Love Me Please

Love Me Please
Part 135



Johan melirik sekilas pada Leo yang duduk di sebelahnya."Tuan apakah anda baik-baik saja?"Tanya Jo yang sedari tadi melihat kegelisahan di wajah atasannya itu.


"Hem,"Leo menyahut dengan deheman."Jo bisakah kau menambah sedikit kecepatannya?"


"Baik tuan!"Jo semakin menekan pedal gas hingga mobil yang mereka tumpangi melesat dengan kecepatan yang cukup tinggi.


Tidak memerlukan waktu lama Jo dan Leo sampai di sebuah resort yang cukup terkenal di London. Jo memarkirkan mobilnya terlebih dahulu sedangkan Leo sudah turun dan masuk ke dalam.


Lantunan musik terus menggema, Leo berjalan ke arah kerumunan orang banyak yang sedang menari-nari dengan bir dimana-mana. Ini seperti sebuah pesta terbuka, dimana di sana banyak orang yang datang dari berbagai kalangan. Leo memesan sebuah minuman dan menikmatinya sembari memperhatikan sekitar hingga matanya tertuju pada muda mudi yang yang berciuman di tepi kolam renang.


Leo memalingkan pandangannya, ucapan Shaki kembali terngiang di ingatannya. Shaki yang menyentuh tangannya, Shaki yang mempertanyakan hubungan mereka dan yang paling berani wanita itu menyatakan kalau sudah tidak ada lagi penghalang di antara mereka yang membuat hati Leo memanas.


Leo akui dulu dia memang bodoh! Dia terlambat menyadari bahwasanya kalau cintanya hanya untuk Sabi, untuk istrinya. Setelah Sabi pergi baru lah dia sadar kalau benar-benar tidak ada lagi tempat untuk Shaki di hatinya karna Sabi lah pemilik cinta seutuhnya.


Leo meneguk habis minuman di tangannya, dia berdiri hendak memesan minuman kembali. Dan setelah bartender itu mengisi gelasnya Leo kembali ke tempat duduknya. Dia menyesap dan menghembuskan asap rokoknya dengan ikut menganggukkan kepala saat suara musik semakin keras dan kerumunan orang semakin padat, sorak riuh terdengar begitu heboh membuat suasana semakin terasa memabukkan.


Leo menyipitkan matanya melihat seorang bocah laki-laki berdiri di hadapannya, bahkan Leo mengusap matanya untuk memastikan kalau dia tidak salah lihat. Kenapa bisa bocah laki-laki yang dia jumpai di pusat perbelanjaan dengan Zoe kemarin kembali muncul di ingatannya.


"Sial! Kenapa kau selalu muncul dalam kepalaku!"Umpat Leo dengan kesal.


"Hei apa yang kau lakukan!"Leo terperanjat saat tiba-tiba bocah laki-laki itu memukulnya membabi buta.


"Gila ini nyata!"Leo yang merasakan pukulan tersebut baru menyadari kalau bocah laki-laki itu bukan dalam khayalannya tetapi memang benar-benar ada di hadapannya.


"Dad jahat! Dad tidak menyayangi aku dan Mommy! Dad jahat!"Bocah laki-laki itu terus berteriak sambil terus memukulinya.


Leo membuang rokok di bibirnya dan menangkap tangan bocah itu dengan sigap. Dia bingung kenapa bocah itu memukulinya dan anehnya kenapa bocah itu memanggilnya dengan sebutan Dad. Bocah laki-laki itu menatap Leo tajam dengan dada naik turun menahan emosi sebelum sebuah tangisan keluar dari mulut mungilnya sembari memeluk Leo.


"Astaga anak siapa ini?"Gumam Leo yang merasa frustasi dengan apa yang di alaminya.


Tidak tahu entah dorongan dari mana tiba-tiba Leo membawa bocah itu kedalam gendongannya, mengusap rambut hitam anak itu dengan terus memeluk tubuh mungilnya yang membuat tubuhnya mendesir saat kulitnya dan kulit anak itu saling bersentuhan.


Ketika suara tangis itu mereda Leo mengurai pelukannya menatap lekat mata bocah laki-laki itu.


"Dad kenapa melupakan aku dan Mom? Aku merindukan Dad!" Ucap bocah itu dengan kembali membenamkan wajahnya di dada Leo.


"Dad?"Tanya Leo dengan kening yang berkerut.


Bocah laki-laki itu menganggukkan kepalanya sembari mengelap ingusnya yang membuat Leo merasa lucu sendiri melihat pemandangan itu, bahkan Leo tidak merasa jijik sedikitpun saat ingus bocah laki-laki itu mengenai kemejanya.


"Oh oke aku mengerti! Kau mencari ayahmu?"


Bocah itu menggelengkan kepalanya."Kau Daddy ku."


"Aku datang kesini dengan Mom!"


"Baiklah kalau begitu akan ku antarkan kau pada ibumu! Seperti apa ciri-cirinya?"Leo mengangkat tubuh mungil bocah itu dan menggendong di depan.


"Itu Mom!"


Di tengah kerumunan orang banyak yang sedang menari-nari, berdiri seorang wanita cantik berambut pendek yang mengenakan gaun hitam selutut dengan potongan dada rendah sedang menatap ke arahnya.


"Sabi."


Jantung Leo berdetak dengan kencang. Matanya menajam melihat bola mata yang sudah hampir enam tahun ini tidak ia lihat. Tubuhnya terasa membeku merasakan urat nadinya menegang.


"Mom Dante menemukan Dad."Ucap bocah itu dengan senyuman di wajahnya.


Jo yang baru saja masuk berjalan menghampiri Leo dengan kening berkerut saat melihat Bos nya menggendong seorang anak laki-laki.


"Dante? Namamu Dante?"Tanya Leo dengan suara yang terdengar tercekat.


"Yes Dad! Dante Wijaya."


Rahang Leo mengeras, matanya terasa memanas, urat-urat di keningnya terlihat begitu jelas.


"Bolehkah Dad berbicara dengan Mom?"Lanjut Leo berusaha menetralkan raut wajahnya.


"Kau memang anak yang pintar."Ucap Leo dengan mengecup kepala Dante saat anaknya menganggukkan kepala." Jo kemarilah!"Panggil Leo pada Johan yang berdiri tidak jauh darinya.


"Jaga putraku!"Leo menurunkan Dante dari gendongan.


"Pu-putra? Baik tuan." Johan terkesigap dengan suara terbata, karena setahunya Leo tidak mempunyai istri apalagi anak.


"Ini paman Johan, dia adalah teman Dad, ikutlah dengannya! Dad ingin berbicara dengan Mommy sebentar."Jelas Leo yang membuat Dante menatap ke arah Sabi.


Setelah melihat ibunya menganggukkan kepalanya baru lah Dante mau ikut bersama Johan.


Leo yang melihat Jo dan putranya sudah menjauh menatap Sabi yang berdiri membisu di hadapannya dengan tangan yang terlihat bergetar di kedua sisinya.


"Kita perlu bicara!" Leo menarik Sabi menjauh dari suasana yang memekakkan telinga tersebut.


Bersambung