
Sendiri di dalam ruangan tanpa ada teman terkadang memang membosankan, namun bagi Joy sendiri bukanlah masalah jika dapat menikmati pemandangan di depannya saat ini.
Didalam kolam renang sudah ada Jhony yang sedang memamerkan kebolehannya dalam berenang, tetapi selain itu Joy malah lebih tertarik pada hal lain yang sejak awal Jhony mulai berenang sudah mencuri perhatiannya.
Sejak tadi matanya tak henti memperhatikan Jhony, dan sesekali ia tampak berdiri dan mondar mandir di depan dinding kaca yang dapat melihat hingga ke kolam renang.
Joy tidak tahu saja bahwa Jhony juga sering memperhatikannya yang terlihat tidak tenang. Jhony akhirnya menyudahi kegiatan renangnya, karena melihat Joy sepertinya tidak nyaman.
Jhony buru-buru naik dan mengambil juga mandinya yang tergeletak diatas kursi kayu di tepi kolam renang, ia pun segera berjalan kembali kedalam ruang olahraganya sambil membawa sebuah handuk untuk mengelap rambutnya yang basah.
Melihat Jhony berjalan mendekat ke ruangan dimana dia berada, jantung Joy kembali berdetak tidak karuan dan kali ini bahkan lebih kencang lagi.
'Kenapa dia sudah selesai saja renangnya, terus kenapa langsung kemari dan kenapa tidak memakai pakaian dulu sih' batin Joy.
"Hai, kenapa kamu berdiri dan tidak duduk saja di sofa?" lagi-lagi Joy kebingungan mencari kata-kata untuk di ucapkan.
"Ah.. i, itu.. aku.. aku.. haus dan mau minum." alasan yang diucapkan Joy terasa aneh bagi Jhony, karena gelas yang sebelumnya sudah di bawa bibi untuk Joy sudah tandas isinya. Bahkan air mineral yang tadinya milik Jhony pun sudah habis, Jhony semakin khawatir dengan keadaan Joy yang tampak kebingungan.
"Apa kau ingin minum lagi? Aku akan mengambilkannya di lemari pendingin." Jhony baru saja berbalik.
"Tidak, maksudku.. aku sudah tidak haus sekarang, kau.. pergilah ganti pakaian, sepertinya akan tidak nyaman kalau tubuhmu lembab terlalu lama." sedikit kode agar Jhony cepat mengganti jubah mandinya yang sekarang memperlihatkan dada bidangnya.
Akhirnya Jhony mengerti apa yang terjadi kepada Joy, dari nada suaranya dan tatapan Joy yang selalu ketempat lain serta tidak berani melihat Jhony. Gadis itu merasa tidak nyaman dengan pakaian yang di gunakan Jhony sekarang, ia pun segera berpamitan untuk mengganti pakaiannya.
"Benar juga, aku akan segera mengganti pakaianku. Tunggulah di sini, aku akan segera kembali. Duduklah dengan nyaman sayang, jika ingin minum lagi ambillah di sana." setelah mendapat anggukan dari Joy, Jhony segera pergi dari ruangan olahraga menuju lantai dua, dimana letak kamarnya berada.
'Menggemaskan sekali dia, tapi terlalu berbahaya jika tadi aku mengganggunya. Hahh...' ternyata hal yang sama juga di rasakan Jhony, namun ia tetap harus sadar dengan usia mereka saat ini.
Setelah Jhony naik keatas untuk mengganti pakaian, Joy mulai menjelajahi ruangan olahraga dan mencoba olahraga ringan yang mudah di lakukan olehnya sekarang. Namun untuk hari ini dia tidak bisa berolahraga dengan benar, mungkin lain kali ia akan membawa baju fitness kemari untuk ikut berolahraga bersama Jhony.
Beberapa waktu kemudian, Jhony turun dari tempatnya berganti pakaian. Ia berjalan kedapur terlebih dahulu, ia meminta bibi untuk menyiapkan makan siang karena setelah olahraga ia mulai merasakan lapar sekarang.
Setelahnya ia kembali ke dalam ruangan olahraga, dan mendapati Joy yang tengah fokus melihat ponselnya.
"Sedang lihat apa? Serius amat!" Jhony mendaratkan tubuhnya tepat di sebelah Joy, dan melihat ponsel yang juga sedang diperhatikan Joy.
"Tidak, hanya melihat-lihat sosial media saja."
"Mana coba aku lihat juga." jarak duduk mereka sudah tidak berjarak lagi, namun karena sedang serius memperhatikan ponsel Joy.
"Di sosial media kamu sedikit yang ada akunya, kalau gitu kita foto dan pasang sekarang ya."
"Boleh, ayo kita ambil foto berdua."
