
Seorang bocah laki-laki memasang wajah cemberut saat wanita cantik di sampingnya yang tidak lain adalah ibunya mengajaknya pergi memenuhi undangan makan malam bersama rekan kerjanya .
"Maaf Mr. Alejendro kami sedikit terlambat."Ucap wanita yang baru saja duduk di kursinya.
"Tidak masalah Ms. Tanisya."Jawab pria berusia matang tersebut dengan melirik bocah laki-laki di samping ibunya itu.
"Hi boy! What happened?"Tanya Alejendro saat melihat wajah kecil yang masam tersebut.
Bukannya menjawab bocah laki-laki itu malah mengalihkan tatapannya ke arah lain karena tidak suka. Sabi yang merasa tidak enak menegur pelan putranya yang terlihat tidak sopan.
"Maaf Mr. Alejandro."Ucap Sabi tidak enak hati ketika Dante memberi penolakan seperti itu.
"Tidak masalah, dia masih kecil wajar bila seperti itu."Alejendro terkekeh kecil sembari memperhatikan bocah laki-laki yang berdiri di belakang kursi ibunya.
"Sayang duduklah!" Titah Sabi pada Dante yang terus berdiri di belakangnya.
Lagi-lagi Sabi hanya bisa menghelah nafasnya, putranya itu benar-benar sama seperti dirinya yang begitu keras kepala.
Mr. Alejandro pun memulai obrolan kecil dengan Sabi hingga suasana makan malam tersebut terasa sedikit menghangat.
Sedangkan Dante memicingkan matanya saat melihat sosok yang dikenalinya, dengan langkah kecil bocah laki-laki itu mengikuti orang tersebut.
"Dante!" Sabi menoleh kebelakang memanggil putranya karena makanan mereka sudah tersaji di atas meja.
Dia sampai melupakan keberadaan putranya saat terlalu asik berbincang dengan Alejendro.
"Dante?"Sabi berdiri dari duduknya saat menyadari kalau putranya tidak ada begitupun dengan Mr. Alejandro.
Bagaimana bisa dia melupakan putranya karena terlalu asik berbincang dengan Mr. Alejendro, dengan cepat Sabi meraih tasnya yang berada di kursi.
"Sabi!" Alejandro menahan tangan wanita cantik itu saat hendak pergi.
"Maaf Mr. Alejandro sepertinya saya harus pergi!"Sabi melepaskan pegangan tangan Alejandro dan segera berlalu dari sana.
Sedangkan pria itu hanya bisa menghelah nafasnya panjang sembari kembali duduk di kursinya menatap semua makanan yang sudah dia pesan.
Sabi bertanya pada orang-orang di sekitarnya apakah melihat bocah laki-laki dengan ciri yang si sebutkannya.
"Sepertinya aku melihatnya, tadi bocah itu masuk kedalam sana!"Tunjuk seorang pria paruh baya pada sebuah tempat yang Sabi tau itu adalah sebuah bar.
Sabi mengucapkan terimakasih pada pria itu dan segera berjalan ke tempat tersebut, meskipun ragu kalau putranya masuk ketempat seperti itu tapi langkah kakinya terasa begitu cepat melangkah.
Pandangan Sabi terus mencari keberadaan Dante di tengah kerumunan orang-orang yang terlihat begitu heboh dengan tarian dan minuman di tangan mereka. Bahkan tubuhnya ikut terdorong saat seseorang tidak sengaja menabraknya.
Sabi mengusap lengannya merasakan hawa dingin yang mencekam apalagi saat banyak mata pria hidung belang yang memandang lapar ke arahnya.
Tanpa sadar kaki Sabi terus melangkah masuk hingga dia berada tepat di tengah-tengah kerumunan.
"Itu Mom!"
Sabi menoleh saat mendengar suara kecil itu di tengah kerusuhan suasana malam itu.
"Sabi!"
Detak jantung Sabi tidak karuan tubuhnya terasa kaku ketika matanya bertemu dengan mata itu, mata yang sudah beberapa tahun ini tidak dia lihat.
***
Sabi mengusap pergelangan tangannya sembari menatap takut kedalam bola mata Leo yang menatapnya dengan tajam dan penuh kebencian. Tatapan itu seakan menyuruhnya untuk mengatakan sesuatu.
"A-aku.."
Sabi yang terlihat gugup mencoba untuk beranjak dari tempat tersebut tapi sayang Leo lebih dulu menahannya dan menarik tengkuknya yang membuat tubuhnya berputar dengan mulut yang terbungkam oleh mulut Leo.
Leo semakin menyelusupkan lidahnya kedalam sambil ******* kasar bibir Sabi. Bahkan Sabi sampai terperanjat saat merasakan tubuhnya terbanting ke dinding dengan sebelah kaki yang di naikkan ke atas sejajar dengan pinggangnya.
Leo semakin gencar meninggalkan jejak di leher Sabi yang membuat sang empunya melenguh dengan membusungkan dadanya ke atas. Tidak tinggal diam sebelah tangan Leo meremas kasar gundukan yang semakin terasa berisi itu.
