Love Me Please

Love Me Please
Part 127



plak...


Carlos yang baru saja memasuki ruang tunggu langsung di hadiahi tamparan keras oleh kakek Vander yang membuat wajahnya tertoleh ke samping dengan memejamkan mata menahan hawa panas yang menjalar di pipi nya yang di pastikan sudah memerah.


"Kenapa kau tega melakukannya? Dimana letak otak kau sampai melakukan hal keji seperti itu."Bentak Kakek Vander dengan menggebu mendorong kepala Carlos dengan telunjuknya.


"Aku tidak menyangka kalau kau lah penyebab dari semua kekacauan di keluargaku."Ucap Vander dengan menggelengkan kepalanya tidak percaya.


Kinan memilih mendekati kakeknya untuk meredakan emosi pria tua itu dengan memeluknya sambil menangis.


Vander tersenyum pedih, dia sampai berada di atas kursi roda ini karena rasa sakit yang begitu dalam kehilangan cucu dan putra pertamanya dan sekarang rasanya semakin sakit saat tahu kalau Carlos lah penyebab dari semua kekacauan itu.


"Tidak tahu kah kau selama ini hidupku rasanya begitu hambar! Apalagi ketika cucu perempuanku dan ibunya memilih keluar dari mansion yang membuat aku sering merasa kesepian setiap harinya. Aku ini hanya ingin merasakan bahagia di hari tua tapi kau menghancurkan semuanya. Apa yang salah sampai kau melakukan perbuatan bodoh itu?"


Carlos tergelak mendengar ayahnya yang bertanya seperti itu."Apa yang salah?"Ulangnya dengan tertawa miris membuat orang-orang di ruangan itu menatap ke arahnya.


"Yang salah ayah! Kau yang salah!"Teriak Carlos dengan mata yang sudah memerah.


"Ayah pilih kasih! Ayah bahkan tidak pernah menganggap aku ada di dunia ini. Kakak dan terus kakak yang selalu di nomor satukan, tidak habis sampai di sana bahkan putranya juga mengambil posisi yang sama sedangkan aku dan anak-anakku bagaikan orang asing di dalam istanamu!"Ucap Carlos dengan bibir bergetar meluapkan semua yang dia rasakan selama bertahun-tahun.


"Apa pernah memikirkan perasaanku? Tidak bukan? Karena yang kau pikirkan hanya putra dan cucu kesayanganmu itu, aku tidak pernah ada tempat di dalam hatimu. Hanya ibu yang menyayangiku tapi dia pergi begitu cepat hingga kau memperlakukanku seperti ini."Carlos menatap Vander dengan berani memprotes ketidakadilan yang dia dapatkan.


Hahah...


Carlos tertawa nyaring lalu kembali menatap ayahnya dengan sengit."Aku melakukan itu semua karna aku tidak mau dia berkedudukan lebih tinggi di Vander group. Jika saja dia sampai menikah otomatis kepemimpinan perusahaan akan pindah ke tangannya sesuai dengan apa yang kau katakan."Jawab Carlos terlihat tidak terima.


"Kau benar-benar tidak tahu diri!"Jawab Vander dengan menatapnya tajam."Seandainya kau tahu kau itu hanyalah seorang anak pungut di keluargaku. Kau kami ambil dari seorang wanita dengan keterbatasan ekonomi yang tidak lain adalah teman ibumu, dia memohon pada kami agar mau merawatmu karena kau adalah anak di luar nikah yang tidak di harapkan!"Vander yang sedang marah tanpa sadar mengingkari janjinya pada almarhum istrinya untuk tidak akan pernah membocorkan status Carlos dalam keluarga mereka.


Deg...


Jantung Carlos berdetak begitu kencang, dia menggelengkan kepalanya berharap apa yang di dengarnya itu tidaklah benar.


"Karena kasihan istriku memutuskan menerima kau tapi dengan beraninya orang asing seperti kau yang kami bantu hidup malah melenyapkan penerusku."Vander kembali melanjutkan ucapannya dengan emosi meluap."Seharusnya aku memberitahu siapa kau sebenarnya dalam keluarga ini dari dulu agar kau menjadi lebih tahu diri."Ucap Vander dengan mengejek menatap Carlos menjijikkan.


