Love Me Please

Love Me Please
part 131



"Ini"Ucap Zhi dengan mengambil sebuah paper bag yang berada di atas meja dan memberikannya pada Leo.


Leo menatap Zhi dan paper bag itu secara bergantian dengan kening yang berkerut.


"Ini pakaian, kau pasti tidak memiliki pakaian ganti bukan? Aku sengaja menyiapkannya agar kau tidak perlu bolak balik apartemen. "Jelas Zhi yang tahu isi pikiran Leo.


Leo menerima uluran paper bag tersebut setelah terdiam beberapa saat."Terimakasih."Ujar Leo dengan tersenyum tipis pada Zhi.


Zhi menganggukkan kepalanya, lalu melirik jam di pergelangan tangannya."Masih ada dua jam lagi sebelum pesta di mulai, kau bisa beristirahat terlebih dahulu di hotel."Ucap Zhi dengan menatap Leo lalu beralih pada Putrinya yang sedang melukis sesuatu dengan tangannya di dada Leo yang membuat Zhi menggelengkan kepalanya.


"Zoe ayo ikut Mommy! Biarkan papa beristirahat terlebih dahulu, papa pasti lelah setelah bekerja."Jelas Zhi memberi pengertian pada Zoe yang terus menempel pada Leo.


Zoe membenarkan posisinya dan menatap ke arah Zhi."Zoe akan menemani papa."


"Tidak boleh!"Ucap Zhi dengan cepat."Yang ada bukan menemani tapi nanti kau malah menganggu papa mu."Tegas Zhi dengan menatap Zoe tajam.


Zhi sangat tahu seperti apa putrinya, contohnya kejadian terdahulu Zoe juga mengatakan ingin menemani Leo beristirahat tapi bukannya beristirahat dia malah meminta Leo untuk bermain kuda-kudaan.


Zoe menunduk lesuh, jika Mom Zhi sudah menatapnya seperti itu berarti dia sudah tidak boleh lagi membantah."Baiklah!"Jawab Zoe dengan pasrah sembari melihat ke arah papa Leo yang mengedikkan bahunya seolah mengatakan tidak bisa membantu.


Malam harinya pun pesta ulang tahun Zoe di rayakan semeriah mungkin di sebuah hotel mewah di kota tersebut. Suara tepuk tangan terdengar saling bersahutan setelah Zoe meniup lilin kue ulang tahunnya.


"Selamat ulang tahun princes cantiknya Daddy."Ucap Martin dengan menciumi seluruh wajah putrinya."Ini hadiah dari Daddy, ini Daddy belikan di Canada."Lanjut Martin dengan antusias karena dia baru saja pulang dari cananda dua jam yang lalu dan segera datang ke hotel untuk merayakan ulang tahun Zoe.


"Selamat ulang tahun sayangnya Mommy."Ucap Zhi dengan mengecup kedua pipi putri kecilnya sembari memberikan hadiah.


"Terimakasih Dad,Mom."Jawab Zoe dengan tersenyum senang.


"Selamat ulang tahun gadis kecil papa."Giliran Leo memeluk Zoe sembari memberikan sebuah kotak kecil.


"Apa ini pah?"Tanya Zoe dengan melihat seksama kotak tersebut."Kenapa kecil sekali."Lanjut Zoe yang membuat Leo tertawa.


"Zoe tidak boleh begitu."Tegur Zhi pada Zoe yang ceplas ceplos.


"Bukalah!"Ucap Leo dengan tersenyum tipis.


Ketika melihat apa isi kotak tersebut Zoe terpekik."Aaa terimakasih papa! Akhirnya Zoe akan pergi ke London."Zoe berlonjak bahagia sambil memeluk dan menciumi pipi Leo.


Martin yang melihat itu semua hanya terpaku di tempatnya, dia merasa iri melihat kedekatan Leo dan putrinya.


Ya, Zoe dalah putri dari Martin dan Zhi. Entah bagaimana ceritanya kedua orang yang dulunya sering beradu mulut itu sampai memutuskan menikah hingga menghadirkan seorang malaikat kecil yang bernama Zoe Smith.


Awalnya Martin sangat tidak terima mendengar Zoe memanggil Leo dengan sebutan papa apalagi Zoe terlihat lebih dekat dan menyayangi Leo di bandingkan dirinya karena kesibukannya mengurus rumah sakit yang bahkan sering berpergian keluar negeri yang membuatnya jarang menghabiskan waktu bersama Zoe.


Zhi yang melihat Martin menatap Leo dan Zoe dengan tatapan sendu menyentuh lengan suaminya dan mengusapnya lembut sembari tersenyum tipis pada Martin.