Sabi yang merasa kehabisan nafas berusaha melepaskan diri dengan memukul-mukul dada Leo bahkan bibirnya terasa perih. Bukannya melepaskan Leo malah semakin memperdalam lumatannya.
Mereka berdua sama-sama terengah setelah Leo melepaskan pangutan bibir mereka. Sabi yang merasa lemas hampir saja jatuh kalau saja Leo tidak menahan tubuhnya. Leo memutar posisinya hingga dia yang bersandar di dinding dan Sabi yang bersandar di dadanya.
Sabi mengatur nafasnya dengan dada yang naik turun, dia kesulitan bernapas ketika mendapatkan serangan mendadak yang brutal seperti itu.
"Apa kau berniat ingin meninggalkanku lagi hah? Tapi aku tidak akan membiarkan itu kembali terjadi?"Ucap Leo dengan napas yang tersengal.
Sabi tidak menjawab mereka sama-sama diam hingga ritme jantung mereka kembali normal. Sabi yang hendak melepaskan diri kembali di tahan oleh Leo, pria itu merangkul pinggangnya erat seakan enggan untuk melepaskannya.
"Kenapa kau berbohong dan memisahkan aku dengan putra kita hem?"Leo menjeda ucapannya dia menghirup aroma rambut Sabi dengan memejamkan matanya.
"Apa kau tahu hari-hari yang aku lewati penuh dengan rasa penyesalan dan mimpi buruk di setiap malamnya selama bertahun-tahun karena rasa bersalah yang begitu dalam." Lanjut Leo dengan merenggangkan pelukannya karena Sabi tidak lagi memberontak.
"Aku sangat mencintai kau dan anak kita. Aku sudah membayangkan betapa bahagianya keluarga kecil kita waktu itu, tapi sayangnya kau masih meragukan cintaku dengan lebih percaya pada orang lain dan memilih pergi bersamanya di bandingkan menunggu aku pulang terlebih dahulu menjelaskan apa yang terjadi."Leo tahu bahwa Sabi pergi bersama Aron saat itu karena mobil pria itu yang di temukan saat kecelakaan.
"Waktu itu aku pergi bukan untuk melanjutkan kisah cinta remajaku. Aku pergi untuk menyelesaikan semua yang terjadi di masa lalu agar nanti tidak ada yang akan mengusik keluarga kecil kita kedepannya pikirku."
" Aku datang kesana ingin mengakhiri semuanya dan memberitahunya kalau aku sudah menikah bahkan akan segera menjadi seorang ayah, tapi yang terjadi tidak sesuai dengan harapan justru langkah yang aku anggap baik itu malah menjadi awal kehancuran dalam hidupku."
Leo terdiam beberapa saat ketika merasakan Sabi memeluk tubuhnya dengan tangan bergetar, sepertinya wanita itu menangis.
"Bukan bermaksud untuk menutupinya tapi aku hanya tidak ingin hal itu malah menjadi beban pikiranmu. Kau ingat tidak saat kita ke rumah sakit dokter spesialis kandungan itu mengatakan kalau ibu hamil tidak boleh banyak pikiran dan stres berlebih?"
Sabi menganggukkan kepalanya dalam pelukan Leo dengan tergugu dengan mengingat kembali saat mereka memeriksa kandungan.
" Itulah sebabnya kenapa aku merahasiakannya dari mu agar kau tidak berpikir yang macam-macam selama aku pergi karena itu tidak baik untuk ibu dan calon bayinya."
"Tapi apa yang tidak pernah terbayangkan terjadi dalam waktu singkat itu, aku kehilangan kau dan anak kita yang membuat jiwaku terasa mati."
Sabi semakin menangis di pelukan Leo, dia tidak siap mendengarkan kalimat selanjutnya karena dia merasa itu lebih menyakitkan lagi.
"Tidak lama setelah itu ayah sakit, perusahaan mengalami kebangkrutan yang membuatku semakin stres hingga seseorang mengira aku gila."Leo tertawa miris.
"Selama tiga bulan lamanya aku tinggal di rumah sakit jiwa sebagai pasiennya." Lagi-lagi Leo tertawa dengan air mata yang jatuh mengenai wajah Sabi.
"Untung saja Martin, pria bodoh itu percaya kalau aku tidak gila. Dia keras kepala menentang semua orang dan mengeluarkanku dari tempat gila itu."Lanjut Leo dengan terkekeh meskipun dia sedikit ngilu mengingat masa itu.
Sabi mengurai pelukan mereka, Sabi menggelengkan kepalanya menatap Leo dengan wajah yang sudah penuh oleh air mata. Sabi tidak ingin lagi mendengarkannya dia kembali memeluk Leo begitupun pria itu.
"Ma-af!"
Hanya satu kata itulah yang keluar dari mulut Sabi sebelum akhirnya mereka berdua sama-sama menangis dengan saling berpelukan menyalurkan kerinduan yang begitu mendalam.
Bersambung.