Love Me Please

Love Me Please
129



Martin dengan tergesa-gesa memarkirkan mobilnya di depan rumah Sabi. Perasaannya semakin tidak karuan melihat banyaknya orang yang berdatangan ke rumah Sabi dengan pakaian serba hitam.


Tadi setelah sarapan dia tidak sengaja melihat berita terbaru di ponselnya yang membuat jantungnya seakan berhenti, sebab itulah dia berada di sini sekarang memastikan kebenaran berita tersebut.


Deg...


Martin terdiam di depan pintu saat melihat dua peti mati, di salah satu peti tersebut terlihat ibunya Leo yang sedang merangkul seorang wanita paruh baya yang dia yakini adalah ibunya Sabi.


Martin menggelengkan kepalanya tidak percaya, dia merasa semua ini tidak nyata. Apa yang harus dia katakan pada Leo nantinya saat pria itu pulang.


Kusuma yang melihat Martin yang baru saja datang menghampiri pria tersebut, ingin bertanya apakah dia sudah menghubungi Leo sebab sampai saat ini baik dari keluarganya dan keluarga Sabi belum ada yang menghubungi Leo.


Mereka tahu Leo sedang dalam perjalanan jauh untuk sebuah pekerjaan bahkan bisa di pastikan Leo baru saja sampai beberapa jam yang lalu karena perjalanan Indonesia ke Amerika memakan waktu kurang lebih dua puluh jam.


Kinan dan Adam juga datang ke rumah duka, mereka menyaksikan bagaimana raungan kesedihan ibunya Sabi bahkan Adam yang tidak kuat memilih keluar dari tempat tersebut yang di ikuti oleh Kinan.


"Adam apa yang kau lakukan!"Pekik Kinan setelah menutup pintu mobil saat melihat Adam membenturkan kepalanya pada setir mobil.


"Adam hentikan!"Kinan menahan Adam yang hendak melakukannya lagi dengan memeluk pria tersebut.


Dengan nafas naik turun Kinan terdiam ketika Adam tidak lagi berusaha melepaskan pelukannya."Se-andainya aku tidak melaporkannya ke polisi pasti semua ini-"


Kinan semakin mengeratkan pelukannya saat mendengar Adam menangis, sebesar itukah rasa bersalah dalam dirinya sampai membuat pria itu menangis. Kinan ingat betul terakhir kali Adam menangis adalah saat ibunya meninggal.


"Kau tidak salah! Sebaiknya kita pergi dari sini."Ucap Kinan dengan tatapan menerawang pada orang- orang yang terus saja berdatangan melayat.


***


Di negara lain Leo sedang makan malam bersama Zhi dan Tuan Antonio. Mereka baru saja selesai menemani Shaki melakukan kemoterapi untuk pertama kalinya.


Antonio sangat berterimakasih pada Leo karena sudah mau jauh-jauh datang kesini meskipun besok pria itu akan memberitahu putrinya tentang kebenarannya. Sebenarnya Antonio tidak setuju Leo memberitahu Shaki sekarang, tapi dia juga tidak ingin putrinya terus berharap karena tidak mungkin Leo setiap bulan ke Amerika untuk menemani Shaki kemoterapi.


"Kenapa tidak di makan?"Tanya Zhi ketika Leo hanya mengaduk-aduk makanannya.


"Apa ada sesuatu yang mengganjal pikiranmu?"Lanjut Zhi yang menyadari kegelisahan di wajah Leo sedari tadi.


Leo menggelengkan kepalanya."Saya hanya merasa tidak enak badan! Apa boleh pamit duluan?"Leo tidak sabar untuk kembali ke hotel secepatnya, jika menunggu makan malam ini selesai pasti akan lama karena mereka baru saja memulainya.


"Oh tentu saja! Kau pasti lelah setelah mendarat langsung ke rumah sakit, maaf sekali saya tidak menyadarinya."Ucap Antonio merasa tidak enak hati pada Leo.


"Tidak apa Tuan."Ucap Leo dengan menyelipkan senyum kecil di bibirnya."Baiklah kalau begitu saya permisi."Leo berlalu pergi setelah pamit pada Antonio dan Zhi.


Tidak membutuhkan waktu lama Leo sampai di kamar hotelnya karena restoran tempat mereka makan malam tadi ada di hotel tempatnya menginap yang tidak lain milik Tuan Antonio.


Leo mengambil ponselnya yang sedang tercharger, dia menyalakan ponselnya yang mati. Sebenarnya dia ingin menghubungi Sabi saat sudah sampai tapi ponselnya mati hingga dia meninggalkan ponselnya di hotel untuk di charger dan segera membersihkan diri untuk pergi ke rumah sakit karena jemputan Tuan Antonio sudah menunggunya.


