Love Me Please

Love Me Please
Part 123



Malam hari nya Sabi masih kepikiran dengan ucapan Kinan tadi siang. Dia merasa gelisah takut kalau Kinan sebenarnya sudah tahu siapa dia sebenarnya melihat bagaimana sikap Kinan padanya.


Di saat Sabi masih sibuk dengan pikirannya tiba-tiba saja ponselnya berdering, ketika melihat Aron lah yang menghubungi nya Sabi kembali meletakkan ponselnya. Sungguh sekarang dia sedang tidak berminat untuk berbicara dengan siapapun apalagi Aron.


Sabi menghelah nafasnya dan segera berjalan ke arah meja makan karena dia belum makan malam. Dia menyantap makanannya dengan malas sambil memandangi kursi Leo yan kosong, sekarang dia benar-benar merasa kesepian karena hanya diri nya seorang lah di apartemen ini.


Sedangkan di tempat lain terlihat dua mobil pemadam kebakaran yang di iringi dengan mobil polisi yang melaju dengan cepat dan penuh hati-hati karena kondisi jalanan yang begitu licin sebab sedari tadi sore hujan lebat menguyur hingga saat ini masih ada hujan kecil-kecil.


Sabi yang sedang menonton tv di buat kaget saat ada yang berkunjung ke apartemennya malam-malam begini, dia yang awalnya tidak menghiraukan bel yang berbunyi karena rasanya tidak ada yang tahu apartemen baru nya ini selain dirinya Leo dan juga Martin dan lagian jika itu Martin pasti pria itu akan mengabarinya terlebih dahulu sebelum datang.


Bel yang terus berbunyi sedari tadi membuat Sabi merasa tidak tenang dan memilih berjalan ke arah pintu walaupun ada rasa takut dalam dirinya. Sabi membawa ponselnya dan bersiap menekan nomor seseorang jika di luar adalah orang jahat.


"Aron!"Ucap Sabi dengan terkejut saat membuka pintu mendapati Aron berdiri di sana."Apa yang kau lakukan di sini!"Tanya Sabi karena rasanya dia tidak pernah memberi tahu Aron mengenai apartemen baru nya ini.


" Pergilah suamiku sedang tidak ada di rumah, aku tidak ingin orang mengira yang tidak-tidak."Ucap Sabi dengan bersiap menutup pintu tapi dengan sigap Aron menahannya.


"Sabi!"Ucap Aron dengan was-was sembari menatap ke belakang.


Kali ini Sabi baru tersadar kondisi Aron saat ini terlihat sangat acak-acakan, tadi dia tidak terlalu memperhatikan pria itu tapi persetan dengan itu dia tidak peduli."Aron aku bilang pergilah! Jangan macam-macam di sini dan dari mana kau tahu apartemen ku?"


"Tidak penting aku tahu dari mana sekarang bersiaplah! Ambil surat-surat yang di butuhkan karena kita akan segera meninggalkan negara ini."Ucap Aron yang terlihat begitu panik dan terus menerus menoleh ke belakang.


"Kau gila! Jika ingin pergi pergilah sendiri jangan mengajakku."Sabi kembali ingin menutup pintu karena tidak mau meladeni Aron yang sepertinya sudah benar-benar gila tapi lagi-lagi Aron menahannya.


"Sabi cepatlah! Aku bilang siapkan surat-surat yang di butuhkan sekarang juga!"Bentak Aron yang membuat Sabi terdiam karena kaget Aron membentaknya.


Aron yang menyadari telah membentak Sabi mengusap wajahnya dengan kasar."Kita tidak memiliki banyak waktu, sekarang polisi sedang menuju kesini jadi cepatlah!"


Aron yang kembali melanjutkan ucapannya saat melihat Sabi belum mengerti dengan maksud pembicaraannya."Semuanya sudah berakhir! Carlos sudah tertangkap dan aku yakin dia membawa namamu juga, jadi kita harus pergi dari negara ini secepatnya."


Sabi menggelengkan kepalanya tidak percaya, ternyata hal yang di takutkannya selama ini terjadi juga."Aku tidak akan pergi kemana-mana aku tidak akan kemana-mana, tapi polisi? Apakah mereka akan menangkap ku?" Semenjak kecelakaan itu Sabi begitu menghindari yang namanya polisi,ketakutannya begitu mendalam saat mendengar nama itu.