Jadilah keduanya mulai bersiap mengambil gambar diri mereka menggunakan ponsel Joy.
Selesai mengambil foto, kini mereka sedang memilih foto mana saja yang akan di posting ke sosial media mereka. Beberapa foto sudah terpilih, Jhony meminta Joy untuk mengiriminya beberapa foto mereka ke ponselnya.
Kini keduanya sudah sibuk dengan ponsel masing-masing untuk mempostinh foto ke sosial media mereka, setelah itu mereka kembali saling melihat dan menyukai sosial media pasangannya.
"Sepertinya ada yang kurang," Jhony tampak berfikir "Oh benar, Joy.. aku belum memasang fotomu sendiri di ponselku, bergayalah sedikit aku akan mengambil gambarmu." mulai mengarahkan kamera ponselnya.
"Ah tidak, tunggu dulu aku berantakan." merapihkan pakaiannya yang tampak tidak beraturan.
"Aku akan merapihkan rambutmu." sulur-sulur rambut Joy yang keluar, dirapihkan dengan baik oleh Jhony dengan baik. "Selesai, aku akan segera mengambil gambarmu. Senyum yang manis sayang, satu, dua, tiga.." beberapa gambar dengan gaya berbeda sudah ia dapatkan.
"Tunggu dulu Joy."
"Ada apa?"
"Kau tidak membantuku bersiap?" Joy sedikit bingung maksud dari Jhony bersiap?
Jhony menunjuk kepalanya tanpa berkata-kata, namun Joy dengan cepat bisa mengerti apa maksud Jhony.
"Kurasa tidak perlu, kau bahkan sudah sangat rapih sekarang dan juga.. tampan tentunya." diakhir kalimat Joy sedikit berbisik.
"Benarkah, coba ulang sekali lagi." goda Jhony lagi.
"Tidak mau, ayo cepatlah aku akan segera mengambil gambarmu. Satu, dua, tiga." dengan cepat Jhony sudah siap di foto, jadilah beberapa gambar Jhony sudah didapatkan Joy.
setelah selesai memposting foto-foto mereka, akhirnya mereka meletakkan ponsel diatas meja dan mulai berbincang.
"Ah... lumayan menyenangkan juga jika kita sering liburan seperti ini."
"Em.. benar, lebih enak lagi.. jika kita bisa berduaan terus. hehe.." kekehan Jhony tercipta akibat dipelototi oleh Joy.
"Apa tidak apa kita bermain dan bukan belajar? Kau tahu sendiri, dua hari lagi ujian akhir."
"Tentu saja, kami sangat membutuhkan waktu liburan agar kami tidak stress pra ujian. Ini sangat melegakan dan menyegarkan otak." Raut wajah Jhony tampak serius, entah itu kata-kata yang sungguhan atau hanya candaan namun Joy sependapat dengan Jhony kali ini.
"Benar juga.."
"Aku sungguh-sungguh senang Joy, saat kamu mau datang kemari menemaniku." tanpa di rencanakan, Jhony malah menarik Joy dan mengecup kening gadis itu. "Terima kasih." kecupan juga ia dapatkan di punggung telapak tangannya yang tampak melingkar manis cincin yang diberikan Honey, kemudian Jhony membawa telapak tangan gadis itu ke wajahnya.
Joy tidak dapat berkata-kata lagi, entah mengapa lelaki ini selalu bisa mengubah suasana hatinya yang redup dan kembali bersinar terang. Sedikit berlebihan, tapi itulah adanya.
"Ayo ke dapur, aku sudah meminta bibi menyiapkan makanan. Kau pasti belum makan siangkan?"
"Em.. ayo." Jhony berdiri terlebih dahulu dan mengulurkan tangannya kepada Joy untuk membantunya berdiri, keduanya pun berjalan ke dapur sambil bergandengan tangan.
Rona bahagia dari wajah keduanya pun terpancar hingga ke dapur, sang bibi yang baru saja menyiapkan makanan tampak tersenyum sendiri saat melihat mereka berdua sedang berjalan ke dapur sambil bercerita kecil dan tersenyum ceria.
Setidaknya itulah yang Jhony rasakan, kebahagiaan yang tidak ternilai semenjak dirinya mengenal Joy hingga mereka berpacaran dan saat ini mereka sudah mengikat janji untuk setia hingga Jhony menyelesaikan pendidikannya di luar negeri dan kembali bersama lagi.
.
.
.
Hallo readers
semangat terus ya, ayukk bantu Me lagi dalam cerita Let See The True Love dengan Like, Komen, fav, dan vote juga biar aku tambah semangat selesaikan ceritanya.❤
terima kasih untuk readers sekalian yang sudah berkenan membaca karya ku..🤗🤗
stay save ya😉