Love Me Please

Love Me Please
Part 120



"Kau sudah bangun?"Tanya Lia yang sedang menata piring di meja makan pada Martin yang baru saja muncul.


"Eum Iyah tante."Jawab Martin dengan menggaruk tengkuknya canggung."Semalam saya-"Martin yang merasa tidak enak karena sudah tidur di rumah orang tanpa izin hendak menjelaskan pada mama Kinan kalau semalam dia ketiduran.


"Sudahlah! Ayo cuci muka dulu setelah itu baru kita sarapan!" Lia memotong ucapan Martin karena dia tahu kalau semalam Martin ketiduran di rumah pohon belakang.


"Ah terimakasih Tante tapi sepertinya saya tidak-"


"Tante tidak menerima penolakan! Cepatlah cuci muka disana." Ucap Lia dengan menunjuk kamar mandi dan bersamaan dengan itu Kinan muncul dari arah dapur dengan membawa masakannya.


Martin pun akhirnya menurut, setelah mencuci muka dia duduk di kursi kosong yang berada di sebelah Kinan. Diam-diam Martin memperhatikan tante Lia yang sedang mengisi makanan ke dalam piring Kinan dia tersenyum kecut melihat pemandangan seperti ini saat teringat dengan ibu dan ayahnya yang selalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing sehingga untuk sarapan bersama seperti ini saja bisa di katakan tidak pernah.


Dulu waktu kecil ketika bangun tidur dia sudah tidak melihat keberadaan ayah dan ibunya dan saat malam hari pun ayah dan ibunya pulang ketika dia sudah tertidur. Setiap hari selalu saja begitu, dia selalu di temani oleh para pelayan mulai dari sarapan sampai makan malam. Bahkan di hari ulang tahunnya pun orang tuanya tidak ada waktu untuknya, mereka selalu meminta maaf dan menggantinya dengan hadiah yang bagus dan mahal tapi semua itu tidak cukup baginya karena yang dia butuhkan bukanlah itu.


"Kau juga harus makan yang banyak, jangan sungkan-sungkan di sini anggap saja sebagai rumah sendiri."Kali ini Lia beralih mengisi piring Martin yang membuatnya menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyum kecil saat di perlakukan seperti ini oleh mama kinan karna ibunya saja tidak pernah melakukan hal seperti ini untuknya.


***


Pagi harinya saat bangun tidur Sabi merasakan tubuhnya terasa sakit-sakit karena semalam Leo melakukannya berkali-kali dengan alasan untuk bekal selama suaminya itu pergi yang membuat Sabi hanya bisa pasrah.


"Ternyata kau sudah bangun!" Ucap Leo yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi dengan tersenyum sumringah berjalan mendekati istrinya.


"Aku sudah menyiapkan air hangat ayo kita mandi!"


"Kita?"


"Hem, apa mau aku gendong?"Tawar Leo dengan bersiap menggendong istrinya saat melihat Sabi belum beranjak dari ranjang.


"Tidak-tidak aku bisa berjalan sendiri."Jawab Sabi was-was dengan menahan tangan suaminya, dia takut Leo akan memintanya lagi bisa-bisa nanti dia tidak jadi pergi ke kantor."Aku mandi sendiri saja."Dengan cepat Sabi berjalan ke kamar mandi tapi belum beberapa langkah berjalan dia terpekik karena merasakan tubuhnya melayang di udara.


"Aku janji tidak akan macam-macam!"Jelas Leo karena dia tahu apa yang ada di pikiran istrinya, tapi Leo benar-benar ingin mandi bersama untuk membantu Sabi membersihkan tubuhnya tanpa ada niat terselubung lagian dia juga tidak ingin sampai terjadi sesuatu pada anak mereka jika melakukannya lagi.


***


Setelah selesai sarapan Martin pamit untuk pulang karena dia juga akan pergi bekerja, sebelum pulang dia sempat menawarkan tumpangan pada Kinan tapi gadis itu menolaknya dan mengatakan ingin naik angkutan umum saja."Percayalah aku tidak akan terlambat hanya karna mengantar kau."Martin bersikeras ingin mengantar kinan karena ingin membalas kebaikan gadis itu dan mama nya yang sudah baik padanya.


"Cepatlah pergi sana! Nanti kau bisa telat ke rumah sakit"Usir kinan supaya Martin pergi, mengingat pria itu belum mandi tentu akan membutuhkan waktu lama untuk bersiap-siap nanti apalagi di tambah mengantarnya dulu bisa-bisa dia telat ke rumah sakit.


