Love Me Please

Love Me Please
Part 122



Pagi-pagi sekali Leo sudah bersiap untuk berangkat ke bandara dengan di bantu oleh istrinya. Leo yang sedang memasang sepatunya melirik Sabi yang sedang memakai cardigen untuk melapisi baju tidurnya karena dia hanya akan mengantar Leo sampai bawah dan di bawah sudah ada Martin yang menunggu.


"Sayang kau yakin tidak apa sendirian di sini?" Tanya Leo kembali memastikan karena kemarin dia sempat menawarkan istrinya itu untuk tinggal di mansion Wijaya tapi Sabi menolaknya.


"Iyah sayang! Aku ingin mencoba mandiri di saat kau pergi dan lagian aku juga merasa lebih nyaman di sini."Jelas Sabi sembari memasangkan jaket kulit ke tubuh suaminya.


Leo memeluk Sabi dan mengecup kening istrinya cukup lama sembari memejamkan mata."Kau harus sering-sering menghubungiku dan jika ingin sesuatu kau bisa memintanya pada Martin karna aku sudah mengatakan padanya"Leo berkata seperti itu karena Sabi sering sekali mengidam di malam hari, dia tidak ingin istrinya itu bepergian di malam hari sendirian.


Sabi menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan Leo meskipun sebenarnya dia segan dengan Martin mengingat mereka berdua yang selalu menyusahkan pria itu.


Sabi dan Leo keluar dengan bergandengan tangan yang membuat jiwa kejombloan Martin sangat terasa karena pagi-pagi dingin seperti ini sudah di suguhkan dengan pemandangan hangat.


"Cih," Martin berdecak kesal saat melihat Leo yang sengaja memanasi nya dengan merangkul pinggang Sabi sambil tersenyum mengejek ke arahnya.


"Maka nya cepat cari istri!"Bisik Leo dengan menepuk bahu nya.


Martin menyingkirkan tangan Leo dengan wajah malas bagaimana tidak Leo itu adalah temannya tapi dia begitu suka mengejek dan melihat dirinya menderita bahkan di saat pergi pun Leo masih bisa membuatnya menderita dengan meninggalkan Sabi sebagai tanggungannya jika istri tercintanya itu membutuhkan sesuatu nantinya. Membayangkannya saja sudah membuat Martin memelas karena dia tahu ibu hamil itu suka sekali meminta yang aneh-aneh dan di jam yang rawan.


Setelah pamit pada Sabi Martin pun segera masuk ke dalam mobil di bagian kemudi sedangkan Leo yang hendak masuk kembali memeluk sang istri, hati nya terasa berat meninggalkan Sabi sendirian tapi dia juga harus menyelesaikan permasalahannya dengan Shakila secepat mungkin agar kedepannya dia mereka bisa menjalani kehidupan dengan tenang.


"Jaga anak kita baik-baik dan jangan lupa mengabariku jika ingin kemana-mana."Pesan Leo dengan menyisipkan anak rambut ke belakang telinga Sabi."Dan untuk anak Daddy jangan nakal di dalam sana jangan menyusahkan Mommy di saat Daddy tidak ada, jadilah anak yang baik oke?"Sambung Leo dengan menundukkan kepalanya sejajar dengan perut Sabi mengajak anak mereka berbicara seolah bisa mendengarnya sembari mendaratkan satu kecupan di sana.


"Aku pergi dulu!"Ucap Leo setelah mengecup pucuk kepala Sabi dan memeluk erat istrinya sebelum benar-benar masuk ke dalam mobil.


Sabi menganggukkan kepalanya dan memperhatikan mobil Martin hingga hilang dari pandangannya.


Martin melirik Leo yang diam duduk di sampingnya."Kau tidak perlu khawatir! Aku akan menjaga Sabi dan siap di repotkan demi memenuhi keinginan keponakanku."Ucap Martin mencairkan suasana karena dia tahu apa yang sedang di pikirkan Leo.


"Aku tahu kau akan menjaga mereka untuk ku, tapi kenapa rasanya sangat berat sekali untuk meninggalkan mereka."Ucap Leo dengan menghelah nafasnya berat, dari semalam dia memang merasa ragu untuk pergi bahkan sempat ingin membatalkan kepergiannya ke luar negeri.


