
Joy dan Jhony kini sudah berjalan meninggalkan Rina Harry, kedua nya sengaja meninggalkan mereka hanya berdua karena Harry tampak ingin berbicara kepada Rina.
"Apa tidak apa-apa jika kita meninggalkan mereka hanya berdua?" Joy melihat kebelakang sejenak.
"Kurasa tidak apa, mereka bukan anak kecil lagi Joy. Dan sepertinya Harry butuh bicara berdua dengan Rina" Joy menaikkan alisnya yang menandakan rasa bingung dengan maksud dari kalimat Jhony.
"Bagaiman kak Jhony tahu kalau kak Harry ingin berbicara berdua dengan Rina? Apa kak Harry mengatakan nya pada kakak?" Joy yang merasa penasaran pun menanyakan kepada Jhony.
"Tidak... Dia tidak mengatakan nya padaku, tapi aku tahu bahwa dia menyukai sahabatmu itu" Jhony mencubit gemas hidung Joy yang sedang memperhatikan nya sambil berjalan.
"Benarkah? Kakak tidak bohong? Bagaimana kakak bisa mengetahui nya?" Joy mencecar Jhony dengan beberapa pertanyaan.
"Ra-ha-si-a..." Kemudian Jhony berjalan mendahului Joy yang terdiam di tempatnya"
Tak lama kemudian Joy pun mengejar Jhony yang sudah sampai di warung bibi penjual bakso, Jhony sudah membayar semua nya dan sedang berbicara dengan penjualnya.
"Ini bi bayar punya saya dan teman saya.." Joy mengulurkan uang untuk membayar makanan nya.
"Sudah di bayar sama nak Jhony neng, pacar nya e neng yang bayar nih" Bibi penjual pun menepuk lengan Jhony.
"Ya udah bi, saya pergi dulu ya. Makasih makanan nya enak buangetttt" Ucap Jhony sambil menggandeng tangan Joy dan berlalu dari sana.
Tujuan mereka saat ini adalah taman sekolah, dimana tempat tersebut adalah tempat yang nyaman untuk belajar karena sangat sejuk dan pemandangan nya juga indah dengan berhias beberapa pohon yang hijau, bunga-bunga dengan bermacam warna, dan ada sebuah kolam dengan air mancur yang cukup besar.
Kini mereka sudah duduk di sebuah bangku di tepian kolam air mancur, keduanya sedang bersenda gurau saat ini.
"Bagaimana seminar nya tadi? Menyenangkan nggak?" Suara Jhony menyentak Joy dari lamunan nya dengan pemandangan yang saat ini di lihatnya.
"Hm... Sangat menyenangkan, dan juga banyak pengetahuan yang bisa di dapat juga dari seminar tadi" Jawab Joy.
"Oh ya...? Terus apa lagi?" Tanya Jhony dengan sepenuh nya melihat ke arah Joy saat ini yang tampak sedang berfikir.
"Em.... Apa ya? Jadi dapat banyak teman juga kak" Ucap Joy jujur.
"Selain itu?" Joy mengkerutkan dahi nya, bingung dengan pertanyaan Jhony. Karena menurutmu tak ada lagi hal lain selain yang di ucapkan nya tadi.
"Apa? Kayaknya nggak ada lagi deh kak!" Ujar Joy tampak kebingungan.
"Yang bener, nggak ada lagi?" Tanya Jhony lagi sambil mengulas senyum geli di wajahnya.
"Nggak ada kak, memang apa lagi" Joy mencoba memikirkan apa yang di maksud dengan Jhony.
"Kamu tadi ketemu banyak teman? Siapa-siapa aja?" Jhony ingin tahu sampai dimana Joy mengingat orang-orang yang berkenalan dengan nya tadi.
"Ah... Kakak... " Joy akhirnya tahu apa maksud Jhony bertanya padanya.
Jhony hanya tersenyum dan mengangguk kecil, dia pun tahu jika Joy sudah mengerti maksudnya tadi.
"Sebagian besar mereka adalah anak laki-laki dari sekolah lain, bahkan ada beberapa orang narasumber di seminar kak" menjelaskan asal dari orang-orang yang mengajaknya berkenalan tadi.
"Pinter.." Jhony mengelus kepala Joy dan tersenyum hangat pada kekasihnya itu.
"Oh iya kakak tahu darimana kalau Joy banyak bertemu teman baru?" Joy penasaran bagaiman Jhony bisa mengetahui dirinya yang berkenalan dengan banyak teman baru.
"Ini... Ada seseorang yang mengirimi ini kepada ku" Jhony berucap sambil memperlihatkan ponsel nya kepada Joy, di sana ada beberapa foto Joy yang sedang bersalaman dengan beberapa anak laki-laki dan Joy yang tengah berbincang dengan narasumber.
Joy pun terheran, siapa sebenarnya yang mengambil foto tersebut dan mengirim nya kepada Jhony.
