
"Bagaimana apa mereka mau?"Tanya Carlos pada orang lewat sambungan telepon.
"Kalian ini benar-benar tidak becus! Mengurus dua orang tua itu saja tidak bisa pokoknya saya tidak mau tahu nanti malam kalian harus memberikan kabar baik!"Carlos langsung mematikan ponselnya sepihak."Mereka benar-benar bodoh!"gumam Carlos dengan memasukkan ponsel ke dalam saku celana nya.
"Siapa yang bodoh pah?"
Carlos membalikkan badannya."Kau! Sejak kapan kau disana?"Tanya Carlos dengan susah payah menelan saliva nya saat melihat Adam berdiri di belakangnya.
"Baru saja." Adam yang tadinya ingin masuk ke kamarnya tidak sengaja mendengar ayahnya marah pada orang di sambungan telepon itu karena penasaran dia mencoba mendekat."Papa tidak ke kantor?"sambung Adam saat melihat ayahnya masih berada di mansion jam segini.
"Ini baru mau pergi."Carlos berlalu sembari menepuk pelan bahu putranya, dia merasa lega karena ternyata Adam tidak mendengar pembicaraannya sedari tadi.
Adam memandangi punggung papa nya yang semakin menjauh dengan intens sebelum akhirnya dia juga ikut pergi dari sana.
***
Sore harinya setelah pulang bekerja Leo mengajak Sabi untuk berbelanja kebutuhan rumah di sebuah mall yang berada tidak jauh dari perusahaan W'djaya group. Leo tidak ingin nanti Sabi terlalu sering bepergian keluar sendirian saat dirinya pergi makanya sekarang dia menyiapkan semua yang rasanya di butuhkan oleh istrinya itu.
Sabi yang mendengar alasan Leo melengkungkan sudut bibirnya padahal suaminya itu hanya pergi beberapa hari tapi Leo menyiapkan kebutuhannya begitu banyak seperti akan di tinggal lama saja, tapi jujur Sabi merasa sangat senang di perhatikan seperti ini oleh Leo.
Setelah mendapatkan semua yang di butuhkan istri dan anaknya Leo meminta seseorang untuk membawakan belanjaan mereka ke mobil karena terlalu banyak. Dan sedari tadi Sabi terus saja menggandeng tangan Leo dengan sesekali tersenyum manis pada suami yang sangat di cintanya itu.
"Sayang kenapa berhenti?"Tanya Sabi saat Leo menghentikan langkahnya.
"Sayang!"Panggil Sabi dengan mengikuti arah pandang suaminya ke sebuah toko perlengkapan bayi yang berada di depan mereka.
"Itu sangat lucu sekali."Gumam Leo."Ayo kita kesana!" Ajak Leo dengan menarik tangan Sabi untuk masuk ke dalam toko tersebut.
"Sayang apa yang kita lakukan di sini?"Tanya Sabi yang kebingungan saat Leo mengajaknya ke toko perlengkapan bayi ini, masa iya Leo ingin membeli perlengkapan baby mereka sedangkan kandungannya saja masih kecil.
"Lihat itu sayang!"Leo menunjuk sepatu bayi yang berada dalam kotak kaca."Itu sangat lucu sekali bukan?"Tanya Leo dengan tersenyum hangat memperhatikan sepatu tersebut.
"Iyah sayang itu sangat lucu."Jawab Sabi yang ikut memperhatikan sepatu pilihan suaminya itu.
"Aku ingin membelinya!"
"Untuk siapa?"Kini Sabi beralih menatap suaminya.
"Tentu saja saja untuk anak kita sayang! Memangnya aku punya anak selain ini."Ucap Leo dengan mengusap lembut perut istrinya yang mulai membuncit.
"Tapi anak kita belum lahir sayang bahkan perutku saja baru terlihat membesar."Ucap Sabi dengan gemas pada suaminya ini.
"Nanti Dante bisa memakainya kalau dia sudah besar!"
"Dante?"Tanya Sabi dengan kening yang berkerut.
"Itu kan nama bayi laki-laki, bagaimana kalau nanti yang lahir perempuan?"Tanya Sabi dengan tertawa kecil saat Leo mengira kalau anak mereka adalah laki-laki padahal mereka belum memeriksa jenis kelaminnya.
