Love Me Please

Love Me Please
Part 133



Seorang pria dengan mengenakan celana pendek dan t-shirt warna senada duduk di dekat sebuah kaca besar menikmati secangkir kopi sembari melihat keindahan kota London dari ketinggian.


"Papa!"


Leo yang mendengar ada yang memanggilnya menoleh ke belakang, berjalan mendekati Zoe yang masih berada di tempat tidur dengan posisi meringkuk.


"Zoe! Kau sudah bangun?"Leo menepuk pelan pipi Zoe karena mata gadis kecil itu masih terpejam.


"Sudah!"Gumam Zoe pelan yang membuat Leo tersenyum menggelengkan kepalanya.


"Kalau sudah bangun kenapa matanya masih terpejam hem?"


"Tidak bisa di buka!"


Leo tersenyum geli mendengar jawaban polos Zoe."Baiklah kalau begitu berarti papa akan pergi sendiri karena sepertinya gadis kecil papa ini masih ingin tidur."


"Zoe sudah bangun!"Sontak saja Zoe duduk dari tidurnya dengan membuka kedua matanya lebar menatap Leo dengan antusias."Kenapa papa tidak bilang kalau sudah saatnya pergi? Kalau tahu begitu pasti Zoe sudah bangun sedari tadi dan bersiap-siap."


Leo tidak bisa lagi menahan tawanya, dia mencubit gemas pipi gembul Zoe. Sebenarnya sore ini dia sudah berjanji mengajak Zoe pergi ke sebuah pusat perbelanjaan di kota London ini karena pertemuan dengan rekan bisnisnya di adakan di sana.


"Kalau begitu bersiap-siaplah! Karena sebentar lagi kita akan berangkat."Ucap Leo dengan mengangkat tubuh Zoe dan menurunkannya dari atas tempat tidur.


***


"Kau dimana?"Tanya Leo pada seseorang melalui sambungan telepon.


Leo berjalan memasuki pusat perbelanjaan besar di kota London itu sembari mengandeng tangan Zoe.


"Baiklah aku dan Zoe akan segera sampai, tunggu lah di sana!"Leo mematikan sambungan telepon tersebut sembari melirik ke arah Zoe yang berjalan di sampingnya dengan tangan mereka yang saling terpaut.


"Zoe"Panggil Shaki dengan memeluk keponakannya yang menggemaskan itu, mengingat mereka sudah lama tidak bertemu.


"Mama"Ucap Zoe dengan membalas pelukan Shaki. Ya, Zoe memanggil Shaki dengan sebutan mama atas permintaan tantenya itu.


Leo berdehem untuk menghilangkan rasa canggungnya."Aku titip Zoe sebentar, nanti setelah selesai aku akan kembali menghubungimu."


"Kau tidak perlu khawatir! Aku akan menjaga Zoe, dia juga keponakanku."Shaki menampilkan senyum di wajahnya meskipun hatinya terasa sakit melihat sikap Leo yang begitu dingin padanya.


Shaki kira dia dan Leo bisa bersama karena tidak ada lagi penghalang diantara mereka, tapi nyatanya dia salah. Dirinya benar-benar sudah tidak ada tempat di hati pria itu karna terbukti Leo lebih memilih untuk hidup sendiri.


Leo menganggukkan kepalanya lalu segera pergi."Johan ayo!"Leo memanggil asisten pribadinya yang sedari tadi berjalan di belakangnya.


"Baik tuan!"Sahut Johan dengan mengikuti langkah kaki Leo.


"Sayang kau ingin kemana?"Tanya Shaki pada Zoe ketika Leo dan asistennya sudah hilang dari pandangan mereka.


"Zoe ingin makan es cream."Jawab Zoe dengan wajah yang berbinar.


"Baiklah ayo kita mencari es cream."Ucap Shaki dengan menggandeng tangan Zoe.


Setelah mendapatkan apa yang Zoe inginkan, Shaki mengajak gadis kecil itu ntuk duduk di sebuah kursi kosong yang berada di dekat area permainan anak-anak.


"Mama tahu tidak? Mommy selalu melarang Zoe makan es cream ini dan itu."Ucap Zoe dengan wajah cemberut di sela memakan es creamnya."Tapi sekarang Zoe senang karna Mama tidak sama seperti Mommy."Lanjut Zoe dengan tersenyum bahagia.


Shaki mengusap lembut rambut keponakannya."Kali ini Zoe boleh memakan apapun yang Zoe mau, tapi Mama akan sama seperti Mommy tidak mengizinkan untuk sering-sering!"Shaki menjeda ucapannya sembari membersihkan sudut bibir Zoe yang belepotan.