"Kenapa kamu bisa berfikir aku yang menyuruh orang mengikuti kamu?" Jhony menyanggah tubuhnya dengan siku nya di sandaran kursi, memandangi Joy dan menunggu penjelasan dari nya.
"Ya... Bisa aja kan kalau kakak nggak percaya sama aku, dan membayar seseorang untuk ikutin aku... Kaya di film-film gitu" Joy pun menjelas kan apa yang ada dalam fikiran nya sekarang, sungguh polos dan blak-blakan.
"Haha... Kamu ada-ada saja... Mana mungkin aku membayar orang untuk ngikutin kamu, aku percaya sama kamu jadi nggak perlu lah pakai ikutin kamu kaya nggak ada kerjaan aja" Mencubit kedua pipi gadisnya yang sangat menggemaskan, Jhony tak habis pikir bagaimana Joy bisa membayangkan hal seperti itu.
"Mana Joy tahu kak, Joy kan cuma menebak aja. Tapi... Siapa yang mengirimkan kakak foto-foto aku?" Tanya Joy yang kini masih penasaran siapa orang yang sengaja mengirim foto yang hanya ada Joy dan anak laki-laki saja, meskipun masih ada Rina didalam foto tersebut.
"Sudah lah Joy, itu tidak penting sekarang. Kita sekelas aja ya. Sebentar lagi lonceng berbunyi" Melihat jam tangan nya sejenak, Jhony kembali berdiri dan meraih tangan Joy untuk di genggam nya dan berjalan menuju ke kelas Joy.
Joy tadi melirik sekilas pergelangan tangan Jhony, ia sedang memakai jam tangan pemberian Joy. Dan Joy tahi kini bahwa jam yang di berikan nya sangat di sukai oleh Jhony, terlihat dia yang selalu mengenakan nya saat di sekolah membuat Joy begitu senang.
Benar saja yang dikatakan Jhony, tak lama mereka sampai di kelas lonceng masuk ke kelas pun berbunyi semua siswa siswi pun berlarian menuju ke kelas.
Joy saat ini sedang menunggu sahabatnya Rina, setelah di tinggal di kantin tadi mereka masih belum bertemu lagi.
Setelah beberapa saat akhirnya Rina pun memasuki kelas, dengan wajah yang di tekuk Rina duduk di kursi nya. Joy merasa aneh melihat sahabatnya yang hanya diam dan tidak menyapa nya sama sekali, Joy pun hendak mendekati Rina dan bertanya padanya. Namun guru mata pelajaran yang mengajar sudah masuk ke kelas sehingga membuat gerakan Joy terhenti, Joy masih merasa penasaran dan khawatir kepada sahabatnya itu dan dia memutuskan akan bertanya pada nya langsung saat pulang nanti.
*****
Waktu yang di tunggu-tunggu akhirnya datang juga, Joy masih memperhatikan Rina yang tampak tak bersemangat itu membuat Joy kepikiran sepanjang jam pelajaran.
Saat guru mata pelajaran nya keluar, dia pun dengan segera menghampiri Rina.
"Rin... Kamu kenapa? Kok nggak bersemangat gitu?" Joy menelisik wajah Rina yang masih tampak muram.
"Nggak Joy, aku mau pulang dulu... " Rina hendak berdiri namun tangan nya di tahan oleh Joy.
"Rin.. kita masih sahabat kan? Ayo cerita ke aku, kamu pasti ada masalah kan?" Kembali Joy mencecar Rina dengan pertanyaan.
Rina memutuskan kembali duduk di kursinya, namun dia tidak berani memandang wajah Joy saat ini.
"Em... Joy... Tadi... Sebenarnya... Aku bertengkar sama kak Harry"
"Hah.. ? Kok bisa?" Joy yang tersentak langsung lepas kendali dan sedikit berteriak, dia pun merasa tidak enak kepada beberapa orang yang masih ada di dalam ruang kelas.
"Nggak tahu deh Joy, aku cuma cerita soal seminar tadi. Tapi kak Harry tiba-tiba aja marah-marah dan pergi dari kantin, pas aku kejar dan tahan tangan nya, dia malah menepis tangan aku" Tanpa sadar air mata sudah jatuh di pipi Rina saat ini, entah mengapa Rina merasa tidak nyaman dengan perlakuan Harry padanya tadi.
Dia merasa sikap Harry agak aneh padanya hari ini, biasanya laki-laki itu akan selalu lembut padanya dan akan di balas dengan kekesalan saat Harry menggodanya. Namun tadi, Harry tiba-tiba berbicara cukup serius yang di tanggapi dengan candaan dari Rina serta membuat Harry cukup kesal dan pergi meninggalkan Rina di kantin.
Kebingungan dan kesedihan Rina bertambah saat tadi hendak menahan Harry, laki-laki itu menepis tangan nya dan berlalu pergi bersama seorang gadis yang datang mendekati Harry dan berjalan meninggalkan Rina sendiri.
.
.
.
Stay Save readers 😘
Happy Weekend🤗
Thanks😉