"Kau benar-benar keras kepala."Ucap Martin dengan menggelengkan kepalanya karena dia sudah menghabiskan waktu tiga menit untuk membujuk gadis itu tapi hasilnya nihil.


"Kau juga."Sahut kinan tidak mau di katai keras kepala karna pria itu juga sama.


"Ah itu dia!"Kinan melambaikan tangannya untuk menghentikan angkutan umum yang lewat."Aku pergi dulu, sekarang kau pulanglah! Dah.."Ucap kinan dengan melambaikan tangannya dengan tersenyum penuh kemenangan.


Martin yang melihat kinan sudah pergi hanya bisa menghelah nafasnya dan segera berlalu dari sana menuju mobilnya.


***


Adam yang baru saja selesai menyeruput teh nya  terlihat begitu kesal saat kakek Vander mengejeknya."Siapa bilang aku di pecat? Hari ini aku itu masuk setelah jam makan siang, kakek sok tahu sekali."


"Berarti kau masih punya uang?"


"Tentu saja punya!"Jawab Adam dengan wajah angkuh.


"Ck, lalu kenapa kau kembali kesini?"Tanya kakek Vander mencibir.


"Aku kembali kesini karena aku-"Adam tidak melanjutkan ucapannya saat menyadari sesuatu.


"Aku apa?" Tanya kakek Vander yang penasaran dengan kalimat selanjutnya.


"Karna aku merindukan kakek."Jawab Adam dengan menampilkan senyumnya.


"Sangat menggelikan sekali."Ucap Kakek Vander dengan bergelidik ngeri yang membuat senyum di wajah Adam perlahan memudar. Dia pikir kakek tua itu akan terharu dengan jawabannya tapi sudahlah.


"Arjun! Kau ke kantor hari ini?"Tanya kakek Vander saat melihat Arjun menghampirinya, karena biasanya Arjun hanya akan ke kantor tiga kali dalam seminggu.


"Iyah kek! Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan di kantor."Jawab Arjun sambil memperhatikan Adam yang terlihat acuh sambil memakan cemilan kacang kesukaannya.


"Apa kau tidak bekerja?"Tanya Arjun memberanikan diri untuk bertanya walaupun merasa sedikit ragu kalau Adam tidak menjawab seperti sebelum-sebelumnya.


"Hem, aku masuk siang hari ini!"Ucap Adam dengan melirik sekilas pada Arjun.


Arjun menganggukkan kepalanya mengerti dia melengkungkan sudut bibirnya saat Adam menanggapinya, sepertinya Adam serius ingin melupakan apa yang terjadi di masa lalu antara mereka."Baiklah kalau begitu aku berangkat dulu."Arjun berpamitan pada kakek Vander dan juga Adam.


"Kakek!"Panggil Adam saat kakek Vander sedang membaca buku tentang bisnis di tangannya.


"Kalau aku boleh tahu kenapa kamar kaisar di kunci?"


Kakek Vander mengedikkan bahu nya sebagai jawaban tanpa mengalihkan tatapannya dari buku yang dia baca.


"Eum, kakek tahu tidak dimana letak kunci kamar kaisar?" Tanya Adam dengan hati-hati.


"Memangnya kenapa?"Pertanyaan kali ini berhasil membuat kakek Vander mengalihkan tatapannya pada Adam.


"Tidak ada! Aku hanya ingin bertanya."Jawab Adam dengan mengalihkan tatapannya ke arah lain saat kakek Vander melihat ke arahnya.


Tidak lama pun terdengar kakek Vander menghelah nafasnya."Kakek sudah bilang bukan tidak ingin membahas kasus itu lagi semuanya sudah selesai! Karena itulah kakek setuju dengan ayahmu yang ingin menutup semua hal yang berhubungan dengan kaisar, kakek tidak ingin lagi mengungkit dan mengingatnya."Ucap kakek Vander dengan meletakkan bukunya dan menatap lurus ke depan.


Adam tidak lagi menyahut dia tahu saat ini kakeknya sedang tidak baik-baik saja. Adam tahu betul kakeknya begitu terpukul dengan kepergian Kaisar apalagi setelah itu pamannya juga ikut menyusul.


Sebenarnya inilah yang membuat Adam tidak ingin menyebutkan alasannya kembali kesini pada kakek karena dia tahu kakeknya itu tidak akan setuju dengan apa yang dia dan Kinan sedang lakukan. Baru saja dia bertanya tentang kunci kamar kaisar kakeknya itu sudah begini, apa kalau kakeknya itu tahu dia sedang membuka kembali kasus itu bisa-bisa dia langsung di tendang dari sini.


Bersambung.