dan lupakan aku!" Leo beranjak dari duduknya dia tidak ingin berlama-lama dalam situasi seperti ini.
"Tapi kebahagiaanku hanya ada padamu Leo"
Leo terdiam beberapa saat."Aku bukanlah orang yang pantas untuk itu, aku yakin kau bisa mendapatkan pria yang lebih dariku yang mencintaimu dengan sepenuh hati."Setelah mengucapkan itu Leo bergegas pergi dari sana meninggalkan Shaki dengan pipi yang sudah basah.
Bersambung