
Di sebuah taman yang tidak begitu besar dekat dengan toilet, Joy dan Rina masih berada disana. Rina tampak memeluk Joy, ternyata ia begitu kuat menahan sedihnya sendiri.
Rina tampak tak percaya melihat sahabatnya bisa bertahan, namun saat dia mendekati Joy air mata pun meleleh dari matanya yang indah. Inah yang tidak di inginkan Rina, hati Joy pasti sedih dan tak ingin menerima kenyataan itu.
Perlahan Rina terus mengelus punggung yang dengan perlahan naik turun serta sesegukkan yang terdengar lemah.
Jhony berjalan mendekati keduanya, Rina menyadari ada seseorang yang sedang memperhatikan mereka, ia pun segera mendongak dan melihat Jhony berdiri beberapa langkah dari mereka. Ia sedikit kaget melihat Jhony yang sudah berada dihadapannya itu, Jhony menatap Rina dan Joy bergantian. Rina hendak mengeluarkan suara namun di hentikan oleh Jhony dengan meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya tetapi tanpa suara, Rina menyadari Jhony pasti ingin berbicara berdua dengan Joy.
"Joy... " Rina melepas pelukan nya "Kalian harus bicara berdua kan, aku pergi dulu ya" Joy merasa bingung dengan ucapan Rina padanya, setelah memeluk Joy, Rina berjalan mendekati Jhony.
Joy terkejut saat dilihatnya Jhony sudah ada di belakangnya, entah sejak kapan Jhony di sana Joy juga tidak mengetahuinya.
"Kak Jhony pasti mendengar pembicaraan kami tadi kan?" Jhony memandangi Joy yang tertunduk, lalu kembali menatap Tina dan mengangguk "Tolong jaga Joy kak dan ... hibur dia" Rina tersenyum dan hendak berjalan melewati Jhony.
"Rina..." Sejenak Rina berbalik "Katakan pada yang lain untuk menunggu di depan, karena jemputan akan segera datang membawa kalian kembali ke villa" Ucapan Jhony segera di angguki oleh Rina, ia kemudian melanjutkan niatnya untuk kembali ke tempat di mana Siska sedang menunggu.
Jhony kembali melihat ke arah Joy yang sudah selesai mengelap air matanya nya, tadi saat ia menunduk tentu saha Jhony melihat dirinya yang dengan cepat menghapus air matanya.
Jhony berjalan mendekati Joy dan duduk di samping gadis itu, kedua tangan Jhony menangkup pipi Joy yang masih lembab karena terkena air mata. Kedua manik mata Joy tampak kebingungan, ia sungguh tidak pandai menyembunyikan kegelisahannya saat ini.
Tiba-tiba Jhony memeluk Joy, satu tangannya mengusap kepala Joy dan satunya lagi mengusap lembut punggu Joy.
"Kak... " Suara Joy bergetar memanggil Jhony.
"Ssttt..." Jhony ingin seperti ini dulu, ia seperti ingin memberi tahu kepada Joy bahwa semua baik-baik saja.
Air mata Joy kembali luruh seiring dengan kedua tangan nya yang membalas pelukan Jhony, ia menenggelamkan wajahnya di bahu Jhony dan menangis tersedu-sedu.
Di tempat lain Siska merasa kesal karena Jhony dan lainnya yang begitu cepat kembali, padahal dia ingin membuat Joy merasa tak nyaman dengan hubungannya dan Jhony.
Mulai dari Joy dan Rina yang meninggalkannya sendirian di tepi pantai, dia pun melampiaskan semua kekesalannya lewat teriakan di tepi pantai.
"Jhony... kamu nggak boleh dengan Joy, kamu adalah milikku dan tetap akan jadi milikku...." Suara teriakan Siska hanya di sahuti oleh deburan ombak yang sudah mulai sedikit lebih tenang, orang-orang yang tadinya cukup ramai kini sudah mulai kembali ketempat penginapan mereka.
Siska menendang ombak yang menepi.
