
Mendapat pertanyaan dari Joy, Rina hanya diam dan seolah tidak mendengar perkataan Joy yang duduk di seberang nya. Jhony yang melihat Rina yang tampak acuh mendengar nama Harry di sebutkan, dia akhirnya kembali menjawab pertanyaan Joy.
"Em.. Harry sedang mengerjakan tugas tambahan di kelas" Jhony sedikit bingung mencari alasan, pasalnya sebelum pergi ke kantin Jhony sudah mengajak Harry namun Harry mengatakan sedang tidak ingin bertemu dengan Rina.
Setelah berselisih paham hingga sekarang Harry selalu menghindar dari Rina, dia tidak ingin bertemu dengan Rina untuk sementara. Dia ingin menata hatinya kembali, rasanya dia benar-benar menyukai Rina dan tak bisa untuk tidak mempedulikan nya jika merrka bertemu maka itu akan mengganggu Rina.
Begitu lah masalah keduanya yang masih berlanjut hingga sekarang, Jhony berencana untuk membicarakan nya dengan Joy saat dia sudah masuk. Dan sekarang lah saat nya mereka mencoba mendamaikan keduanya.
Joy merasa ada yang aneh dari Rina yang tampak diam dah acuh saat Jhony membicarakan soal Harry, tapi dia tidak mau membuat sahabatnya itu merasa tidak nyaman, lagi pula sekarang ini mereka sudah memesan makanan dan akan segera datang makanan nya.
*****
"Kak Jhony... Apa Rina dan kak Harry masih berselisih paham?" Joy segera mengutarakan rasa penasaran nya kepada Jhony saat mereka sudah berada di kursi penonton di lapangan basket, dimana sekarang mereka sedang menyaksikan Harry dan yang lainnya bermain basket.
"Ya... Seperti yang kamu lihat Joy, sahabatmu masih tak mau peduli kepada Harry semenjak hari itu" Jhony mendesah kan nafasnya memikirkan apa yang dikatakan Harry padanya kemarin, Harry tiba-tiba mengatakan jika dia akan menerima perjodohan nya dengan putri sahabat orang tuanya karena Rina tak kunjung memberi respon pada perasaan nya.
"Kenapa bisa begitu? Ada apa sebenarnya dengan Rina, kenapa dia begitu keras kepala ck.." Joy ikut merasa bingung dengan sikap Rina kepada Harry.
"Ada hal yang harus aku sampaikan, Harry menerima perjodohan dirinya dengan seorang gadis yang merupakan anak dari sahabat orang tuanya" Jhony memandangi Harry yang sedang melakukan aksi three point field goal-nya, dengan bangga nya dia tersenyum kepada Jhony saat ini.
"Kenapa dia bisa tiba-tiba menerima perjodohan itu, bukankah sebelumnya dia menolak keras dengan perjodohan dari orang tuanya?" Joy terkesiap mendengar perkataan Jhony tadi, dia tidak mengira Harry akan menerima perjodohan yang dari awal sudah di tentangnya.
"Entahlah, aku juga berpikir keras apa yang membuat dia merubah keputusannya. Padahal dia tak pernah mau saat di jodohkan dengan gadis tersebut, dan apa kamu tahu kalau gadis itu sekolah di sini?" Joy membulatkan matanya menatap Jhony.
"Apa..? Bagaimana bisa dia bersekolah di sini juga?" Tanpa sengaja Joy sedikit menaikkan suaranya, membuat beberapa orang yang berada di sana menatapnya.
"Pelankan suara kamu, Joy. Lihatlah Harry memandangi kita sekarang!" Seru Jhony.
"Ah... Maaf kak, aku terlalu kaget sih" Jawab Joy merasa tidak enak saat beberapa orang memandangi nya, dia pun tersenyum malu.
"Sudahlah, ayo ke kelas" Jhony mengelus kepala Joy dan membantunya berdiri, setelah itu dia pun membantu Joy membersihkan rok nya yang sedikit kotor.
"Makasih ya kak" Joy tersenyum manis kepada Jhony, lalu keduanya berjalan menuju ke kelas Joy dahulu dan setelahnya Jhony berjalan ke kelasnya.
Didalam kelas, Joy melihat Rina yang tampak duduk di kursinya. Di atas meja sudah tergeletak buku pelajaran, tapi pandangan mata Rina terlihat tidak fokus pada buku melainkan dia kini tampak melamun. Joy berjalan mendekatinya dan memanggil Rina, tetapi Rina tidak menjawab Joy yang masih berdiri di samping nya itu.
Selanjutnya Joy menutup buku yang berada di atas meja Rina, akhirnya Rina tersadar dari lamunannya dan tersenyum kaku.
"Ha..i Joy"
"Kamu kenapa Rin?" Joy duduk di kursi si depan Rina.
"Nggak kenapa-napa, aku lagi belajar Joy" Elak Rina.