"Mama dan Mommy sangat menyayangi Zoe makanya kami tidak ingin terjadi apa-apa jika gadis kecil kami terlalu banyak mengkonsumsi makanan di luaran sana yang tidak sehat." Lanjut Shaki memberi pengertian pada Zoe, dia tahu Zhi melakukan itu semua demi kebaikan Zoe. Kondisi tubuh Zoe yang lemah sejak kecil membuatnya mudah jatuh sakit jika pola dan makanannya tidak di jaga.


"Mama juga sayang Zoe."Sahut Shaki dengan mencium pipi gembul keponakannya.


"Ma, apa Zoe boleh bermain di sana!"Tunjuk Zoe pada area permainan yang di penuhi oleh anak-anak seumuran dengannya.


"Boleh,tapi habiskan dulu es creamnya!"


Dengan terburu-buru Zoe menghabiskan es cream di tangannya yang membuat Shaki mengulum senyum melihat kelakuan gadis kecil menggemaskan itu.


"Ayo Mama temani!"Shaki hendak berdiri ketika melihat es cream Zoe sudah habis, tapi Zoe melarangnya.


"Mama lihat dari sini saja! Zoe sudah besar tidak perlu di temani."


"Tapi kan-"


"Dari sini Zoe akan terlihat, Mama tidak perlu khawatir." Zoe berusaha meyakinkan Shaki hingga Mama nya itu setuju.


"Baiklah, tapi ingat jangan pergi jauh-jauh!"Peringat Shaki dengan menatap Zoe intens sembari memegang bahunya.


"Siap Mama!"Zoe memberi hormat pada Shaki dan segera berlalu ke area permainan.


Shaki tersenyum melihat Zoe yang semakin menjauh darinya. Namun tiba-tiba saja senyuman manis itu berubah menjadi sendu saat membayangkan nasibnya sekarang. Seandainya saja dia dan Leo menikah pasti mereka juga akan memiliki malaikat kecil yang menggemaskan seperti Zoe, tapi sampai sekarang semuanya hanya menjadi angan-angan.


Bertepatan saat itu ponsel Shaki berdering, dia meraih ponsel yang berada di dalam tasnya, menjawab panggilan tersebut sembari memperhatikan Zoe yang sedang bermain dengan sesekali melambaikan tangannya.


Zoe yang sedang asik bermain tiba-tiba berhenti dan menghampiri seorang anak laki-laki yang duduk sendirian di area permainan tersebut."Excuse me!" Ucap Zoe yang membuat anak laki-laki itu melihat ke arahnya.


"want to play together?"Ucap Zoe kembali saat anak laki-laki itu hanya menatapnya.


"You ask me?"Bocah laki-laki itu menunjuk dirinya dengan melihat kanan kiri, memastikan kalau gadis itu berbicara padanya.


Zoe menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Awalnya dia tidak peduli dengan anak laki-laki itu, tapi dia merasa kasihan hingga memutuskan menghampiri untuk mengajak bermain bersama karena mengira anak laki-laki itu tidak mempunyai teman.


"I'm not interested."Jawab anak laki-laki itu dengan wajah datarnya.


Zoe yang mendapatkan penolakan menatap kesal pada anak laki-laki di hadapannya." Jika tidak berminat bermain kenapa berada disini! Dasar orang aneh" Ucap Zoe dengan membalikkan badannya beranjak.


"Aku tidak aneh!" Jawab anak laki-laki itu yang membuat Zoe menghentikan langkahnya dan berbalik ke belakang.


"Kau bisa berbahasa Indonesia?"Tanya Zoe dengan mata membulat.


"Tentu saja bisa karena orangtuaku berasal dari Indonesia!"Sahut anak laki-laki itu tidak suka sambil berlalu pergi.


"Eh tunggu! Kau mau kemana?"Tanya Zoe dengan menghalangi jalannya.


"Bukan urusan kau! Menyingkirlah aku ingin lewat!"Anak laki-laki itu menatap jengah gadis kecil di hadapannya yang menurutnya begitu menyebalkan.


"Tidak bisa begitu! Aku tidak mempunyai teman disini dan kebetulan sekali kita sama-sama dari negara yang sama, kita bisa menjadi teman bukan? Namaku Zoe." Ucap Zoe memperkenalkan dirinya dengan tersenyum manis sembari mengulurkan tangannya.


"Aku tidak tertarik berteman jadi minggir lah!"


"Aku tidak mau!"Zoe semakin merentangkan tangannya dengan wajah menantang, tidak boleh ada yang menolak seorang Zoe Smith, gadis kecil keras kepala.


"Aku bilang menyingkirlah!"Anak laki-laki itu benar-benar kesal sampai tidak sengaja mendorong Zoe hingga terjatuh.


Bersambung