
"oh iya tuan Alkasy silahkan menikmati jamuan yang sudah ada semonga anda menyukainya".ucap tuan Dahlan
"Panggil Al saja itu lebih nyamam bagi saya,karena anda lebih tua dari saya tuan".
"Ba-baiklah"tuan Dahlan merasa sungkan mengiyakan permintaan rekan bisnisnya ini karena sepak terjang Al dia sudah tau bagaimana malahan dia tidak ada tandingannya dengan pemuda yang masih berdiri di depannya ini.
"Baiklah kalau begitu kami permisi dulu"
"Iya silahkan,semoga anda menyukai menu yang ada".ucap tuan Dahlan lagi
Al pun segera menarik tangan Fisya untuk mengikuti nya melangkah menuju tempat di mana makanan sudah tersedia.
"Kamu ingi yang mana biar aku yang ambilkan "?tawar Al
"Lepaskan".ucap Fisya yang tidak menjawab pertanyaan dari atasannya.
"Apa maumu"?tanya Fisya yang sudah hilang stok kesabarannya yang sedari tadi dia tahan.
Al yang mendegar ucapan dari mulut sekretarisnyapun segera mengalihkan pandagan matanya terhadap sekretarisnya dan menatap mola mata coklat itu.
"Mau aku ya kita makan kan"?"ayo mau yang mana biar aku yang mengambilnya".lanjutnya lagi dia tau kemana arah pembicaran sekretarisnya ini tapi dia tidak ingin memperdulikannya.
Fisya segera menarik tangan bossnya menjauh dari tamu yang hadir agar perdebatan mereka tidak menjadi tontonan.Al hanya pasrah saja mengikuti kemana tujuan yang akan di ajak oleh sekretarisnya, dirinya malahan senang karena secara tidak sengaja Fisya mengenggam tangannya walaupun dia tau kenapa Fisya mengenggam tangannya.
Merasa tempatnya sudah sedikit aman dari pandangan orang banyak Fisya segera melepaskan genggaman tangannya, dia menghempaskan tangan bossnya dengan kasar.
"Apa yang kau inginkan hah..."ucap Fisya degan suara yang sedikit meninggi mulai emosi
"Aku tidak mengiginkan apa-apa".jawab Al masih seperti biasa saja, seperti tidak terjadi apa -apa di antara mereka
Mendengan jawaban yang di berikan oleh bossnya rasanya kepala Fisya seperti ingin meledak seketika raut wajahnya memerah seperti banteng yang keluar asap dari kedua telinganya.ingin sekali rasanya dia segera memukul atasanya ini karena seenaknya saja mengakui dirinya sebagai istrinya.
"Kau,kau tau apa yang kau ucapkan barusan" tunjuk Fisya dengan tatapan yang begitu tajam tepat di depan wajah Al, hilang sudah panggilan tuan yang di sematkan olehnya untuk Al selaku atasanya selama ini."apa tujuan mu mengakui aku sebagai istrimu"?ucap Fisya dengan suara yang penuh penekanan setiap kata yang dia ucapkan.
Al yang baru pertama kali melihat kemaraha sekretarisnya hanya bisa menelan salivanya,sungguh sangat mengerikan ,dia baru tau Fisya ternyata bisa semarah ini juga.
"Tenang, tenangkan dirimu dulu".ucap Al menenangkan Fisya agar tidak mara lagi."tari nafas pelan-pelan lalu buang iya seperti itu".ucap Al lagi memberikan arahan untuk Fisya agar bisa mengontrol emosinya agar tidak kelepasan dan bertambah terhadapnya.
Fisya pun segera melakukan seperti yang di perintahkan oleh atasannya,menghirup dan mengeluarkan nafasnya secara perlahan walaupun emosinya sudah di ubun-ubun tapi dia masih juga melakukan seperti apa yang di perintahkan oleh atasanya
"kamu tadi sudah berjanji akan menjadi pasangan aku untuk malam ini, jadi tidak salahkan bagi aku mengakui kalau kamu istriku".ucap Al setelah melihat Fisya sedikit lebih tenang. dengan gayanya yang masih terlihat biasa saja,walaupun di dalam hati dia terlihat sedikit takut melihat perubahan Fisya ketika lagi marah tapi sebisa mungkin dia harus terlihat biasa saja, kalau Fisya tau bahwasanya dia takut melihat Fisya yang sedang marah begitu bisa jatuh harga dirinya di depan sekretarinya ini.