"Belajar apanya, aku panggil-panggil tapi nggak jawab. Kamu tuh melamun Rin. Aku tahu itu" Segah Joy.
"Sok tahu deh kamu, aku nggak melamun kok" Rina mencubit gemas hidung Joy"
"Jangan alihkan pembicaraan Rin, jawab aku sebenarnya kamu ada masalah apa?" Joy menatap Rina penuh selidik, mencari kebohongan Rina di wajahnya.
Raut wajah Rina seketika berubah, dia memang tidak bisa menyembunyikan kebohongan kepada sahabatnya ini. Mereka sudah cukup lama bersahabat, dan keduanya seperti punya ikatan batin dan akan tahu jika ada yang berbohong salah satu dari mereka.
"Sudah bel masuk, kembalilah ke tempatmu Joy" Rina meminta Joy untuk kembali ke tempat duduk nya, dan kebetulan murid yang duduk di tempat yang sekarang Joy duduki sudah menghampiri Joy. Sadar bahwa dia telah duduk di kursi milik murid tersebut, joy pun segera berdiri namun belum kembali ke kursi nya.
"Nanti pulang cerita padaku ya Rin, kita pulang barengan" Setelah mengatakan kalimatnya, Joy pun berjalan ke tempat duduk nya dan mulai mengeluarkan buku dari dalam tas nya.
Rina akhirnya bernafas lega karena lonceng berbunyi tepat waktu, jika tidak, pasti sekarang Joy sudah mendesak nya untuk menceritakan masalahnya. Namun Rina kembali mendengus mengingat perkataan Joy untuk pulang bersama, sudah pasti Joy akan tetap meminta Rina bercerita padanya.
*****
Sepanjang jam pelajaran, Rina tidak bisa fokus belajar dan hanya memikirkan apa yang harus di katakan nya pada Joy. Karena dia tidak mau Joy tahu masalah yang sebenarnya dia tutupi.
Bel pulang sudah berbunyi, dan kini Joy serta Rina sudah berjalan menyebrangi jalan raya untuk ke sebuah cafe yang terletak bersebrangan dengan sekolah mereka.
Joy pikir akan lebih baik jika mereka membicarakan hal tersebut di sana, sampai di dalam cafe ternyata cukup ramai siswa siswi yang juga bersantai di sana. Karena memang tempat nya yang dekat dengan sekolah, disana juga luas dan terdapat banyak tempat privat.
Joy memilih duduk di tempat yang terdapat sebuah meja kecil dan dua buah kursi yang paa untuk mereka berdua, dia tak ingin nantinya saat mengobrol ada yang datang dan duduk bersama mereka.
"Di sini aja Rin" Ujar Joy kepada Rina yang sedang mengedarkan pandangannya.
"Ehmm..." Rina mengangguk dan mulai duduk.
Seorang pelayang cafe datang dan mencatat pesanan mereka, setelah selesai mencatat makanan dan minuman yang di pesan Rina dan Joy pelayan itu pun meminta mereka untuk menunggu sebentar dan berjalan kembali ke bagian kasir.
Melihat pelayan itu sudah kembali ke tentang, Joy pun mengalihkan perhatiannya kepada Rina.
"Sekarang mulai cerita nya Rin, sebenarnya tadi kamu pikirin apa sih sampe nggak tahu aku panggil kamu?" Kembali Joy melontarkan pertanyaan yang sejak tadi ia pikirkan nya.
"Sebenarnya aku... " Rina terdiam sejenak, dia merasa bingung bagaimana harus memulai.
"Sebelumnya aku mau tanya Rin, apa kamu tahu kalau kak Harry menerima perjodohan yang orang tuanya tetapkan?" Tiba-tiba Rina mengangkat kepalanya dan membulatkan matanya, dia merasa kaget dengan apa yang dikatakan Joy.
"Be, benarkah?" Rina tergagap mengucapkan katanya.
"Emm... Aku baru saja mendengar nya dari kak Jhony, dan bahkan gadis itu bersekolah di sekolah kita juga Rin" Kali ini Rina benar-benar tertegun, dia pun mengingat kembali saat dia melihat Harry yang di tarik oleh seorang gadis di halaman sekolah.
Rina terdiam cukup lama, pikiran nya terus teralihkan pada saat dia melihat Harry di halaman dan juga saat di kantin beberapa hari yang lalu saat Joy belum masuk sekolah. Dia sempat melihat Harry dan gadis itu dua kali berturut-turut, dan membuatnya berfikir bahwa itu adalah pacar Harry. 'Mungkinkah itu gadis yang akan di jodohkan kepada kak Harry, tapi.. bagaimana bisa dia menerima perjodohan itu? Ah... Apa yang aku pikirkan, itu bukanlah urusanku kenapa aku memikirkan nya..'
Melihat Rina yang terdiam cukup lama, membuat Joy yakin kalau Rina juga memiliki sedikit perasaan kepada Harry.
.
.
.
Stay Save ya Readers, selamat membaca
Thanks 😉