Love Me Please

Love Me Please
PEKERJAAN SULIT



Pagi telah datang, matahari menunjukan cahaya nya, orang orang sudah bersiap untuk melanjutkan aktivitas hari nya, berbeda dengan gadis bersurai coklat ini yang masih nyaman dibawah selimut tebalnya, jika bukan karna dering telfon yang berbunyi dia tidak akan lepas dari selimut nya itu.


Diraihnya ponsel yang berada disamping bantalnya, menggeser tombol hijau tanpa melihat siapa yang sedang menelfonnya itu.


"Hallo" ujar Dara dengan nada khas bangun tidur.


"Nona Dara? bisa kita bertemu?" ujar seorang dari sebrang.


"Maaf Tuan kau ini siapa? apa kau mengenalku?" tanya Dara yang heran karna tiba tiba ada yang meminta nya untuk bertemu.


"Pasti nona mengenal siapa pemilik jas kemarin kan?" ucap sang penelfon


"Kau pemilik jas kemarin? Ah maaf aku tidak mengenali suara mu,karna suara mu berbeda hehe" ucap Dara dengan kekehan nya.


"Aku bukan pemilik nya,aku sekertaris Mun,tapi pemiliknya ingin nona mengembalikannya" ucap nya.


"Baiklah aku akan mengembalikannya, tapi bisakah aku tau dimana aku harus bertemu?" tanya Dara.


"Datanglah ke gedung Sanjaya Group nona" ucap sang sekertaris itu


"Baiklah aku akan segera kesana"


"Terima kasih nona"


Telfon pun berakhir, dan Dara sudah melangkah menuju kamar mandi.


Memakai setelan kemeja putih dan celana levis biru langit membuatnya nampak segar, dan rambut yang di ikat kebelakang menjadi pemanis penampilannya hariini..


Berjalan menuju halte bus untuk segera sampai tempat tujuan dan mengembalikan jas ini, sungguh merepotkan sebenarnya, karena Dara harus mampir ke toko dan mengecek barang yang akan datang,tapi ya karna semua juga salahnya jadi apa boleh buat.


bus sudah sampai di pemberhentiannya,menuruni bus dan berjalan sedikit agar sampai ke gedung itu karna gedung itu tidak berada dipinggir jalanan kota, gedung itu berada dimana semacam bangunan atau tempat yang mengkhusukan jika gedung itu berdiri disana.


sampai didepan gedung yang tinggi, Dara penasaran ada berapa lantai yang dimiliki gedung ini, kepala Dara sampai sakit karna melihat gedung ini sampai atas, baiklah saatnya kita masuk.


Dara sudah masuk kedalam gedung dan melihat meja information segera menghampiri dan bertanya..


"Maaf nona,apa aku boleh bertanya?" ujar Dara dengan sopan.


"Iya boleh,apa yang ingin anda tanyakan nona?" balas sang wanita dibalik meja information.


"Apa aku bisa menemui Tuan Mun?" tanya Dara


"Apa nona sudah membuat janji temu?" tanya sang wanita.


"Ahh tadi pagi si dia menelfonku dan bilang ingin bertemu denganku." ujar Dara


"Maaf?" tanya sang wanita dengan nada heran,kenapa juga sekertaris Mun ingin menemuinya, yang benar saja.


"Baiklah tunggu sebentar nona" ucap sang information.


"Baiklah Tuan, saya akan mengantar nona kaatas" ucap wanita itu di telfon.


"Nona kau boleh naik keatas" ujar nya.


"Lantai berapa?" tanya Dara


"38 nona" jawab nya


"Baiklah terima kasih"


Dara berjalan kearah lift dan menekan angka 38 didinding lift, menunggu beberapa saat dan akhirnya pintu lift terbuka, Dara heran lantai 38 saja sudah lama sepertinya jika berada didalam lift, bagaimana jika lantainya sampai 60 keatas,mungkin sudah merasa pusing karna menaiki lift terlalu lama.


Saat sedang memikirkan semuanya lamunan Dara terhenti karna ia bertemu dengan sekertaris yang kemarin menemani pria itu di rumah sakit.


"Hallo, Nama saya Dara"


"Baiklah,ini jas nya,maaf ya sudah mengotori nya" ucap dara dengan nada bersalah.


"Silahkan mengembalikannya didalam" ucap Sekertaris Mun.


"Ah begitu ya,baiklah"


Dara membuka pintu besar yang ada dihadapannya dan mendapati pria yang sedang berdiri di depan kaca yang mempertontonkan seluruh jalanan di penjuru kota ini.


"Tuan, nona Dara sudah datang" ucap sekertaris Mun.


"Baiklah kau bisa pergi Mun" Sekertaris Mun seketika hilang yang tadi disampingku,


kenapa geraknya cepat sekali sih pikir dara.


Pria itu berbalik dan memperlihatkan wajah tampan nab rupawannya, Dara saja sempat tersedak ludah nya sendiri tadi.


"Kau membersihkan jas ku dengan benar?" tanya Rio


"Iya Tuan aku membersihkannya dengan sangat baik"


"Baguslah, duduk!" ujar Rio dengan nada memerintah.


Dara mencari posisi nyaman di bangku sofa empuk yang ada diruangan itu.


"Aku ingin bicara padamu" ucap Rio.


"Tentang apa Tuan?"


"Apa kau ingin mengandung anaku?" tanya Rio tiba tiba.


" Apa!?" Dara schok mendengarnya.


" Apa kau tuli? aku menawarimu pekerjaan" ujar Rio.


"Pekerjaan yang itu yang kau maksud Tuan?"


"Sepertinya kau tidak bodoh"


"Maaf Tuan tapi saya tidak bisa, Saya permisi"


Dara melangkah pergi menuju pintu tapi langkahnya terhenti karna ucapan Rio.


"Aku bisa membawa ayahmu ke rumah sakit yang lebih menjamin fasilitasnya" ucap Rio yang membuat langkah Dara terhenti.


"Aku bisa membiayi pengobatan ayahmu,dan mengoprasinya, aku tau kau sedang bingung dengan masalah ini, jadi aku akan membantumu" lanjut Rio.


"Jadi kau juga harus membantuku, Bagaimana?" tanya Rio berharap Dara menerima nya


"Maaf tuan tapi saya tidak bersedia"


"Kau yakin?aku bisa memberikan apa yang kau mau" ucap rio.


"Sekali lagi terima kasih,aku permisi" ujar Dara yang ingin menyudahi pembicaraan ini.


"Tunggu!" cegah Rio.


Rio memasukan kartu nama nya di tas Dara karna sedikit resleting tasnya terbuka.


"Hubungi aku jika kau berubah pikiran" ucap Rio dan berbalik menghadap kaca seperti tadi.


Dara langsung pergi dari tempat itu, apa apaan ini apa aku dipandangnya hanya seorang pelacur?


BERSAMBUNG