Leo berdecak kesal saat menghubungi ponsel Sabi tapi yang menjawab terus saja operator. Leo kembali menekan nomor seseorang.


"Kau kemana saja kenapa tidak mengangkat teleponku!"Kesal Leo karena Martin baru menjawab setelah tiga kali tidak di angkat.


"Bagaimana kondisi istriku? Apa kau sudah melihatnya hari ini? kenapa ponselnya tidak bisa di hubungi?"Runtutan pertanyaan Leo lontarkan pada Martin.


"Halo? Kau masih disana? Hal-"


"Ma-af,,,"Jawab Martin dengan suara lirih.


"Huh sepertinya tadi memang sinyalnya yang bermasalah." Ucap Leo saat mendengar suara Martin yang terputus.


"Aku sudah sampai! Bagaimana dengan Sabi? Apa dia menyusahkanmu dengan permintaan anehnya?"Leo tersenyum tipis saat mengingat wajah gemas istrinya saat menginginkan sesuatu.


"Aku minta maaf!"


"Hei kau kenapa?"Tanya Leo saat mendengar suara Martin terdengar parau seperti sedang menangis.


"A-aku tidak bisa menjaga istrimu."


Leo terdiam senyuman di wajahnya perlahan menghilang, perasaan kalut yang dia tutupi sedari tadi kembali muncul. "Apa yang kau bicarakan? Apa terjadi sesuatu pada Sabi?"


"Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?"Bentak Leo.


Tut....


Sambungan terputus tidak lama setelah itu masuk sebuah pesan dari Martin yang menampilkan berita dengan headline:*Kecelakaan maut yang menewaskan CEO W'djaya group bersama sekretarisnya.*


Deg...


Perasaan Leo semakin tidak karuan, dengan cepat dia membuka dan membaca berita yang hanya sepuluh baris itu, namun terasa begitu panjang bagi nya. Leo berharap kalau yang di maksud bukanlah istrinya melainkan sekretaris lainnya tapi harapan itu seketika pupus saat kalimat terakhir yang dia baca. 'Di duga wanita tersebut bernama Sabina Tanisya.'


Bibir Leo bergetar, dia menggelengkan kepalanya. Dia kembali menghubungi Martin dan tidak perlu menunggu lama panggilannya tersambung."Katakan kalau ini tidak benar! Siapa yang berani membuat berita tidak bermoral seperti ini katakan padaku!"Marah Leo dengan wajah yang sudah di penuhi air mata.


Leo mematikan panggilannya sepihak saat Martin tidak menjawab. Leo menyimpan ponselnya dan segera mengemasi pakaiannya dengan hati berdenyut sakit mengingat keadaan istrinya saat ini, setelah selesai Leo kembali ke restoran menemui Tuan Antonio meminta tolong di carikan tiket penerbangan untuk malam ini.


"Leo apa yang terjadi?"Zhi berdiri dari duduknya, dia kaget saat melihat Leo datang dengan kondisi acak-acakan serta koper di tangannya.


Antonio juga ikut berdiri"Leo-"


"Tuan bisakah anda membantu saya mendapatkan tiket penerbangan ke Indonesia malam ini juga?"Potong Leo dengan suara bergetar menahan tangis.


Dengan cepat Antonio menganggukkan kepalanya tanpa banyak bertanya, dia menjauh untuk menghubungi kenalannya yang memiliki kuasa tinggi di bagian penerbangan. Sedangkan Zhi membawa pria itu duduk terlebih dahulu.


Leo kembali berdiri saat Antonio kembali."Maaf,,,"Lirih Antonio. " Kita terlambat! Penerbangan ke Indonesia baru saja berangkat beberapa menit yang lalu dan kembali ada besok pagi."Jelas Antonio dengan lirih.


"Tapi tunggu sebentar aku akan mencari cara lain."Antonio kembali pergi saat tidak tega melihat kekecewaan di wajah Leo dan tidak lama kemudian kembali dengan wajah berbinar


"Leo kau bisa memakai jet pribadi temanku. Ayo kita berangkat kesana sekarang jetnya sudah terparkir di airpark."


Setengah jam berlalu mereka sampai, Leo mengucapkan terimakasih banyak pada Antonio dan Zhi yang sudah membantunya.


Pada malam itu jet pribadi yang membawa Leo lepas landas dengan kemendungan jiwa yang sudah tak bertenaga. Zhi menatap Antonio dan memeluk papa nya sembari memperhatikan jet pribadi yang semakin menjauh itu, meskipun mereka tidak tahu apa yang terjadi tapi mereka tahu Leo begitu terpuruk.


Bersambung.