
Tidak memerlukan waktu lama mereka pun sampai di kantor polisi.Adam membantu kakek Vander keluar dari dalam mobil sedangkan Kinan terpaku di memperhatikan tempat yang mereka kunjungi.
"Adam kenapa kita kesini?"Tanya Kinan dengan menatap pria di sampingnya.
"Nanti kau akan tahu."Jawab Adam sambil berlalu pergi.
"Tuan!"Ucap pria berbadan tegap itu menghampirinya dengan menundukkan kepala.
"Dimana mereka?" Tanya Adam sembari terus berjalan.
"Mereka ada di dalam Tuan."
Adam menoleh ke belakang melihat Kinan yang sedang mendorong kursi roda kakek Vander.
"Sebenarnya apa yang terjadi?"Tanya kakek Vander yang sudah berada di samping Adam.
Dia merasa seperti sedang bermain teka teki saat ini karena Adam belum juga memberitahu nya tentang apa yang terjadi.
"Ayo kita masuk!"Ucap Adam berlalu tanpa menyahuti Pertanyaan kakek Vander.
"Ck, jika saja dia bukan cucu ku sudah aku tendang dari tadi."Kesal kakek Vander melihat sikap Adam yang sok misterius apalagi di tambah dengan wajah datarnya itu yang sama sekali tidak cocok untuk orang tengil seperti itu.
Kinan menganggukkan kepalanya setuju dengan sang kakek melihat sikap Adam yang begitu menyebalkan karena pria itu begitu hemat bicara dan dingin.
Adam memasuki sebuah ruangan khusus yang sudah di persiapkan oleh pihak kepolisian sesuai dengan apa yang di minta nya. Di dalam sana sudah ada pria paruh baya yang tidak lain ketua dari pembakaran gubuk yang di tangkapnya tadi bersama dengan kakek dan nenek pemilik gubuk tersebut.
Adam menatap dingin kakek dan nenek tersebut. Jika dia terlambat sedikit saja bisa di pastikan sepasang orangtua itu sudah tidak berada di kota ini lagi, tapi beruntung dia mendapat akses menutup bandara untuk menemukan mereka.
Pandangan orang di dalam ruangan itu beralih terkecuali Adam saat mendengar suara pintu yang terbuka memperlihatkan seorang polisi bersama kakek Vander dan Kinan.
Berbeda dengan kakek Vander yang terlihat kebingungan justru Kinan di buat heran saat melihat dua orang yang di kenalnya ada di ruangan ini juga.
"Bukankah mereka kakek dan nenek yang-"Tanya Kinan dengan melirik Adam.
"Hem"Sahut Adam tanpa mengalihkan tatapannya pada dua orang tua tersebut.
"Kalian pasti tahu kenapa bisa berada di sini bukan? Sekarang jelaskanlah apa yang kalian ketahui dengan jujur tanpa ada yang di tutupi! Jika kalian ketahuan berbohong hukumannya akan semakin berat." Ucap Adam dengan suara dingin yang membuat nyali kedua orang tua tersebut menciut.
"Ba-bagaima jika kami-!"Jawab nenek tersebut ketakutan dengan suara yang terbata-bata.
"Kalian tidak perlu memikirkan itu! Sekarang cukup berkata jujur dan aku pastikan kalian akan baik-baik saja."Adam menghelah nafasnya kasar untuk menstabilkan emosinya yang tertahan sedari tadi.
Nenek tersebut menatap suaminya meminta persetujuan, saat kakek itu menganggukkan kepalanya dia pun mulai menceritakan semuanya dari awal.
Mereka semua mendengarkan dengan intens cerita nenek itu sampai selesai lalu barulah Adam mengambil laptopnya dan memutar sebuah rekaman memperlihatkannya pada semua orang di ruangan itu.
Adam mematikan laptopnya dia beralih menatap pria dengan kondisi yang acak-acakan tersebut yang tidak lain anak buah ayahnya."Kau ingin bermain-main denganku bukan? Sepertinya kau harus di beri pelajaran melalui istri dan-"Ucap Adam dengan tersenyum sinis ke arah pria itu.