"Tidak akan pernah! Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh mu sedikitpun. Aku akan membawa kau pergi dari sini!"


"Tidak bisa Aron! aku sedang mengandung dan Leo? Aku tidak mungkin meninggalkan negara ini."Sabi memegang perutnya sekarang dia bingung harus memikirkan dirinya seorang atau anak dan juga suaminya. Sebenarnya inilah alasan mengapa dari awal dia menolak Leo.


"Kau jangan bodoh! Untuk apa memikirkan pria itu? Apa kau rela mengorbankan hidup mu demi pria yang masih mencintai wanita lain?"


"Apa maksud mu?"Tanya Sabi dengan tubuh yang sudah gemetar menahan tangis.


"Pria itu sudah membohongi mu, tidak ada seminar apapun di sana! Suami mu pergi keluar negeri untuk menemui mantan kekasihnya!"


"Tidak kau pasti berbohong! Leo pergi keluar negeri untuk seminar para dokter."Sabi menyangkal ucapan Aron karena dia yakin Leo tidak akan mengkhianatinya.


"Benarkah? Lalu kenapa temannya tidak ikut? Bukankan mereka menempuh pendidikan yang sama di luar negeri."


Sabi terdiam saat menyadari apa yang di katakan oleh Aron.


"Sekarang itu tidak penting, cepatlah ambil apa yang kau rasa perlu kita akan segera pergi dari sini! Aku berani bersumpah bahwa apa yang aku katakan itu benar, aku tidak berbohong! Jika aku bohong kau bisa membunuhku." Ucap Aron dengan menatap Sabi sungguh-sungguh.


Sabi yang sudah berteman dari kecil dengan Aron sangat tahu kalau saat ini pria itu berkata jujur.


"Sabi ayolah! Jika kau terus diam di sana polisi pasti bisa menemukan kita!"


Dan tidak memerlukan waktu lama Sabi segera masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil tas dan surat-surat yang di butuhkan nya sambil mengusap air matanya yang berjatuhan di pipi.


Di saat akan keluar Sabi melihat sepatu yang di belikan Leo untuk anak mereka. Sabi berdiam di tempatnya sambil menangis terisak saat memandangi sepatu tersebut dengan mengingat percakapan mereka tempo hari.


"Sabi cepatlah!"Teriak Aron dari luar yang membuat Sabi tersadar kalau mereka tidak mempunyai banyak waktu, dengan cepat Sabi mengambil sepatu itu dan memasukkannya ke dalam tas dan segera keluar.


Aron mengulurkan tangannya dan mengandeng tangan Sabi untuk segera pergi dari tempat tersebut.


Sabi melirik ke arah Aron yang duduk di bagian kemudi pria itu begitu fokus mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi di tengah gerimis.


Sabi yang masih ingin memastikan kebenaran ucapan Aron mengambil ponselnya dan menekan nomor Martin.


"Halo Sabi, ada apa menelpon? Apa kau membutuhkan sesuatu?"Tanya Martin saat panggilan tersambung.


"Kau dimana?"Tanya Sabi tanpa menjawab pertanyaan Martin.


"Aku? Ini baru saja sampai di apart memangnya kenapa?"Tanya Martin yang baru saja masuk ke dalam apartemennya.


Aron melirik sekilas ke arah Sabi yang terlihat sedang menahan tangis dengan mengigit bibir bawahnya."Martin tolong jawab dengan jujur apa benar Leo pergi keluar negeri untuk seminar?"


"Tentu saja memangnya untuk apa lagi."Bohong Martin karena dia sudah berjanji pada Leo untuk tidak akan memberitahu Sabi.


"Aku mohon jawablah dengan jujur!"


"Sabi kau kenapa?"Tanya Martin yang merasa aneh dengan sikap Sabi.


"Apa Leo pergi untuk menemui mantan kekasihnya?"


"Sabi kau-"Martin membulatkan bola matanya saat Sabi bertanya begitu apalagi sepertinya Sabi menangis.


"Jadi benar?"Dengan sepihak Sabi langsung mematikan ponselnya karena sudah mendapatkan jawaban dari diamnya pria itu.


Bersambung.