"Tidak!"Carlos menggelengkan kepalanya dengan tertawa parau."Kau bohong! Aku adalah putramu. Kau hanya ingin menghukumku bukan dengan lelucon seperti ini?"Ucap Carlos memastikan dengan wajah penuh harap.


"Tidak! Lepaskan aku!"Marah Carlos saat penjaga itu menariknya dengan paksa untuk balik ke bilik tahanan.


Setelah melihat Carlos pergi Vander membalas memeluk Kinan untuk meluapkan kesedihan yang di rasakannya dengan pipi yang sudah basah. Dia marah pada dirinya sendiri karena mengingkari janji pada mendiang istrinya, dia juga marah karena didikan keras yang dia berikan kepada Carlos karena anak itu yang susah di atur berbeda dengan putra sulungnya Ahmet ternyata malah menimbulkan ketidakadilan dalam berbuat hingga tanpa sadar semakin membuat Carlos semakin membangkang bahkan berbuat nekat.


***


Malam itu semua anggota keluarga Vander sudah berkumpul di mansion atas perintah kakek Vander termasuk Lia ibunya Kinan. Kakek Vander menceritakan apa yang terjadi hingga membuat Lia marah dan menangis secara bersamaan karena kematian putranya merupakan sebuah kesengajaan.


Kakek Vander juga mengatakan kalau dia tidak bisa mentoleran perbuatan Carlos karena ini merupakan pembunuhan berencana dan Carlos harus mendapatkan hukuman yang setimpal untuk itu.


Jika tidak mengingat Carlos adalah anak yang dia rawat dari kecil pasti dia tidak akan segan untuk membunuhnya karena telah melenyapkan pewarisnya, tapi Carlos tetaplah putranya meskipun bukan darah dagingnya. Dan bohong jika dia tidak menyayangi Carlos, hanya saja tidak di perlihatkan.


Didikan kerasnya selama ini untuk membentuk Carlos menjadi pria yang bertanggung jawab tapi sayangnya Carlos salah mengartikannya dengan mengira Vander membencinya.


Sedangkan Kate, Arjun dan Mike yang mendengar keputusan kakek Vander hanya diam tanpa berniat mengeluarkan sepatah katapun untuk membela Carlos. Berbeda dengan Arjun dan Mike yang terkejut mengetahui kejahatan ayah mereka, Kate terlihat tenang karena dia sudah tahu semuanya dari dulu.


Kinan mengurai pelukannya pada ibunya saat melihat Adam beranjak dari ruangan itu setelah kakek Vander selesai berbicara.


Kinan meminta izin pada mamanya lalu menyusul Adam ke taman belakang. Dia memandang punggung pria itu sebelum akhirnya menghampirinya dengan ikut duduk di sebelah Adam yang menatap lurus ke depan.


"Kau tidak salah!"Ucap Kinan tanpa menatap Adam, dia tahu sepupunya itu merasa bersalah atas kecelakaan yang menewaskan Aron dan Sabi.


"Seandainya aku tidak mempercayai editan potongan rekaman singkat yang di berikan pria itu pasti kecelakaan ini tidak akan terjadi."Sahut Adam dengan miris.


"Ini bukan sepenuhnya salah mu! Jika dia tidak melarikan diri pasti tidak akan seperti ini."


Kinan menenangkan Adam tapi terkesan menyudutkan Sabi meskipun perempuan itu tidak menabrak Kaisar dengan sengaja tapi semua itu terjadi atas permainan yang di ciptakan Sabi untuk membalas sesuatu yang tidak pernah di lakukan kakaknya.


"Dia kabur pasti karena ketakutan! Bukankah kau bilang dia sedang mengandung?"Tanya Adam yang di jawab dengan anggukan kepala oleh Kinan.


"Siapapun yang berada di posisi itu pasti akan melakukan hal yang sama meskipun tidak bersalah sekalipun. Dia hanya tidak ingin bayi nya ikut menanggung penderitaan kalau tertangkap, sebab potongan rekaman itu sangat jelas memperlihatkan dirinya bersalah." Ucap Adam menebak, dia menghelah nafasnya dengan kembali menatap lurus ke depan.


Bersambung.