
Beberapa tahun kemudian....
Di tengah gerimis pagi terlihat seorang pria dengan setelan kemeja hitam yang lengannya di gulung sampai siku berjalan memasuki area pemakaman umum dengan tangan kiri memegang payung dan tangan kanan membawa satu buket bunga Lily berwarna putih.
Langkah kakinya berhenti tepat di sebuah makam dengan rumput hijau yang bersih dan indah dengan taburan bunga di atasnya. Pria tersebut membuka kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya sembari meletakkan bunga Lily putih tepat di batu nisan yang bertuliskan nama wanita yang sangat di cintainya Sabina Tanisya.
Ya, pria tersebut adalah Leonarta Wijaya. Pria yang berusia sudah sangat matang itu mengecup singkat batu nisan istrinya yang hari ini tepat sudah enam tahun pergi meninggalkannya. Leo memandangi batu nisan itu dengan sendu sebelum akhirnya pergi dari sana tanpa menoleh ke belakang sedikitpun.
Enam tahun berlalu banyak perubahan yang terjadi dalam hidup Leo. Pria yang dulunya ramah tamah kini sudah menjadi dingin tak tersentuh. Dia bukan lagi seorang dokter tapi seorang CEO perusahaan besar W'djaya group yang sudah memiliki banyak cabang.
Kusuma sangat membanggakan Leo karena putranya itu kini perusahaan W'djaya group berkembang pesat menjadi perusahaan terbesar di kota ini dengan cabang dimana-mana.
Lalu bagaimana dengan rumah sakit? Semua yang berhubungan dengan rumah sakit Leo limpahkan pada Martin, pria yang saat ini menjadi direktur di rumah sakitnya.
Leo menghentikan mobilnya di sebuah gedung besar yang menjulang tinggi. Dengan rasa bangga Leo menatap perusahaan yang sudah berkembang di tangannya itu selama beberapa tahun terakhir.
Dengan langkah cepat Leo memasuki W'djaya group karena hari ini dia ada meeting bersama seorang perempuan yang merupakan CEO dari Vander group yang bernama Kinan Vander.
Meskipun memiliki masa lalu yang buruk dengan Vander group tapi Leo tetap mau menjalani kerja sama dengan mereka. Leo sudah mengetahui semua yang terjadi dengan Sabi dan pewaris Vander group di masa lalu ketika dia kembali dari Amerika.
Awalnya Leo memang begitu terpuruk bahkan sampai jatuh sakit tapi setelahnya dia mulai bangkit dan berdamai dengan keadaan mengikhlaskan semua yang terjadi. Bahkan sekarang dia menjalin hubungan baik dengan Vander group, semua yang telah terjadi Leo anggap sebagai takdir yang sudah di gariskan tuhan dalam hidupnya.
"Sudah lama menunggu Mrs. Vander?"Tanya Leo pada perempuan yang sedang duduk di sofa yang berada di ruangannya.
"Tidak Mr. Wijaya! Saya juga baru sampai beberapa menit yang lalu"Jawab Kinan dengan tersenyum tipis meskipun Leo memasang wajah datar padanya.
"Baiklah kita langsung saja."Ucap Leo dengan duduk di kursi kebesarannya dengan di ikuti Kinan yang duduk di depannya.
Kinan pun mulai membuka Map yang di bawanya dan menjelaskan apa rencananya pada CEO W'djaya group tersebut, Leo menganggukkan kepalanya setuju mendengar penjelasan kinan dan juga memberi tambahan ide nya.
Leo melirik jam di pergelangan tangannya, hari sudah menunjukkan pukul lima sore. Jadwalnya hari ini benar-benar padat sampai membuatnya hampir saja melupakan janjinya pada seseorang.
Leo mengambil jas kerjanya yang terlampir di kursi lalu segera meninggalkan ruangan tersebut setelah menyimpan dokumen di mejanya.
***
Leo memasuki sebuah Cafe yang terlihat begitu ramai pengunjung dengan membawa paper bag besar di tangannya sambil mencari sosok yang menghubunginya sedari tadi mendesak untuk segera datang.
"Papa!"Pekik seorang anak perempuan yang hari ini tepat berusia lima tahun itu dengan berlari ke pelukannya.