"Kenapa ... kenapa kamu nggak pernah memandang aku sekalipun Jhon... apa aku tidak ada arti sama sekali buat kamu" Suara Siska mulai terdengar lirih, seolah sakit yang ia rasa begitu menyiksanya "Dia tidak lebih baik dariku, aku yang lebih baik dan lebih pantas buat kamu Jhony. Sebelum dia hadir dalam hidupmu, kamu selalu terbiasa denganku dan selalu perhatian kepadaku. Apa semua itu tidak ada artinya sama sekali? Cobalah lihat aku seperti dulu lagi, aku sangat mencintaimu Jhony..." Siska terduduk di hamparan pasir yang basah, air matanya juga mulai terlihat menetes du pangkuannya.
Lama dirinya tertunduk lemah di sana, sebelum ia kembali menatap ke arah matahari terbenam. Ia melihat kedepan cukup lama, namun kemudian dia menghapus air matanya dengan kasar dan kembali berdiri.
"Aku, Siska tidak ada menyerah untuk merebut kembali cintaku. Jhony... kamu di takdirkan untuk diriku hanya untukku, bukan untuk Joy si gadis manja itu..." Siska berteriak kelautan lepas, ia berjanji di sana untuk merebut kembali cinta Jhony untuknya seperti dahulu.
Seketika saja Rina kehilangan kata-kata, entah mengapa Siska bisa berpikir seperti tadi. Mereka selalu berpikir bahwa Siska sudah melupakan Jhony dan akan memulai hubungan dengan Erick, namun yang di dengar barusan bukanlah ketidak sengaja tetapi malah terkesan memaksakan diri.
Siska berbalik ketika ia merasa sudah melampiaskan apa yang ingin ia katakan, betapa terkejutnya ia melihat Rina sudah berdiri di dekatnya dan memandanginya penuh pertanyaan.
Siska terkesan cuek dan tak ingin bicara apapun saat ini, baginya..mau di dengar atau tidak, bukanlah masalah besar.
Ia berjalan mendekati Rina, dan mengemasi barang-barang di atas tikar piknik mereka.
"Apa yang sebenarnya kak Siska inginkan? Bagaimana kak Siska menyembunyikan semua ini? bukankah kak Siska sendiri yang mengatakan bahwa kakak sudah tidak ada hubungan dengan kak Jhony, tapi mengapa sekarang kakak ingin mereka berpisah hah?" Kekesalan Rina mencuak, ia begitu kesana dengan ucapan Siska tadi.
"Itu semua bukan urusanmu, jadi kau tidak usah banyak mencampuri urusan kami Ok" Siska tak mau memperdulikan Rina yang masih memandangi nya.
"Apa mau kakak sekarang? Apa kak Siska akan menjadi orang ketiga untuk menghancurkan hubungan Joy dan kak Jhony? Jika ya, maka kakak harus menghadapi aku dan Harry dulu karena kami tidak akan membiarkan itu semua terjadi" Selesai berbicara, Rina segera mengemasi barang yang dibawa dirinya dan Joy tanpa melihat ke arah Siska sama sekali.
Tak lama kemudian Erick dan Harry sudah kembali dari toilet, mereka sudah selesai berganti pakaian.
"Sudah beres semua kan?" Tanya -arry kepada Rina yang baru selesai melipat tikar piknik mereka.
"Sudah semua, ayo kita ke depan dan tunggu di sana. Kata kak Jhony jemputan kita akan segera datang"
"Baiklah... sini biar aku bawakan barang-barangnya" Harry meraih keranjang yang berisi makanan di dalam nya, dan membawanya ke arah depan.
"Ayo Sis, biar aku bawakan barang-barang mu" Siska tiba-tiba saja menepis tangan Erick dan berjalan meninggalkan Erick sendiri.
"Ada apa dengannya, tadi sepertinya dia baik-baik saja. Kenapa sekarang jadi jutek lagi" Erick mengedikkan bahunya, dan menyusul Siska yang sudah berjalan di depannya.
.
.
.
Stay Save Readers
Me come back...
Yuk kasi dukungan buat aku lewat komen, like vote, gift dll supaya aku tetap semangat dan tak lelah menulis terus..
Thanks guys 😉