***


"Oke baik! Kalian semua bekerjalah dengan benar dan jangan sampai terkecoh."Ucap Adam dengan tegas dan segera memasukkan ponsel ke dalam saku celananya.


"Maaf aku sedikit terlambat."Adam menarik kursinya dengan tersenyum tipis menatap anggota keluarga yang sudah duduk di meja makan.


"Maaf,,,"Ucap Adam dengan mengernyit kaku ke arah Mike, dia sangat tahu kalau adik tirinya itu tidak bisa melihat makanan terletak terlalu lama di hadapannya.


"Sudah-sudah! Sekarang mari kita mulai sarapannya."Ucap kakek Vander menyudahi.


Di sela makannya diam-diam Adam memperhatikan Carlos yang yang terlihat begitu fokus menikmati makanannya tanpa memperhatikan sekitar.


"Kenapa cepat sekali?"Tanya Kate saat melihat suaminya sudah selesai.


"Aku ada urusan penting di perusahaan jadi harus segera pergi."Sahut Carlos sembari membersihkan mulutnya dan segera pergi dari sana setelah pamit pada kakek Vander.


Melihat ayahnya yang sudah pergi Adam mengirimkan pesan singkat pada seseorang dan kembali melanjutkan makannya.


***


"Kinan!"Panggil Sabi saat melihat Kinan lewat di depannya."Apa kita bisa bicara sebentar?"Lanjut Sabi yang berdiri tepat di depan Kinan.


"Kau ingin membicarakan apa?"Tanya Kinan dengan bersikap acuh.


"Cepatlah! Apa kau tidak lihat aku harus bekerja."Sambung kinan saat Sabi tidak kunjung mengeluarkan suara. Kinan sudah tidak segan lagi memperlihatkan sikap ketidaksukaannya pada Sabi setelah menahan diri untuk berpura-pura tidak mengetahui kebusukan perempuan itu.


"Apa kau marah padaku?" Tanya Sabi pada akhirnya, dia bertanya seperti ini karena sering sekali mendapati Kinan yang diam-diam menatapnya dengan tajam.


Kinan tersenyum sinis mendengar pertanyaan tersebut."Apa kau merasa ada salah padaku sampai mengira aku marah?"


Sabi terdiam beberapa saat menatap ke dalam bola mata Kinan sebelum akhirnya membuang muka ke arah lain."Aku tidak tahu!"Jawab Sabi dengan menggelengkan kepalanya."Tapi aku sering sekali mendapati kau menatapku dari kejauhan dengan tajam dan juga sikap kau akhir- akhir ini terlihat begitu aneh."Jelas Sabi menyampaikan apa yang di rasakan nya karena itu membuatnya tidak nyaman.


"Aneh? Justru aku yang seharusnya menanyakan itu. Kau yang terlihat aneh saat bertemu denganku kau begitu gugup dan saat aku berbicara kau sering sekali menatap ke arah lain tidak mau menatap mata ku seperti seseorang yang sedang menyembunyikan sesuatu. "Ucap Kinan dengan telak kembali menarik satu sudut bibirnya ketika Sabi tidak mampu menjawab pertanyaannya.


"Sudahlah aku harus pergi! Akhir-akhir ini pekerjaan ku begitu banyak. Lain kali jangan menyalahkan orang lain sebelum menyadari kesalahan diri sendiri."Ucap Kinan meninggalkan Sabi sambil berlalu dari sana dengan menahan sesak di dadanya apalagi ketika Sabi kembali berbohong dengan begitu santai menjawab tidak tahu apakah pernah melakukan kesalahan pada nya.


Jika saja saat ini dia mempunyai bukti yang cukup pasti dia sendiri yang akan menyeret Sabi dan memasukkan perempuan itu ke dalam jeruji besi karena telah melenyapkan Kakak nya tapi sekarang perempuan malah enak hidup bebas tanpa rasa bersalah sedikitpun bahkan masih berani menampakkan diri di hadapannya.