Setelah pesta selesai Zhi dan Zoe kembali ke kamar untuk beristirahat, sedangkan Martin dan Leo memilih duduk di rooftop hotel untuk minum-minum, lebih tepatnya Martin menemani Leo minum.


Leo melirik pada Martin yang sedari tadi diam dengan wajah yang terlihat masam."Kenapa wajah kau seperti itu? Kau cemburu padaku?"Tanya Leo dengan tersenyum mengejek yang membuat Martin bersungut kesal.


Leo kembali meneguk segelas Vodka di tangannya."Itu adalah karma karna dulu kau menyuruh anakku memanggilmu dengan sebutan papa, tapi sekarang anak kau lah yang memanggilku papa."Leo tertawa mengingat saat itu dirinya di suruh Sabi lomba memasak dengan Martin karena keinginan bayi di perut istrinya.


Martin hanya diam mendengarkannya sembari melihat kesedihan di balik tawa pria yang sudah sangat jauh dari kata hidup sehat itu, rasanya sangat miris melihat Leo yang notabenenya seorang dokter sekarang mengkonsumsi minuman seperti ini.


Leo menyandarkan tubuhnya pada sofa sembari menatap ke langit yang membuat Martin mengikuti arah pandangnya.


"Seharusnya kau tidak perlu cemburu padaku, kau lebih beruntung karena Zoe adalah milikmu. Kau adalah ayahnya, sedangkan aku? Aku bukan siapa-siapa."Leo melirik Martin dengan tersenyum kecut.


"Kau tahu karena putrimu lah aku bisa bangkit seperti ini, dia memanggilku dengan sebutan papa meskipun dia bukan putriku tapi dia membuatku merasa menjadi seorang ayah."Leo menjeda sebentar ucapannya." Percayalah kasih sayangnya padamu lebih besar di bandingkan padaku, kau tidak perlu khawatir aku merebut kasih sayangya untukmu."Sambung Leo dengan mengalihkan pandangannya ke arah lain sambil meneguk habis Vodka di dalam gelasnya.


Hati Martin berdenyut mendengar ungkapan perasaan Leo. Martin jadi merasa bersalah karena telah menuruti keegoisannya hingga membuat Leo merasa seperti itu.


"Aku tidak cemburu!"Jawab Martin yang membuat Leo kembali menoleh padanya dengan tersenyum tipis.


Setelah kata itu tidak ada lagi pembicaraan diantara mereka, terjadi keheningan selama beberapa saat hingga Leo kembali bersuara.


"Jika putraku masih ada kita pasti sama-sama menjadi seorang ayah sekarang. Putraku akan memanggilku dengan sebutan Daddy, aku akan mengantarkannya pergi ke sekolah, tidur sambil memeluknya dan melakukan segala hal bersama seperti yang kau lakukan dengan Zoe."Leo berucap dengan wajah yang terus tersenyum.


"Andai saja waktu itu aku tidak pergi dan menjelaskannya lebih awal pasti sekarang aku sudah hidup bahagia bersama mereka, tapi sayang semuanya hanya menjadi angan-angan, buktinya sekarang aku sendirian dan kesepian."Leo menghelah nafasnya berat.


"Leo hentikan! Kau sudah minum banyak sedari tadi."Martin menghempaskan tangan Leo yang kembali hendak menuangkan Vodka kedalam gelasnya.


"Aku masih ingin minum! Aku baru minum sedikit."Ucap Leo dengan meraih botol di tangan Martin.


"Ck, kau bilang sedikit? Lihatlah kau sudah menghabiskan dua botol sendirian!"Kesal Martin dengan menunjuk dua botol yang sudah kosong.


"Oh ayolah aku masih ingin minum! Kau boleh cemburu padaku tapi jangan mengambil minumanku."Leo berdiri dengan sempoyongan hendak mengambil botol Vodka yang di sembunyikan Martin di belakang tubuhnya.


"Jika kau mau ambilah!"Martin menggulingkan botol tersebut hingga menggelinding di lantai.


"****!"Leo berjalan sempoyongan mengambil botol tersebut, ketika Leo hampir mendapatkan botol tersebut kepalanya terasa sangat pusing hingga membuatnya hilang kesadaran.


Martin menghelah nafasnya kasar, dia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.


Martin menghampiri Leo dan menundukkan badannya."Jika kau bukan sahabatku sudah aku pastikan kau akan tidur disini semalam."Martin menepuk bahu Leo dengan kembali menghelah nafasnya sambil berlalu dari sana meninggalkan Leo.


"Bawa dia ke kamarnya!"Ucap Martin yang bertemu dengan dua pria berbadan tegap yang berpakaian serba hitam.


Bersambung