Love Me Please

Love Me Please
128



Adam merogoh saku celananya saat mendengar ponselnya berdering."Bagaimana Vin?"Tanya Adam setelah teleponnya tersambung.


Dengan seksama Adam mendengarkan penjelasan temannya di sebrang sana.


"Siapa?"Tanya Kinan setelah Adam memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana.


"Kelvin temanku."Jawab Adam dengan tatapan menerawang setelah mendapatkan informasi dari teman satu profesi dengannya.


Adam membuka tas yang di bawa nya tadi dengan mengeluarkan sebuah map beserta ponsel yang Kinan tahu itu adalah ponsel lama milik kakaknya.


"Apa ini?"Tanya Kinan dengan kening berkerut saat Adam menyodorkan semua itu pada nya.


"Kau lihatlah sendiri!"Ucap Adam yang enggan menjelaskannya.


Dengan perlahan Kinan membuka map tersebut, pertama dia di suguhkan dengan foto-foto Sabi yang sepertinya di ambil secara diam-diam. Di bawah foto itu terdapat sebuah surat yang sepertinya surat perjanjian, Kinan melirik Adam sekilas sebelum membukanya.


Setelah Kinan selesai membacanya, Adam memberikan ponsel berisi foto yang membuat Kinan menutup mulutnya karena di gambar itu terlihat Kakaknya yang sedang duduk di tepi rajang dengan Sabi yang terbaring di tempat tidur hanya dengan mengenakan pakaian dalam saja.


Lalu Adam juga memutarkan rekaman suara di ponsel itu yang berisi penjelasan Kaisar tentang apa yang terjadi. Di rekaman itu dia meminta maaf pada sabi dan mengatakan kalau dirinya di jebak.


"Di malam terjadinya kecelakaan sepertinya mereka bertengkar hingga Kaisar pergi dan Sabi menyusulnya."Tebak Adam mengingat Sabi yang mengejar mobil kaisar.


"Tadi Kelvin memberitahuku kalau seperti nya papa ku sengaja memanfaatkan keadaan dengan menghubungi Sabi, mengancam akan menyebarluaskan rekaman kecelakaan tersebut kalau Sabi yang membunuh Kaisar."


"Tapi sepertinya ponsel Sabi di tangan Aron, karena pada hari itu Sabi sedang dalam perawatan di rumah sakit jiwa kecelakaan tersebut membuat jiwa nya terguncang."


"Jadi Aron Chandler lah yang datang menemui papa, mereka membuat kesepakatan agar rekaman itu tidak di serbarkan. Papa ku setuju dengan syarat Aron Chandler mau menanamkan saham di Vander group."Adam menghelah nafasnya terlebih dahulu.


"Aron Chandler menerima persyaratan tersebut, walaupun sebenarnya dia bukanlah pria bodoh! Aku yakin dia tahu kalau rekaman itu sudah di manipulasi tapi lebih memilih diam dan menurutinya demi keselamatan wanita yang di cintainya."


Belum usai di kejutkan dengan apa yang terjadi Kinan kembali di buat kaget saat mendapatkan fakta kalau CEO W'djaya group itu ternyata menyukai Sabi.


"Kau ingat saat itu Vander group hampir saja bangkrut karna paman Ahmet yang terpuruk setelah kepergian kakakmu. Di sanalah papa ku masuk dengan saham yang di tanamkan Aron Chandler sehingga Vander group kembali naik dan papa ku meminta imbalan dengan menurunkan paman Ahmet dan menaikkan jabatannya menjadi pemimpin."Tanya Adam dengan menatap Kinan.


Kinan menganggukkan kepalanya, dia ingat sekali dengan kejadian itu. Kakek Vander yang tidak punya pilihan akhirnya menyetujui permintaan paman Carlos.


Adam tersenyum kecut."Papa ku benar-benar licik!"Gumam Adam dengan lirih yang masih dapat di dengar oleh Kinan.


"Adam!"Pangil Kinan setelah beberapa saat diam.


"Hem,,,"


"Bagaimana dengan mobil Lexus itu? Apa dia tidak terlibat?"Tanya Kinan saat teringat dengan rekaman yang di putar Adam di kantor polisi tadi, dimana sebelum rekaman berakhir tersorot sebuah mobil yang berhenti tidak jauh dari tempat kejadian.


"Sepertinya tidak! Mungkin mobil itu hanya kebetulan lewat saat itu."


Adam menghelah nafasnya berat."Bukankah waktu itu kita sudah pernah mencarinya dan pemilik mobil itu adalah Leo suaminya Sabi, jelas sekali dia mengatakan kalau malam itu dia tidak berada di negara ini."Jelas Adam panjang lebar.