Leo yang melihat itu dengan cepat merentangkan tangannya dan membawa gadis kecil itu ke dalam gendongannya.
"Kenapa lama sekali, Zoe dan Mommy sudah menunggu sedari tadi."Kesal anak perempuan dalam gendongannya tersebut dengan wajah cemberut.
"I'm sorry."Ucap Leo dengan wajah yang di buat sememelas mungkin.
Cup...
Zoe yang tidak tega memilih memaafkannya."Kali ini Zoe maafkan tapi tidak untuk di ulang."Ucap Zoe setelah mengecup pipi Leo yang membuat pria tersebut tersenyum senang.
"Dimana Mommy?"Tanya Leo sambil berjalan membawa Zoe untuk duduk di sebuah kursi.
"Itu!"Tunjuk Zoe pada seorang perempuan cantik dan elegan yang sedang berjalan ke arah mereka dengan membawa segelas kopi.
"Maaf aku sedikit terlambat!"Ucap Leo saat wanita itu duduk di depannya.
"Tidak masalah! Ini kopi untukmu"Ucap Zhi dengan meletakan segelas kopi panas yang baru saja di buatnya di hadapan Leo.
"Zoe turunlah jangan seperti itu, papa pasti lelah jika kau terus bergelantungan begitu." Ucap Zhi dengan menggelengkan kepalanya melihat sikap Zoe yang begitu manja pada Leo.
"No mom."Tolak Zoe dengan posesif mengalungkan tangannya di leher Leo."Papa tidak masalah bukan kalau Zoe duduk di sini?"Tanya Zoe dengan memasang wajah gemasnya.
"Mommy lihat sendiri papa tidak masalah jika Zoe seperti ini."Jelas anak gadis cantik itu saat Leo menggangukkan kepalanya membolehkan.
Zhi hanya bisa menghelah nafasnya panjang, Zoe selalu punya cara untuk membuatnya kalah, sedangkan Leo tersenyum gemas dengan menciumi pipi gembul Zoe.
"Ini hadiah untuk princes cantik."Ucap Leo dengan mengeluarkan boneka beruang dari dalam paper bag yang di bawanya.
Leo mengerutkan keningnya saat melihat Zoe menerima hadiah tersebut dengan tidak bersemangat berbeda dengan tahun lalu yang membuat Zoe kegirangan dengan memberikannya ciuman bertubi-tubi.
"Zoe ingin hadiah apa?" Tanya Leo saat menyadari kalau bukan itulah hadiah yang di inginkan oleh Zoe.
"London!"Jawab Zoe cepat dengan senyuman manis di wajahnya, sepertinya gadis kecil itu sudah menyiapkan jawabannya sebelum Leo datang.
"Zoe..."Panggil Zhi saat merasa keinginan putrinya terlalu berlebihan.
"Maaf!"Ucap Zoe dengan menundukkan kepalanya sendu.
"Baiklah kita akan ke London."Ucap Leo yang membuat Zoe menegakkan kepalanya menatap pria tersebut dengan wajah berbinar.
"Leo..."Zhi menggelengkan kepalanya agar Leo kembali menarik ucapannya untuk tidak menuruti keinginan Zoe yang sudah keterlaluan.
Leo memberi isyarat pada Zhi kalau itu tidak masalah baginya, Zhi yang melihat itu hanya bisa menghelah nafasnya.
"Benarkah? Papa tidak bohong bukan?"Tanya Zoe kembali memastikan.
Leo menganggukkan kepalanya."Papa tidak bohong!"Ucap Leo dengan tersenyum ke arah Zoe.
"Kebetulan minggu depan aku ada meeting dengan rekan ku yang ada di London, rencananya mereka yang akan datang kesini tapi aku akan mengatakan pada mereka kalau kita yang akan ke sana sekalian mengajak Zoe jalan-jalan ke London."Jelas Leo pada Zhi sambil menarik gemas hidung mancung Zoe.
"Terimakasih papa."Zoe menghadiahi Leo ciuman bertubi-tubi yang membuat pria tersebut tertawa geli.
Zhi yang melihat itu ikut tersenyum karena hanya Zoe kecil lah yang bisa membuat Leo tertawa seperti ini.
Bersambung.