Let See The True Love

Let See The True Love
80.



Pagi yang indah untuk memulai hari, membawa suasana hati yang lebih kembali lebih baik. Setelah beristirahat di malam yang tenang, membuang semua kepenatan setelah beraktivitas seharian.


Kembali memulai hari hari dengan semangat baru, melalui hari yang penuh tantangan kembali.


Tanpa terasa, hari-hari yang telah dilalui begitu cepat. Seperempat semester sudah, dan saatnya menyiapkan diri untuk menghadapi ujian pertengahan semester.


Sedikit terburu-buru Joy berjalan ke arah perpustakaan sekolah yang terletak cukup jauh dari kelasnya itu, disana sudah ada Jhony yang menunggunya untuk belajar atau lebih tepatnya bertemu di sela-sela waktu belajar.


Begitulah mereka akhir-akhir ini menghabiskan waktu istirahat, waktu yang biasanya mereka lalui dengan berkumpul dan bercanda di kantin, kini hanya bisa mereka lewati di dalam perpustakaan sambil belajar.


"Sorry ya aku telat" sedikit berisik, Joy dengan perlahan menarik kursi di samping Jhony dan mendudukkan dirinya dengan nyaman di samping kekasihnya.


"Apa di kelas banyak tugas? Sepertinya akhir-akhir ini kamu sering terlambat istirahat ya?" dengan nada suara yang juga sedikit berbisik, Jhony bertanya kepada Joy.


"Begitulah, apalagi semua guru selalu memintaku untuk menagih tugas satu kelas. Hahh... mereka mengumpulkan tanpa ku tagih saja sudah bagus, ini malah harus di tanyain terus. Malah ada yang suka ngeyel lagi kalau di tagih tugasnya!" Joy merengut dan mengeluarkan semua kekesalannya walau dengan nada suara yang rendah, begitulah mereka berbagi cerita meski tidak memiliki waktu yang banyak tapi mereka selalu menyempatkan diri untuk mendengar cerita pasangannya.


"Bersabarlah sayang.. nanti mereka juga akan sadar betapa pentingnya mengumpulkan nilai" Jhony mengelus kepala Joy sejenak, setelah mengamati perpustakaan yang masih sedikit sepi.


"Ya.. jangan panggil aku sayang di sini, apalagi sambil mengelus kepalaku. Ih.." Joy menepis tangan Jhony dengan perlahan, wajahnya mulai merah merona dengan cepat ia menyembunyikan wajahnya dengan menunduk seolah sedang membaca buku.


"Hehe.. iya, iya sorry Joy. Aku kangen banget sama kamu, aku jadi tidak bisa belajar dan hanya ingin melihatmu duduk di sini" Jhony memiringkan kepalanya agar bisa melihat wajah Joy dengan Jelas, sedangkan yang pandangi masih saja menundukkan kepalanya sehingga membuat Jhony merasa gemas melihatnya.


"Jangan menggodaku dan jangan melihat ke arah ku terus. Aku malu" ucapan Joy membuat Jhony kembali terkekeh.


"Baiklah, ayo kita belajar. Huh.. walaupun ini sangat berat, aku akan mencoba untuk fokus belajar" Usai mengucapkan kalimatnya, Jhony meraih tangan Joy untuk di genggam dan di letakkan di atas pahanya di bawah meja.


Joy melirik tangannya yang di genggam, kemudian memandangi Jhony yang sudah mulai membaca buku di atas meja.


Lama Joy memperhatikan Jhony yang sedang fokus membaca, tak lama tangannya merasakan genggaman Jhony yang semakin erat dan raut wajah Jhony yang mulai tersenyum.


"Ayo mulai membaca, keburu lonceng berbunyi dan kamu tidak mendapat ilmu dari bukumu Joy" suara Jhony terdengar lembut.


"Emm... " mengikuti Jhony yang sudah memfokuskan diri untuk membaca, Joy juga mulai membuka buku yang di ambil di rak dan membukanya untuk di baca.


*****


Jam pulang sekolah.


"Sudah mau pulang?" Jhony menghampiri Joy yang masih berada di dalam kelas, tampak sedang merapihkan buku pelajaran di jam terakhir tadi.


"Kak Jhony!" sentak Joy "Iya, apa hari ini kakak ada jadwal les?" memberikan perhatian penuh dengan melihat kedua mata Jhony, berharap jawabannya ada tidak. Namun ternyata kebenarannya menjatuhkan kedua bahunya seketika, ia juga langsung terlihat lemah seakan tak bertenaga.


"Iya, hari ini aku ada jadwal les di sekolah. Dan sepertinya selesainya hampir malam" terlihat wajah Jhony yang tampak kecewa.


"Benarkah? Tidak apa-apa, aku akan pulang naik bus. Kakak belajarlah yang giat ok!" Joy mencoba memberi semangat kepada Jhony dengan bergaya mengangkat kedua tangannya yang terkepal membentuk tinju.


"Tapi rasanya aku ingin mengantarkanmu pulang" lagi-lagi wajah kecewa Jhony terlihat, bahkan lebih parah dari yang tadi.


"Ehemm, kak.. ingat janji kita. Aku enggak mau menjadi penghambat kakak dalam menuntut ilmu, aku akan menjadi orang yang paling bahagia saat kakak meraih keberhasilan nanti" Joy menggenggam tangan Jhony, seolah memberikan kekuatan kembali untuk belajar nanti.