"Lagian kita sudah punya rekamannya jadi tidak membutuhkan itu lagi."Adam tidak ingin memperumit dengan mencari siapa pengendara mobil itu karena dia rasa itu hanya membuang waktu saja.


Karena untuk mendapatkan informasi ini saja dia di bantu oleh Kelvin. Kelvin datang ke kantornya polisi untuk memancing ayahnya mengatakan semua yang terjadi bahkan Kelvin juga rela mendatangi rumah sakit tempat Sabi di rawat dulu untuk informasi ini.


***


Sedangkan di tempat lain jasad Sabi dan Aron sedang di evakuasi. Di sana sudah ada ibu dan ayahnya Sabi, kedua orangtua Leo yang baru saja datang juga menghampiri ibu nya Sabi yang sedang menangis. Jika saja tidak di pegangi suaminya sudah di pastikan wanita paruh baya itu terjatuh.


Rahayu juga ikut menenangkan Bu Mona yang terlihat begitu menyedihkan dengan wajah yang sudah sembab. Di tengah gerimis itu mereka menyaksikan jasad Aron dan Sabi yang sudah di bawa ke atas dengan keadaan yang sudah terbungkus karena jasad mereka katanya hangus tidak berbentuk yang membuat Bu Mona semakin histeris sampai pingsan.


***


Keesokan paginya rumah duka sudah di penuhi oleh tamu yang melayat. Rahayu duduk di samping Bu Mona merangkul besannya yang lemas karena terus menangis.


Semalam setelah di bawa kerumah sakit Bu Mona bersikeras untuk membawa Sabi pulang dan menolak proses otopsi, dia tidak ingin putrinya lebih menderita lagi.


Jasad Aron juga di bawa ke rumah mereka, setahu ibunya Sabi keluarga Aron tidak ada di Indonesia. Bu Mona juga tidak tahu harus menghubungi siapa untuk menjemput Aron, semenjak keluarga Aron pindah mereka tidak saling berkomunikasi bahkan Bu Mona tidak tahu kalau Aron sudah kembali lagi ke kota ini.


Di sudut ruangan kusuma terpaku menatap jasad Sabi yang sudah berada di dalam peti, dia tidak menyangka ternyata menantunya adalah wanita itu.


Ingatan Kusuma kembali berputar pada masa lalu, dimana malam itu dia hampir saja terlibat kecelakaan. Kondisi cuaca yang hujan membuat penglihatannya tidak jelas. Dia menghentikan mobilnya ketika mendengar benturan keras dan samar-samar melihat mobil terguling ke jurang, dia keluar dari dalam mobil tanpa memperdulikan tubuhnya yang kehujanan.


Kusuma berlari menghampiri mobil yang satu laginya yang terlihat berasap. Dia mengetuk jendela melihat apakah penumpangnya masih di dalam. Kusuma mencoba membuka pintu tapi sepertinya pintu tersebut rusak, dengan cepat Kusuma mengambil besi di mobilnya kembali mencoba membuka pintu.


Saat pintu berhasil di buka, dia melihat pengemudi mobil tersebut ternyata seorang perempuan yang sudah tidak sadarkan diri dengan wajah penuh darah sedangkan di sampingnya terlihat seorang pria yang masih sadar dengan kondisi lemah terus memanggil nama perempuan di sampingnya.


Dia mengantarkan dua orang tersebut ke rumah sakit dan mengurus semua biayanya. Saat akan pergi pria yang di tolongnya tadi yang sudah di obati menghampirinya. Pria tersebut mengucapkan terimakasih bahkan pria itu juga memintanya untuk merahasiakan apa yang terjadi meminta tolong untuk mengambil cctv dan melenyapkan file tersebut.


Tanpa berpikir panjang Kusuma menerima permintaan itu karena pria tersebut menawarkan imbalan yang bukan main.


"Saya bahkan bisa memberikan setengah kekayaan saya jika anda melakukan semua yang saya katakan tadi. Harta yang saya miliki saat ini tidak ada artinya di bandingkan dengan keselamatan perempuan yang saya cintai."


Ucapan Aron yang saat ini terasa masih bisa dia dengar.Tapi sayangnya dia tidak mendapatkan Cctv di tempat kejadian tersebut karena seseorang sudah lebih dulu mengambilnya.


Inilah alasan Kusuma menobatkan Aron menjadi CEO di perusahaannya karena tidak enak menolak keinginan pria yang sudah membantu perusahaannya sampai berkembang seperti sekarang.


Awalnya dia bingung kenapa pria kaya dengan banyak cabang perusahaan seperti Aron ingin menjadi CEO di perusahaannya tapi sekarang dia sudah tahu ternyata itu semua lagi-lagi demi wanita yang dicintai pria tersebut yang tidak lain menantunya sendiri.


Bersambung.