"Aku yakin dia laki-laki."Ucap Leo dengan begitu yakin yang membuat Sabi menggelengkan kepalanya melihat suaminya yang sudah seperti dukun saja.
"Selamat sore bapak ibu! Ada yang bisa kami bantu?"Ucap pelayan tokoh yang baru saja menghampiri mereka dengan ramah.
"Saya ingin sepatu ini! Apa saya bisa melihatnya?"
Pelayan tersebut menganggukkan kepalanya dan mengeluarkan sepatu bayi tersebut dari dalam kotaknya.
Bersamaan dengan itu Aron yang baru saja selesai bertemu kliennya di mall ini tidak sengaja melihat Sabi dan Leo saat melewati toko tersebut, dia tersenyum kecut melihat pemandangan itu dan memilih pergi dari sana secepat mungkin.
Setelah sampai di rumah Leo terus saja melihat lihat sepatu yang di belinya tadi dengan tersenyum puas."Sayang menurutmu kira-kira anak kita bisa memakai ini di umur berapa ?"Tanya Leo dengan menatap sekilas pada Sabi yang sedang menyusun belanjaan mereka tadi.
"Sepertinya di umur satu tahun."Sahut Sabi dengan melirik sepatu yang berada di tangan Leo."Kenapa tadi memilih yang itu?"Tanya Sabi penasaran karena sepatu itu baru bisa di pakai bayi mereka di usia satu tahun padahal tadi pelayan toko sudah menawarkan ukuran yang lebih kecil tapi Leo menolaknya dan tetap memilih sepatu itu tanpa mau di ganti yang lain.
"Aku menyukai sepatu ini dan ingin melihat anak kita memakainya saat aku mengajarinya berjalan nanti."Leo tersenyum tipis membayangkan saat itu tiba saat dia menatih anaknya berjalan."Pasti dia akan sangat menggemaskan."Sambung Leo dengan melirik Sabi.
"Kau benar"Sabi menghampiri Leo dan mengusap lembut bahu suaminya dengan tersenyum tipis memandangi sepatu yang ada di tangan Leo.
***
Malam harinya di kediaman mansion Vander terlihat Carlos yang diam-diam mencari tempat sepi untuk mengangkat ponselnya."Bagaimana?"Tanya Carlos pada anak buahnya setelah mengangkat panggilan tersebut.
"Kerja bagus! Besok malam persiapkan semuanya dan pastikan kalian membakar habis seluruhnya!"Perintah Carlos dengan seringai licik di wajahnya.
Carlos menengok ke belakang sebelum akhirnya pergi dari tempat tersebut dan tidak lama setelah dia pergi Adam keluar dari tempat persembunyiannya tadi dengan menatap tajam kepergian Carlos. Dia mengeluarkan ponselnya dan menekan nomor seseorang sambil berlalu pergi dari sana.
Sedangkan di dalam sebuah kamar terlihat kakek Vander yang sedang membersihkan foto mendiang Anak dan cucu nya, setelah selesai kakek Vander mengusap wajah orang di foto tersebut sebelum memilih meletakkannya di atas nakas.
Prang...
Belum sempat dia meletakkan foto tersebut di tempatnya tiba-tiba saja foto yang berada di tangannya itu terjatuh yang menyebabkan kacanya pecah. Dengan perasaan campur aduk kakek Vander memandangi pecahan kaca tersebut sebelum pandangannya beralih pada orang yang baru saja masuk ke dalam kamarnya.
"Kakek bisa kita bicara sebentar?"Tanya Adam sebelum matanya melihat pecahan kaca di depan kakek Vander.
Adam menghampiri kakek Vander dan membungkukkan badannya untuk mengambil bingkai foto dengan kaca yang sudah berserakan itu."Apa kakek terluka?"
Kakek Vander menjawab pertanyaan Adam dengan gelengan kepala, dia mengarahkan tangannya untuk menyentuh dadanya yang terasa nyeri. Biasanya dia tidak pernah se ceroboh ini dengan barang apalagi barang itu sedang ada di genggamannya.
Bersambung.