Love Me Please

Love Me Please
Part 137



Saat ini Leo dan Sabi duduk di sebuah kursi yang berada tidak jauh dari tempat mereka tadi.


"Ini saat Dante berusia tiga bulan."Ucap Sabi yang duduk di sebelah Leo.


"Aku sengaja mengabadikan setiap momen masa pertumbuhan Dante agar kau bisa melihatnya "Lanjut Sabi sembari memperhatikan Leo yang terus mengulir slide demi slide foto Dante di ponselnya.


Leo tersenyum sendu melihat foto-foto Dante yang begitu menggemaskan, dia sangat menyesal karena telah melewatkan masa berharga itu.


Dengan perasaan berkecamuk Leo mematikan layar ponsel tersebut. Dengan mata berair dia menatap Sabi yang duduk di sebelahnya dengan kepala tertunduk.


Tangis Sabi kembali pecah saat Leo memeluk tubuhnya. Hati nya terasa begitu sakit ketika melihat kesedihan yang mendalam di diri Leo. "Ma-af"Ucap Sabi terbata-bata di sela Idak tangisnya.


Leo tidak menyahut, dia hanya diam sembari memejamkan matanya mencium pucuk kepala Sabi, wanita yang begitu sangat dia rindukan kehadirannya.


***


"Mom..."


Sabi merendahkan tubuhnya saat melihat Dante berlari ke arahnya untuk memeluk putra semata wayangnya itu.


"Kenapa lama sekali?"Tanya Dante dengan wajah yang terlihat kesal.


Sabi menjawab pertanyaan Dante dengan melengkungkan sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. "Apa kau sudah mengantuk?"Sabi mencubit pelan hidung mancung putranya.


Dante menganggukkan kepalanya dengan wajah mungil yang terlihat begitu menggemaskan, itu semua tidak lepas dari sudut mata Leo rasanya ingin sekali dia memeluk dan menggendong putranya.


"Tuan mobilnya sudah siap!"Ucap Jo yang melihat mobil yang akan mereka tumpangi sudah berada di depan.


"Ayo!"Ajak Leo pada Sabi untuk segera berjalan menuju mobil karena saat ini mereka berada di depan resort.


"Aku membawa mobil sendiri."


"Aku tahu, mana kuncinya biarkan Johan yang membawanya."


"Tidak usah! Aku bisa pulang sendiri, lagian tujuan kita juga berbeda."Tolak Sabi dengan halus, dia tidak ingin pulang dengan Leo untuk saat ini.


"Mom..."Dante merengek karna matanya yang sudah mengantuk.


Leo mengambil Dante dari gendongan Sabi yang membuat wanitanya itu terkejut. "Ayo masuk ke dalam mobil." Dengan ucapan tak terbantahkan lagi Leo berjalan ke dalam mobil dengan di ikuti Sabi di belakangnya dengan wajah yang terlihat kesal.


Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih setengah jam mereka sampai di sebuah hotel bintang lima yang begitu terkenal di kota London.


Leo mengambil Dante dengan hati-hati, Sabi tidak lagi protes dia mengikuti Leo yang masuk kedalam hotel, dia merasa terharuh melihat pemandangan yang ada di depannya saat ini.


"Dimana kamarku?"Tanya Sabi saat Leo membuka satu kamar.


Leo membalikkan badannya menatap ke arah Sabi dengan tatapan tak percaya."Ini kamar kita."Jawab Leo dengan membuka pintu dan masuk ke dalam.


"Ayo masuk! Apa kau hanya akan berdiri di depan pintu itu saja?" Ucap Leo yang sudah menidurkan Dante di atas tempat tidur.


"Tapi aku-"


"Jangan berpikiran yang macam-macam, aku tidak akan melakukan itu karena di sini ada Dante."


Sabi menarik nafasnya lega, dia berjalan masuk dan menutup pintu. Sedangkan Leo sudah lebih dulu masuk ke kamar mandi.


Sabi yang masih duduk di sebelah Dante meneguk ludahnya dengan susah payah, rasanya sudah lama sekali dia tidak merasakan sebuah kehangatan dari seorang pria.


"Kenapa belum tidur?"Tanya Leo melirik Sabi sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.


Sabi menggelengkan kepalanya gugup, dia mengalihkan tatapannya dan berjalan ke arah balkon melihat pemandangan kota London di malam hari.


Leo menyusul Sabi dan memeluk wanitanya dari belakang yang membuat Sabi sedikit terperanjat. "Aku merindukanmu."Bisik Leo tepat di telinganya yang membuat bulu kuduk Sabi meremang.


Leo memejamkan matanya menghirup dalam-dalam aroma tubuh wanita yang sangat di rindukannya itu.


"Leo,"Sabi berusaha melepaskan pelukan ayah dari anaknya itu, Sabi tidak ingin nanti Leo berbuat lebih jauh sedangkan disini tidak hanya mereka berdua tetapi juga ada Dante.


"Biarkan seperti ini dulu, aku hanya merindukanmu."


Sabi tidak lagi menolak, dia ikut menikmati pelukan Leo dengan memejamkan matanya sembari menikmati terpaan angin malam yang menusuk kulitnya.


***


Sabi terbangun dari tidurnya dan menyadari kalau dia hanya sendiri di dalam kamar saat ini. Dengan cemas Sabi berlari mencari keberadaan Dante, dia takut Leo balas dendam dengan merebut Dante darinya.


Tapi baru saja berdiri Sabi di buat terpekik saat menyadari tubuhnya hanya berbalut selimut tanpa sehelai benangpun. "Sial!"Sabi merutuki kebodohannya, bagaimana bisa semalam dia terpedaya oleh bujukan Leo.


Dengan terus mengumpat Sabi berjalan masuk ke dalam kamar mandi menggunakan selimut yang ada di tubuhnya.


Setelah selesai Sabi keluar dengan hanya menggenakan bathrope, dia kaget saat menyadari kalau Leo sedang duduk di tempat tidur memperhatikannya.


"Ternyata kau sudah bangun, ini pakailah!"Leo menghampiri Sabi untuk memberikan paper bag yang berisi pakaian.


Dengan cemas Sabi mengeratkan bathropenya yang membuat Leo menahan senyum, dia sudah tahu apa yang ada di otak istrinya itu.


"Aku tidak akan macam-macam!"


"Cih, semalam kau juga bilang begitu."Ucap Sabi mendengus kesal.


"Dimana Dante?"Sabi bertanya sambil mengambil paper bag yang di berikan oleh Leo.


"Dia ada di bawah bersama Johan, cepatlah pakai pakaianmu aku sudah memesan makanan di bawah."


Tanpa menghiraukan Leo Sabi berjalan ke arah kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.


"Ganti di sini saja, lagian aku ini suami mu dan semalam kita juga sudah-"


"Diam! Jangan di lanjutkan lagi!"


Tawa Leo pecah bersamaan dengan pintu kamar mandi yang tertutup, istrinya begitu menggemaskan sekali yang membuatnya kembali mengingat percintaan panas mereka semalam.


Mengingat hal itu membuat Leo terasa geli sendiri, bagaimana tidak? Dia begitu tega memindahkan putranya ke kamar Johan karena sudah tidak tahan untuk tidak bercinta dengan Sabi.


Dengan cepat Leo menggelengkan kepalanya saat menyadari Sabi sudhs keluar dengan pakaian lengkap, mereka berdua segera turun ke bawah menyusul Johan dan Dante yang sudah berada di restoran bawah.


Bersambung.