Melihat Joy yang menggenggam tangannya Jhony menjadi lebih bersemangat kembali, benar apa yang di katakan oleh Joy. Mereka telah memiliki tujuan untuk sukses, selain untuk pasangannya mereka juga ingin menjadi kebanggaan bagi keluarga masing-masing.


Meski masih bersekolah, mereka sudah membuat rencana layaknya orang dewasa untuk kelanjutan hubungan mereka.


Bagi mereka, saling mendukung adalah salah satu kunci agar hubungan mereka dapat berjalan dengan lancar. Meski ada saja hambatan, namun mereka juga dapat menghadapinya dengan saling terbuka atau saling bercerita dan tidak menutupi kesalahan masing-masing.


"Baiklah, tapi segera kabari aku kalau kamu sudah sampai!?"


"Pasti aku kabarin"


"Ayo, aku antar sampai di depan gerbang"


"Em." Joy menjawab Jhony dengan anggukan dan tersenyum lebar.


Mereka berjalan keluar dari ruang kelas, saat sudah berada di lorong sekolah yang sudah sepi Jhony menggandeng tangan Joy. Sebenarnya dia sangat berat membiarkan Joy pulang menggunakan bus, namun dia juga tidak mungkin bolos dari les yang telah ia daftar. Sangat di sayangkan jika melewatkan satu kali pertemuan, dia sudah mengeluarkan biaya untuk les tersebut dan jika tertinggal akan menguras tenaga dan pikiran untuk mengejarnya.


Sampai di depan gerbang sekolah.


"Sudah sampai, kakak kembalilah ke kelas. Aku akan berjalan ke halte bus" Joy meminta Jhony kembali, karena ia takut Jhony akan terlambat masuk kelas lesnya.


Jhony melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Masih ada waktu lima belas menit lagi, ayo aku antar sampai ke halte bus"


"Kak... Ah..." belum sempat Joy melanjutkan kalimatnya, tangannya sudah di sambar Jhony dan di tarik untuk berlari mengikutinya.


Sampai di halte bus, napas keduanya berkejaran untuk menghirup udara. Mereka tampak kelelahan karena berlari dari sekolah ke halte bus, mereka menempuh jarak kurang lebih seratus meter dari depan pintu gerbang sekolah hingga sampai di halte bus, setelah napasnya mulai teratur Joy segera membuka suara yang sejak tadi sudah di tahan saat berlari.


"Kenapa mesti antar sampai ke halte bus segala kak, kakak harus segera ke kelas. Kalau kakak terlambat nanti bisa di marahi oleh wali kelas kakak!" Joy tampak kesal.


"Oh.. bus nya datang, ayo cepat naik" Jhony mendorong pelan tubuh Joy untuk menaiki bus.


Meski kesal namun ia tetap naik ke dalam bus.


"..." melihat kebelakang di mana Jhony masih berdiri.


"Jangan lupa kabari aku, ok" Jhony mengedipkan sebelah matanya kepada Joy yang masih saja cemberut.


"..." tidak ada jawaban.


"Aku akan menelponmu nanti malam" dengan mengangkat tangannya membentuk telepon dan menempelkan ke telinganya, Jhony sedikit berteriak saat bus sudah mulai berjalan membawa Joy yang masih saja melihat ke arahnya tanpa bersuara.


Jhony tersenyum menatap bus yang sudah menjauh membawa Joy yang masih terlihat begitu kesal, melambaikan tangannya keatas sejenak dan setelahnya Jhony berbalik dan berlari kembali ke arah sekolah.


Didalam hati Jhony merasa senang karena Joy sudah di antar naik bus dengan selamat, meski tidak dapat mengantarnya hingga ke depan rumahnya. Namun ia sudah cukup puas dengan mengantarkannya sampai ke halte bus.


Didalam kelas, Jhony sudah duduk di kursinya. Masih ada waktu lima menit lagi saat guru datang untuk memulai pelajaran les hari ini, Jhony tampak memandang keluar jendela dengan pandangan menerawang dan sesekali tersenyum.


"Hei.. jangan melamun entar kesambet. Hahaha..." Harry menyenggol bahu sahabatnya yang sejak kembali dari luar, kini menjadi diam dan melamun.


"Tau nih Jhony melamun aja dari tadi, kenapa? ada masalah dengan Joy?" Erick ikut menimpali ucapan Harry.


"Kayaknya bukan ada masalah deh Rick, noh lihat wajahnya aja penuh senyuman gitu" mengarahkan wajah Jhony agar dapat di lihat oleh Erick.


"Apa-apaan sih kalian berdua, resek deh"


"Bener kata lo, Har. Kayaknya dia kesambet setan bahagia nih" tambah Erick.


"Jangan ngaco deh kalian, masih terang gini ngomongnya aneh-aneh. Balik ke kursi kalian gih, belajar. Bentar lagi guru yang ngajar les hari ini bakalan datang tuh"


"Ngelak aja terus" sindir Harry.


Meski penasaran, namun keduanya tampak berjalan kembali ke kursi masing-masing.


Jhony masih melanjutkan pandangannya ke arah luar jendela, tanpa ia sadari dari arah samping, Rina mendengar percakapan mereka yang lebih tepatnya menguping pembicaraan mereka.


Ada rasa kesal yang mengepul dari Siska, ia tahu bahwa Jhony tadi mengantar Joy ke halte bus. Karena diam-diam ia mengikuti mereka.


.


.


.


stay save readers


bantu dukungan nya yang untuk karya amatirku ini,dengan like vote love or rose. kalau nggak suka skip aja ok😉 aku nggak maksa kok😘


thanks🤗