"Jangan! Aku mohon!"Pria tersebut langsung menjatuhkan tubuhnya berlutut di kaki pria yang menangkapnya."Aku mohon jangan lakukan sesuatu pada istri dan anakku."Dia menundukkan kepalanya serendah-rendahnya sambil menangis.
Adam mengeraskan rahangnya dan tidak lama kemudian menendang pria tersebut dengan kencang hingga membuat Kinan terpekik saat melihat pria itu terjerembab.
"Kau memohon untuk keselamatan anak dan istimu! Tapi kau tidak peduli akan keselamatan nyawa orang lain." Marah Adam dengan mata yang begitu tajam.
Dalam perjalanan ke rumah Kinan tadi Adam mendapatkan telepon kalau mobil yang di kendarai Aron Chandler dan Sabi masuk ke dalam jurang saat kejar-kejaran dengan mobil polisi yang membuat keduanya tewas di tempat.
Semua karena kebodohannya yang percaya dengan potongan rekaman yang di berikan pria itu yang memperlihatkan kalau Sabi lah yang bersalah dalam kecelakaan tersebut.
Adam memberikan rekaman itu pada polisi tanpa menyelidikinya terlebih dahulu hingga polisi mengamankan Sabi tapi ternyata perempuan itu sudah tahu dan hendak melarikan diri bersama Aron Chandler yang membuat suasana semakin kacau.
Dan seharusnya dia memeriksa kamar ayahnya dan kaisar yang telah dia curigai sejak lama terlebih dahulu sebelum bertindak gegabah. Tapi karena dia takut Sabi memanglah pelaku nya maka dia meminta polisi untuk mengamankannya terlebih dahulu sembari dia mencari bukti lainnya di mansion Vander. Namun semua di luar dugaannya, perempuan itu memilih melarikan diri.
"Ma-maafkan saya! Anda bisa menghukum saya tapi jangan sakiti keluarga saya tuan."Pria itu merangkak kembali bersujud di kaki Adam, berharap belas kasihan meskipun tubuhnya terasa sakit.
Adam sendiri hanya diam dengan rasa bersalah ketika melihat keseluruhan rekaman yang dia dapat di kamar kaisar yang menunjukkan kalau Sabi yang hendak memotong mobil Kaisar dengan kecepatan tinggi namun dari kejauhan ada truk yang datang dari arah berlawanan.
Sepertinya Sabi tidak menyadari itu hingga Kaisar yang melihat itu dengan cepat menghalangi Sabi yang hendak memotongnya dengan menancap gas mengambil jalan di depan Sabi lalu mengerem secara mendadak hingga mobilnya di tabrak oleh Sabi sampai terpental ke dalam jurang, sedangkan truk itu mengelak dan pergi secepat mungkin.
"Sekarang jawab dengan jujur apa truk itu di datangan dengan sengaja?"Adam bertanya seperti itu karena setahunya tidak ada truk besar yang menempuh jalan kecil itu.
Pria tersebut menganggukkan kepalanya."Benar tuan, mereka adalah para anak buahku."
Plak...
Satu tamparan keras melayang membuat wajahnya terasa panas."Siapa yang menyuruh kau untuk melakukan semua itu?"Tanya kakek Vander yang sedari tadi diam mendengarkan semuanya, rahangnya mengeras memperlihatkan kemarahannya pada pria yang baru saja di tamparnya itu.
"Carlos Vander seorang pengusaha kaya raya yang memimpin Vander group." Jawab pria tersebut dengan tangan gemetar menyentuh pipinya yang terasa perih mengeluarkan darah.
Deg...
Jantung Vander terasa berhenti saat itu juga saat mendengar siapa dalang dari kematian cucu nya, dia memegang dada nya yang terasa sesak.
"Kakek!"Ucap Kinan dengan menghampiri kakek Vander dengan air mata yang sudah membasahi pipi nya ketika melihat rekaman tadi dan mengetahui kalau pamannya lah penyebab kehancuran keluarga mereka.
Kakek Vander mengangkat tangannya memberitahu kalau dia baik-baik saja."Sekarang dimana dia? Antarkan aku menemuinya sekarang juga!"Ucap kakek Vander beralih menatap Adam.
Bersambung